CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 81 MENGHILANG


__ADS_3

Setelah Arneta menerima mobil pemberian dari Abby, Abby menarik nafas lega. Bagaimana tidak Arneta tadi sempat menolak pemberiannya. Arneta juga sempat menuding Abby jika Abby menganggap Arneta adalah perempuan matre. Abby menyimpan kembali satu set perhiasan yang sudah di belinya untuk Arneta, Abby tak ingin Arneta semakin tersinggung karena pemberiannya.


Tapi di balik itu semua Abby menyimpan rasa kesal pada Rika yang sudah memberikan ide konyol yang hampir membuat Arneta semakin marah padanya. Di satu sisi Abby juga berterima kasih pada Rika karena dari idenya untuk pertama kalinya dalam pernikahannya dengan Arneta ini adalah hadiah yang di berikan Abby untuk Arneta.


Sudah dua hari berturut-turut Abby meminta Arneta agar menggunakan mobil yang di berikan-nya meskipun Arneta sempat menolak menggunakannya tapi karena desakan Abby akhirnya Arneta mau dan menuruti keinginan Abby.


Hari ini pagi-pagi sekali, jam masih menunjukkan pukul lima pagi Arneta sudah bersiap-siap untuk pergi, beberapa potong pakaian sudah Arneta masukkan kedalam satu koper kecil miliknya. Arneta tidak meninggalkan pesan apapun untuk Abby. Arneta keluar dari dalam kamarnya dan langsung turun menuju dapur. Di dapur Arneta bertemu dengan bi Jum yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi bi.." sapa Arneta.


"Pagi non, tumben pagi sekali sudah bangun sudah rapi lagi," ucap bi Jum.


"Aku mau pergi bi, bibi buat sarapan apa?" tanya Arneta.


"Non mau sarapan apa bibi buatin," tawar bi Jum.


"Aku minum susu aja bi sama makan roti. Saya buru-buru soalnya," jelas Arneta.


Bi jum langsung membuatkan segelas susu coklat panas untuk Arneta, sedangkan Arneta langsung mengambil roti tawar yang tersedia diatas meja makan dan mengolesi roti tersebut dengan selai coklat. Arneta menikmati sarapan paginya yang sederhana. Selesai sarapan Arneta pun pamit pada bi Jum.


"Bi, aku jalan dulu ya," pamit Arneta.


"Hati-hati non, tapi non mau bawa bekal nggak buat di jalan nanti. Takut non lapar di jalan. Non tadi sarapannya cuma sedikit," ujar bi Jum.


"Makasih bi, nanti kalo lapar saya mampir makan di restoran yang ada di pinggiran tol," balas Arneta. Setelah mengatakan itu Arneta pun langsung menuju garasi mobil dimana mobilnya terparkir.


Arneta segera berangkat dengan mengendarai mobil yang di berikan Abby.


Jam menunjukan pukul setengah tujuh Abby terbangun dari tidurnya. Seperti biasa Abby langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, Abby mandi dulu sebelum turun kebawah untuk sarapan dan langsung berangkat ke kantor. Setelah selesai mandi Abby langsung berpakaian rapi, setelan jas sudah menempel di tubuhnya.


Abby turun menuju ke ruang makan, disana Abby tidak menemukan sosok yang ingin dilihat pagi ini, yaitu Arneta istrinya. Hubungan Abby dan Arneta ada kemajuan meskipun itu hanya hal kecil tapi Abby merasa senang. Arneta sudah mau menemani Abby untuk sarapan, biasanya Arneta tidak pernah melakukannya.


Abby duduk di kursi meja makan bersiap untuk sarapan. Abby berpikir mungkin Arneta agak telat untuk sarapan pagi bersamanya. Abby mengambil piring dan memindahkan centong nasih kedalam piringnya, Abby juga mengambil lauk dan sayur sebagai pelengkap sarapannya.


Abby memasukkan satu sendok nasih kedalam mulutnya, mengunyahnya dan langsung di telan. Abby merasa tak nyaman karena sarapan sendirian.


"Bi, Neta belum turun?" tanya Abby pada bi Jum.

__ADS_1


"Non Neta sudah berangkat pagi-pagi sekali tuan," jawab bi Jum.


Uhuk ....Uhuk


Abby tersedak mendengar ucapan bi Jum.


"Pergi bi, kemana perginya?" tanya Abby setelah menegak satu gelas air putih karena tersedak.


"Bibi kurang tau tuan, tapi tadi bibi liat Non bawa koper," jelas bi Jum.


"Apa , bawa koper? kenapa bibi nggak bangunin saya tadi kalo Neta pergi bawah koper," ujar Abby, Abby mendadak menjadi panik.


Abby langsung menghentikan sarapannya dan langsung berlari menuju lantai dua tempat kamar Arneta. Abby langsung masuk dan mengecek isi lemari baju Arneta. Baju-baju Arneta masih banyak yang tersimpan di dalam lemari, namun tetap saja Abby merasa panik. Masalah baju Arneta bisa beli dimana saja akan tetapi kemana Arneta pergi Abby tidak tahu.


Abby kembali turun kebawah menemui bi Jum.


"Bi, apa Neta bilang mau kemana?" tanya Abby.


"Nggak tuan. Bibi pikir non sudah bilang sama tuan," jawab bi Jum. Abby langsung mengusap wajahnya. Abby bukan hanya panik tapi kini kepalanya pun ikut pusing. Rasa cemas pun langsung menyelimuti hati dan pikiran Abby. Abby kini berpikir jika Arneta sudah pergi meninggalkannya.


Tapi Abby tak ingin menyerah begitu saja, Abby langsung menuju garasi mobil bersiap untuk misi mencari Arneta. Tujuan pertamanya adalah menemui mertuanya. Abby berpikir mungkin Arneta pulang ke rumah orang tuanya. Dalam perjalanan Abby mencari alasan yang tepat untuk membujuk Arneta untuk pulang ke rumah.


Tok


Tok


Jantung Abby berdetak kencang sangking gugupnya.


Pintu pun terbuka dari dalam, yang membukakan pintu adalah ibu mertuanya.


"Pagi bu..." sapa Abby sopan.


"Pagi Abby, tumben pagi-pagi sudah kesini, ayo masuk dulu," ucap bu Nola mempersilahkan Abby masuk kedalam rumah.


"Duduk Abby, sebentar ibu panggil ayah dulu," ujar bu Nola. Bu Nola pun segera memanggil suaminya di ruang makan karena sedang sarapan pagi.


"Yah, ada nak Abby didepan,"ucap bu Nola pada suaminya.

__ADS_1


"Nak Abby? tumben itu anak kesini. Neta ikut nggak bu?" ucap pak Jaya.


"Cuma nak Abby yang datang," jawab bu Nola. Perasaan pak Jaya pun langsung merasa ada sesuatu yang sudah terjadi pada putrinya.


Pak Jaya langsung menemui Abby yang sudah duduk di ruang tamu.


"Tumben nak Abby pagi-pagi sudah kesini, ada apa?" ujar pak Jaya.


"Aku lagi nyari Neta pak, Neta ngga ada di rumah. Tadi pagi Neta pergi sambil bawa koper," jelas Abby.


"Apa... Neta pergi dari rumah? apa lagi yang sudah kamu lakukan pada putri ayah!" pak Jaya langsung emosi mendengar pengakuan Abby.


"Tenang Yah, biar Abby jelaskan dulu masalahnya," bu Nola berusaha menenangkan suaminya.


"Apa kamu bertengkar lagi dengan Neta?" tanya bu Nola pada Abby.


"Nggak bu, saya sama Neta sudah tidak pernah lagi bertengkar. Hubungan kami justru baik-baik saja sampai Arneta pergi tadi pagi," tarang Abby.


"Apa Neta ngga pulang ke sini?" tanya Abby.


"Neta tidak kesini, kemana anak itu?" ujar pak Jaya ikut cemas.


"Sudah hubungin telpon Neta?" tanya bidan pak Jaya.


"Belum pak..." jawab Abby spontan.


"Abby hubungi Neta sekarang!" perintah pak Jaya. Pak Jaya menarik nafas panjang untuk meredakan emosinya.


Abby pun langsung mencoba menghubungi Arneta lewat handphone miliknya. Sementara menunggu panggilannya di jawab oleh Arneta Abby merutuki dirinya sendiri.


"Bodoh -bodoh kenapa nggak telpon Neta dulu," ucap Abby dalam hatinya. Panggil Abby pada handphone milik Arneta tidak ada jawaban dari Arneta, hanya suara mesin operator yang menjawab panggilan tersebut.


"Maaf, nomor yang anda tujuh tidak bisa di hubungi. Cobalah beberapa saat lagi,"


Abby pun melakukan panggilan berkali-kali untuk Arneta tapi hasilnya tetap sama, hanya mesin operator yang menjawab.


"Nomor Neta nggak bisa di hubungi," ucap Abby setelah panggilannya berkali-kali gagal.

__ADS_1


"Cari putri ayah sampai ketemu. Kalau terjadi sesuatu pada Neta kamu yang akan menanggung akibatnya," ujar pak Jaya memperingati Abby.


Bersambung


__ADS_2