
Tak terasa pernikahan Arneta dan Abby sudah berlangsung selama dua bulan. Hubungan Arneta dan Abby sama sekali tidak ada perubahan sedikitpun. Mereka berdua seolah-olah tengelam dengan kesibukan masing-masing tanpa memikirkan satu dengan lainnya.
Orang tua Arneta beberapa kali menghubungi Arneta hanya sekedar menanyakan tentang keadaan Arneta pasca menikah dengan Abby. Arneta pun pernah pulang ke rumah orangtuanya tapi tidak sampai menginap. Arneta datang ke rumah ingin sekedar melepas rindu kepada kedua orang tuanya. Kalau mertuanya Arneta sering juga menghubungi Arneta menanyakan kabar serta bertanya mengenai sikap Abby selama menikah.
Ya seperti biasa Arneta menutup rapat apa yang terjadi dengan pernikahannya dan juga perlakuan Abby terhadapnya. Arneta dengan sengaja menutupi semuanya dari orang tuanya juga mertua. Arneta berpikir hanya butuh delapan sepuluh bulan lagi dirinya akan berterus terang apa yang sebenarnya dia alami selama ini.
Hari ini Arneta sudah berada di toko miliknya, seperti biasa Arneta mengecek laporan keuangan serta mengecek stok barang serta mencoba mendesain sendiri beberapa baju yang akan di buatnya.
Sementara itu di kantor perusahaannya Abby kini sedang pusing tujuh keliling pasalnya kantor cabang yang berada di papua mengalami kendala, ada beberapa orang yang ketahuan korupsi dan Abby harus segera kesana untuk menyelesaikan beberapa masalah.
Abby meskipun dalam keadaan pusing tetap menghubungi Gracia tapi sayang beberapa kali Abby mencoba menghubungi Gracia nyata panggilan itu tidak pernah di jawab, dan beberapa pesan yang dikirimkan oleh Abby tidak di balas juga oleh Gracia. Abby legal tap meskipun demikian Abby hanya menarik nafas panjang untuk meredakan emosinya. Jelas Abby tidak bisa marah terhadap Gracia karena cinta yang di miliki Abby untuk Gracia sangatlah besar.
Abby hari ini juga harus berangkat ke papua tapi Abby belum sama sekali memiliki persiapan. Biasanya kalo Abby akan keluar kota Abby sudah bisa menyiapkan perlengkapannya sendiri tapi itu jika berangkat keluar kotanya tidak mendadak seperti saat ini.
Abby meraih handphone miliknya yang terletak di atas meja kerjanya, mencoba memencet beberapa tombol untuk mencari sebuah nama. Abby mengerutkan kedua alisnya menatap layar ponselnya dengan binggung. Pasalnya sudah beberapa kali Abby mengetik nama Arneta tapi di layar handphone miliknya yang keluar adalah tulisan no tidak di temukan.
Abby sudah mengetik beberapa nama istilah yang di berikan Abby kepada Arneta nyatanya Abby tidak juga menemukan nomor Arneta. Abby frustasi. Kini Abby sadar jika dirinya tidak pernah menyimpan nomor telepon Arneta. Abby menyesal karena du saat darurat seperti ini di butuh pertolongan Arneta. Abby berpikir jika Arneta hanya berdiam diri di dalam apartemen miliknya.
Tak habis akal Abby menghubungi mamanya hendak meminta tolong agar mamanya mengirimkan nomor telepon Arneta.
Tut
Tut
Hubungan telpon tersambung.
__ADS_1
"Halo mah..." sapa Abby setelah mamanya menjawab panggilan tersebut.
"Iya Bee , tumben telpon mama. Ada apa, mau cari tahu resep rahasia biar hot di ranjang?" ujar bu Maya sambil tertawa.
"Mama..." ujar Abby tak berdaya di goda mamanya.
"Iya iya. Ada Bee..?" tanya bu Maya dengan nada serius.
"Mama tolong kirim nomor Arneta bisa mah?" balas Abby langsung pada intinya.
"Apa...jadi kamu selama ini belum menyimpan nomor telepon istrimu?" tanya bu Maya curiga.
"Bukan gitu mah,tapi nomor Arneta nggak sengaja tadi ke hapus pada hal Abby ingin menelpon Neta," Kila Abby. Jelas dia berbohong. Tapi Agar mamanya tidak curiga mau tak mau Abby pun melakukan hal itu.
Setelah mendengarkan penjelasan anaknya bu Maya pun percaya begitu saja, Bu Maya segera mengirimkan nomor Arneta kepada Abby.
"Halo..." sapa Arneta setelah menerima panggilan tersebut.
"Iya...eh..." ujar Abby binggung harus dari mana untuk berbicara.
"Maaf ini siapa ya?" tanya Arneta karena nomor orang yang menghubunginya tidak di kenali oleh Arneta.
"Ini aku Abby," balas Abby cepat.
"Oh....," kata pertama yang keluar dari mulut Arneta. Arneta terkejut Abby menghubunginya. Selama menikah ini pertama kali Abby menelpon Arneta.
__ADS_1
"Kamu dimana? aku minta kamu siapkan beberapa baju ku kedalam koper karena aku mau ke papua sekarang," perintah Abby tanpa tahu di mana Arneta berada saat ini. Setelah mengatakan perintahnya Abby langsung menutup telponnya tanpa mengucapkan kata terimakasih.
Arneta langsung bergegas pulang ke apartemen setelah panggilan itu berakhir. Sebelumnya Arneta menyiapkan beberapa dokumen yang akan di bawanya, Arneta berencana melanjutkan pekerjaannya di apartemen. Sebelum pulang Arneta berpamitan dengan karyawannya.
Setelah sampai di apartemen Arneta pun langsung mengiyakan permintaan Abby, Arneta berpikir ini adalah kemajuan untuk hubungannya dengan Abby. Arneta dengan rela meninggalkan pekerjaannya demi mempersiapkan keperluan suaminya.
Arneta sebenarnya ragu untuk masuk kedalam kamarnya Abby, ini untuk pertama kalinya Arneta masuk ke dalam kamar Abby, Arneta untuk sejenak memperhatikan isi kamar tersebut. Arneta tidak menyangka barang-barang Abby semuanya tertata dengan rapi.
Warna cat dinding kamarnya di dominasi warna abu-abu. Mata Arneta tanpa sengaja melihat sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja nakas samping tempat tidur Abby. Karena penasaran Arneta mendekati foto tersebut. Dalam bingkai foto terlihat gambar dua manusia yang saling berpelukan mesra sambil tersenyum bahagia. Dari foto itu Arneta yakin jika wanita yang ada dalam foto tersebut merupakan kekasihnya Abby. Arneta hanya tersenyum kecil melihat foto tersebut tak ada rasa yang membuatnya sedih.
setelah puas memandangi foto tersebut Arneta langsung buru-buru mempersembahkan kebutuhan Abby yang akan Abby bawah ke papua. Mulai dari baju sampai pakaian dalam, perlengkapan mandi pun tak lupa Arneta siapkan dan memasukkannya ke dalam koper.
Setelah selesai menyiapkan pakaian Abby Arneta keluar dari dalam kamar. Arneta tidak balik lagi ke tokonya, Arneta ingin memastikan bahwa apa yang sudah di persiapkan oleh Arneta tidak ada yang kurang satupun.
Sambil menunggu Abby pulang Arneta masuk ke kamarnya berencana untuk mandi. Tapi sebelum niatnya tercapai Abby keburu pulang. Tanpa mengetok pintu Abby dengan tergesa-gesa masuk kedalam apartemen.
Mata Abby langsung tertuju pada Arneta setelah masuk, Abby terkejut melihat penampilan Arneta yang rapi layaknya orang pekerja kantoran. Tapi tak ada waktu untuk bertanya.
"Apa barang-barang ku sudah siap?" tanya Abby.
"Sudah.."jawab Arneta sambil menunjuk koper yang sudah berikan keperluan Abby selama di Papua.
Abby melirik arah yang di tunjuk oleh Arneta, Abby tak menyangka jika Arneta mau mempersiapkan keperluan dirinya setelah apa yang di lakukan Abby terhadap Arneta selama dua bulan ini.
Tapi Abby tetaplah seorang Abby yang memiliki ego yang tinggi. Abby akan merasa harga dirinya terluka jika mengucapkan kata terimakasih kepada Arneta. Abby segera meraih koper miliknya dan bergegas pergi karena takut ketinggalan pesawat. Abby pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata terimakasih atau sekedar berpamitan. Fi bawah Sarfa sudah menunggu Abby karena mereka berdua akan berangkat ke Papua bersama-sama. Dan Arneta hanya menarik nafas panjang melihat sikap suaminya.
__ADS_1
Bersambung