
Saat ini Abby semakin pusing memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat Arneta memaafkannya. Keadaan di perparah dengan kedatangan Gracia waktu itu. Arneta semakin tidak mempedulikan Abby, Arneta kini pulang semakin malam ke rumah.
Hari ini Abby dan asisten pribadinya akan menemui seorang klien dan sudah buat janji untuk bertemu di sebuah restoran. Abby dan Sarfa sudah mencoba dahulu memesan tempat di restoran tersebut tapi sayang penuh. Abby sudah mencoba menawarkan tempat yang lain dengan kenyamanan yang sama tapi kliennya menolak dengan alasan sangat menyukai masakan restoran tersebut. Mau tak mau pertemuan itu tetap berlanjut, tapi mereka tidak akan duduk diruang privat.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit, Sarfa menghampiri Abby yang masih di ruang kerjanya.
"Bee, mau jalan sekarang?" tanya Sarfa setelah masuk kedalam ruangan.
Abby melirik jam tangannya.
"Sebentar, aku beresin ini dulu," jawab Abby sambil merapikan beberapa map yang berserakan di atas meja.
Selesai merapikan meja kerjanya Abby dan Sarfa pun langsung menuju ke restoran yang di maksud. Abby dan Sarfa tiba duluan. Sarfa mencari tempat duduk dalam restoran tersebut. Abby dan Sarfa memilih duduk di salah satu pojok restoran, Abby dan Sarfa memilih tempat yang pojok.
Sarfa dan Abby duduk berdampingan sambil menunggu kliennya datang. Mereka berdua memesan minuman terlebih dahulu, soal makanan nanti akan di pesan ketika kliennya datang. Abby dan Sarfa menikmati minuman dingin yang mereka pesan sambil membahas soal kerjaan.
Abby dan Sarfa duduk menghadap pintu masuk, mata Abby dan Sarfa terbuka lebar setelah melihat yang barusan masuk kedalam restoran. Arneta masih k bersama dengan Rika kemudian di susul oleh Gita dan Robby. Abby yabg sudah tahu status Robby adalah mantan Arneta membuat hatinya panas.
Abby ingin berdiri dari duduknya hendak menghampiri Arneta, masuklah satu sosok laki-laki paru baya bersama dengan rekannya.
"Bee, kliennya sudah datang," ucap Sarfa. Abby meratap arah pintu masuk benar saja apa yang katakan Sarfa bahwa kliennya datang. Abby mengurungkan niatnya untuk menghampiri Arneta.
Dalam pertemuan ini Abby tak bisa konsentrasi penuh matanya selalu berusaha untuk melihat ke Arneta dan dua sahabatnya duduk, tak lupa juga mata Abby pun mengawasi pergerakan Robby yang duduk di persis di samping Arneta.
Jantung Abby bergemuruh wajahnya pun memerah karena manahan emosi saat melihat tersenyum manis kepada Robby. Ini baru senyum loh Bee. Sarfa memperhatikan perubahan raut wajah Abby dan Sarfa pun langsung memutar kepalanya kearah Arneta.
"Pantesan marah," kata Sarfa dalam hatinya. Sarfa juga melihat bagaimana akrabnya Arneta dan Robby.
Sarfa memajukan kepalanya dan berbisik di telinga Abby, Abby hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dengan sopan Sarfa mohon pa, kepada klien yang sedang menikmati menu makanan siang.
__ADS_1
Sarfa menghampiri Arneta yang sedang asik berbincang dengan sahabatnya.
"Permisi.." sapa Sarfa.
Arneta, Robby dan kedua sahabatnya memalingkan kepalanya menatap kearah sumber suara.
"Sarfa..."ujar Arneta.Sarfa tersenyum ramah.
"Kamu di sini sendiri? kalo sendiri ayo gabung sama kita," tawar Arneta .
"Aku sama Abby," ucap Sarfa. Raut wajah Arneta pun seketika berubah dingin.
Sarfa membukukan badannya dan berbisik di telinga Arneta. Arneta langsung menatap tempat Abby duduk.
"Katakan padanya bahwa aku tidak peduli," ujar Arneta dingin.
"Tapi,..." belum selesai Sarfa berbicara Arneta langsung memotong kata-kata Sarfa.
Sarfa menarik nafasnya dalam-dalam, kini Sarfa tahu jika Arneta sama keras kepalanya dengan Abby. Tidak ingin menimbulkan lebih banyak lagi dari tamu-tamu restoran tersebut Sarfa pun pamit. Arneta mengucapkan kata-katanya tadi dengan suara nyaring jadi semua orang yang ada dalam restoran tersebut ikut mendengarkan ucapan Arneta.
Sementara itu Abby tahu jika Arneta tidak mengindahkan peringatannya semakin geram. Tapi Abby tak berdaya, di sini, di restoran merupakan tempat umum jadi tidak mungkin Abby meluapkan kekesalannya pada Arneta di hadapan banyak orang.
Sarfa kembali duduk di samping Abby, Sarfa tersenyum kaku. Abby mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Bee, ini di tempat umum. Kendalikan emosi mu, disini juga ada klien kita," Sarfa mengingatkan Abby. Ingin rasanya kepala Abby meledak, tapi Abby masih berusaha menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
Satu jam berlalu tapi pertemuan Abby dan kliennya belum juga selesai. Berbeda dengan Arneta dan gengnya, mereka sudah selesai makan siang. Selesai membayar makanan mereka Arneta berdiri hendak meninggalkan restoran, Robby juga ikut berdiri bersamaan dengan Rika dan Gita. Arneta dan Robby berjalan beriringan entah sengaja atau tidak itu membuat Abby mengeraskan rahangnya kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi gertakan gigi.
Dengan santainya Arneta berjalan di samping mejanya Abby, Arneta tidak menegur Abby bahkan Arneta berjalan seolah tidak melihat Abby sama sekali. Abby menahan nafasnya menatap Arneta dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Masih ada lagi yang kurang dari kontraknya?" tanya Abby kepada kliennya. Abby sudah tidak sabar ingin mengejar Arneta.
"Poin yang ini harus di rubah, seperti kesepakatan kita tadi," jawab kliennya Abby.
"Maslahah itu biar kami yang akan merubahnya. Jadi Kita sudah sepakat," ucap Abby sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Klien itu pun menyambut uluran tangan Abby dan bersalaman.
Selesai bersalaman Abby buru-buru pamit.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Abby dan langsung melangkah pergi tanpa basa-basi lagi.
Dengan setengah berlari Abby mencoba menyusul Arneta di parkiran. Tapi sayangnya Abby terlambat beberapa detik. Ketika Abby sampai fi parkiran mobil Arneta sudah bergerak maju meninggalkan restoran. Abby kesal sampai mengusap wajahnya dengan kasar.
Beberapa menit kemudian Sarfa menyusui Abby yang masih berdiri memandangi kearah mana mobil Arneta pergi.
"Bee, tidak sempat ya?" ucap Sarfa.
"Sudah tahu nanya lagi," Abby melupakan kekesalannya pada Saraf.
Hufff
Sarfa menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sudah tabiat Abby mengeluarkan kata-kata kasar. Dan Sarfa sudah terbiasa akan hal itu.
Abby dan Sarfa meninggalkan restoran,di dalam mobil tak henti-hentinya Abby berceloteh mengeluarkan unek-uneknya. Abby kesal tapi tak bisa melupakan emosinya. Sarfa melihat tingkah Abby bukannya tersinggung malah tersenyum dalam hatinya.
"Bee, jujur deh ya, kamu itu sebenarnya cinta nggak sama Arneta?" ucap Sarfa. Abby langsung terdiam mendengarkan perkataan Sarfa.
"Ditanya mala diam, cinta nggak sama Arneta?" sekali lagi Sarfa bertanya menanyakan perasaan Abby terhadap Arneta.
"Gila kamu ya Afa, sudah tahu kalau aku hanya mencintai Cia malah nanya yang nggak-nggak," ucap Abby. Abby berkilah. Tak mungkinkah Abby mengakui perasaannya saat ini. Abby tahu jika dirinya mengakui perasaannya pada Arneta sudah bisa di pastikan Sarfa akan mentertawakan dirinya. Mana ikhlas Abby jadi bahan cibiran Sarfa.
__ADS_1
Bersambung...