
Dua minggu Abby menghabisi waktunya dirumah sakit, Abby terkadang bosan di dalam kamar. Sepanjang hari Abby hanya duduk dan tidur tanpa melakukan kegiatan apapun. Abby pernah mencoba membuka file kerjaan lewat laptop yang di bawah Sarfa waktu berkunjung, baru saja sebentar Abby membuka laptopnya dan memeriksakan beberapa laporan Arneta langsung menyuruh Abby untuk meletakkan laptopnya. Arneta hanya ingin Abby benar-benar fokus pada kesehatannya saja tanpa memikirkan pekerjaan dulu sampai Abby sembuh.
Hari ini Abby keluar dari rumah sakit, dan Abby menggunakan kursi roda. Jadwal untuk terapi untuk Abby akan menyusul. Abby pulang di jemput oleh kedua orang tuanya. Abby merasa lega karena dirinya tidak lagi terkurung dalam satu ruangan yang serba putih.Tak ada lagi jarum infus menusuk kulitnya.
Abby dan Arneta kembali ke tempat kediaman mereka berdua, di sana bi Jum sudah bersiap untuk menyambut kepulangan majikannya. Bi Jum sudah membuatkan makanan kegemaran Abby dan berdiri.
Arneta dibantu oleh papa mertuanya menurunkan Abby dari dalam mobil, butuh perjuangan ekstra memindahkan Abby dari dalam mobil ke kursi roda. Meskipun tubuh Abby tidak gemuk api bobot berat badan Abby tidak seringan yang dibayangkan pak Ady.
Arneta mendorong kursi roda Abby masuk kedalam rumah, bi Jum menyambut kedatangan Arneta dan Abby dengan tersenyum bahagia.
"Selamat pulang ke rumah pak, selamat datang Non," ucap bi Jum.
"Makasih bi...," jawab Abby. Arneta tersenyum.
Arneta lanjut mendorong kursi roda Abby ke dalam kamar, kamar Abby kini berpindah ke lantai satu. Ini dilakukan atas inisiatif Arneta sebelum Abby pulang dari rumah sakit.
"Neta aku pindah ke kamar ini?" tanya Abby setelah berada dalam kamar.
"Iya, mulai saat ini kamar ini akan kita berdua tempati bersama," balas Arneta menjelaskan.
Abby mengerutkan keningnya mencoba mencerna kata-kata Arneta barusan.
"Maksud kamu, kita berdua akan tidur bersama di kamar ini?" tanya Abby dengan tatapan tak percaya.
"Iya, kita berdua akan tidur disini. Maaf aku belum mengabarkan kamu lebih dulu," ada perasaan tak enak di hati Arneta karena tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu Arneta sudah memutuskan pindah kamar tidur untuk Abby dan dirinya.
Abby tak ingin bertanya lagi lebih lanjut, Abby tak ingin membuat Arneta salah paham dan akhirnya memutuskan kembali tidur di kamar Arneta sendiri. Di luar pak Ady dan bu Maya menunggu Arneta keluar dari dalam kamar.
Arneta kekuar dari dalam kamar Setelah mengurus beberapa keperluan Abby terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mah pah, mau makan dulu?" tanya Arneta sambil duduk di samping ibu mertuanya.
"Terimakasih Neta, sebaiknya mama sama papa pulang dulu," balas bu Maya.
"Tapi sebentar lagi jam makan siang, mah. Apa mama sama papa nggak lapar?" Arneta mencemaskan kondisi mertuanya.
"Kami masih kenyang. Tadi pas di jalan mama sama papa sempat makan roti dan beberapa cemilan yang mama beli di Bogor," terang bu Maya. Bu Maya sebenarnya hanya beralaskan saja, ini dilakukan supaya Arneta cepat istirahat. Bukan tanpa sebab bu Maya menolak ajakan Arneta tetapi bu Maya merasa Arneta butuh istirahat lebih, dua minggu Abby di rawat di rumah sakit itu artinya dua minggu juga Arneta menemani Abby di rumah sakit tanpa istirahat.
Seminggu Abby tinggal dalam rumahnya sendiri Abby mulai jenuh. Apa lagi saat Arneta tidak berada dalam rumah. Arneta kembali bekerja sedangkan Abby menghabisi waktunya dengan hanya menatap kosong setiap diding rumahnya.
Dan hari ini Abby sudah menghubungi Sarfa supaya menjemputnya di rumah. Abby ingin secepatnya kembali ke kantor untuk bekerja. Tentu saja hal ini menciptakan perdebatan panjang antara Abby dan Arneta. Arneta melarang Abby Bekerja sampai Abby bisa berjalan lagi. Tapi berbeda dengan Abby, Abby justru ingin kembali melakukan kegiatan seperti dulu lagi. Abby bosan jika hanya berdiam diri di dalam rumah.
Tepat pukul sembilan mobil Sarfa sudah terparkir di halaman rumah. Sarfa menjemput Abby supaya bisa ke perusahaan bersama. Sebelum Abby berangkat bersama dengan Sarfa Arneta terlebih dahulu memberikan beberapa pesan kepada Abby maupun Sarfa. Arneta tidak ingin Sarfa meninggalkan Abby sendiri, Arneta juga berpesan kepada Abby supaya tidak jauh dari Sarfa. Abby dan Sarfa dinasehati oleh Arneta seperti dua anak kecil yang hendak bermain bersama.
Arneta berangkat ke butiknya setelah mobil yang bermuatan Abby dan Sarfa terlebih dahulu bergerak meninggalkan rumah. Tiba di halaman kantor Sarfa menurunkan terlebih dahulu kursi roda Abby. Setelahnya Sarfa membantu Abby berpindah posisi dari dalam mobil ke kursi roda. Ada beberapa pasang mata memperhatikan Abby dan Sarfa.
Sarfa mendorong kursi roda Abby memasuki gedung kantornya. Beberapa orang yang berada di lobby mulai bergosip tentang Abby yang duduk di kursi roda. Abby bisa mendengarkan ucapan para karyawan tersebut, Abby diam-diam memperhatikan siapa saja yang sudah berani bergosip tentang dirinya. Abby mencatat orang-orang itu di dalam hatinya.
Abby mulai bekerja diawali dengan membaca dan menandatangani beberapa laporan.
Sarfa melihat jam tangannya yang melingkar di tangan. Sarfa berdiri langsung mempersiapkan kursi roda Abby.
"Bee, sudah waktunya meeting. Semua berkasnya sudah saya siapkan, kamu tinggal mendengar laporan bulanan bulan ini," ujar Sarfa. Abby pun menuruti perkataan Sarfa. Abby bersiap keruang meeting.
Dengan di bantu Sarfa Abby tiba di ruang meeting semua orang yang sudah berada dalam ruangan tersebut langsung memandangi Abby. Ada tatapan prihatin ada juga tatapan meremehkan yang di terima Abby dari orang-orang tersebut. Abby mencoba tersenyum meskipun itu terlihat sangat di paksakan.
Meeting pun di mulai. Sarfa membuka map yang berisikan laporan keuangan bulan ini.
"Meeting di mulai, saya minta semua laporan sudah disiapkan," ucap Sarfa.
__ADS_1
Namun sebelum meeting itu di lanjutkan pimpinan divisi keuangan mengajukan protes.
"Apakah kita akan di pimpin oleh seorang yang cacat?" ucapnya. Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut langsung terkejut dengan ucapan kepala divisi keuangan tersebut.
"Apa maksud dari ucapan mu!" ujar Sarfa. Rahang Abby dan Sarfa sama-sama mengeras.
"Ya iya, masak kita dipimpin oleh seorang yang lumpuh. Aku tidak terima," ujar divisi keuangan.
"TUTUP MULUTMU....!" ujar Sarfa sambil berteriak kencang. Suara Sarfa sampai terdengar sampai di luar ruangan meeting.
Dan semua orang yang mendengar teriakkan Sarfa terkejut, mereka semua tidak pernah melihat Sarfa marah-marah apa lagi sampai mengamuk. Jika ada pegawai yang buat kesalahan Sarfa hanya menegurnya tanpa marah-marah.
"Berani sekali kamu mengatakan pak Abby cacat. Letakkan laporannya di hadapan ku saat ini, setelah itu kamu KELUAR DARI RUANGAN INI .!" seru Sarfa.
Kepala divisi keuangan mencobah mengabaikan ucap Sarfa.
"Aku tidak mau, pimpinan perusahaan ini adalah pak Abby. Hanya beliau yang bisa mengusir saya dari ruangan ini," ujarnya. Abby langsung menatap dingin kearah divisi keuangan tersebut.
"Apa yang di ucapkan Sarfa itu mewakili diriku. Jadi silahkan anda keluar dari ruangan ini," Abby menegaskan ucap Sarfa. Abby mengusir kepala divisi keuangan tersebut.
Dengan wajah yang memerah karena malu kepala divisi keuangan itu keluar dari dalam ruangan. Tapi sebelum dirinya keluar Sarfa menghentikan langkahnya.
"Berhenti di situ," ucap Sarfa.
"Hari ini akan ada audit di seluruh divisi. Dan saat ini para auditor sudah ada di ruangan masing-masing divisi. Dan jika ada penemuan laporan yang menyimpang akan langsung saya proses. Apalagi jika ada yang bermain-main dengan penggelap dana. Saya pasti penjara tempatnya," sambung Abby.
Beberapa orang yang ada dalam ruangan itu langsung gemetaran, apa lagi dengan kepala divisi keuangan. Tubuhnya langsung mengeluarkan keringat dingin.
"Silahkan anda tunggu di depan ruangan ini, karena anda tidak bisa masuk kedalam ruangan anda selama proses audit berlangsung. Dan ini semua berlaku untuk semua divisi," ucap Sarfa.
__ADS_1
Ada beberapa orang yang ada dalam ruangan tersebut langsung menjadi pucat. Kepala divisi keuangan pun ikut gemetaran.
Bersambung