
Setelah beberapa hari kemudian Abby pulang dari Papua. Abby tiba di apartemen hari masih belum terlalu sore, otomatis Arneta belum pulang dari toko.
"Neta di mana kamu..!" teriak Abby.
"Arneta dimana kamu...keluar..!" sekali lagi Abby berteriak memanggil Arneta.
Abby mengelilingi apartemen miliknya tapi tidak juga menemukan Arneta. Abby merasa kesal karena tidak menemukan Arneta di dalam apartemen.
Emosi Abby saat ini sedang tidak baik-baik saja, pasalnya kekasih tercintanya Gracia sudah lebih dulu mengadili lebih dulu kepada Abby tentang peristiwa yang terjadi saat Gracia datang ke apartemen mencari Abby.
Tentu saja cerita yang diceritakan oleh Gracia berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ada kebohongan dan drama yang sengaja di buat oleh Gracia. Hal ini membuat Abby sangatlah marah kepada Arneta.
Sambil menunggu Arneta pulang, Abby membersihkan dirinya dengan mandi. Abby ingin menyegarkan dirinya agar rasa lelah karena perjalanan jauh bisa berkurang. Setelah selesai mandi Abby didik di ruang tengah dengan niat dalam hati menunggu sang istri pulang.
Waktu terus berjalan dan jam dinding kini menunjukkan pukul tujuh malam tapi Arneta belum juga pulang. Hal ini semakin membuat Abby semakin marah. Abby berpikir jika Arneta di luar rumah saat ini sedang berfoya-foya dan menikmati hidup bebas.
Abby melirik kembali jam yang sudah bergantung do dinding, saat ini sudah pukul depan lewat sepuluh menit tapi Arneta belum juga kembali. Perut Abby mulai keroncong karena dari tadi siang Abby belum sempat makan. Abby ingin memesan makanan lewat sebuah aplikasi online.
Tapi belum sempat Abby memesan tiba-tiba pintu depan terbuka, Abby yakin jika itu yang barusan membuka pintu pasti Arneta. Abby langsung melangkah menuju ke arah ruang depan ingin menyambut kedatangan Arneta, pastinya bukan senyum bahagia tapi Abby menyambut Arneta pulang dengan rasa marah yang sudah dari tadi di tahannya di tambah lagi Arneta pulang sudah malam.
Setelah melihat Arneta, tanpa bertanya lebih dulu Abby langsung meluapkan emosinya.
"Bagus kami ya... suami pergi bekerja kamu sibuk dengan menghambur-hamburkan uang.." tuding Abby.
Arneta yang baru saja pulang tidak mengetahui Abby sudah pulang terkejut dengan ucapan Abby barusan.
"Apa maksudmu..?" tanya Arneta karena merasa binggung dengan tuduhan Abby.
"Apa lagi yang bisa kau lakukan jika bukan memeras uangku di luar sana!" ucap Abby semakin marah.
"Kamu pikir aku menggunakan uang mu begitu? coba kamu cek apakah aku pernah menggunakan uang mu selama ini!" balas Arneta tak terima.
"Kalo bukan dari pemberian aku, kamu mendapatkan uang dari mana untuk berfoya-foya?" ujar Abby memojokkan Arneta.
__ADS_1
"Mau uang dari mana pun itu bukan urusan mu," jawab Arneta dengan bergaya santa.
Abby semakin terpancing emosinya, dirinya tidak bisa menerima jika Arneta istrinya menerima uang dari pemberi orang lain. Apalagi jika uang itu diberikan oleh laki-laki sebagai seorang suami harga dirinya merasa terluka.
Abby tidak tahu sejak kapan perasaan ini datang, akan tetapi Abby tidak ingin mengakuinya. Abby berusaha sekuat tenaga agar tidak pernah jatuh cinta pada Arneta.
Mendengarkan jawaban Arneta Abby semakin tidak terima, ada rasa sakit yang menyentuh hatinya.
"Laki-laki siap yang sudah memberikan kamu uang?" tanya Abby dengan suara berteriak.
"Abby sejak kapan kamu peduli dengan siapa yang memberikan aku uang?" bukannya menjawab pertanyaan Abby, justru Arneta mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan Arneta membuat Abby terdiam, Abby tidak tahu harus menjawab apa kepada Arneta.
"Jawab aku sejak kapan kamu peduli?" sekali lagi Arneta mengulangi pertanyaannya. Dan Abby semakin tak berkutik dan hanya bisa diam.
Tak ingin terus di pojokan oleh pertanyaan Arneta, Abby mengalikan arah pembicaraan mereka.
"Aku tanya sama kamu, apa yang kamu lakukan terhadap Gracia?" ucap Abby.
"Jika kamu jadi aku, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?" ujar Arneta sengaja memancing Abby.
"Jadi benar kamu sudah memukuli Gracia?" ujar Abby kembali menuduh Arneta.
"Memukul, apa nggak salah?" jawab Arneta binggung.
"Ngaku saja, jangan pura-pura tidak mengerti!" balas Abby.
"Disini ada cctv kamu bisa periksa apakah aku pernah memukulnya atau tidak," jawab Arneta.
"Jangan bohong, kamu pasti sudah memukuli Gracia dan kamu juga pasti sudah menghapus rekaman cctv," ujar Abby.
"Jika kamu berpikir seperti itu, sekarang coba kamu tanya sama tetangga disini. Apakah aku memukuli kekasih hati mu atau tidak!" ujar Arneta.
__ADS_1
Abby kembali terdiam setelah mendengarkan ucapan Arneta. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika Abby benar-benar menanyakan tentang hal ini kepada tetangganya. Yang pertama dirinya akan di cap sebagai suami yang suka berselingkuh dan yang kedua dirinya akan di cap sebagai suami tidak bertanggungjawab. Dan hal itu tidak diinginkan oleh Abby.
Abby memutuskan untuk tidak bertanya kepada tetangganya dan juga tidak mengecek sisi tv, Abby percaya jika Arneta tidak memukuli Gracia. Meskipun Abby mengenal Arneta sebagai perempuan yang memiliki karakter sedikit bar-bar tapi tidak mungkin Arneta memukul orang dengan mudah.
Dalam diamnya Abby tiba-tiba terdengar suara aneh yang berasal dari dalam perutnya.
Kruk..
Kruk...
Kruk...
Bunyi suara yang sukses membuat Abby malu. Abby lapar dan cacing dalam perutnya sudah melakukan demonstrasi minta diisi.
"Dasar perut nggak bisa di ajak kompromi,"ucap Abby dalam hatinya. Wajah Abby berubah warna dari putih kini menjadi merah.
Arneta tertegun mendengar suara perut Abby. Arneta sebenarnya ingin tertawa tapi ditahannya karena tidak ingin membuat Abby semakin salah tingkah.
"Kamu lapar, belum makan?" tanya Arneta spontan.
"Iya aku lapar dari tadi siang belum makan," jawab jujur Abby. Abby tidak ingin menutupi jika dirinya benar-benar lapar saat ini. Percuma saja jika Abby berbohong karena cacing-cacingnya sudah bernyanyi dan sukses membuat Abby malu.
Arneta sebenarnya ingin menawarkan Abby dengan masakannya akan tetapi Arneta mengurungkan niatnya karena teringat akan ucap Abby waktu itu.
"Di rumah ada ada makanan nggak?" ucap Abby ragu-ragu.
"Ha...ada, ada makanan," jawab Arneta terkejut.
"Aku sudah sangat lapar sekarang," ucap Abby memelas.
"Tunggu sebentar ya, aku anterin dulu," ucap Arneta.
Setelah mengatakan kalimat itu Arneta segera bergegas ke dapur dan mengeluarkan masakan yang di buatnya tadi pagi. Arneta sengaja membuat stok makanan tadi pagi dipikir Arneta jika dirinya pulang agak larut malam dirinya tidak perlu memesan makanan lewat aplikasi online cukup memanaskan makanan yang di buatnya saja.
__ADS_1
Arneta tidak menyangka bahwa Akhirnya Abby meminta makan dari masakan yang dibuatnya. Meskipun hal ini karena keadaan darurat Arneta merasa senang. Setidaknya ada kemajuan hubungannya dengan Abby.
Bersambung...