CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 51 KHAWATIR


__ADS_3

Abby dan Sarfa mengikuti arah kemana mobil Arneta melaju. Du dalam mobil yang di Kendari oleh Arneta hanya ada Arneta seorang, Gita dan Rika kembali pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Robby kembali ke tempat dirinya bekerja.


Abby memandangi mobil Arneta terus menerus takut kehilangan jejak.


"Bisa lebih cepat lagi nggak Afa?" ucap Abby tak sabaran.


"Kalo aku menambah kecepatan lagi, nanti Arneta bisa tahu Abby," bakas Sarfa.


"Iya, tapi kalau terlalu lambat kita berdua akan kehilangan jejaknya," protes Abby.


"Abby, perhatikan baik-baik arah jalan yang di lalui istri mu itu," balas Sarfa. Sarfa mulai kesal karena sepanjang perjalanan membuntuti Arneta Abby terus saja mengoceh membuat kuping Sarfa panas.


Abby memandangi jalan yang barusan di lalui oleh mabil yang di kendarai oleh Sarfa. Abby memperhatikan jalan dengan seksama. Abby merasa tidak asing dengan jalannya.


"Hei tunggu dulu, bukannya ini arah jalan ke rumah ya?" ucap Abby dengan perasaan binggung.


"Emang ini arah jalan ke rumah, baru sadar dirimu?" balas Sarfa.


"Itu berarti Neta pulang donk," ucap Abby dengan memasang raut wajah tak percaya.


"Liat aja dulu, mungkin istri mu itu hanya mampir sebentar, mau ngambil sesuatu yang ketinggalan," tutur Sarfa.


"Bener juga, tumben kamu pintar Afa," ujar Abby sambil tersenyum.


"Woi, aku itu udah pintar dari sejak lahir. Kamunya aja yang nggak tahu," protes Sarfa, tak lupa bibir Sarfa pun ikut mencibir.


Mobil terus melaju dan memang benar Arneta mengendarai mobilnya ke arah rumah yang belum lama ini di tempatinya. Arneta memasukkan mobil miliknya ke halaman rumah dan segera memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Haru ini Arneta sengaja pulang lebih awal dari biasanya karena sedang tidak enak badan, Arneta ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Di toko miliknya Arneta mendapatkan orderan yang sangat banyak dari salah satu pelanggannya, dan bukan hanya itu Arneta sedang mempersiapkan keperluan untuk membuka cabang di salah satu kota. Untuk itu Arneta kelelahan.


Arneta masuk kedalam rumah di sambut oleh bi Jum. Adegan ini tak luput dari mata Abby dan Sarfa.


"Kita tunggu sebentar,, liat apakah Neta akan keluar lagi atau tidak," ucap Abby sambil terus memandang ke arah rumah.


"Iya, kita tunggu," balas Sarfa menyetujui usul Abby.


Detik demi detik terus berlalu, dari detik berubah ke menit, dan sudah hampir setengah jam Abby dan Sarfa berdiam diri dalam mobil. Abby mulai merasa bosan.


"Kira-kira Neta keluar lagi nggak ya," kata Abby mulai ragu.


"Sepertinya tidak, coba kamu telpon bi Jum, tanya apakah istri mu itu sedang apa di dalam rumah," ucap Sarfa memberikan ide.


Abby langsung mengambil handphone miliknya yang berbeda di saku celana, Abby mengikuti saran dari Sarfa. Jari-jari Abby mulai mengetik di layar ponsel. Setelah nama bi Jum muncul Abby langsung menekan tombol panggil.

__ADS_1


Tut


Tut


Tut


Nada dering ponsel bi Jum berdering.


Abby duduk dengan gelisah mengganggu panggilannya di jawab oleh bi Jum.


"Kenapa nggak di angkat," ucap Abby sambil memandangi layar handphonenya.


"Telepon lagi, mungkin bi Jum lagi sibuk," ucap Sarfa.


Abby kembali melakukan yang yang di katakan oleh Sarfa. Abby kembali menghubungi bi Jum. Beberapa detik kemudian terdengar suara sapaan dari bi Jum.


"Ya tuan," bi Jum.


"Bi Neta ada di rumah?" tanya Abby, Abby sengajaan berpura-pura seolah Abby tidak tahu jika Arneta sudah ada di rumah.


"Ada tuan, tuan mau bicara dengan Non?" jawab bi Jum menawarkan.


"Nggak usah bi, Neta lagi apa sekarang?" tanya Abby dengan perasaan penasaran.


"Neta sakit bi, udah minum obat?" tanya Abby khawatir.


"Sudah tuan, Non Neta tadi sempat makan roti sedikit terus minum obat. Sekarang sudah tidur," tutur bi Jum.


"Bi tolong di jaga Neta ya, aku segera pulang," ucap Abby dan langsung memutuskan percakapannya dengan bi Jum.


Sarfa mendengar pembicaraan Abby dan bi Jum, Sarfa juga tahu jika Arneta sedang tidak enak badan.


"Bee, kamu mau pulang arau balik ke kantor?" tanya Sarfa.


Abby binggung harus apa. Apakah balik ke kantor tapi pikirannya mencemaskan keadaan Arneta atau pulang ke rumah tapi tak tahu apa alasannya dirinya pulang cepat.


Sarfa memandangi wajah Abby yang binggung.


"Bee, kamu pulang aja. Biar urusan kantor aku yang handel," ujar Sarfa.


"Sepertinya kamu tidak bisa konsentrasi juga jika berada di kantor," sambung Sarfa.


"Iya, aku pulang aja. Tapi kalau di tanya Neta kenapa aku pulang cepat aku harus jawab apa?" ucap Abby.

__ADS_1


",Kan tinggal bilang kamu itu bosnya, jadi terserah mau pulang jam berapa," ujar Sarfa sambil menggelengkan kepalanya.


Abby ragu-ragu , mengambil keputusan, apakah pulang atau ke kantor. Tapi Abby juga membenarkan perkataan Sarfa tadi, percuma juga jika Abby kekantor jika pikirannya di rumah.


"Aku pulang aja," Abby menentukan pilihannya.


"Mau aku antar sampai di halaman rumah?" tawar Sarfa. Posisi mobil kini tidak jauh jaraknya dari rumah.


"Anterin aku donk Afa, nanti kalau aku jalan dari dini ke rumah nanti bi Jum sama Arneta bisa curiga," tutur Abby menjelaskan.


Sarfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Sarfa menyalakan mesin mobil dan melaju ke arah rumah yang sedari tadi di pantau oleh Abby dan Sarfa. Tidak perlu hitungan menit cukup dengan detik mobil yang di Kendari Sarfa sudah terparkir di halaman rumah Abby.


Abby segera turun dari mobil tanpa mengucapkan terima kasih kepada Sarfa yang sudah mengantarnya. Jangankan kalimat terimakasih kata pamit pun tidak. Sarfa menatap kepergian Abby dengan tatapan heran. Baru kali ini Sarfa melihat Abby yang panik karena seorang wanita. Selama Abby berhubungan dengan Gracia Sarfa tidak pernah raut cemas di wajah Abby, hanya bersama dengan Arneta Abby bisa merasakan perasaan cemas. Sarfa kembali hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Katanya tidak cinta, tapi perhatian banget," kata Sarfa dalam hatinya. Sarfa segera pergi meninggalkan rumah Abby dan kembali bekerja.


Abby melangkah dengan langkah kaki yang panjang dan segera mencari keberadaan bi Jum.


"Bi Jum...," panggil Abby kepada pembantu rumahnya.


Bi Jum setengah berlari menghampiri Abby tuanya.


"Ya tuan.." ucap bi Jum setelah berada di depan Abby.


"Keadaan Neta bagaimana bi?" tanya Abby.


"Non Neta tidur tuan, tadi juga Bibi sudah ngecek Non Neta tidur," tutu bi Jum.


"Badannya panas nggak Bi?" tanya Abby lagi.


"Tuan mencemaskan non Neta?" bi Jum bukan menjawab pertanyaan Abby tapi malah balik bertanya.


"Nggak Bi, aku cuma nanya doang," kilah Abby. Abby tidak ingin bi Jum berpikiran macam-macam tentangnya.


"Oh, kirain...tapi tadi sebelum non Neta tidur Bibi sempat mendengar non Neta bicara sama orang lain di telpon," ucap bi Jum. Bi Jum sengaja mengatakan hal itu karena ingin memancing Abby.


"Apa bi, jadi Neta bicara dengan orang lain, pria atau wanita?" ujar Abby dengan wajah kesal.


"Kayaknya sie perempuan tuan," jawab bi Jum. Dalam hati bi Jum sedang tertawa bahagia.


"Sie Bibi malah ngerjain aku lagi," ucap Abby sambil membalikkan badannya pergi meninggalkan bi Jum. Abby melangkah menujuh ke arah kamar Arneta, Abby ingin mastikan bahwa Arneta benar-benar tidur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2