
Arneta tak ingin Abby tenggelam dengan kesedihannya, Arneta memberikan harapan pada Abby meskipun dirinya sendiri merasa tidak yakin. Satu-satunya cara supaya Abby tak patah semangat Arneta mengingatkan Abby bahwa masih ada beberapa pemeriksaan lanjutan yang akan di lakukan oleh dokter. Dalam hatinya Arneta sangat berharap jika hasil berikutnya akan mendapatkan hasil yang baik.
Bu Maya kini sudah merasa lebih baik lagi, bu Maya sudah bisa mengendalikan perasaannya meskipun di dalam hatinya bu Maya menangis sedih karena Abby. Hati orang tua mana yang bisa menerima anak satu-satunya yang terlahir normal kini harus menerima kenyataan pahit bahkan Abby akan duduk di kursi roda, yang entah kenapa akan bisa berjalan lagi.
Hari menjelang malam Sarfa sudah kembali ke Jakarta karena besok dirinya akan mengemban tugas sebagai pengganti Abby. Posisi ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh Sarfa. Sarfa akan menegang tanggung jawab perusahaan sampai Abby siap kembali bekerja.
Yang menemani Abby saat ini adalah bu Maya, pak Ady dan Arneta.
"Mah, pah. Ini sudah malam sebaiknya mama sama papa pulang atau mencari tempat penginapan. Jangan menginap di rumah sakit," ucap Abby. Abby tak tega jika orang tuanya menginap di rumah sakit menemaninya.
"Tapi bagaimana dengan kamu Bee?" tanya bu Maya. Sebagai seorang ibu tentunya merasa khawatir jika anaknya ditinggal sendirian di rumah sakit.
"Mah, biar Neta aja yang jagain Abby. Mama sama pulang aja," ucap Arneta. Arneta menyetujui usul dari Abby.
"Neta, kamu tidak apa-apa jika ditinggal sendirian?" tanya pak Ady. Pak Ady mengkhawatirkan Arneta.
"Aku baik-baik saja pah, di sini Neta tidak sendirian ada dokter sama suster," terang Arneta.
"Baiklah, kami akan mencari penginapan disekitar rumah sakit. Jika butuh sesuatu segera hubungi kami dan jangan sungkan apa lagi sampai merasa tidak enak hati. Ingat kami ini juga orang tuamu Neta," pak Ady memberikan pesan kepada Arneta.
"Yah pah. Nanti Neta kasih tau jika butuh sesuatu," jawab Arneta.
Setelah merasa yakin Abby akan baik-baik saja jika ditinggal bersama dengan Arneta, bu Maya dan pak Ady pun segera berpamitan. Tujuan utama orang tuanya Abby adalah mencari hotel terdekat dengan lokasi rumah sakit.
Kini yang tersisa di dalam ruangan rawat Abby tinggal Abby dan Arneta.
"Bee, mau makan?" tawar Arneta.
*Aku masih kenyang," jawab Abby menolak tawaran Arneta.
"Tapi kamu harus makan, ingat kamu harus minum obat," terang Arneta. Abby hanya diam tidak lagi membantah ucap Arneta.
Arneta mengambil nampan yang berisikan makanan rumah sakit yang dibawa suster beberapa waktu lalu. Arneta mengambil satu piring yang sudah berisi nasi, untuk lauknya ada di mangkok yang berbeda.
__ADS_1
"Aah..." Arneta menyodorkan sendok berisi makanan di mulut Abby. Dan Abby tidak membuka mulutnya.
"Ayo aah... bukan mulutnya," ucap Arneta. Arneta kembali menyodorkan sendok berisi makanan di mulut Abby.
Abby ingin menolak suapan Arneta akan tetapi perutnya sudah minta diisi. Dengan perasaan setengah hati Abby membuka mulutnya.
"Aah ..." Arneta memasukkan sendok makan ke mulutnya Abby. Arneta mengembangkan senyumnya karena Abby mau disuapin.
Abby menghabiskan makanannya dengan tempo yang cepat, saat ini Abby untuk sementara waktu hanya bisa makan makanan yang lembut. Hal itu dikarenakan atas saran dokter.
Selesai menyuapi Abby, Arneta menyusun rapi alat-alat bekas makanan tadi. Selesai Arneta kembali duduk di samping Abby. Arneta menatap Abby yang hanya diam seribu bahasa.
"Bee..." panggil Arneta.
"Ehmm..." balas Abby. Abby enggan untuk berbicara.
"Kamu kenapa?" tanya Arneta.
"Kok diam?" Arneta kembali mengajukan pertanyaan.
"Malas ngomong, aku udah ngantuk," ucap Abby. Abby beralasan supaya Arneta tidak mengajaknya bicara.
"Ya sudah, kamu istirahat ya," balas Arneta. Arneta memperbaiki posisi selimut. Arneta menyelimuti Abby sampai di bagian dada.
Arneta berpindah tempat, Arneta duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang Abby. Arneta menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Mata Arneta terus mengawasi Abby takut jika Abby membutuhkan sesuatu. Abby berpura-pura menutup matanya tetapi Abby sebenarnya memperhatikan Arneta. Dalam hati Abby merasa kasian melihat Arneta harus tidur di rumah sakit menemaninya.
Arneta beberapa kali merubah posisi duduknya tapi tidak menemukan posisi yang tepat. Arneta akhirnya ber-selonjor diatas sofa. Arneta menjaga matanya agar tidak terpejam. Tetapi waktu yang terus berjalan dan malam pun semakin larut, kesunyian membuat Arneta mulai tak bisa menjaga matanya agar tidak terpejam. Rasa kantuk terus mengusik mata Arneta hingga akhirnya Arneta terlelap dalam mimpi.
Keesokan harinya, pagi-pagi para suster sudah datang membawa perlengkapan mandi untuk Abby. Arneta dan Abby terbangun karena mendengar panggilan seorang suster.
"Selamat pagi bu pak, kami bawakan handuk untuk suami ibu" ucap suster.
"Pagi. Terimakasih sus. Taru di situ aja biar saya yang membersihkan suami saya," ujar Arneta. Abby langsung salah tingkah mendengar ucapan Arneta. Bagaimana tidak selama ini Arneta dan Abby tidak pernah membuka baju bersama.
__ADS_1
Suster itupun keluar melanjutkan tugas berikutnya. Arneta berdiri menghampiri Abby. Arneta membasahi satu towel kecil dengan air hangat.
"Bee, buka dulu bajunya," ujar Arneta santai. Abby semakin salah tingkah.
"Aku bantuin ya buka bajunya," ucap Arneta lagi sambil meraih baju yang dikenakan Abby.
"Aku bisa sendiri!" seru Abby.
"Tangan kamu masih sakit Abby, liat masih di perban," balas Arneta sambil mengingatkan Abby jika tangannya masih di bungkus kain kasa kering.
Dengan perasaan canggung Abby membiarkan Arneta melakukan apa yang dia mau. Arneta mulai melepaskan kancing baju Abby satu demi satu. Jantung Arneta berdetak kencang setiap kali kancing baju terlepas. Begitu juga dengan Abby, jantung Abby berdetak lebih kencang dari biasanya. Arneta dan Abby sama-sama berada di kondisi yang belum pernah mereka berdua bayangkan.
Wajah Arneta berubah merah sedangkan Abby memalingkan pandangannya setelah mereka berdua saling tatap dengan perasaan yang mereka berdua tidak mengerti.
Arneta langsung mempercepat gerakan tangannya supaya cepat selesai membuka baju Abby. Pakaian bagian atas sudah terlepas, Arneta segera membersihkan tubuh Abby dengan towel kecil yang sudah di basahi dengan air hangat.
Tangan Arneta berhenti tepat di dada Abby, tangan Arneta bisa merasakan detak jantung Abby yang tidak beraturan. Arneta menundukkan kepalanya tapi tangannya terus membasuh dada bidang Abby. Tanpa Arneta sadari getaran tangannya hanya pada satu titik saja yaitu di dada Abby.
"Neta, lama-lama dada aku jadi tipis kalau kamu lapnya cuma disitu-situ aja," ucap Abby mengingatkan Arneta.
"Ahh...eh .." kata-kata yang tak jelas terucap oleh Arneta. Wajah Arneta tadinya sudah memerah kini semakin merah karena malu.
Melihat Arneta yang sudah salah tingkah membuat Abby ingin mengerjai Arneta. Kapan lagi kan bisa ngerjain istrinya.
"Neta, bagian bawah juga jangan lupa di lap," ucap Abby.
"Ho.... Mata Arneta langsung membulat mendengar ucapan Abby. Setelah itu kepala Arneta kembali tertunda. Arneta semakin salah tingkah.
"Kalau tau begini tadi nggak usah nawarin diri," gerutu Arneta dalam hati.
"Bagian itu kamu aja yang lap sendiri. Aku nggak bisa," ucap Arneta. Wajahnya semakin memerah. Mungkin saat ini wajah Arneta sudah seperti buah apel Washington.
Abby tersenyum geli melihat Arneta yang semakin menunduk, Abby merasa puas bisa mengerjai Arneta.
__ADS_1