
Di dalam ruangan yang berdekorasi minimalis, cat diding di dominasi oleh warga hitam putih Abby Priyadi sedang bolak balik dalam ruangannya seperti setrika yang sedang menjalankan tugasnya melicinkan pakaian yang kusut.
Tapi berbeda dengan setrika, hatinya yang gelisah tak karuan membuat dirinya stres. Bagaimana Abby tidak stres waktu yang di berikan oleh orang tuanya untuk berpikir hanya tinggal satu hari saja, dan hari ini adalah hari terakhirnya besok Abby harus sudah memberikan jawabannya menerima perjodohan ini atau tidak.
Setelah merasa kakinya pegal karena bolak-balik tak jelas Abby meraih handphone miliknya yang terletak di atas meja kerjanya. Abby memainkan jari-jarinya di atas layar benda pipi tersebut hingga Abby menemukan sebuah nama yang ingin dihubunginya. Abby ingin menghubungi kekasihnya Gracia.
"Halo cia...," sapa Abby setelah benda pipi itu mengeluarkan suara.
"Abby....,' hanya kata itu yang terisap dari bibir Gracia.
"Kamu sibuk ngga?" tanya Abby.
"Aku lagi santai, ada apa?"ucap Gracia.
"Aku ingin ketemu ," jawab Abby.
"Kapan..?"ucap Gracia.
"Nanti sore setelah aku pulang kantor," kata Abby.
"Kalo besok aja ketemunya gimana?" jawab Gracia.
"Aku mau nanti setelah pulang kerja, ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu Cia," tutur Abby dengan nada sedikit memaksa.
"Tapi nanti sore aku udah ada janji," ucap Gracia mencari alasan agar dirinya tidak bertemu dengan Abby saat ini.
"Aku mau bertemu dengan kamu setelah aku pulang kantor, tapi jika kamu menolak bisa aku pastikan kamu tidak akan bisa bertemu lagi dengan ku," ujar Abby dengan nada suara mulai kesal.
Gracia yang mendengar ucapan Abby merasa cemas. Pasalnya selama berhubungan dengan Abby baru kali ini Abby meninggikan suaranya. Gracia merasa bahwa Abby saat ini ada dalam masalah, masalah apa itu Gracia tidak tahu.
Sejujurnya meskipun Abby memiliki masalah dan selama masalah itu tidak ada sangkut-paut dengan dirinya Gracia tidak akan ambil pusing. Gracia justru tidak peduli.
"Baiklah kita ketemu nanti sore," jawab Gracia dengan terpaksa.
"Aku akan datang ke apartemen mu nanti setelah aku selesai kerja," ujar Abby.
"Eh....kita ketemu di luar saja sekalian makan malam, bagaimana?" jawab Gracia sambil memberikan ide. Gracia tidak ingin Abby datang ke apartemennya.
"Ya sudah, kamu tentukan saja di mana kita ketemu nanti aku yang akan samperin kamu Cia," ujar Abby.
"Bagaimana kalo kita ketemu di cafe yang dekat dengan kantor kamu?" usul Gracia.
"Aku tunggu kamu di sana jam lima," ujar Abby.
"Iya aku akan datang. Nanti aku kasih kabar kalo aku sudah sampai," jawab Gracia.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kesempatan dengan Gracia Abby memutuskan hubungan telpon tersebut dan kembali berkonsentrasi pada lembaran kertas putih yang di penuhi dengan tulisan huruf dan angka.
Abby kini kembali larut dengan pekerjaannya, hingga sebuah suara ketokan pintu membuat Abby memalingkan wajahnya dari setumpuk kertas menatap ke arah pintu.
"Masuk...." seru Abby memerintahkan agar orang yang berada dari balik pintu segera masuk
Ceklek
Handle pintu pun terbuka. muncul sosok laki-laki yang sudah sangat akrab dengan Abby. Dan dia adalah Sarfa.
"Siang bos..." sapa Sarfa hormat.
"Sejak kapan kamu punya sopan santun terhadap ku?" ucap Abby sambil mencibir.
Hehehehe
Sarfa hanya bisa memasang cengiran mendengar ucapan Abby.
"Ada apa?" tanya Abby langsung tidak ingin berbasa-basi.
"Ngga suruh aku duduk dulu gitu?" goda Sarfa pada Abby.
"Memang perlu dan harus gitu?" ujar Abby.
"Ngga juga sie...ini ada dokumen yang harus kamu tandatangan. dan satu lagi jangan lupa di periksa dulu," ujar Sarfa mengingatkan Abby. Memang Abby memiliki kebiasaan selalu langsung tandatangan setiap dokumen yang di berikan oleh Sarfa tanpa di periksa lagi.
"Abby...!" seru Sarfa.
"Cuman dokumen dari kamu yang tidak lagi aku periksa karena aku percaya sama kamu. Tapi kalo dari karyawan lain ya sudah pasti aku periksa mulai dari huruf sampai angka tidak boleh ada yang terlewatkan,' ujar Abby membela diri karena melihat Sarfa yang menatapnya sambil melotot.
Sebenarnya yang bos di sini siapa ya Sarfa atau Abby?.
Abby segera memeriksa dokumen yang di berikan oleh Sarfa.Meskipun dokumen itu hanya di baca asal oleh Abby Saraf harus menerima dengan hati setengah keberatan, tapi ya sudahlah yang penting Abby sudah memeriksa dan menandatangani dokumen tersebut.
Bisa di bayangkan jika Asisten Abby ,Sarfa bukanlah orang yang jujur tentunya sangat mudah untuk Sarfa berbuat curang.
Setelah Abby selesai tandatangan,Abby menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memasang wajah sedih dan murung.
"Ada apa Bee...?* tanya Sarfa setelah melihat perubahan raut wajah Abby.
"Aku di jodohkan..," ujar Abby langsung pada intinya.
"Ha...apa ngga salah?" ucap Sarfa terkejut.
"Iya, aku di jodohkan,"Abby mengulangi kata-katanya meyakinkan telinga Sarfa tidak salah dengar ucapnya tadi.
__ADS_1
"Wah sebuah kemajuan.." ujar Sarfa sambil tersenyum bahagia.
"Senyum lagi...tahu ngga sie aku mau di nikahin sama orang yang tidak aku kenal apalagi cinta," gerutu Abby.
"Aku yakin perempuan yang di jodohkan dengan mu pasti perempuan yang baik," ucap Sarfa.
"Perempuan baik dari mananya? pasti perempuan itu mata duitan," balas Abby dengan nada sinis.
"Tidak semua perempuan itu mata duitan," bela Sarfa.
"Mau buktinya? liat aja kamu. Kamu kan di tinggalkan sana pacar kamu karena pacar kamu selingkuh dengan pria yang lebih kaya," ujar Abby mengingat Sarfa pada kenangan pahitnya.
"Bukan cuman mantan aku yang mata duitan liat juga pacarmu juga. Dia lebih sadis dari mantan ku," ujar Sarfa tak kalah sengit.
"Kenapa jadi Gracia juga?" tanya Abby tak terima.
"Abby harus berapa kali kamu di ingatkan? buka mata kamu lebar-lebar jangan kaya aku dulu buta karena cinta," tutur Sarfa, kembali menasehati Abby.
"Ngomong-ngomong apakah kamu sudah bertemu dengan perempuan itu, siapa namanya?" tanya Sarfa penasaran.
"Jangankan namanya ketemu sama orangnya aja belum," ujar Abby lesu.
"Yang bener, kamu belum ketemu sama tuh perempuan?" ujar Sarfa tak percaya.
"Beneran, aku belum ketemu sama tuh orang ," balas Abby dengan mimik serius.
"Aku yakin perempuan itu pasti cantik, dan lebih cantik dari Gracia," kata Sarfa dengan nada yakin.
"Sok tahu kamu, bagaimana jika perempuan itu jelek hitam pendek, hidung pesek plus kutuan," ujar Abby asal.
Hahahaha....
Sarfa tertawa lepas mendengar penuturan Abby.
"Abby -Abby... segitunya pemikiran kamu," ujar Sarfa masih dengan tersenyum lebar.
"Hari ini aku mau ketemu sama Gracia," ujar Abby.
"Akhirnya Gracia punya waktu ketemu sama kamu Bee," ucap Sarfa sambil mencibir.
"Sudah sana balik ke ruangan mu, kalo kamu terus disini cuma bikin aku tambah pusing," ujar Abby sambil mengusir Sarfa untuk keluar dari ruangannya.
Dan Sarfa pun segerah meninggalkan Abby dan kembali ke tempat dirinya bisa melanjutkan tugasnya sebagai asisten Abby.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih masih setia dan sabar menunggu up bab berikutnya,
terimakasih juga kare sudah mampir di novel ini...🙏❤️