CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 78 LEPASKAN DIA


__ADS_3

Dari balik tembok dapur bi Jum melihat pertengkaran antara Abby dan Arneta, bi Jum kesal melihat sikap kasar Abby terhadap Arneta. Dan kali ini bi Jum tidak akan sungkan lagi untuk melaporkan pada nyonya besarnya, yaitu bu Maya. Bi Jum diam-diam mereka pertengkaran Arneta dan Abby dengan menggunakan handphone milik bi Jum. Bi Jum punya alasan yang. tepat kenapa tega melaporkan Abby kepada mamanya, bi Jum tidak ingin kejadian yang dulu terulang lagi, bi Jum juga tidak tega jika melihat nyonya mudahnya di perlakukan kasar oleh Abby.


Adu mulut antara Abby dan Arneta masih terus berlanjut, tapi kondisinya berbeda tak seperti di awal. Abby kini terlihat memohon kepada Arneta.


"Neta, apa tidak bisakah kita memulai dari awal lagi?" ujar Abby.


"Memulai dari awal lagi, apa maksudnya? jadi benar dugaan ku kalau pernikahan ini tidak baik-baik saja," ucap Arneta sambil menatap tanpa berkedip sedikitpun.


Abby menelan ludah seperti menelan batu yang berukuran besar yang sulit untuk masuk kedalam tenggorokan mendengar ucapan Arneta.


"Bukan seperti itu Neta," ucap Abby membantah perkataan Arneta.


"Terus apa yang sebenarnya terjadi di pernikahan ini?" tanya Arneta. Arneta ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di pernikahannya dengan Abby.


"Semua baik-baik saja, kita hidup bahagia," ujar Abby. Jelas Abby berdusta dan Arneta bisa melihat kebohongan Abby dari gesture tubuh Abby saat mengatakan semuanya baik-baik saja.


Arneta maju satu langkah mendekati Abby agar bisa lebih dekat lagi. Jantung Abby langsung berpacu seperti kuda yang sedang ikut lomba kecepatan.


"Kamu bukanlah pembohong yang baik," ucap Arneta tepat di wajah Abby. Mata Abby langsung terbuka lebar seolah tak percaya dengan ucapan Arneta.


"Katakan padaku sejujur-jujurnya, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padaku hingga kamu harus berlutut di hadapan ayahku?" tanya Arneta.


Keringat dingin kini mulai keluar dari lubang pori-pori kulit Abby. Abby terdiam tak bisa mengatakan apa pun. Abby tak mungkin mengaku jika dirinya sudah bersikap kasar bahkan Abby pernah menampar pipi Arneta karena membelah Gracia waktu itu.


Melihat Abby yang tak mampu menjawab pertanyaannya, Arneta kini semakin yakin jika Abby, suaminya itu sudah pernah melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya.


"Baik, jika kamu tidak bisa mengatakan apa yang sudah kamu lakukan padaku. Tunggu saja sampai ingatan ku kembali, kita lihat apa yang terjadi nanti," ujat Arneta sambil tersenyum misterius. Bulu kuduk Abby langsung meremang, seakan Abby sedang menonton film terhoror di muka bumi.


Arneta langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Abby yang masih mematung. Sebelum melanjutkan langkah kakinya lagi Arneta berhenti sejenak untuk mengatakan kalimat berikutnya.


"Mungkin dulu kamu bisa bersikap sesuka hati pada ku, tapi kali aku tidak akan pernah membiarkan kamu menindas ku," ujar Arneta. Arneta pun berlalu dari hadapan Abby.


Abby kini terlihat frustasi sendiri, Abby binggung bagaimana cara menghadapi sikap Arneta. Abby mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin rasanya Abby berteriak sambil mengeluarkan kata-kata kasar dan makian tapi itu semua hanya bisa di katakan Abby fi dalam hatinya. Abby sadar jika dirinya mengumpat pasti akan terdengar oleh Arneta dan bisa di pastikan Abby akan berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Cukup untuk hari ini Abby melihat kemarahan Arneta.

__ADS_1


Abby langsung berangkat ke kantor setelah Arneta meninggalkan dirinya. Abby meraih kunci mobilnya yang terletak di salah meja. Abby berangkat ke kantor dengan perasaan tak menentu. Dalam perjalanan menujuh kantor memorinya kembali pada kejadian di mana sebelumnya Arneta berbuat hal nekat. Abby masih ingat betul kata-kata yang di ucapkan Arneta.


"Jika aku tidak bisa menghilang dari hidupmu, maka aku akan sangat membencimu,' inilah kalimat yang di katakan oleh Arneta.


Abby tiba di kantor dan langsung menuju keruang kerjanya. Abby menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran dan bersandar. Dengan perasaan dan pikiran yang sedang kalut tak mungkin Abby bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Abby menghubungi Sarfa dan meninta sarfa keruangannya. Tak butuh waktu yang lama Sarfa tiba di ruangan Abby. Sarfa langsung masuk dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Abby.


"Ada Bee..?" tanya Sarfa.


"Neta Afa, Neta.." jawab Abby sambil memijit pelipisnya.


"Bukankah semuanya baik-baik saja,? tanya Sarfa binggung.


"Semuanya kacau, " balas Abby dengan suara sedih.


"Bukannya istri mu lagi hilang ingatan, ini saat yang tepat kamu memperbaiki hubunganmu dengan Arneta," ujar Sarfa.


"Dia hilang ingatan atau tidak semuanya sama saja. Sekarang malah lebih parah lagi. Aku tidak bisa mendekatinya," jelas Abby.


"Ha, kok bisa?"ucap Sarfa terkejut.


"Ya mah," sapa Abby setelah benda pipih itu bersandar di telinga Abby.


"Sekarang mah?"


"Ada apa?"


"Iya aku pulang sekarang,"


Hanya kata-kata Abby yang bisa didengarkan oleh Sarfa.


",Afa aku titip kantor ya," ucap Abby sambil berdiri bersiap meninggalkan ruangan yang belum lama di memasukinya. Sarfa hanya mengangguk tanda mengerti. Sarfa tidak ingin bertanya apakah lagi mencegah Abby pergi. Dari raut wajah Abby Sarfa mengerti jika Abby sedang berada dalam masalah besar. Bukan masalah kerjaan tapi masalah tentang pernikahan Abby.


Setelah turun di lantai parkiran mobil Abby segera menuju mobilnya dan masuk. Abby langsung menyalakan mesin mobil dan pergi ke rumah orang tuanya seperti yang di perintahkan mamanya.

__ADS_1


Hampir satu jam Abby mengendari mobilnya menuju rumah kediaman mama dan papanya. akhirnya sampai juga. Abby memarkirkan mobilnya secara asal-asalan dan langsung masuk kedalam rumah.


"Mah....," panggil Abby.


Bu Maya mendengar panggilan Abby langsung menghampiri Abby dan langsung memerintahkan Abby untuk duduk.


Abby masih belum mengerti kenapa mamanya memintanya untuk pulang hari ini.


"Ada apa mah?" ucap Abby dengan nada lesu. Pertengkarannya dengan Arneta sudah menguras tenaga Abby.


"Apa yang kamu lakukan pada menantu mama?" ujar bu Maya dengan suara yang sudah emosi meskipun belum meledak.


"Mah, mama tau dari mana?" tanya Abby binggung.


"Tidak perlu kamu tau dari mama mama dapat informasinya, yang penting kamu jawab dulu apa yang sudah kamu lakukan pada Neta tadi pagi!" ujar bu Maya langsung pada intinya.


Kepala Abby langsung terduduk lesu, Abby tak punya tenaga untuk membatah perkataan mamanya.


"Abby....!" bu Maya setengah berteriak menyebut nama putranya.


"Maafkan Abby mah, Abby nggak sengaja" jawab Abby membela diri.


"Tidak sengaja kata mu Bee, dia istri mu, apa belum cukup kamu bersikap kasar pada Neta, yang buat dia nekad bunuh diri, Ha..!" emosi bu Maya seakan sudah di ubun-ubun dan ingi segera meledak.


"Ceraikan Arneta sekarang juga!" ujar pak Ady. Pak Ady pun sudah tidak tahan melihat sikap kasar Abby.


"Pah, Abby nggak mau pisah sama istri Abby," ucap Abby hampir menangis.


"Ngga mau pisah tapi kamu siksa anak orang. Dimana otak kamu Bee. Papa sama Mama tidak pernah mengajarkan kamu bersikap kasar sama orang lain apalagi sama istrimu!" Pak Ady sudah geram dengan sikap putranya ini.


"Abby nggak mau pisah, tolong bantu Abby mah,pah," Abby kini merasa terpukul dan putus asa.


"Jalan satu-satunya kamu harus konsultasi dengan dokter psikiater Bee, kamu harus bisa menguasai emosimu agar tidak gampang marah," bu Maya memberikan saran untuk putranya.

__ADS_1


"Iya, Abby akan ke psikiater," jawab Abby menyetujui usul mamanya.


Bersambung


__ADS_2