
Bi Jum tak suka dengan apa yang diucapkan oleh Gracia barusan. Dalam hati bi Jum hanya bisa mengumpat karena kesal.
Bi Jum segera melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Gracia. Bi Jum masih mengingat dengan jelas siapa wanita yang sedang bertamu saat ini.
Bi Jum membuatkan minuman untuk Gracia tapi di benak bi Jum timbul ide untuk mengerjai Gracia. Bi Jum membuatkan Gracia segelas jus jeruk, tapi bi Jum tidak menambah gula melainkan garam yang sangat banyak.
"Rasain kamu....," ujar bi Jum sambil tersenyum puas. Bi Jum mengaduk jus jeruknya supaya garamnya cepat larut.
Setelah selesai mengaduk bi Jum segera mengantarkan jus itu kepada Gracia.
"Silahkan nona...," kata bi Jum sambil meletakkan gelas berisi jus tersebut di atas meja.
Gracia yang sudah merasakan haus segera meraih gelas tersebut dan langsung meneguknya.
Bryuuur
Jus jeruk tersebut langsung muncrat keluar dari mulut Gracia.
"Hei babu sialan, apa kamu sengaja ingin meracuniku. Ha...!" umpat Gracia langsung berdiri dari duduknya.Lida Gracia langsung merasa kebas karena rasa asin dari just tersebut.
"Dasar tamu tak tahu terimakasih sudah capek-capek di buatin minuman malah di sembur," jawab bi Jum. Bi Jum tak ada rasa takut dengan Gracia.
Gracia langsung meradang mendengar jawaban bi Jum.
"Hei babu sialan liat saja ketika Abby pulang nanti akan aku adukkan kamu, dan ingat saya akan meminta Abby untuk segera memecat mu!" ujar Gracia.
"Cih, emang kamu siapanya tuan Abby?" ujar bi Jum.
"Aku ini calon istrinya Abby, jadi jangan macam-macam dengan ku!" ujar Gracia penuh percaya diri.
"Hei nona, bangun. Tuan Abby itu sudah menikah kamu mau jadi pelakor?" balas bi Jum.
"Sebentar lagi Abby akan menikah dengan ku karena aku sedang mengandung anaknya Abby," jelas Gracia.
"Kamu yakin itu anak tuan Abby?" ujar bi Jum sambil menatap Gracia dengan tatapan merendahkan. Gracia pun semakin tersulut emosi, Grace mengepalkan kedua tangannya erat-erat sampai kuku jarinya menancap kelit telapak tangannya.
"Kamu itu hanya babu di rumah ini jadi jangan belagu," ujar Gracia.
__ADS_1
"Babu masih terhormat jika di bandingkan dengan perempuan perebut suami orang," balas bi Jum. Setelah mengatakan kalimat itu bi Jum segera meninggalkan Gracia yang masih emosi.
"Dasar babu sialan, liat aja nanti. Abby pasti akan memecat mu," umpat Gracia. Gracia kembali duduk di sofa dengan niat menunggu Abby pulang.
Sudah hampir tiga jam Gracia menunggu tapi Abby belum juga kembali. Gracia mulai merasa bosan karena dari tadi dirinya hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa. Gracia sudah beberapa kali mencoba menghubungi Abby lewat panggilan telepon tapi panggilannya tak tersambung. Hanya suara mesin operator yang menjawab panggilan tersebut.
"Maaf nomor yang anda tujuh tidak terdaftar. Mohon diperiksa kembali," Jelas saja panggilan Gracia tak terhubung di karena nomor telepon Gracia sudah di blokir oleh Abby.
Hari semakin sore dan Gracia pun semakin merasa bosan dan mulai lapar. Bi Jum hanya memberikan segelas jus asin pada Gracia setelah itu bi Jum tidak pernah menunjukkan diri lagi di hadapan Gracia. Karena lelah menunggu akhirnya Gracia memutuskan untuk pulang, esok hari baru Gracia akan datang kembali menemui Abby.
Sementara itu di rumah sakit Arneta sudah di pindahkan di ruang perawatan, Abby duduk di samping Arneta.
Mata Arneta terbuka secara perlahan kepalanya sedikit terasa pusing. Arneta memegangi kepalanya sambil meringis.
"Neta, kamu sudah bangun," ucap Abby sambil memegang tangan Arneta. Arneta langsung menatap Abby, tapi tatapan mata Arneta kini berubah, bukan tatapan seperti beberapa bulan terakhir ini.
Arneta langsung menarik cepat tangannya agar lepas dari genggaman Abby. Arneta menatap Abby dengan sorot mata kebencian dan juga rasa sakit.
Deg
Abby melihat perubahan sikap Arneta membuat hatinya merasakan ada sesuatu yang sudah terjadi. Abby bisa menebak jika ingatan Arneta sudah kembali, akan tetapi Abby menepis anggapannya itu.
"Kenapa kamu ada disini, pergi aku tak ingin melihat mu!" usir Arneta pada Abby.
"Tapi kenapa aku harus pergi Neta, aku mencemaskan keadaan mu!" jawab Abby.
"Aku sudah ingat semuanya jadi kamu tidak perlu lagi bersandiwara," balas Arneta.
Suhu tubuh Abby langsung berubah menjadi dingin seperti baru di siram dengan sebaskom air es.
"Soal itu aku minta maaf Neta," ujar Abby.
"Aku tahu kamu pasti berharap agar ingatanku tidak kembali, iyakan?" tuding Arneta. Rasa kesal dan marah menyelimuti hati Arneta.
"Bukan seperti itu Neta," Abby membantah tudingan Arneta.
Arneta kembali teringat kejadian saat dimana dirinya terakhir kalinya di perlakukan kasar oleh Abby, dan bukan hanya itu Arneta juga mengingat kata-kata Abby yang menginginkan agar dirinya menghilang dari pandangan Abby. Abby juga menyuruh Arneta agar mati. Kata-kata itu seperti pedang yang sedang menyayat-nyayat hati Arneta rasanya sangat sakit.
__ADS_1
Airmatanya Arneta mengambang di pelupuk matanya. Rasa sakit itu benar-benar menyiksa perasaan Arneta.
"Aku tak ingin melihat mu, pergi...!" ucap Arneta.
"Neta, tak bisakah kamu memaafkan ku sekali ini saja," pinta Abby.
Airmata Arneta terjun tanpa bisa dibendung lagi, dada Arneta terasa sesak menahan sakit.
"Aku bilang pergi...!" sekali lagi Arneta menyuruh Abby pergi.
"Aku tidak akan pergi, suka atau tidak suka aku akan tetap disini. Aku panggil dokter sekarang," ujar Abby. Abby tak mempedulikan Arneta mengusirnya.
Abby segera keluar dari dalam ruangan dan langsung menemui perawat, Abby ingin memanggil dokter untuk memeriksa Arneta kembali. Sebenarnya Abby bisa saja memanggil dokter tanpa keluar dari dalam ruangan akan tetapi Abby sengaja kekuar hanya ingin menghirup udara segar untuk menetralkan hatinya yang sedang gelisah.
Abby kembali masuk kedalam ruangan bersama seorang dokter dan perawat. Dokter itu menghampiri Arneta dan segera memeriksa Arneta.
"Semuanya baik-baik saja, besok ibu sudah bisa pulang," jelas dokter.
"Terimakasih dok," ucap Abby. Setelah itu dokter menulis resep obat untuk Arneta dan menyerahkan secarik kertas putih yang sudah bertuliskan obat untuk Arneta.
"Jangan lupa di tebus ya pak, dan jangan lupa minum obatnya Secara teratur," ucap dokter. Setelah selesai dokter dan perawat itu kembali ketempat mereka masing-masing.
Dan kini kembali hanya tersisa Arneta dan Abby dalam ruangan tersebut.
"Tinggalkan aku sendiri Abby," pinta Arneta.
"Sudah aku bilang aku tidak akan pergi," jawab Abby. Abby melangkah maju menghampiri Arneta. Arneta bergeser dari duduknya membuat jarak dengan Abby.
"Neta, aku sungguh menyesal. Tolong maafkan aku," ucap Abby memohon.
Airmata Arneta kembali menetes tak tahu bagaimana supaya Abby pergi meninggalkan dirinya.
"Neta..." panggil Abby.
Arneta memalingkan wajahnya dari tatapan Abby, airmatanya semakin deras mengalir membasuh hatinya yang terluka. Luka yang sudah terkubur kini kembali terbuka membuat hati Arneta semakin terasa sakit.
Abby meraih tubuh Arneta dalam pelukannya Arneta mencoba mencoba berontak dalam pelukan Abby tapi usahanya sia-sia, Abby semakin kuat memeluk tubuh Arneta.
__ADS_1
Bersambung