
Satu Minggu sudah Arneta terbaring di rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri. Semua orang mulai cemas dengan keadaan Arneta saat ini. Abby cemas, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya Arneta merasa hal yang sama.
Saat ini Rika datang ke rumah sakit untuk menjenguk Arneta, tak sengaja Rika dan Abby berpapasan di lorong rumah sakit. Abby keluar dari dalam ruangan Arneta ingin ke kantin hendak membeli air minum untuk dirinya dan ayah mertuanya, pak Jaya.
Tiba di lorong dekat dengan kamar Arneta Abby melihat kedatangan Rika, perasaan Abby langsung hilang mood. Begitu juga dengan Rika. Rika dan Abby kini menjadi musuh bebuyutan.
Abby melangkah maju hendak ke kantin rumah sakit, Rika juga melangkah mendekati pintu kamar Arneta.
Saat berpapasan Abby menatap Rika dengan tatapan tak suka, dan Rika pun tak ingin kalah. Rika membuang mukanya dan menatap ke arah lain. Melihat sikap Rika Abby langsung tersinggung.
"Hei perempuan aneh, mau kemana kamu?" ucap Abby kasar. Rika yang merasa dirinya di panggil pun langsung menoleh ke arah Abby.
"Mau jenguk sahabatku yang sedang koma karena perbuatan suaminya," jawab Rika santai. Tapi kata-kata Rika membuat Abby merasa dirinya seperti seorang penjahat.
Abby tak terima dengan ucapan Rika barusan dan memulai perdebatan dengan Rika.
"Jaga mulut ya...!" ucap Abby tak terima.
"Kenapa tersinggung ya, tapi emang benarkan kamu yang sudah buat Neta tak sadarkan diri," ujar Rika. Rika sama sekali tak takut dengan Abby.
"Diam kamu...!" bentak Abby.
Hehehe
Rika tertawa sini memandang Abby.
"Diam? itu kenyataannya jadi jangan suruh aku diam," Rika seperti sedang menyiram bensin si salah api. Abby tersulut emosi dan langsung mendekati Rika.
"Tutup mulutmu atau aku....," kata-kata Abby tak sampai selesai diucapkan tapi langsung di potong oleh Rika.
"Aku apa...apa kamu mau bikin aku seperti Neta. Buat hampir gila dulu terus sembuh-in setelah itu buat Arneta bunuh diri. Itu maksudnya?" ujar Rika. kata-kata Rika seperti palu yang sedang menghantam ulu hati Abby.
Tanpa di sadari dari balik pintu pak Jaya mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Rika. Dari balik pintu pak Jaya mendengar bagaimana anaknya di perlakukan oleh Abby. Hati pak Jaya merasakan sakit yang teramat dalam, perasaan bersalah pun ikut dirasakan oleh pak Jaya. Karena biar bagaimanapun Arneta menikah dengan Abby karena di jodohkan oleh pak Jaya sendiri.
Pak Jaya tak menyangka jika Arneta mendapatkan perlakuan kasar oleh Abby. Hati pak Jaya semakin sakit mengingat dulu Arneta tak pernah si marahin apa lagi sampai di bentak. Pak Jaya membayangkan bagaimana kehidupan putrinya setelah menikah.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan lagi mendengar perdebatan antara Abby dan Rika akhirnya pak Jaya keluar dari dalam ruangan Arneta.
Ceklek
Handle pintu ditarik dari dalam ruangan. Abby fan Rika pun memalingkan kepalanya serempak setelah mendengar suara pintu di buka.
Dari dalam ruangan pak Jaya keluar dengan wajah penuh amanah dan itu membuat Abby dan Rika mendadak merasa ngeri. Pak Jaya langsung menghampiri Abby dan menatapnya tajam. Ada tatapan terluka dari pancaran sinar mata pak Jaya.
"Jadi seperti ini kelakuan kamu selama ini pada putri ku," ucap pak Jaya sambil memegang kerah kemeja Abby. Abby diam tak ingin melawan, Abby sadar diri bersalah. Abby sudah siap menerima pukulan yang akan di berikan oleh pak Jaya.
Rika melihat pak Jaya yang sudah mencengkram baju Abby, langsung panik.
"Ayah, sudah yah. Dia sudah mendapatkan hukumannya," ucap Rika mencoba menenangkan pak Jaya. Pak tak melepaskan tangannya dari kerah baju Abby.
"Jika kamu tidak bisa membahagiakan Arneta, kembalikan Arneta pada kami. Arneta masih punya orang tua yang sanggup membahagiakannya," ucap pak Jaya.
"Jika kamu tidak bisa mencintai Putri ku, kembalikan dia ke rumah orangtuanya, saya sebagai ayahnya masih sangat mencintai anakku. Kamu pikir anakku menikah denganmu karena uang kamu sangatlah salah. Meskipun kami tidak sekaya keluargamu tapi Arneta tidak pernah merasakan kekurangan," sambung pak Jaya lagi. Pak Jaya menumpahkan emosi kepada Abby.
Usai mengatakan itu pak Jaya melepaskan tangannya dari kerah baju Abby.
"Yah, aku tidak ingin bercerai dengan Neta. Aku mencintai Neta yah," ucap Abby dengan wajah piasnya
"Berdoa saja semoga Neta memaafkan mu, tapi jujur ayah sangat keberatan jika Neta kembali lagi denganmu Abby," ujar pak Jaya tegas.
Setelah mengatakan kalimat itu pak Jaya kembali kedalam ruangan Arneta di susul oleh Rika. Abby yang ingin ikut masuk langsung di halang oleh pak Jaya.
"Mau apa kamu kesini?" ucap pak Jaya.
"Aku mau liat Neta yah," jawab Abby.
"Saat ini kamu tidak ayah ijinkan menemui Arneta," jawab pak Jaya.
"Yah, aku menyesal, tolong ijinkan Abby menemani Arneta yah, Abby mohon," ucap Abby bukan hanya kata memohon yang terucap dari bibir Abby, tapi raut wajah Abby pun ikut memohon.
Brakk
__ADS_1
Pintu pun tertutup rapat di tutup oleh pak Jaya. Untuk saja posisi Abby tidak terlalu dekat dengan pintu, jika tidak bisa di pastikan hidung Abby sudah kena hantam daun pintu rumah sakit.
Abby tak ingin memaksakan dirinya untuk masuk karena dirinya sadar jika ayah mertua sedang marah. Abby memilih duduk di kursi tunggu depan ruang Arneta. Abby duduk sambil merenung.
Tak berapa lama kemudian dokter datang untuk mengecek kondisi Arneta. Dokter itu langsung masuk dan di belakangnya Abby ikutan masuk.
"Maaf pak, saya mau cek pasien dulu," dokter itu meminta ijin.
"Silahkan dok," jawab pak Jaya. Dan dokter itupun langsung melaksanakan tugasnya.
Selesai memeriksa Arneta dokter itu tidak memperlihatkan wajahnya yang binggung.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Abby.
"Bisa ikut keruang saya," ujar dokter itu mengajak Abby.
"Baik dok.." jawab Abby dan pak Jaya bersamaan.
Setelahnya dokter itu kembali keruang praktek miliknya dan di belakangnya Abby dan pak Jaya mengikuti. Tiba di dalam ruangan dokter mempersilahkan Abby dan pak Jaya untuk duduk. Tak ingin membuang waktu lagi Abby langsung bertanya.
"Dok, istri saya gimana, semuanya baik-baik sajakan? Abby cemas begitu juga dengan pak Jaya.
Dokter membuka laporan hasil pemeriksaan Arneta dan membacanya.
"Pak, sebenarnya kondisi istrinya saat ini sudah baik-baik saja, tidak ada cedera di tubuh pasien saat ini, hanya saja...." belum selesai dokter itu menjelaskan Abby langsung memotong ucapan dokter.
"Hanya apa dok?" Abby semakin cemas.
"Apakah pasien pernah mengalami shock atau trauma?" tanya dokter.
"Pernah dok, itu karena ulah saya," jawab jujur. Di sampingnya pak Jaya sudah mengepal tangannya.
"Maaf saya harus menyampaikan berita ini, saat ini pasien sepertinya tidak ingin bangun dari tidurnya.," jelas dokter itu. seperti di sambar petir tubuh pak Jaya langsung lemas sedangkan Abby tubuhnya langsung menjadi kaku seperti patung.
Bersambung
__ADS_1