CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 89 TIDUR BERSAMA


__ADS_3

Arneta masih berontak dalam pelukan Abby namun sekuat apapun Arneta mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Abby semuanya sia-sia, Abby semakin mendekap erat tubuh Arneta dalam pelukannya.


Tak ingin membuang tenaga sia-sia akhirnya Arneta membiarkan Abby memeluknya. Hanya tinggal Isak tangis Arneta yang terdengar kini. Airmata Arneta telah membasahi seluruh wajah Arneta.


Setelah Arneta tidak lagi berontak Abby mengendurkan pelukannya. Abby menatap wajah Arneta yang basah karena airmata.


"Neta, aku menyesal. Sungguh aku minta maaf," ucap Abby.


"Abby, tolong lepaskan aku. Aku tahu kamu tidak mencintai ku," ucapan Arneta di selah-selah tangisnya.


"Aku mencintaimu Neta," aku h Abby jujur.


"Bohong, kamu punya kekasih dan dia adalah orang yang kamu cintai. Tolong lepaskan aku," ucap Arneta.


Abby kembali meraih tubuh Arneta masuk ke dalam pelukannya.


"Sungguh aku mencintaimu, soal perempuan itu aku pastikan bahwa dia tidak ada lagi dalam hatiku. Aku hanya mencintaimu percayalah," ucap Abby. Arneta diam dalam pelukan Abby ada rasa nyaman dan ketenangan yang didapat oleh Arneta.


Namun meskipun demikian Arneta mencoba untuk memungkiri perasaannya.


"Kamu hanya berbohong pada ku, aku tahu kamu sangat mencintai wanita itu," Arneta masih ragu akan pengakuan Abby yang. mencintai dirinya.


"Itu dulu Neta, sekarang tidak," sekali lagi Abby mengakui perasaannya pada Arneta.


Arneta terdiam mendengar pengakuan Abby, ingin rasanya Arneta mempercayai ucapan Abby saat ini namun di satu sisi hati Arneta belum bisa menerima perasaan Abby. Abby melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Arneta dengan menggunakan kedua tangannya.


"Kata dokter besok kamu sudah bisa pulang,"ujar Abby. Arneta hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Abby, tanpa dikasih tau Abby Arneta juga sudah tahu jika dirinya besok sudah bisa pulang.


Abby duduk di samping Arneta, Abby melirik jam tangannya yang melingkar di tangan kiri.


"Neta, kamu lapar?" tanya Abby.


"Nggak, aku nggak lapar," jawab Arneta. Tapi lain di mulut lain juga dengan perut Arneta.


Kruk


Kruk


Perut Arneta mengeluarkan bunyi menyangkal ucap empunya perut. Cacing-cacing dalam perut Arneta ternyata tidak bisa diajak kerjasama.

__ADS_1


Abby tersenyum mendengar bunyi suara perut Arneta.


"Kamu mau makan apa?" tanya Abby langsung.


Dengan rasa malu dan wajah yang memerah Arneta berucap.


"Terserah, apa aja boleh," jawab Arneta sambil menunduk. Arneta sungguh merasa malu karena ketahuan bohong.


Beberapa detik kemudian perawat masuk sambil mendorong troli yang berisikan menu makanan untuk Arneta.


"Permisi....," ujar perawat itu. Abby dan Arneta hanya tersenyum membalas sapaan perawat tersebut.


Perawat itu meletakkan beberapa mangkok kecil yang berisikan makanan diatas meja kecil untuk Arneta.


"Silahkan bu, saya permisi dulu," pamit perawat itu setelah selesai memindahkan sebagian isi troli.


Arneta melirik makanan yang baru saja diantara oleh perawat, hanya satu mangkok yang menjadi perhatian Arneta. Satu mangkok yang berisikan beberapa potong buah menarik perhatian Arneta.


"Mau makan itu atau mau di beli di luar saja?"' tanya Abby setelah melihat Arneta tak berselera dengan makanannya yang diantar perawat barusan.


"Aku mau makan soto ayam," ucap Arneta.


"Ya sudah aku telpon supir ya biar dia saja yang beli," tutur Abby. Arneta hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Sambil menunggu makanan di balik supir Arneta menyantap beberapa iris buah untuk mengganjal perutnya yang lapar. Diam-diam Abby memperhatikan sikap Arneta Abby tersenyum geli melihat bibir Arneta yang sedang mengunyahnya buah dalam mulutnya. Ingin rasanya Abby mencium Arneta karena gemas tapi hal itu tak berani dilakukan Abby, Abby ingin menunggu sampai Arneta benar-benar siapa menerima dirinya terlebih dahulu.


Sudah tiga puluh menit akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Supir yang disuruh Abby datang sambil menenteng beberapa kantong plastik yang berisikan makanan.


"Misi pak...," sapa sopan supir.


"Masuk pak....!" Abby mempersilahkan supirnya untuk masuk.


"Ini pesanannya pak..," ujar supir sambil menyerahkan beberapa kantong plastik yang dibawanya.


Abby menerima kantong plastik yang diserahkan oleh supirnya.


"Bapak udah beli makanan untuk bapak?" tanya Abby. Abby tak ingin supirnya kelaparan.


"Sudah pak, makasih," jawab supir.

__ADS_1


Setelah menyerahkan kantong-kantong tersebut supir itupun keluar dari ruangan tersebut. Abby dan Arneta langsung menyantap makanan yang dibawa oleh supir tadi.


Setelah selesai makan Abby langsung membereskan kotak-kotak makanan yabg sudah kosong dan membuangnya ke tempat sampah.


Arneta sudah minum obat setelah makan, karena harus menginap satu malam di rumah sakit Arneta tak tega melihat Abby hanya duduk di sofa sambil mencari posisi yang pas untuk merebahkan tubuhnya.


"Bee, tidur disini saja,' tawar Arneta sambil menepuk kasur yang kosong disampingnya.


Abby membulat mata terkejut dengan tawaran Arneta.


"Kamu yakin...?" tanya Abby, Abby meyakinkan dirinya bahwa dirinya tak salah dengar.


"Mau nggak, kalau nggak mau ya sudah," ucap Arneta sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Abby dengan cepat berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Arneta. Abby naik keatas kasur secara perlahan-lahan takut Arneta berubah pikiran.


Dikarenakan ukuran tempat tidur yang hanya cukup satu orang saja membuat Abby dan Arneta tidur berhimpitan. Jantung Arneta dan Abby seperti sedang berolahraga kuda pacu saat ini. Arneta tak berani bergerak karena takut Abby terusik, begitu juga dengan Abby. Tubuh Abby menegang seperti patung , tubuh Abby menjadi kaku.


Keesokan paginya Abby dan Arneta terbangun setelah beberapa perawat membangunkan Abby.


"Permisi pak," sapa perawat.


Abby dan Arneta langsung tersipu malu karena ketahuan para perawat jika mereka tidur berdua di satu ranjang. Perawat itu hanya tersenyum kecil melihat Arneta dan Abby yang salah tingkah.


"Bu, saya hanya mengantar perlengkapan untuk mandi," ujarnya perawat tersebut. Perawat itu langsung meletakkan alat perlengkapan mandi di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur Arneta. Setelahnya perawat itupun pamit keluar.


Terjadi perdebatan kecil antara Arneta dan Abby setelah perawat itu pergi.


"Kamu sie telat bangun," ucap Arneta sambil memajukan bibirnya.


"Ya namanya kesiangan," selah Abby sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya udah aku mau mandi dulu, atau kamu lebih dulu," tutur Arneta.


"Kamu aja dulu, aku mau telpon Sarfa dulu," jawab Abby.


Arneta pun bergegas turun dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi.


Abby meraih handphone miliknya dan langsung menghubungi Sarfa. Abby memberitahu bahwa dirinya hari ini tidak akan masuk kantor. Abby meminta sarfa untuk menghandle semua pekerjaan Abby hari ini. Sarfa yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan Abby sama sekali tak keberatan apa lagi Sarfa tahu saat ini Arneta sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Arneta keluar dari dalam kamar mandi, Arneta sudah tampak lebih segar saat ini. Abby masuk kedalam kamar mandi bergantian dengan Arneta. Abby dan Arneta kembali mengenakan pakaian yang mereka pakai kemarin karena mereka berdua tidak membawa pakaian ganti.


Bersambung


__ADS_2