
Abby duduk diam menyaksikan semua yang terjadi pagi ini. Abby bukan tidak berbuat apa-apa akan tetapi dirinya sudah memberikan tanda kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Termasuk pegawai yang tadi bergosip tentang dirinya di lobby.
Tubuh kepala divisi keuangan mulai mengeluarkan keringat dingin, sendi-sendi tulangnya seakan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dirinya sungguh tidak pernah menyangka jika Sarfa akan melakukannya audit dadakan, seandainya saja kepala divisi tahu akan hal ini sudah pasti dia akan merubah semua laporan keuangan sesuai dengan keadaan. Tapi semuanya terlambat hanya tinggal rasa penyesalan dan rasa takut menyelimuti pikirannya.
Sarfa memandang kepala divisi dengan tatapan penuh intimidasi, semua orang yang hadir pada meeting kali ini dibuat sangat terkejut oleh Sarfa.
"Ingat jika terbukti ads kesalahan dalam setiap laporan apa lagi sampai korupsi uang perusahaan saya bisa pastikan orang itu akan berada di dalam penjara. Dan satu lagi semua uang yang dicuri harus di kembalikan tanpa ada kurang sepeserpun," ujar Sarfa tegas.
Meeting kali ini harusnya diawali oleh penyerahan laporan berubah menjadi tempat amukan Sarfa.
"Silahkan anda tunggu di luar," ucap Sarfa lagi menyuruh kepala divisi untuk menunggu di luar ruang meeting. Sarfa tidak mengijinkan kepala divisi untuk ikut meeting kali ini.
Kepala divisi pun keluar dari ruangan dengan tubuh gemetaran sakit takutnya. Rapat di mulai, Ada sebagian dari anggota rapat menunda laporannya dengan alasan belum siap. Mereka ini adalah orang-orang yang ingin berbuat curang tapi belum sempat. Ada juga divisi lain yang menyeramkan laporannya karena tidak bermasalah dan laporannya sudah siap.
Rapat selesai Abby memberikan beberapa instruksi pada setiap divisi. Abby dan Sarfa kembali keruang kerjanya Abby, Sarfa kini bekerja satu ruangan dengan Abby. Sesuai dengan permintaan Arneta.
Abby kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Afa, panggilkan HRD keruang ku," ucap Abby. Dan Sarfa tanpa bertanya langsung melakukan perintah Abby. Beberapa menit kemudian kepala HRD tiba di ruangan Abby.
"Permisi pak, bapak panggil saya," ucap HRD.
"Iya, tolong kamu siapkan beberapa surat pengunduran diri untuk beberapa orang. Dan surat itu harus di tandatangani hari ini juga," ucap Abby.
"Ha, maksudnya bapak akan memecat beberapa karyawan, gitu pak?" HRD terkejut dengan perintah Abby.
"Ada masalah dengan itu?" tanya Abby dengan suara dingin.
"Tidak pak....." HRD menjawab dengan cepat.
Abby mul, menyebutkan nama-nama karyawan yang di maksud. Dan itu berjumlah sepuluh orang. HRD pun semakin terkejut dengan keputusan Abby yang mendadak. Karyawan yang di pecat Abby termasuk pegawai yang rajin. Tetapi Abby tak ambil pusing, masih banyak karyawan yang lebih kompeten pikir Abby.
Setelah mendapatkan perintah HRD pun langsung melaksanakan tugas yang diberikan pimpinan perusahaan. Hrd mulai memanggil karyawan yang terkenal PHK. Semua orang yang fi panggil oleh HRD sangat terkejut setelah mendapatkan surat pemutusan kerja. Hari ini merupakan hari terakhir untuk mereka bekerja. Mereka tidak menyangka jika obrolan mereka tadi pagi berakibat pemecatan terhadap mereka semua. Tak ada lagi bisa mereka lakukan selain menerima pemecatan tersebut.
Di dalam ruangan presdir Abby dan Sarfa kembali pada pekerjaannya mereka. Sampai pintu di ketuk oleh seseorang dari luar.
Tok
Tok
"Masuk...!" seru Sarfa mempersilahkan orang yang mengetuk pintu masuk.
__ADS_1
"Permisi pak," orang itu ijin masuk.
"Silahkan duduk," ucap Abby sambil menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Yang masuk kedalam ruangan Abby bukan hanya satu orang saja, melainkan ada beberapa orang yang jumlahnya ada sepuluh orang. Dan mereka adalah petugas audit yang panggil Sarfa.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Abby.
"Semuanya sudah selesai kami periksa pak, dan laporannya ada di sini," jawab pemimpin audit.
"Ada beberapa laporan yang tidak sesuai yang kami temukan, dan itu semua berasal dari divisi keuangan pak," jelas kepala audit.
"Bisa saya lihat laporannya," balas Abby. Kepala audit langsung menyerahkan hasil laporannya.
"Terimakasih sudah bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Abby tulus.
Semua laporan hasil audit sudah berada ditanggungnya, kini tinggal mengurus orang-orang yang sudah berbuat curang, lebih tepatnya sudah mencuri uang perusahaan.
"Afa, panggil mereka bertiga keruang ku, satu lagi jangan lupa memanggil kepala divisi keuangan juga," Abby langsung memberikan perintah pada Sarfa.
Sarfa pun segera memanggil empat orang tersebut sesuai keinginan Abby. Hanya butuh beberapa menit keempat orang yang di panggil sudah datang menghadap pimpinan perusahaan.
"Katakan padaku hukum apa yang pantas saya berikan pada kalian semua," ujar Abby.
"Apa kurang jelas pertanyaan saya, ha..!" Abby mulai terpancing emosi.
"Maafkan kami pak, kami janji akan memperbaiki semuanya," ucap salah satu orang yang merupakan wakil dari kepala keuangan. Dirinya mengambil inisiatif untuk mengakui kesalahannya.
"Kamu pikir aku akan membiarkan parah pencuri uang perusahaan? jangan bermimpi!" ujar Abby. Abby menaikkan intonasi suaranya.
Sarfa sudah mengecek semua laporan yang di berikan oleh petugas audit. Dari laporan tersebut Sarfa dan Abby mengetahui berapa jumlah uang yang sudah si korupsi oleh masing-masing orang. Jumlahnya jika ditotal bernilai tinggi.
"Kamu...!" ujar Abby sambil menunjuk kepala divisi keuangan.
"Kembalikan semua uang yang sudah kamu ambil," seru Abby. "Dan kalian juga termasuk. Semua uang yang kalian curi harus di kembalikan tanpa kurang sepeserpun," sambung Abby.
Empat orang yang sudah ketahuan korupsinya langsung ketakutan.
"Jika kalian tidak mengembalikan uang itu, saya pastikan penjara buat kalian," Abby menunjukkan bahwa dirinya adalah penguasa di perusahaan itu.
Bug
__ADS_1
Salah satu dari mereka berempat menjatuhkan lututnya kelantai.
"Pak, saya mohon tolong kasih kami kesempatan," ujarnya memohon.
"Kesempatan katamu! sudah berapa banyak kesempatan yang diberikan oleh perusahaan," balas Abby sengit.
"Saya mohon pak, tolong saya," kali ini orang itu memohon mewakili dirinya sendiri.
"Baik, saya kasih waktu untuk kamu. Selama satu minggu uang itu harus kembali, jika tidak saya tidak akan memberikan kesempatan lagi," Abby mengabulkan permintaan orang tersebut.
"Terimakasih pak, tapi apakah saya masih boleh bekerja di perusahaan ini, pak?" ucap orang itu.
"Mimpi..... Jangan pernah berharap. Jangan coba-coba kabur dari tanggungjawab kamu, jika kamu kamu kabur saya pastikan keluarga mu akan menanggung akibatnya," ancam Abby.
Kini tinggal kepala divisi keuangan yang belum mendapatkan giliran. Sarfa berdiri lebih dekat lagi dengan kepala divisi keuangan.
"Kamu tadi berani sekali mengatakan pak Abby cacat!"" ujar Sarfa. Tubuh divisi keuangan langsung mengeluarkan keringat dingin.
Bug
Sarfa memberikan satu pukulan keras di tubuh kepala divisi.
"Ahh... Kelu kepala divisi.
"Ampun pak, saya minta maaf," ucapnya memohon.
"Kamu pikir dengan memohon kesalahan kamu sudah bisa di maafkan, tidak segampang itu," ujar Sarfa.
"Kembalikan semua uang yang sudah kamu curi dari perusahaan. Dan waktu kamu hanya ada tiga hari, jangan pernah mencoba untuk kabur. Orang-orang suruhan saya sudah mengawasi kamu termasuk keluargamu," terang Sarfa. Sarfa memberikan ancaman nyata kepada kepala divisi tersebut.
"Ta...ta..tapi kalau tiga hari dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu," kelu kepala divisi dengan wajah memelas.
"Saya tidak mau tahu, dalam tiga hari uang itu sudah harus kamu kembalikan!" ujar Abby.
"Pak, tolong kasih saya kelonggaran waktu lagi lagi," ujarnya kembali memohon.
Abby jelas tidak akan mengabulkan permohonan itu, Abby tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah berbuat curang pada perusahaan yang dipimpinnya.
"Tidak ada negoisasi," terang Abby. Sekarang keluar dari ruangan ku!" Abby mengusir kepala divisi.
"Pak, saya mohon..." kepala divisi memohon sekali lagi, berharap ada kebijakan untuk dirinya.
__ADS_1
"Afa....," ucap Abby sambil memberikan kode pada Sarfa lewat tatapan matanya. Sarfa mengerti apa maksud Abby. Sarfa segera menyeret kepala divisi keuangan keluar dari dalam ruangan.
Bersambung