
Setelah dokter itu pergi Abby meminta bi Jum untuk membeli obat yang sudah diresepkan oleh dokter. Abby duduk di samping Arneta, Abby menggenggam tangan Arneta.
"Neta, tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf," ucap Abby dengan penuh perasaan bersalah. Arneta tidak bergeming sedikitpun kondisinya masih sama, diam dan hanya memandang satu titik tanpa berkedip.
Bi Jum kembali setelah membeli obat dari apotik terdekat. Bi Jum segera membawa obat tersebut kedalam kamar Abby.
"Tuan, ini obatnya," bi Jum menyerahkan kantong plastik yang berisikan obat. Abby membuka kantong plastik tersebut dan Abby memeriksa apakah ada obat yang kurang.
"Bi, dari tadi Neta belum makan, apa bibi memasak tadi?" tanya Abby.
"Saya sudah selesai masak tuan, kebetulan saya tadi masak sup ayam, sebentar bibi ambilkan," bi Jum pun segera bergegas turun kebawah menuju dapur dan mengambil semangkok sup dan nasih. Bi Jum pun membuatkan Arneta segelas susu hangat.
Bi Jum kembali ke dalam kamar sambil membawa nampan yang sudah berisikan segelas susu, nasih dan semangkok sup. Karena pintu kamar tidak di kunci bi Jum langsung masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bi Jum melihat Arneta masih pada posisi seperti saat tadi sore.
"Bi, biar aku aja yang suapin Neta," ujar Abby sambil mengambil nampan dati tangan bi Jum.
"Bi Jum disini aja dulu, temenin Neta," sambung Abby. Bi Jum menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Dengan sangat hati-hati Abby mencoba menyuapi Arneta. Sendok yang sudah terisi nasih dan sepotong ayam. Sendok sudah di depan bibir Arneta tapi Arneta tidak membuka mulutnya.
"Neta, makan dulu ya," ucap Abby lembut. Tapi Arneta sama sekali tidak membuka mulutnya, Arneta sedang sibuk dengan pikirannya.
Abby menarik nafas dalam-dalam sebelum mencoba kembali menyuapi Arneta.
"Neta, makan dulu ya nanti kamu sakit kalo nggak makan," sekali lagi Abby menyuapi Arneta dan sesendok nasih dan sepotong ayam. Arneta sama sekali tidak membuka mulutnya, bahkan Arneta sama sekali tidak mendengar ucapan Abby.
Abby menyerah, Abby menyerah nampan tadi kepada bi Jum.
"Bi, coba bi suapin Neta, mungkin Neta mau makan," bi Jum menerima nampan tersebut dan duduk persis di hadapan Arneta. Dalam hatinya Abby berharap agar Arneta mau makan jika di suapi bi Jum.
__ADS_1
Bi Jum mengambil sesendok kuah sup dan menyodorkan ke mulut Arneta. Hasilnya sama seperti Abby menyuapi Arneta. Arneta masih tetap pada mode diamnya. Tak ingin perut Arneta kosong bi Jum kembali menyuapi Arneta dengan sesendok susu hangat. Meskipun Arneta tidak membuka mulut lebar-lebar susu itupun bisa masuk sedikit demi sedikit.
Perut Arneta tidak bisa di isi dengan nasih hanya setengah gelas kurang yang berhasil melewati tenggorokannya. Meskipun demikian Abby cukup merasa puas. Abby menyiapkan obat yang di beli bi Jum tadi dan menyodorkannya pada Arneta.
Selesai minum obat beberapa saat kemudian Arneta terlihat mengantuk. Abby membatu Arneta untuk berbaring
Abby menutupi tubuh Arneta dengan selimut. Mata Arneta mulai terpejam bersiap untuk masuk dalam dunia mimpi.
Abby masih duduk fi samping Arneta, rasa kantuk sama sekali tidak menyentuh matanya. Abby terjaga menemani Arneta sepanjang malam. Perasaan bersalah terus menghantui hati dan pikiran Abby. Abby sudah berulang kali mengucapkan kata maaf meskipun Arneta tidak mendengarkan.
Hari sudah pagi Abby terbangun dari tidurnya, tubuh Abby terasa sakit semuanya akibat tidak dengan posisi salah. Abby menatap Arneta yang masih tertidur pulas. Dengan sangat hati-hati Abby turun dari atas tempat tidur. Pagi ini Abby harus ke kantor karena ada meeting yang tidak bisa di wakilkan ataupun di tunda.
Abby bersiap berangkat ke kantor setelah mandi dan berganti pakaian. Arneta masih tertidur. Sebelum keluar kamar Abby membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh Arneta.
Abby sarapan dengan tidak bersemangat, setelah itu Abby berangkat kerja. Abby meminta agar bi Jum untuk memperhatikan Arneta saat ini, nada kerjaannya bi Jum Abby meminta untuk diabaikan dulu.
Abby sampai di kantor dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Abby masuk dalam ruangannya dan langsung duduk di kursi kebesaran sambil menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Sarfa masuk hendak memberikan laporan sekaligus mengingatkan Abby tentang jadwalnya hari ini.
Sarfa duduk di kursi yang berada di seberang meja Abby. Sarfa mengerutkan keningnya melihat kondisi Abby.
"Kamu bertengkar dengan Gracia?" tebak Sarfa.
"Neta...." jawab singkat Abby.
"Neta..ada apa, kamu bertengkar lagi dengannya? ampun Abby kamu itu mau bangun rumah tangga apa rumah duka? sebentar-sebentar berantem sudah seperti anak kecil," ujar Sarfa sambil mencibir.
"Neta Afa, Neta.." ujar Abby dengan raut wajah sedih.
"Hei, ada apa, bukannya sudah biasa kamu bertengkar dengan Arneta?" Sarfa menjadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara Abby dan Arneta.
"Neta sekarang lagi depresi," ucap Abby.
__ADS_1
"Ha...apa.. coba bilang lagi apa..?" Sarfa terkejut dengan pengakuan Abby. Mata Sarfa langsung melotot memandangi Abby sangking terkejut.
"Neta semalam mengamuk dan kehilangan kontrol," jelas Abby.
"Apa yang sudah kamu lakukan Bee?" emosi Sarfa naik.
"Kemarin aku bertengkar dengan Neta," ucap Abby.
"Terus... apa yang kamu lakukan padanya, apa yang sudah membuat mu marah?" tanya Sarfa.
"Kemarin Neta ambil uang dari atm yang aku berikan, setelah itu aku menuduh Neta memberanikan uang itu pada pria itu, tapi Arneta justru langsung kembalikan uang itu," jelas Abby. Abby mengatakan jujur awal permasalahannya.
Sarfa duduk menunggu penjelasan Abby selanjutnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Sarfa kembali bertanya karena pertanyaan pertamanya belum mendapatkan jawaban dari Abby.
"Aku marah, terus Neta aku tari ke kamar, dan aku hampir memperkosanya," akuh Abby jujur.
"Apaaaaa....apa jamu sudah gila ha?" seru Sarfa tak percaya.
Abby mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Abby pun tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Ingin rasanya Sarfa melayangkan tinjunya ke arah Abby karena marah. Sarfa menahan pukulannya karena dirinya ingat jika Abby adalah bosnya Sarfa hanya bisa memaki Abby saat ini.
"Brengsek loe Bee, kamu pikir istri mu perempuan seperti apa," ujar Sarfa geram.
"Aku menyesal Afa, sungguh aku menyesal," ucap Abby sambil menundukkan kepalanya.
"Coba kamu bayangkan jika orang tua Arneta tahu apa yang sudah kamu lakukan padanya, saya jamin detik ini juga Arneta akan langsung di jemput orang tuanya langsung di bawah pulang. Dan perceraian kalian berdua akan lebih cepat," jelas Sarfa.
Mendengarkan kata cerai dari Sarfa wajah Abby berubah pias.
"Aku tidak ingin bercerai dari Neta," ucap Abby.
__ADS_1
"Gila kamu ya, kamu tidak mencintai Arneta tapi kamu juga tidak ingin melepaskannya. Apa mau Bee, jangan kamu siksa anak orang," tutur Sarfa kesal.
Bersambung