
Sementara itu Sarfa yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah laku Abby hanya bisa geleng-geleng kepala. Sarfa tak habis pikir dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Abby. Abby biasanya bersikap dingin dan cuek tapi kali ini terpancing dengan tingkah laku ke tiga gadis yang barusan di lihatnya.
"Abby sudah yuk, jalan. Malu di liatin," ucap Sarfa.
"Ga bisa gitu Fa, mereka bertiga itu sudah mempermainkan saya," ucap Abby tak terima. Abby merasa harga dirinya jatuh di hadapan tiga gadis tersebut.
"Abby sudah...ayo jalan. Aku lapar," tutur Sarfa. Sarfa sengaja berbohong untuk mengalihkan perhatian Abby.
"Kalau kamu mau makan, silahkan makan sendiri saja," ucap Abby kesal.
Masih di tempat yang sama Arneta dan kedua sahabatnya masih berdiri mematung memandangi Abby dan Sarfa, entah apa yang mereka tunggu.
Beberapa kali Arneta mendengar ucapan dari pria yang satunya memanggil laki-laki yang menabraknya dengan sebutan Bee.
"Oh jadi namanya lebah!" ucap Arneta dengan nada suara sengaja di naikan satu oktaf.
"Pantesan kalo ngomong ngga ada baik-baiknya sama perempuan," sambung Arneta lagi. Arneta kali ini memang sangat sengaja memancingnya amarah Abby.
Abby kembali mendengarkan ucapan Arneta semakin merasa kesal. Dari tempatnya berdiri Abby hanya bisa memandang Arneta dengan mata yang terbuka lebar. Abby tak bisa melangkah menuju di karenakan tangan Abby masih di pegang erat oleh Sarfa.
Kali ini Arneta merasa puas karena berhasil membuat Abby semakin marah. Tapi sayangnya Arneta tidak berhenti di situ saja.
"Lebah itu kan senengnya menghisap madu, dan merusak bunga. Setelah itu di tinggalkan begitu saja bunganya tanpa tanggung jawab," Arneta melanjutkan aksinya terus memancing emosi Abby.
"Nona-nona saya mewakili bos saya, saya minta maaf kalau bos saya sudah berbuat salah pada kalian," ucap Sarfa. Sarfa sudah mulai tak tahan dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Kenapa kamu yang harus minta maaf? harusnya lebah itu yang minta maaf karena sudah menabrak ku tadi, hingga punggung ku sakit," balas Arneta tangannya terangkat dan satu jarinya menunjuk ke arah Abby.
"Sekali lagi saya mewakili bos saya, saya minta maaf ya nona," sekali lagi Sarfa meminta maaf mewakili Abby.
"Suruh lebah itu yang minta maaf," balas Arneta.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah minta maaf pada mu," ucap Abby. Abby tegas menolak jika dirinya yang harus meminta maaf.
__ADS_1
"Ternyata nama mu persis dengan tingkah laku lebah, jadi tidak salah jika kamu ku beri nama LEBAH!," seruh Arneta.
"Nona, dari lubuk hati saya paling dalam, sekali lagi saya mewakili bos saya, saya meminta maaf, jika nona tidak berkenan memaafkan bos saya. Saya mohon segera pergi dari hadapan bos saya karena saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa menahan amarahnya bos saya," tutur Sarfa panjang lebar. Sarfa mengucapkan kalimat itu dengan wajah dan suara memohon.
Rika dan Gita segera menyadari jika saat ini situasi semakin memanas, antara Abby dan Arneta sama-sama sudah terpancing emosi. Rika segera meraih tangan Arneta hendak mengajak sahabatnya itu untuk segera menyudahi adu mulut itu dan segera pergi mengikuti saran Sarfa.
"Neta yuk, adu mulut dengan orang itu tidak akan membuahkan hasil, sebaiknya kita pergi,' ajak Rika.
"Iya Neta,ayo kita pergi dari sini," Gita pun menyetujui usul Rika.
"Baiklah ayo kita pergi, lagian aku juga sudah tidak tahan melihat pria lebah batu itu," balas Arneta menyetujui ajakan dua sahabatnya.
"Tapi sebelum pergi aky minta kalian berdua membantu ku lebih dulu," ucap Arneta memberikan syarat.Rika dan Gita saling berpandangan setelah mendengar ucapan Arneta. Rika dan Gita bisa menebak jika sahabat nya ini pasti memberikan syarat tak pernah terpikirkan oleh mereka berdua.
"Ya sudah,apa syaratnya?" tanya Gita. Perasaan Gita dan Rika jujur saja merasa was-was atas syarat yang akan di berikan oleh Arneta.
"Ga susah kok," ucap Arneta sambil mengembangkan kedua bibirnya tersenyum misterius.
"Ok, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rika penasaran tapi juga deg-degan.
"Neta kekanakan banget itu, yang lain donk syarat nya," ucap Gita yang keberatan dengan syarat dari Arneta.
"Ya sudah, kalau ngga mau aku akan tetap berdiri disini," Arneta mengeluarkan kalimat ancaman.
"Astaga Neta," ucap Gita tak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan Arneta.
"Cuman itu kan syarat nya , janji habis itu kita langsung pergi?" tutur Gita dengan nada putus asa.
Gita dan Rika tahu betul sifat Arneta, jika Arneta sudah mengeluarkan ultimatum nya maka Arneta tanpa ragu akan melakukan apa yang diucapkannya. Untuk itu sebelum melakukan persyaratan dari Arneta Rika dan Gita memastikan terlebih dahulu setelah melakukan tindakan konyol itu mereka bertiga langsung pergi dari tempat itu.
"Aku janji setelah ini kita langsung pergi," ucap Arneta sambil mengangkat salah satu tangannya dan jarinya membentuk huruf V.
Dari tempat Abby dan Sarfa berdiri, mereka berdua menunggu apa lagi yang akan di lakukan oleh ketiga gadis aneh ini. Sarfa sudah mengambil ancang-ancang untuk bisa mencegah Abby berbuat sesuatu jika amarah Abby tak dapat di tahan olehnya.
__ADS_1
Sementara itu Arneta, Rika dan Gita sudah menggambil ancang-ancang untuk melaksanakan ide konyol dari Arneta.
Dengan aba-aba dari Arneta, Rika dan Gita memposisikan badan mereka menghadap Abby dan Sarfa.
"Satu..
"Dua... Arneta mulai menghitung.
"Tiga....
Arneta, Rika dan Gadis serempak bersama-sama menjulurkan lidah mereka bertiga ke arah Abby dan Sarfa.
Setelah melakukan tingkah konyol itu Arneta dan ke dua sahabatnya langsung pergi menjauh sesuai dengan janji yang di berikan Arneta.
Sarfa terkejut melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Arneta dan sahabatnya, sesungguhnya Sarfa ingin tertawa melihat tingkah konyol itu, menurut Sarfa itu hal konyol tapi juga lucu. Tapi Sarfa menahan suara tawanya sambil mengulum bibirnya rapat-rapat.
Sedangkan Abby yang di pikir oleh Sarfa akan semakin murka setelah melihat apa yang barusan di lakukan oleh ketiga gadis itu padanya justru Sarfa terkejut setelah mendengar suara tawa dari Abby.
Hahahaha.....Abby tertawa lepas.
"Ada-ada saja, dasar perempuan aneh," ucap Abby masih tersenyum-senyum.
Sarfa bisa bernafas lega melihat Abby yang tak lagi marah. Bahkan emosi Abby yang tadinya tinggi kini lenyap sudah.
"Bee cantik juga ya gadis itu," ucap Sarfa sekedar menggoda Abby.
"Cantik sie, tapi kelakuannya itu ampun kaya anak kecil," balas Abby.
"Cie...ngaku cantik juga nih," Sarfa kembali menggoda Abby. Akhirnya Sarfa bisa mendengar pengakuan jujur Abby memuji seorang wanita. Selama ini Sarfa tak pernah sekalipun mendengar Abby memuji seorang wanita selain Gracia kekasihnya Abby.
"Apa sie, ngga jelas deh," ucap Abby sedikit salah tingkah.
"Cie...cie...awas jatuh cinta," Sarfa terus menggoda Abby setelah melihat Abby mulai salah tingkah.
__ADS_1
Bersambung