
Robby memandang wajah Arneta yang sudah basah karena air mata langsung meraih tubuh Arneta dalam pelukannya, Robby mengusap kepala Arneta dengan lembut mencoba menenangkan hati Arneta dalam dekapannya.
Suara tangis Arneta yang sangat pelan tapi terdengar sangat lirih di telinga Robby tapi meskipun demikian Robby belum mengerti kenapa Arneta bisa menagis dengan sangat sedihnya.
Setelah tangis Arneta sedikit reda Robby melonggarkan pelukannya, menatap kedalam mata Arneta.
"Neta aku janji setelah tugas ku selesai aku akan langsung menemui ayah sama ibu," ujar Robby mengulangi kata-katanya dengan nada suara bersungguh-sungguh.
Setelah mendengarkan ucapan Robby Arneta pun langsung melepaskan dirinya dari pelukan Robby.
"Pergilah..." kata Arneta menjeda kata-kata yang akan di ucapkan selanjutnya.
"Terimakasih ya sayang untuk pengertiannya," ujar Robby polos.
"Ya .. mulai saat ini aku melepaskan mu, dan mulai saat ini juga kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau," ujar Arneta dalam sekali tarikan nafas.
Robby mengerutkan keningnya mencoba mencerna kata-kata yang barusan di ucapkan oleh Arneta.
"Pergilah...." sekali lagi Arneta mengulangi perkataannya.
"Apa maksudnya Neta?" tanya Robby binggung.Ada rasa sakit di hati Robby setelah mendengar ucapan Arneta.
"Mulai saat ini hubungan kita berakhir sampai disini," jawab Arneta dengan nada penuh rasa kecewa.
"Kamu marah ya karena aku akan ke Kalimantan?" tanya Robby.
"Aku ngga marah, aku hanya kecewa," ujar Arneta, Arneta mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan gini ngambeknya Neta, ngga lucu," ujar Robby mencobah mencairkan suasana yang mulai tak mengenakan hatinya.
"Aku serius...aku sedang tidak bercanda," ujar Arneta mulai kesal.
"Neta jangan seperti ini, kamu tahu aku sangat mencintai mu," ujar Robby.
__ADS_1
"Aku tahu kamu mencintaiku tapi kata cinta tidaklah cukup, aku butuh bukti dari cinta itu," balas Arneta.
"Aku ke Kalimantan juga untuk kamu , untuk masa depan kita nantinya," kata Robby memberikan alasannya.
"Sekarang aku tanya untuk terakhir kalinya sama kamu, apakah kamu bersedia bertemu dengan ayah sama ibu ku saat ini?" ujar Arneta dengan suara penuh harap.
"Maaf Neta aku benar-benar ngga bisa sekarang, " ujar Robby lagi. Robby melirik jam tangan yang melingkar di tangannya Robby melihat jam berapa sekarang. Waktu untuk Robby mempersiapkan keberangkatannya ke Kalimantan makin mepet. Robby belum menyiapkan pakaiannya yang akan di bawanya belum lagi dokumen yang harus disiapkan oleh Robby.
Perdebatan akhirnya terjadi antara Robby dan Arneta,adu argumen yang mengeluarkan pemikiran dan perasaan masing-masing antara Robby dan Arneta dan pada akhirnya hanya menghasilkan rasa sakit buat Arneta.
Arneta sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk kekasihnya untuk bertemu kedua orang tuanya. Rasa sakit dan kecewa yang di rasakan oleh Arneta untuk Robby semakin besar.
"Kamu ke Kalimantan bukan untukku tapi karena ambisi mu," ujar Arneta.
"Neta jangan bicara seperti itu, aku ke sana karena kerja. aku kerja buat masa depan kita," ujar Robby dengan perasaan mulai frustasi. Robby tak ingin kehilangan pekerjaannya yang di impikannya dan juga tidak ingin kehilangan kekasihnya yang sangat di cintai. Robby benar-benar tidak bisa memilih di antara keduanya.
Arneta yang mendengar Robby mengeluarkan kata-kata yang sama sebagai alasannya membuat Arneta semakin sakit dan sedih. Arneta membalikkan badannya melangkah pergi meningkatkan Robby sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Robby yang melihat kepergian Arneta segera mengejarnya sampai ke halaman parkiran.
Robby tidak menyerah begitu saja, Robby tidak ingin Arneta pergi meninggalkan dirinya dengan keadaan masih merajuk. Robby berdiri pas depan mobil Arneta sambil merentangkan kedua tangannya.
Dari dalam mobil terdengar suara Arneta yang meminta Robby untuk menyingkir tapi Robby tetap berdiri tak bergeser sedikitpun.
Dengan kesal Arneta menurunkan kaca jendela mobilnya, Robby yang melihat Arneta menurunkan kaca segera berlari berdiri di samping pintu mobil.
Dengan kepala sedikit menunduk Robby mencoba mengajak Arneta untuk berbicara.
"Sayang jangan begini, aku sangat mencintaimu," keluh Robby.
"Aku butuh bukti dari kata-kata mu Robby," balas Arneta, airmatanya yang sempat berhenti mengalir kini menetes lagi.
"Neta sayang, sekali lagi aku minta agar kamu mengerti pekerjaan ini penting untuk masa depan kita," ujar Robby memelas.
__ADS_1
"Kamu egois..!" ujar Arneta.
"Neta..." Robby menyebut nama kekasihnya dengan nada memohon.
Arneta menatap wajah Robby dengan tatapan kesedihan, Arneta mengusap airmatanya, menarik nafas dalam-dalam mencoba menguatkan hatinya agar bisa mengatakan pada Robby situasi yang di hadapi Arneta saat ini.
"Robby kesempatan kamu untuk melamar ku seperti itu tidak pernah akan pernah menjadi nyata," ujar Arneta. Robby diam mendengarkan ucapan Arneta dengan seksama.
"Robby hubungan kita cukup sampai disini karena aku sudah di jodohkan oleh orang tua ku," sambung Arneta.
Tubuh Robby langsung menegang setelah mendengarkan ucapan Arneta barusan. Otak Robby sedang berusaha mencerna setiap kata-kata yang di ucapkan Arneta. Hatinya menolak setiap ucapan yang di katakan Arneta.
"Ngga mungkin...kamu bohong Neta!" ujar Robby tak terima.
"Ini kenyataannya dan aku menerima perjodohan ini, meskipun hati aku tidak bisa menerimanya," ucap Arneta.
"Jangan kaya anak kecil ngambek Neta, ini sangat tidak lucu," balas Robby yang tidak bisa menerima pengakuan Arneta.
"Hahaha..
Arneta tertawa kecut, hatinya merasa miris menghadapi Robby yang belum juga mengerti kenyataan yang sedang di hadapi oleh Arneta.
"Kamu pikir aku sedang bercanda?" tanya Arneta dengan senyum pias.
"Aku tahu kamu sedang marah sama aku saat ini, tapi tolong jangan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal," ucap Robby.
"Terserah....aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Kamu mau percaya atau tidak itu sudah menjadi urusan mu dan aku sudah tidak peduli lagi," ujar Arneta. Setelah mengeluarkan isi hatinya Arneta segera menekan pedal gas, mobilnya pun langsung meluncur meninggalkan Robby sendirian, berdiri mematung.
Arneta melakukan mobilnya tanpa tujuan, dalam keadaan kacau seperti ini tidak mungkin Arneta pulang ke rumah. Arneta memutuskan untuk menginap di tempat tinggalnya Rika sahabatnya.
Tak ingin membuat orang tuanya cemas Arneta mengirimkan pesan kepada orang tuanya, Arneta mengatakan bahwa dirinya akan menginap di rumah Rika dengan alasan pulang dari toko sudah larut malam di karenakan pekerjaan di toko sangat banyak hari ini.
Sementara itu meskipun hatinya sakit akan pengakuan Arneta barusan, Robby tidak lagi mengejar Arneta. Dipikiran Robby Arneta saat ini hanyalah marah padanya. Dan soal perjodohan yang di katakan Arneta Robby menganggap itu hanya sebuah luapan kekesalan Arneta. Robby sama sekali tidak percaya akan perkataan Arneta.
__ADS_1
Bersambung