
Satu bulan sudah berlalu Abby kini mulai mengikuti terapi seperti yang disarankan oleh dokter waktu itu. Arneta senantiasa menemani Abby jika Abby untuk melakukan terapi. Meskipun terapinya baru beberapa kali di lakukan tetapi sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Arneta dan Abby sangat senang dengan perkembangan kesembuhan kaki Abby.
Pagi ini Arneta dan Abby sedang sarapan pagi sebelum berangkat kerja. Abby akan di jemput oleh Sarfa dan Arneta akan berangkat ke butiknya dengan diantar oleh supir. Abby tak ingin Arneta mengendarai mobilnya seorang diri, Abby takut jika sesuatu terjadi pada Arneta. Arneta sudah menolak permintaan Abby tetapi Abby terus memaksa Arneta supaya diantara oleh supir.
Pagi ini bi Jum di bantu oleh Arneta membuat sarapan pagi berupa sandwich dan jus buah. Sementara sarapan handphone milik Arneta berbunyi, Arneta tidak ingin mengangkat panggilan itu tetapi karena handphonenya terus berbunyi akhirnya Arneta memutuskan menjawab panggilan tersebut.
Mata Arneta menyipit setelah melihat nama yang tertera di layar handphone.
"Siapa Neta?" tanya Abby karena melihat Arneta engan menjawab panggilan tersebut.
Arneta membalikkan layar ponselnya menghadap ke arah Abby.
"Aku nggak bisa liat tulisannya," ujar Abby, Abby memang tak bisa melihat dengan jelas siapa yang menghubungi Arneta.
"Robby...," jawab Arneta jujur.
"Jawab saja panggilan itu dan jangan lupa di speaker," balas Abby.
Arneta menuruti perkataan Abby. Arneta menerima panggilan itu dan langsung di speaker.
"Ya, halo..." ucap Arneta mencobah berkomunikasi dengan Robby.
"Neta, apa kabarmu?" tanya Robby basah basi.
"Aku baik, terimakasih," balas Arneta.
"Neta, aku masih mencintaimu. Aku mohon kembali lagi sama aku, aku berjanji akan menerima kamu dan mencintaimu sama seperti dulu," tanpa ragu Robby mengungkapkan perasaannya tanpa tahu jika panggilan itu sudah di speaker oleh Arneta.
Jelas ucapan Robby terdengar oleh telinga Abby. Arneta terdiam tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata. Wajah Arneta menegang.
Brak
Abby mengebrak meja makan dengan sangat kuat.
"Apakah kamu masih mencintainya Neta?" tanya Abby emosi.
__ADS_1
"Bu ...bu...bukan seperti itu Abby," ucap Arneta terbata-bata.
"Dimana surat perceraian yang aku berikan padamu waktu itu?" Abby kembali mengungkit surat cerai. Surat cerai yang hampir di lupakan kini teringat kembali.
Rasa cemburu dan rasa rendah diri Abby kini kembali hadir dihatinya.
"Segera tandatangan surat itu dan serahkan pada Sarfa secepat mungkin," ujar Abby. Abby tidak memberikan kesempatan untuk Arneta membelah diri apa lagi menjelaskan tentang perasaannya.
Abby yang sudah lama tidak mengeluarkan kata-kata tajam kini kembali.
"Jangan pernah menaruh belas kasihan pada ku, aku tidak membutuhkannya. Aku tahu, aku cacat sekarang tapi bukan berarti bisa kamu perlakuan seenaknya!" ucap Abby dengan nada tinggi.
Arneta terdiam mendengar perkataan Abby.
"Aku pikir kamu sudah bisa melupakan laki-laki brengsek itu, ternyata dugaan ku salah selama satu. Kamu tidak meninggalkan aku karena kasian, iya kan Neta!" Abby menuding Arneta.
"Bukan seperti itu Bee, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan," ucap Arneta dengan suara lirih. Sinar mata Arneta meredup.
"Sudah aku bilang jangan pernah kasihan dengan diri ku, aku benci itu!" ucap Abby sambil berteriak.
"Aku cacat, apa lagi yang kamu harapkan dari laki-laki cacat seperti diriku? ha!" Abby menumpahkan emosinya dengan menunjukkan ketidak percayaan dirinya.
"Kamu bukan cacat Abby,! akhirnya suara Arneta ikut bergema dalam ruangan makan. Arneta tak tahan melihat Abby yang tidak percaya diri.
"Apa kamu buta, ha! lihat aku. Aku sekarang duduk di kursi roda," balas Abby.
"Segera tandatangan surat cerai itu dan segera berikan pada Sarfa. Biar Sarfa yang akan mengurus semuanya," sambung Abby.
Arneta tidak tahu harus berkata apa karena Abby terus memaksanya untuk menandatangani surat perceraian.
"Baik, jika itu mau kamu," akhirnya Arneta menyetujui perkataan Abby.
"Tapi ingat, perceraian kita akan di lakukan setelah kamu bisa berjalan lagi dan tidak duduk di kursi roda sialan itu!" Arneta menyetujui permintaan Abby tetapi dengan syarat.
"Baik. Saya pastikan akan kembali berjalan secepatnya," jawab Abby tegas.
__ADS_1
"Lakukan seperti apa yang kamu katanya!" ujar Arneta. Setelah selesai mengatakan kalimat itu Arneta pergi meninggalkan Abby di meja makan.
Arneta meninggalkan Abby menujuh ke dalam kamar. Entah apa yang di rasakan oleh Arneta saat ini, yang jelas perasaan marah, kecewa, sedih dan tak terima dengan permintaan Abby untuk bercerai menjadi satu seperti adonan kue.
Di ruang makan Abby mencoba menurunkan emosi, tangan Abby terkepal erat diatas pahanya.
Sarfa tiba di rumah Abby setelah pertengkaran antara Abby dan Arneta selesai. Sarfa langsung masuk kedalam rumah hendak menemui Abby. Sarfa langsung menuju ruang makan karena sudah terbiasa menemukan Abby dan Arneta sedang berada di sana sambil sarapan.
Sarfa melihat Abby hanya sendirian di meja makan, tetapi Sarfa tidak bisa melihat raut wajah Abby saat ini. Sarfa berada di balik punggung Abby. Sarfa sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya tetapi Sarfa berfikir mungkin Arneta sedang melakukan sesuatu makanya Abby di tinggal sendirian.
"Bee, sudah selesai sarapan?" tanya Sarfa dengan gaya santai.
Abby langsung memutar kursi rodanya menghadap Sarfa. Dan Sarfa pun langsung terkejut dengan penampakan raut wajah Abby. Dilihat dari wajah Abby yang merah padam, Sarfa sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi. Abby hanya diam memandangi Sarfa.
"Bee, ar you okay?" tanya Sarfa cemas.
"Segera urus surat perceraian aku sama Neta, jika Neta sudah menandatanganinya," ujar Abby dingin.
"Ha .. maksudnya apa Bee?" Sarfa kembali mengajukan pertanyaan karena dirinya belum mengerti.
"Sejak kapan kuping kamu bermasalah?" Abby bukannya menjawab pertanyaan Sarfa tapi justru sebaliknya. Abby mengucapkan kata-kata monohok terhadap Sarfa.
Sarfa sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi, Sarfa yakin jika Abby dan Arneta kembali bertengkar. Masalahnya apa Sarfa tidak mengetahuinya. Lebih tepatnya Sarfa belum tahu apa penyebab Abby dan Arneta kembali bertengkar.
Handphone milik Arneta masih terletak di atas meja makan, Arneta lupa membawanya tadi. Dan yang paling penting adalah Arneta tidak menutup telponnya. Sudah bisa di pastikan jika di sebrang sana Robby bisa mendengarkan pertengkaran Arneta dan Abby. Robby mendengar pertengkaran Arneta dan Abby dari awal sampai akhir. Akan tetapi Robby bukanya merasa bersalah tapi justru merasa senang. Robby menginginkan perceraian Arneta terjadi, jika perceraian itu benar-benar terjadi maka Robby beranggapan bahwa dirinya akan memiliki peluang untuk mendapatkan Arneta kembali.
Robby bahagia diatas penderitaan Arneta.
Sarfa mengambil handphone miliknya Arneta diatas meja dan melihat jika handphonenya Arneta dalam posisi on speaker. Sarfa membaca nama yang tertera di layar handphone. Sarfa meletakkan handphone tersebut dekat dengan mulutnya.
"Brengsek kamu...?" Sarfa langsung mengucapkan kalimat makin. Setelah itu Sarfa langsung menutup telponnya tanpa menunggu jawaban. Di sebrang telpon Robby sangat terkejut dengan makian yang diterimanya.
Arneta tidak keluar dari dalam kamar selama Abby belum berangkat ke perusahaan. Arneta tak ingin bertemu Abby saat ini, hatinya sakit benar-benar sakit. Perjuangan Arneta dan sikap baik Arneta ternyata tidak cukup membuat Abby tersentuh apa lagi percaya dengan perasaannya. Arneta termenung seorang diri di dalam kamar.
Bersambung
__ADS_1