
Pak Jaya merasa tidak memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang hari ini.
"Liat aja sendiri..ayo tamunya udah nungguin," ajak bu Nola pada suaminya. Pak Jaya pun segerah mengikuti langkah istrinya menujuh ruang tamu.
Setelah tiba di ruang tamu pak Jaya pun langsung terkejut melihat siapa tamu yang datang.
"Maya...!" panggil pak Jaya menyebut nama sahabatnya.
"Ady kenapa ngga bilang dulu kalau mau datang, aku kan bisa siap-siap dulu," ujar pak Jaya sambil menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Sengaja ngga kasih tahu biar kejutan," kilah pak Ady.
Mereka berempat pun langsung saling melepas rindu. Terjadi perbincangan hangat mengingat kembali nostalgia masa muda dulu. Keakraban yang dulu sempat putus kini terjalin kembali.
Usai saling menanyakan kabar masing-masing dan tak lupa berbagi pengalaman mereka saat tidak saling jumpa.
Kini empat orang tersebut terbagi menjadi dua kelompok, kelompok bapak-bapak dan kelompok ibu-ibu.
Pak Jaya dan pak Ady kini sedang duduk di teras depan rumah sambil menyesap kopi di temani sepiring cemilan.
Sedangkan bu Nola dan bu maya tetap duduk dalam ruangan tamu.
Mata bu Maya tiba-tiba tertuju pada sebuah pigura foto yang terpasang di salah sisi ruangan tersebut.
'Anak mu ada dua?" tanya bu Maya tiba-tiba.
"Iya, anakku sepasang," ucap bu Nola sambil tersenyum bahagia.
"Wah asyik donk, tapi dari tadi saya tidak melihat anak-anak mu. Apa lagi keluar rumah?" tanya bu Maya.
"Iya,anak perempuan ku kebetulan hari ini sudah ada janji dengan temannya, sedangkan anak saya yang laki saat ini tidak tinggal di rumah ini," jelas bu Nola.
"Oh... emangnya anak lelaki mu tinggal di mana?" bu Maya kembali bertanya."Apa sudah menikah?" lanjut tanya bu Maya .
"Dia saat ini tinggal di Amerika, kerja di sana," jawab bu Nola.
"Hebat ya sudah sukses dari mudah," balas bu Maya ikut merasakan bangga atas prestasi anak sahabat nya.
__ADS_1
"Biasa aja Maya, anak mu jauh lebih hebat , masih mudah tapi sudah bisa memimpin sebuah perusahaan besar," ucap bu Nola merenda.
"Nola apa kamu masih ingat, dulu kita pernah berjanji akan menjodohkan anak-anak kita jika anak kita lelaki dan perempuan?" ucap bu Maya mengingatkan kembali pada bu Nola tentang janji mereka dulu.
"Kamu masih ingat janji itu? kirain lupa," ucap bu Nola.
"Ingat donk, bagaimana kalau kita jodoh kan saja anak kita, bagaimana?" tutur bu Maya sembari memberikan ide.
"Aku sie setuju aja, tapi semuanya tergantung dari anak kita, setuju apa tidak atas perjodohan ini," jawab bu Nola.
"Aku sangat berharap kita nantinya bisa menjadi besan," ucap bu Maya penuh harap.
"Kita bicarakan dulu hal ini sama suami kita, baru habis itu kita pertemukan anak-anak kita, bagaimana?" sambung Bu Maya.
"Bagus juga idenya, nanti pas makan siang kita bicarakan hal ini sama suami kita," balas bu Nola dengan rasa antusias.
"Nola nama anak gadis mu siapa?" tanya by Maya.
"Namanya Arneta, tapi lebih sering di panggil Neta aja, nama anak laki-laki mu siapa?" ucap bu Nola balik bertanya.
"Nama Abby, tapi sering di panggil dengan sebutan Bee," Jawa bu Maya.
"Dulu pernah,tapi aku tidak merestui hubungan antara anak ku dengan perempuan itu," balas bu Maya jujur.
"Apa kah hubungan mereka sudah berakhir atau masih berlanjut Maya?" tanya bu Nola.
"Sudah berakhir pastinya, dan sampai sekarang anakku masih jomblo," ucap bu Maya berbohong. Sebenarnya bu Maya tahu kalau sampai detik ini anaknya Bee masih berhubungan dengan kekasihnya.
Usai membicarakan berdua perihal perjodohan antara Abby dan Arneta, bu Maya dan bu Nola ingin menyampaikan ide mereka kepada suami mereka berdua.
Bu Maya dan bu Nola menghampiri suami mereka yang sedang duduk santai di teras rumah.
"Pa ternyata sahabat kita ini memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik," ucap bu Maya setelah duduk di samping suaminya.
"Iya papa tahu itu, tapi papa belum ketemu sama anak gadis sahabat kita ini," ucap pak Jaya jujur.
"Maksudnya Arneta?" tanya pak Ady.
__ADS_1
"Iya yah, yang mereka maksud itu Neta anak kita," balas bu Nola sambil tersenyum memandangi wajah suaminya.
"Kita bisa besanan ini," ucap pak Jaya santai.
"Bisa saja kamu Jaya, emang anakmu mau sama putri kami yang sederhana?" jawab pak Ady.
"Pasti mau, anak mu cantik dan terpelajar, apa yang kurang dari putri mu," ungkap pak Jaya memuji.
"Bisa aja, tapi beneran nih kita mau jodoh kan anak-anak kita?" tanya pak Ady.
"Serius donk, kita kan dulunya juga udah pernah berjanji kalau anak-anak kita nantinya akan di jodohkan," kata bu Maya, mengingatkan pak Ady tentang janji yang pernah mereka buat dulu.
"Ngomong-ngomong putri mu sudah punya calon belum?, kan kasian kalau di jodohkan ternyata sudah punya calon sendiri," ucap pak Jaya.
Sambil tersenyum pak Ady menjawab kekhawatiran sahabatnya itu.
"Neta setahu saya belum memiliki kekasih,"
"Anak gadis secantik itu belum punya pacar?" tanya pao Jaya tak percaya.
"Yang naksir sie banyak, tapi Neta lebih memilih untuk fokus dulu pada kuliah nya. Putriku ingin jika nanti sudah selesai kuliah baru mencari jodoh katanya," tutur pak Ady jujur.
"Hebat putri mu bisa bertahan sampai sejauh ini. Pasti banyak laki-laki yang mengejar putri mu," ucap pak Jaya. Pak Ady dan istrinya hanya tersenyum simpul mendengar pujian yang di berikan untuk putri mereka.
"Ngga salah kan pa kalau kita menjodohkan Abby dengan Arneta?" ucap bu Maya.
"Tentu saja tidak, anaknya cantik dan pintar apa lagi yang kurang?" ucap pak Jaya.
"Jadi kita sepakat ya untuk menjodohkan anak-anak kita, tapi ingat kita tidak boleh egois. Kuta juga harus menghargai keputusan anak-anak kita kelak. Jika mereka menolak perjodohan ini kita tidak boleh memaksakan kehendak kita. Kebahagiaan anak-anak kita adalah yang utama," tutur pak Ady panjang lebar.
"Tentu saja kita juga harus mendengarkan pendapat mereka, tapi aku sangat berharap kita nantinya bisa jadi besanan," ucap bu Maya.
"Jadi kapan kira-kira kita bisa mempertemukan anak-anak kita?* tanya bu Maya antusias.
"Nanti kita bicarakan lagi setelah kita menyampaikan perjodohan ini pada Arneta dan Abby tentunya," ucap pak Ady.
"Jadi kita udah sepakat ya tentang perjodohan ini," tutur bu Maya.
__ADS_1
Kesempatan untuk perjodohan antara Abby dan Arneta itu telah terjadi, hanya tinggal menunggu persetujuan antara Abby dan Arneta.
Bersambung