
Arneta dan bu Jum mulai sibuk membuat adonan kue, Arneta mulai menimbang bahan-bahan kue dan memasukkan kedalam sebuah loyang, sedangkan bi Jum membantu Arneta memegang sebuah handmix dam mulai mengaduk bahan-bahan yang di masukin Arneta kedalam baskom kue.
Arneta dan bi Jum sesekali melepaskan candaan di selah-selah membuat adonan kue. Tak menunggu lama adonan kue sudah tertampur dengan sempurna. Adonan kue yang di buat oleh Arneta adalah kue bolu coklat kesukaannya. Adonan pun langsung di tuang kedalam cetakan kue bolu yang berbentuk lingkaran. Tapi sebelumnya loyang kue bolu sudah di olesi terlebih dahulu dengan margarin dan sedikit di taburi tepung terigu.
Selain menuangkan adonan kue, cetakan kue pun langsung di masukkan ke dalam oven untuk di panggang. Hari ini Arneta membuat dua buah kue bolu coklat. Rencananya Arneta akan membagi kue tersebut untuk bi Jum yang sudah membatunya tadi dan juga untuk di bagikan kepada supir yang membawakan barang-barangnya dari apartemen.
Sambil menunggu kue matang Arneta mengambil handphone miliknya mencoba memeriksa apakah ada pesan yang masuk atau panggilan telpon yang tidak sempat di jawabnya. Ternyata benar dugaan Arneta ada beberapa pesan yang dikirimkan oleh kedua sahabatnya. Pesan yang dikirimkan adalah berisikan rencana mereka untuk kegiatan amal yang sudah rutin di lakukan oleh Arneta dan sahabatnya.
Arneta membalas pesan yang masuk dalam handphone miliknya satu persatu sambil menunggu kue matang. Arneta sengaja menunggu kue matang di dapur kamar takut lupa dan akhirnya kue buatannya gosong.
Belum lagi kue matang pintu depan di ketok oleh seorang dari luar.
Tok
Tok
Suara pintu di ketuk.
Arneta dan bi Jum saling pandang.. Arneta dan bi Jum sama-sama tidak tahu siapa kira-kira tamu yang datang.
"Bi, biar aku saja yang bukan pintunya," ucap Arneta. Arneta segera meletakkan handphone miliknya di atas meja dan segera bangun dari duduknya setelah mengucapkan kalimat tersebut. Bi Jum menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Arneta segera bergegas menuju ruang depan, langkah Arneta pun berubah menjadi lebih cepat setelah pintu rumah kembali di ketuk oleh seseorang.
Arneta memicingkan matanya mencoba mengenali sosok perempuan yang sudah berdiri di depan pintu masuk. Karena jarak antara Arneta dan pintu masih sedikit jauh, jadi Arneta tidak bisa mengenali siapa yang datang dan pandangannya juga terhalang oleh tirai yang menutupi kaca pintu.
Setelah lebih dekat lagi dari pintu Arneta sudah bisa melihat siapa tamu yang datang. Dia adalah Gracia. Arneta mengerutkan keningnya, Arneta seolah-olah tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Dari mana kuntilanak itu tahu alamat rumah ini? pasti Abby yang memberikan alamat rumah ini," kata Arneta dalam hatinya.
Meskipun kesal Arneta tetap membukakan pintu untuk Gracia, tapi Arneta tidak mempersilahkan Gracia masuk.
"Ngapain kamu kesini," ucap Arneta jutek.
__ADS_1
"Apa lagi kalau bukan mencarinya Abby, dimana Abby," balas Gracia.
"Abby nggak ada," jawab Arneta jujur.
"Bohong, kamu pasti bohong," jawab Gracia sambil menuduh Arneta berbohong.
"Di bilangin Abby nggak ada, cari Abby di luar sana," jawab Arneta dengan tatapan sinis.
"Minggir, aku mau masuk," ucap Gracia sambil menabrakkan dirinya ke tubuh Arneta.
Arneta yang tidak siap di tabrak membuat dirinya mundur beberapa langkah dan akhirnya Gracia bisa masuk kedalam rumah. Arneta meraih tangan Gracia mencobah menahannya agar tidak masuk lebih dalam lagi.
"Lepas, lepasin tangan aku," ucap Gracia sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Arneta.
"Keluar kamu dari sini," usir Arneta pada Gracia.
Mendengarkan dirinya di usir Gracia merasa tersinggung.
"Siapa kamu, berani-beraninya mengusirku?" ujar Gracia sambil tersenyum sinis.
Gracia berang karena dirinya di Katai bodoh oleh Arneta.
"Jaga mulutmu ya, aku ini calon istrinya Abby," ujar Gracia marah.
"Hei, kamu itu perempuan bodoh atau..." belum sempat kata-kata Arneta selesai dengan cepat Gracia memotong perkataan Arneta.
"Kamu itu yang bodoh, sudah tahu Abby tidak mencintai mu tapi nekat menikah dengannya," jawab Gracia dengan senyum kemenangan.
Arneta mengepalkan kedua tangannya di samping sambil menahan emosinya.
"Mau Abby mencintaimu atau tidak, jelas disini aku adalah istri sahnya Abby," balas Arneta.
"Kamu lupa ya, atau pura-pura lupa? kamu itu hanya istri sementara, dan sebentar lagi akulah yang akan menjadi nyonya di rumah ini," ujar Gracia.
__ADS_1
"Mimpi..." balas Arneta.
Gracia memicingkan matanya menatap Arneta.
"Status kamu sebagai istri Abby hanya tinggal menghitung bulan, jadi jelas akulah yang akan menjadi nyonya disini nanti," ujar Gracia kembali mengulangi kata-katanya.
"Jangan mimpi, rumah ini atas nama ku, jadi jika aku sama Abby berpisah rumah ini akan tetap menjadi milikmu," balas Arneta menjelaskan siapa pemilik rumah tersebut.
Gracia terkejut dengan pengakuan Arneta.Hati Gracia tidak bisa menerima pengakuan Arneta.
"Bohong, mana mungkin Abby membelikan rumah sebesar dan semewah ini untuk mu!" ucap Gracia menolak pengakuan Arneta.
"Nanti jika sudah bertemu dengan Abby, silahkan kamu tanya sendiri siapa pemilik rumah ini yang sebenarnya," jawab Arneta sambil mencibirkan bibirnya.
Untuk menghindari percakapan yang menurut Gracia itu adalah hal yang mustahil, Gracia melangkahkan kakinya mencoba masuk lebih dalam lagi ke dalam rumah. Tetapi langkah kaki Gracia terhenti karena tangannya kembali di genggaman oleh Arneta.
"Keluar... keluar kamu dari rumah ini!" usir Arneta pada Gracia.
"Aku tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Abby,...Abby .. Abby...?" teriak Gracia memanggil Abby.
Arneta pun langsung menarik Gracia untuk segera keluar dari dalam rumah. Gracia dengan kaki setengah terseret mengikuti langkah kaki Arneta. Gracia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arneta tapi sayangnya karena Gracia memakai sepatu hak tinggi yang berukuran sepuluh senti membuat dirinya tidak bisa menyeimbangkan dirinya, mau tak mau agar tidak terjatuh Gracia mengikuti langkah kaki Arneta.
Sebelum mencapai pintu depan bi Jum memanggil Arneta.
"Non kuenya bagaima...." belum selesai bi Jum berkata, dirinya terkejut melihat Arneta sedang menyeret Gracia keluar. Arneta mendengar suara bi Jum memanggilnya menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap bi Jum.
"Bi, kuenya di angkat aja, jangan lupa matiin oven. Satu lagi jangan sampai kue itu gosong kasian Abby nanti makan kue gosong," jelas Arneta kepada bi Jum. Arneta sengaja berkata demikian untuk memanasi Gracia.
Mendengarkan perintah Arneta bi Jum pun langsung melaksanakan apa yang di katakan oleh Arneta. Tapi sebelum bi Jum pergi ke dapur untuk mengangkat kue di dapur bi Jum memastikan terlebih dahulu jika nyonya nya bisa mengatasi tamu yang tak diundang.
Setelah berada di teras rumah dan agak jauh dari pintu masuk Arneta melepaskan cengkraman tangannya.
"Silahkan pergi dari sini, atau aku akan teriak sekencangnya memanggil warga disini dan mengatakan bahwa kamu adalah seorang wanita pelakor," ancaman Arneta.
__ADS_1
Karena tidak mau di cap sebagai pelakor dengan berat hati Gracia melangkah pergi meninggalkan rumah Arneta dengan hati yang sangat dongkol. Gracia sempat menekan gas mobilnya hingga menimbulkan asap yang mengebul dari saluran kenalpot mobilnya. Dan Arneta tersenyum puas karena sudah berhasil mengusir Gracia.
Bersambung