
Hari-hari berlalu Gracia tak lagi muncul di hadapan Abby dan Arneta, Gracia benar-benar menghilangkan bak ditelan bumi. Dan Abby merasa senang karenanya. Abby tak perlu repot-repot lagi mengurusi Gracia apa lagi dengan bayi yang ada di dalam perut Garcia.
Abby dan Arneta semakin dekat satu sama lain tapi mereka berdua masih memilih jarak pembatas yang belum bisa di hancurkan. Hari ini hari libur akhir pekan, Arneta dan Abby sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah acara amal. Acara amal yang akan Abby dan Arneta datangi adalah acara rutin yang biasa di hadiri oleh Arneta.
Di dalam kamar Abby sedang berdiri di cermin, Abby melihat dirinya lewat pantulannya cermin. Abby tersenyum puas dengan penampilannya. Abby mengenakan setelan baju kasual, perpaduan antara baju santai dan resmi. Abby meraih sebuah botol parfum kaca dan menyemprotkan parfum tersebut ke tubuhnya. Aroma maskulin kini menempel di tubuhnya Abby.
Setelah selesai berganti pakaian Abby keluar dari dalam kamarnya dan langsung turun ke lantai satu.
Abby mencoba mencari Arneta tapi tak menemukan Arneta ada di sana. Abby bisa menebak jika Arneta masih ada dalam kamarnya dan itu berarti Arneta belum selesai. Abby duduk di ruang tengah berniat menunggu Arneta disana.
Didalam kamar Arneta sudah selesai berdandan, Arneta tak lupa memakai riasan diwajahnya, Arneta berdandan ala natural soft. Baju yang digunakan Arneta pun tak kalah dengan Abby,. Sebuah baju blus berwarna biru mudah dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam, meskipun pakaian yang dikenakan Arneta adalah pakaian sederhana tapi itu tak mampu menutupi kecantikan Arneta justru penampilan sederhana Arneta membuat dirinya semakin terlihat cantik.
Arneta segera turun ke lantai satu Arneta bisa menebak jika Abby sudah menunggu dirinya. Benar saja Arneta dari tangga Arneta bisa melihat Abby yang sudah duduk di sofa menunggu dirinya.
Arneta menghampiri Abby sambil memberikan sebuah senyum yang manis
"Bee, ayo. Nanti kita terlambat," ajak Arneta pada Abby.
Abby menatap Arneta dengan tatapan takjub, setiap kali melihat penampilan Arneta Abby selalu merasa kagum. Bagaimana tidak Abby mengagumi Arneta, Arneta selalu memperhatikan kecantikannya dengan cara yang sederhana.
Arneta berdiri tepat di hadapan Abby,.
"Abby, ayo nanti kita terlambat," ucap Arneta lagi.
"Oh iya, kita berangkat sekarang," jawab Abby gugup.
Arneta dan Abby berjalan beriringan menuju ke depan, di depan supir sudah menunggu siap mengantarkan Abby dan Arneta.
"Neta, kamu cantik," puji Abby. Abby mengucapkan kata pujian sebelum mereka tewas masuk kedalam mobil.
Arneta Mende pujian Abby tak bisa berkata-kata, Arneta hanya tersipu malu. Dalam hati Arneta merasa sangat bahagia menerima pujian Abby.
Mobil segera melaju setelah Abby dan Arneta duduk didalam mobil tersebut. Supir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke acara amal. Butuh satu jam akhirnya mereka berdua sampai di acara tersebut.
Kedatangan Arneta dan Abby disambut antusias oleh Rika dan Gita, disana Robby sudah menunggu. Arneta memeluk tubuh dua saja itu dengan perasaan rindu.
__ADS_1
"Ayo kita kesana, acaranya sebentar lagi mau si mulai," jelas Rika.
Tapi sebelumnya Rika terlebih dahulu menatap Abby dengan penuh sidik, Rika ingin meyakinkan hatinya jika Abby tak lagi bersikap kasar pada Arneta. Abby hanya mengangkat bahu dan tangannya sambil bibirnya mencibir.
Tak lama kemudian acara amal itupun berlangsung, acara amal tersebut berjalan dengan lancar tak ada kendala sama sekali. Semuanya orang pendonor di acara tersebut sangat terhibur dengan penampilannya anak-anak yang mereka santuni.
Di satu pihak Robby ternyata mengamati Arneta, Robby ingin mengambil kesempatan saat Abby tak berada dekat dengan Arneta. Robby ingin berbicara dengan Arneta secara diam-diam.
Fan waktu yang ditunggu-tunggu Robby pun tiba. Ketika Arneta hendak mengambil hidangan pencuci mulut Robby langsung mendekati Arneta dan meraih tangannya.
"Kita perlu bicara," ucap Abby sambil setengah berbisik.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Robby," tolak Arneta.
Arneta menolak berbicara dengan Robby karena tak ingin membuat Abby suaminya salah paham nantinya.
"Robby, tolong lepasin tangan aku," ujar Arneta sambil menggerakkan tangannya agar Robby melepaskan genggamannya.
"Kita harus bicara sekarang juga!" ucap Robby. Robby memaksa Arneta.
Robby menyuruh Arneta didik di salah satu bangku taman.
"Duduk, maaf aku sudah memaksa mu kesini," ucap Robby sungguh-sungguh.
Arneta hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Robby.
"Apa mau mu, katakan saja dan tidak perlu bertele-tele," ucap Arneta ketus.
"Apakah kamu bahagia menikah dengan Abby?" tanya Robby.
"Apakah kamu mencintai Abby suamimu, tolong jawab aku," ujar Robby. Robby ternyata masih mengharapkan Arneta.
Arneta hanya diam tak menjawab pertanyaan Robby barusan, Arneta hanya memberikan sebuah senyum kecil atas pertanyaan Robby.
Diam-diam tanpa Arneta dan Robby sadari ternyata Abby sudah mengikuti mereka berdua sejak dari awal. Abby bersembunyi dibalik tumbuhan yang menyerupai pagar pembatas di taman tersebut.
__ADS_1
Robby merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan jawaban pasti dari Arneta.
"Neta, tolong jawab jujur, apa benar kamu sudah membuka hati mu pada orang yang sudah membuat kamu hampir mati?" ujar Robby, darahnya mendidih setiap kali mengingat dimana Arneta nekat menabrakkan dirinya pada mobil yang sedang berlalu lalang saat itu.
Arneta kembali diam seolah tak mendengarkan pertanyaan Robby.
"Neta, tolong jawab aku. Aku masih mencintaimu," akuh Robby jujur.
Sikap diam Arneta ternyata sudah diartikan oleh Abby sebagai jawaban Arneta tidak pernah bisa mencintai dirinya. Tanpa menunggu lagi Abby segera pergi meninggalkan persembunyiannya sebelum mendengar pengakuan Arneta.
Abby pergi dengan persamaan tak menentu. Ingin Abby melepaskan Arneta tapi di sisi lain Abby tak ingin kehilangan Arneta. Abby tak siap akan kedua hal tersebut.
Di bangku taman Arneta masih duduk di sampingnya Robby sedang menunggu jawaban dari Arneta.
"Apakah kamu mencintai Abby?" Robby kembali mengajukan pertanyaannya. Siap atau tidak Robby menunggu jawaban Arneta.
"Iya, aku mencintai Abby, dan aku bahagia bisa bersama dengannya," Arneta memberikan jawaban jujur pada Robby.
Mendengar pengakuan Arneta hati Robby merasakan sakit, jelas Arneta sudah tidak lagi mencintainya lagi. Tanpa Robby tahu jika sejujurnya Arneta telah memutih UN melepaskan Robby pada saat Robby menolak bertemu dengan orang tuanya.
Robby kembali mencoba meraih tangan Arneta namun ditepis oleh Arneta.
"Lupakan aku, maaf kita berdua tidak bisa bersama lagi," terang Arneta.
"Tapi Neta aku masih mencintaimu," jawab Robby.
"Tapi aku mencintai suami ku, yaitu Abby," ujar Arneta lagi. Arneta sengaja mengatakan hal itu karena tak ingi Robby mengharapkannya lagi.
"Semudah itu kamu jatuh cinta pada orang yang sudah berkali-kali menyakiti hatimu Neta," ucap Robby.
"Mungkin inilah yang disebut takdir," jawab Arneta.
"Mulai sekarang sebaiknya kamu belajar untuk melupakan aku, kita berdua tidak ditakdirkan untuk bersama," jawab Arneta.
Bersambung
__ADS_1