CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 45 PERTENGKARAN PERTAMA


__ADS_3

Setelah selesai Arneta membagikan kue buatannya Arneta kembali masuk kedalam apartemen. Arneta kini hanya tinggal sekali lagi mengantarkan kue ke tetangga sebelah, siapa lagi kalau bukan Heru.


Arneta masuk kedalam apartemen sambil bernyanyi kecil, pikir Arneta bahwa Abby belum pulang saat ini. Arneta menujuh ke dapur untuk mengambil satu piring kecil yang berisikan kue yang akan di berikan kepada Heru.


Langkah Arneta terhenti di pembatas ruangan tengah dan dapur, Arneta langsung bisa melihat Abby yang tengah duduk santai sambil menikmati kue di atas meja.


"Bee kamu sudah pulang?" tanya Arneta setelah menghapiri Abby.


Abby agak terkejut mendengarkan suara Arneta yang menyapanya.


"Ha....iya. Aku belum lama sampai. Kamu habis dari mana?" Abby balik bertanya.


"Habis nganterin kue ke tetangga, tinggal satu lagi yang belum," ucap Arneta.


"Siapa yang belum?" tanya Abby.


"Itu, tetangga sebelah mas Heru belum," jawab Arneta sambil matanya menatap piring kecil yang tadi sudah di letakkan kue.


"Kue yang di piring itu mana?" tanya Arneta binggung.


"Oh di piring ini, sudah aku makan" jawab Abby dengan santai tak ada perasaan bersalah.


"Itu mau aku kasih ke mas Heru Bee," protes Arneta.


"Duda itu sudah kaya jadi tidak perlu lagi kamu bagi kue lagi, dia mampu beli sendiri," ucap Abby membela diri.


"Tapi aku udah janji tadi, aku nggak enak kalau nggak jadi ngasih?" ucap Arneta dengan wajah sedihnya.


Hati Abby merasa kesal mendengarkan ucapan Arneta, tapi biar bagaimanapun juga Abby kesal saat ini tidak mungkin baginya untuk melarang Arneta untuk berbagi kue dengan Heru yang entah sejak kapan Abby tidak menyukainya.


"Masih ada kuenya nggak?" tanya Abby.


"Masih, masih ada di oven," jawab Arneta cepat. Dan Arneta pun melangkah mendekati oven yang tadi digunakannya untuk membuat kue.


Arneta setengah berjongkok untuk mengambil kue yang masih tersimpan dari dalam oven. Arneta tersenyum senang ternyata kuenya masih ada sisa lumayan banyak.


Arneta meletakkan nampan berisi kue di atas meja makan, dan memindahkan beberapa kue kedalam piring kecil yang sudah disediakan tadi. Setelah selesai Arneta meminta ijin kepada Abby untuk mengantarkan kue tersebut ke tempat Heru.


"Bee aku pergi dulu ya,"pamit Arneta.


"Tunggu aku ikut," jawab Abby cepat.

__ADS_1


Arneta mengerutkan keningnya menatap wajah Abby dengan tatapan serius.


"Yakin mau ikut?" tanya Arneta.


"Yakin, kamu nggak boleh ketemu dengan duda itu sendiri," ucap Abby sambil berdiri dari tempat duduknya.


Tak ingin berdebat dengan Abby Arneta pun menyetujui perkataan Abby. Abby dan Arneta pun segera membawa kue tersebut ke tempat Heru.


Tok


Tok


Tok


Abby mengetuk pintu apartemen Heru dengan perasaan yang masih kesal.


Ceklek


pintu pun terbuka dari dalam.


Keluarlah pria tampan yang namanya Heru. Heru pun langsung tersenyum hangat menyambut kedatangan Arneta,


Arneta pun langsung menyerahkan piring kecil yang dibawa kepada Heru, Heru mengabaikan kehadiran Abby.


"Makasih ya Neta, mau masuk nggak?" tawar Heru sambil membukakan pintu lebar-lebar.


"Nggak usah, kami lagi sibuk," jawab Abby cepat sebelum tawaran Heru diterima oleh Arneta.


"Oh.. memangnya belum selesai beberesnya?" tanya Heru, tapi matanya terus memandangi wajah Arneta.


Saat ini ingin rasanya Abby menasehati Heru hanya sekedar mengingatkan bahwa Arneta adalah istri, Abby sangat keberatan melihat Heru yang terus memandangi wajah istrinya.


"Sudah selesai atau belum bukan urusan mu, Ayo Neta kita balik," ujar Abby, Abby langsung meraih tangan Arneta dan membawanya pergi dari hadapan Heru tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan empunya rumah.


Heru hanya bisa menatap kepergian Arneta sambil tersenyum geli melihat tingkah Abby barusan.


"Bukannya dia tidak mencinta istrinya, tapi kenapa marah jika aku dengan istrinya," kata Heru dalam hatinya. Heru tahu jika Abby tidak mencintai Arneta itu di karenakan saat di club malam saat Abby mengatakan pada temannya bahwa dirinya tidaklah mencintai Arneta terdengar jelas oleh Heru. Heru pada saat itu duduk di meja sebelah tempat Abby dan teman-temannya menikmati minuman beralkohol.


Heru tidak mungkin mendekati Arneta jika dirinya tahu bahwa suaminya yaitu Abby benar-benar mencintainya, tapi karena perkataan Abby saat itu akhirnya Heru diam-diam mendekati Arneta dengan cara menjalin hubungan persahabatan lebih dulu. Hal ini tidak di ketahui oleh Arneta, Arneta mengganggap jika kedekatannya dengan Heru real sebuah pertemanan biasa.


Abby menarik tangan Arneta sampai kedalaman apartemen.

__ADS_1


"Abby lepas, sakit," Kelu Arneta, Tangannya Arneta di cengkraman sangat kuat oleh Abby.


Mendengarkan keluhan Arneta Abby pun langsung melepaskan genggamannya.


"Sudah puas berpamitan dengan duda itu?" ujar Abby sambil menahan amarahnya.


"Apa maksudnya Bee?" Arneta justru balik bertanya kepada Abby tanpa memberikan jawaban.


"Ada hubungan apa antara kalian berdua?" ucap Abby sambil menatap lekat kearah mata Arneta.


"Maksudnya kamu menuduh aku punya hubungan khusus dengan mas Heru gitu?" tanya Arneta dengan raut wajah tak percaya jika Abby bisa berpikir sedemikian jauh terhadap hubungannya dengan Heru.


"Jawab dengan jujur Neta?" Abby terang-terangan menuduh Arneta.


Arneta pun di buat kesal oleh Abby karena perkataannya barusan.


"Kamu pikir aku perempuan seperti apa? kamu pikir aku sama seperti kamu!" ucap Arneta sambil mengepalkan kedua tangannya di samping bajunya.


"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan," Abby membela dirinya.


"Kita sudah menikah selama hampir tiga bulan dan kamu pikir aku tidak tahu jika kamu masih bertemu dengan kekasih mu," ujar Arneta.


"Sebelum kita menikah Gracia sudah menjadi kekasih ku," ucap Abby.


"Kamu egois, aku hanya berteman dengan mas Heru kamu sudah marah-marah. Bagaimana dengan kamu yang masih saja bertemu dengan Gracia, apakah aku juga boleh marah pada mu?" ucap Arneta, airmatanya untuk pertama kalinya keluar dari matanya karena Abby. Hati Arneta terasa sakit. Memang Abby dan Arneta sering kali berdebat tapi tidak seperti saat ini, ada rasa yang berbeda di hati Arneta.


Abby berpikir jika apa yang di ucapkan oleh Arneta ada benarnya juga, selama ini memang Abby masih suka bertemu dengan Gracia. Tapi selama ini Abby berpikir jika itu tidak akan menjadi masalah baginya, tapi kini keadaanya justru berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam pikiran Abby.


Abby tidak ingin membela dirinya, Abby juga tidak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi. Abby melangkah pergi meninggalkan Arneta yang sudah hampir meneteskan airmatanya. Abby masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar dengan cara di banting.


Braaak.


Pintu kamarnya Abby langsung tertutup rapat.


Arneta terkejut mendengarkan suara pintu yang di banting, tapi Arneta tidak peduli. Arneta pun langsung melangkahkan kakinya menujuh kamar milik. Arneta pun tak ingin kalah dari Abby, Arneta menutup pintu sama persis seperti yang dilakukan oleh Abby, Arneta ikutan menutup pintu dengan cara di banting.


Braak


Pintu kamarnya Arneta pun ikut tertutup rapat. Arneta ingin menulis saat ini tapu dia binggung apa yang harus ditanggungnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2