
Hari sudah mau menjelang malam, di lantai bawah lebih tepatnya di dapur, bi Jum sudah mondar-mandir seperti setrika yang sedang melicinkan baju yang kusut. Perasaan cemas menghantui hati dan pikiran bi Jum. Bi Jum ingat tugas yang diberikan oleh majikannya yaitu bu Maya. Di sini tugasnya bi Jum bukan hanya untuk melayani Abby dan Arneta, tugas utamanya adalah sebagai mata yang dikirimkan oleh bu Maya.
Dengan handphone ditangannya bi Jum menimbang-nimbang apakah sudah saatnya dirinya mengatakan keadaan sebenarnya tentang pernikahan Abby dan Arneta. Bi Jum tidak ingin terjadi sesuatu pada Arneta, bi Jum menyayangi nyonya mudahnya. Arneta baik dan tidak pernah bersikap kasar pada bi Jum.
Bi jum menarik nafas mengumpulkan keberanian untuk menghubungi bu Maya. Bi jum segera memencet tombol hijau di layar handphone miliknya untuk menghubungi bu Maya.
MAAF NOMOR YANG ANDA TUJUH TIDAK BISA DI HUBUNGI, MOHON MENCOBA KEMBALI.
Terdengar suara operator memberi tahukan bahwa nomor bu Maya tidak bisa di hubungi.
Bi jum tidak menyerah begitu saja, Bi Jum kembali menelpon bu Maya. Sudah beberapa kali bi Jum mencoba menelpon tapi hasil, tetap sama, hanya suara operator yang terdengar. Bi Jum pun akhirnya menyerah.
"Nyonya kemana, kenapa nggak bisa di hubungi?" ujar bi Jum binggung.
Sementara itu di lantai atas Abby dan Arneta masih berada di dalam kamar Abby. Abby tidak membiarkan Arneta keluar dari dalam kamarnya.
Abby berdiri dari duduknya dari tempat tidur di samping Arneta, Arneta melihat Abby bergerak membuat dirinya ketakutan. Arneta dengan cepat menjauh dari Abby, Arneta juga menggenggam selimut yang menutupi dirinya dengan sangat kuat seolah takut selimut itu akan terlepas dari tubuhnya.
Tanpa Abby sadari dirinya sudah membuat Arneta mengalami trauma terhadap dirinya. Arneta menatap Abby dengan sorot mata ketakutan. Abby melihat tatapan mata Arneta pada dirinya seperti itu Abby memajukan tubuhnya mendekati Arneta.
"Pergi...!" teriak Arneta. Abby terkejut Arneta tiba-tiba berteriak kepadanya, bukan hanya itu Abby bisa melihat Arneta sangat ketakutan saat ini.
Abby mulai khawatir dengan kondisi Arneta saat ini. Abby sekali lagi mencoba mendekati Arneta. Dan hasilnya sama Arneta kembali berteriak kepada dirinya. Airmatanya Arneta kini kembali menetes deras.
"Neta...." panggil Abby sambil mencoba meraih tangan Arneta.
Arneta melihat tangan Abby mencoba menyentuhnya berteriak histeris.
__ADS_1
"Lepas.... jangan.... lepas...!" teriak Arneta sambil mengulangi kata-kata yang sama. Abby terkejut melihat sikap Arneta yang menurutnya aneh.
Abby berdiri agak jauh dari tempat Arneta duduk, Arneta kembali terlihat tenang setelah Abby menjauh. Melihat Arneta kembali tenang Abby mencoba kembali mendekati Arneta, Dan kembali Arneta berteriak histeris. Bukan hanya berteriak Arneta mengambil barang yang ada di dekatnya dan melemparkannya kepada Abby. Arneta kehilangan kontrol atas dirinya.
Abby terperangah melihat Arneta seperti orang gila, untuk saja Arneta hanya bisa melemparkan bantal ke arah Abby, bisa di bayangkan jika yang di lempar Arneta itu adalah benda-benda keras bisa di pastikan Abby sudah babak belur.
Abby mencobah menenangkan Arneta, sambil mengangkat kedua tangannya Abby melangkah secara perlahan mendekati Arneta. Tubuh Arneta menegang setelah melihat Abby mendekati dirinya. Arneta kembali meraih bantal untuk melempari Abby. Dengan sigap Abby segera memeluk tubuh Arneta dengan sangat kuat meskipun Arneta berontak dalam dekapannya.
Airmata semakin deras mengalir dari kedua mata Arneta. Abby pun ikut meneteskan air. Abby benar-benar merasa cemas dengan kondisi Arneta.
"Tenang ya.. tenang ada aku," ucap Abby sambil membelai kepala Arneta.
"Neta aku minta maaf,....tolong jangan seperti ini," Abby dilanda perasaan bersalah.
Arneta kembali tenang dalam pelukan Abby. Tidak ingin membuang waktu lagi Abby segera menghubungi dokter keluarga dan meminta agar supaya dokter tersebut datang secepatnya. Abby juga meminta kepada bi Jum untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Arneta. Abby juga meminta agar bi Jum memakaikan baju pada Arneta. Abby tidak ingin ketika dokter itu datang melihat kondisi Arneta yang tanpa busana.
"Non ini bibi...Non pakai baju dulu ya biar bi Jum bantuin," ucap bi Jum. Bi Jum pun meneteskan airmatanya.
Arneta seperti boneka yang diberikan nafas, Arneta tidak bergerak jika tidak digerakkan. Arneta diam, Arneta seperti berada di dunia lain. Selesai memakaikan baju pada Arneta bi Jum keluar dari dalam kamar dan mendapati Abby sedang berdiri di depan pintu.
Bi Jum menatap Abby dengan tatapan sedih. Abby berkali-kali mengusap wajahnya, Abby berharap ini hanyalah mimpinya. Abby tidak ingin membuat Arneta seperti ini tapi semua sudah terjadi, penyesalan pun sudah tidak ada artinya.
Setengah jam kemudian dokter yang di hubungi Abby pun tiba, bi Jum mengantarkan dokter tersebut kedalam kamar.
"Selamat malam tua Abby,"sapa dokter.
"Malam dok, tolong periksa istri saya," ucap Abby cemas.
__ADS_1
Dokter itupun mendekati Arneta yang masih duduk mematung diatas kasur. Dokter tersebut mengerutkan keningnya melihat Arneta yang tak bergeming. Dokter itu melambaikan tangannya di hadapan Arneta tapi tak ada respon sedikitpun dari Arneta. Arneta masih tetap memandang lurus ke depan tanpa berkedip.
Dokter itu mengeluarkan alat dari dalam tas yang dibawanya. Dokter memeriksa kondisi tubuh Arneta.
Hah
Dokter menghembuskan nafas beratnya.
"Apa yang terjadi dengan pasien?" tanya dokter.
"Eh... tadi kami bertengkar," akuh Abby.
"Apa yang anda lakukan hingga membuat istri anda seperti ini?" dokter ingin tahu penyebab Arneta seperti ini.
"Aku tadi... bersikap kasar padanya, dan ya ini hasilnya," kata Abby berbohong menutup kejadian yang sebenarnya.
"Baiklah, saya akan memberikan resep obat dan saya juga akan menyuntikkan obat penenang untuk istri anda tuan Abby, Obatnya harus di minum sekarang," dokter itu pun menulis beberapa obat dan memberikannya pada Abby. Dokter itupun menyuntik Arneta dengan obat penenang.
Setelah selesai memeriksa Arneta dokter itu pun pamit, tapi sebelum pergi dokter itu menasehati Abby terlebih dahulu.
"Tuan jika ada masalah selesai dengan kepala dingin, saya berharap semoga istri anda besok pagi sudah ada perubahan. Jika tidak ada perubahan istri anda harus di bawah ke psikiater untuk konsultasi,"
Abby terkejut mendengar penjelasan dokter, Abby merasa tak percaya akibat dari ulahnya membuat Arneta seperti ini.
"Tuan Abby saat ini istri anda sedang mengalami shock berat, jangan membuat dirinya semakin tertekan atau akibatnya akan fatal," jelas dokter itu lagi.
Perasaan Abby langsung berkecamuk, seperti ada ribuan petir yang menyambar hatinya setelah mendengarkan penjelasan dokter barusan.
__ADS_1
Bersambung