CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 94 SURAT CERAI


__ADS_3

Robby tak bisa menerima jawaban yang diberikan oleh Arneta, hatinya terasa sakit, Robby sudah menunggu Arneta selama satu tahun dan pada akhirnya Robby mendapatkan jawaban yang mengecewakan


Pikir Robby Arneta akan bercerai dari Abby karena status pernikahan mereka tanpa cinta. Robby nekat menunggu Arneta karena Robby tahu pernikahan Arneta tidak berjalan dengan semestinya.


Diawal Robby mengenal Arneta itu di kampus, Robby jatuh cinta pada Arneta bukan hanya karena kecantikan yang dimiliki oleh Arneta,ada hal lainnya yang membuat Robby menyukai Arneta, selain penampilannya yang sederhana Arneta juga memiliki hati yang baik.


Butuh waktu yang tidak sedikit bagi Robby untuk bisa menunggu dan membuktikan bahwa dirinya mencintai Arneta. Tapi semuanya kisah antara Robby dan Arneta kini hanya tinggal sepenggal kisah cinta yang berakhir dengan perpisahan. Pejuang Robby dulu berakhir sia-sia dan perpisahan mereka berdua adalah hasil dari egonya Robby.


Setelah memberikan jawaban atas pertanyaan Robby Arneta bangun dari duduknya.


"Maaf, aku harus pergi," ucap Arneta berpamitan.


Robby hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam perasaannya menjadi tak karuan. Rasa sedih sakit menumpuk di hati Robby saat ini.


Meskipun kepalanya tertunduk tapi Robby bisa melihat kaki Arneta yang melangkah pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Kesehatan untuk bisa kembali bersama Arneta kini benar-benar sudah pupus. Dengan perasaan berat Robby mencoba menerima keputusan Arneta.


Arneta kembali ke tempatnya semula, matanya memandang segala penjuru mencoba mencari keberadaan Abby disana.


"Rika, liat Abby nggak?" tanya Arneta pada Rika.


"Nggak tuh, tapi kalo nggak salah aku liat Abby ke parkiran," jelas Rika.


"Oh, makasih ya. Aku cari Abby dulu," ucap Arneta. Setelahnya Arneta pergi ketempat parkir mengikuti petunjuk Rika.


Arneta melangkah mendekati mobil yang ditumpangi tadi. Seperti petunjuk dari Rika ternyata Abby beneran berada di dalam mobil.


Arneta mengetuk jendela kaca mobil pelan.


Tok


Tok


Abby membukakan kedua matanya yang terpejam. Abby melihat Arneta sudah berdiri tepat fi jendela kaca mobil.

__ADS_1


Abby segera membukakan pintu mobil untuk Arneta, namun Arneta tidak masuk kedalam mobil.


"Bee, kok kamu ada disini?" tanya Arneta yang masih berdiri.


Abby hanya diam tak menjawab pertanyaan Arneta.


"Kamu capek ya, kalau begitu kita pulang saja," akhirnya Arneta memutuskan untuk pulang karena melihat sikap Abby. Arneta berfikir jika Abby kelelahan.


Arneta segera masuk kedalam mobil dan duduk di samping Abby. Abby masih tak bergeming seolah sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Arneta memandangi Abby dengan perasaan menebak-nebak, apakah Arneta berbuat kesalahan atau Abbynya yang kelelahan. Entahlah Arneta tidak mengerti.


Supir segera menyalakan mesin mobil siap untuk mengantarkan Arneta dan Abby pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang Abby sama sekali tak bersuara, Arneta ingin bertanya akhirnya ikut memilih diam seperti Abby. Di dalam mobil suasana begitu sunyi tidak seperti saat datang ke acara amal tadi.


Sampai di halaman rumah Abby segera turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah tanpa membukakan pintu untuk Arneta. Arneta mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap Abby barusan. Arneta menarik nafas dan membuangnya kasar.


Beberapa hari kemudian hari masih pagi Arneta sudah bangun seperti biasa menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Abby. Dan sudah beberapa hari ini juga Abby tidak berbicara dengan Arneta, Abby mendiamkan Arneta tanpa alasan yang jelas.


Abby turun dari lantai dua menuju ruang makan, di tangan Abby sudah menggenggam satu amplop berwarna hijau toska. Abby duduk di kursi yang bias di tempatinya.


"Aku ambilkan ya bee," ucap Arneta sambil mengambil satu sendok nasi goreng untuk diisi di piring Abby.


Arneta semakin binggung dengan perubahan Abby kini, Arneta tidak tahu apa maksud Abby yang bersikap dingin dan mengabaikannya selama beberapa hari terakhir.


"Bee, ada apa? apakah aku sudah berbuat salah atau apa?" akhirnya Arneta bertanya karena tak tahan dengan sikap Abby.


"Tidak ada," ucap Abby. Abby melanjutkan sarapannya dalam diam.


Arneta tidak ingin memaksa Abby untuk mengatakan apa yang terjadi. Arneta pun diam dan mulai menikmati nasi goreng buatan sendiri.


Abby sudah selesai sarapan, taj ada pujian untuk masakan Arneta pagi ini. Abby mengambil amplop hijau toska yang dibawanya tadi.


"Aku minta kamu segera tanda tangga surat perceraian ini," ucap Abby tanpa perasaan.


Abby menyodorkan amplop tersebut kepada Arneta tanpa berani menatap wajah Arneta. Pada saat Abby menyodorkan amplop tersebut perasaan Abby bergemuruh seperti ada badai yang sedang mengamuk di hatinya.

__ADS_1


Arneta terdiam mendengar perkataan Abby, hatinya seperti dihujani ribuan jarum. Hati Arneta bergetar dan terasa sakit.


Arneta meraih amplop yang disodorkan oleh Abby tadi dengan hati yang kacau. Arneta membuka amplop tersebut dan membaca tulisan yang tertulis dengan huruf kapital. Di lembar kertas itu tertulis nama satu lembaga negara yaitu PENGADILAN AGAMA.


Airmata mata Arneta langsung mengambang di pelupuk matanya, tapi dengan sekuat tenaga Arneta menahan airmatanya agar tidak menetes. Arneta menggenggam amplop tersebut dengan perasaan hancur.


"Apakah aku sudah terlambat?" tanya Arneta dalam hatinya.


"Kenapa hati ini terasa sakit bahkan lebih sakit ketika pisa dari Robby," Arneta berbicara dalam hatinya.


Arneta menatap Abby dengan tatapan ingin tahu apa penyebab Abby ingin menceraikan dirinya.


"Inikah yang kamu mau?" tanya Arneta dengan suara bergetar.


"Tanda tangan saja, kalau sudah berikan pada Sarfa, biar Sarfa yang akan mengurus semuanya," jawab Abby.


"Baik, aku akan tanda tangan. Tapi dengan syarat," ujar Arneta mengajukan persyaratan untuk perceraian mereka berdua.


"Apa..?" tanya Abby singkat.


"Selama proses perceraian aku sama kmu akan tetap tinggal di rumah ini. Aku akan pergi dari rumah ini setelah mendapatkan keputusan dari pengadilan," ucap Arneta.


"Jika itu yang kamu mau, baiklah," jawab Abby.


Setelahnya Abby pergi meninggalkan Arneta seorang diri diruang makan. Abby melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Arneta. Keputusan Abby sudah bulat. Abby berpikir jika perceraian mereka akan membuat Arneta merasa bahagia karena sudah lepas dari kehidupan Abby. Abby juga beranggapan bahwa Arneta pasti setelah ini Arneta pasti akan kembali bersama dengan Robby pria yang dicintai Arneta. Abby tidak ingin menjadi egois menahan Arneta tetap berada disisinya, meskipun berat Abby siapa melepaskan Arneta meskipun nantinya hatinya sakit. Semua ini dilakukan Abby demi kebahagiaan Arneta. Pikirnya Abby.


Sementara itu diruang makan pipi Arneta sudah basah oleh airmata, setelah Abby pergi Arneta menangis. Bi Jum menghampiri Arneta dan memeluknya, bi Jum sudah mendengar percakapan antara Arneta dan Abby barusan.


"Non, kok bisa tuan Abby menceraikan non?" ucap bi Jum. Tangis Arneta bukannya redah setelah dipeluk oleh bi Jum justru semakin menjadi. Arneta menangis sampai sesenggukan dalam dekapan bi Jum.


"Bi Jum, apa salah ku, kenapa Abby melakukan ini padaku?" ucap Arneta diselah tangisnya.


"Sabar ya non, bibi tahu tuan Abby mencintai non. Mungkin tuan Abby sedang dalam masalah saat ini," ucap bi Jum mencoba menghibur Arneta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2