
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Arneta melirik jam tangan miliknya, perjalanan terasa begitu panjang dan lama. Biasanya jam segini jalan yang biasa di lalui Arneta tidak macet, tapi hari ini mobilnya berjalan dengan sangat lambat. Arneta merasa frustasi sendiri dalam mobil.
Orang tua dari Arneta sudah beberapa kali mencoba menghubunginya dan bertanya kapan sampainya.
Kali ini Arneta merasa yakin jika dirinya akan terlambat sampai di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 18;35 menit tapi Arneta masih jauh dari tempat tinggalnya.
"Kenapa mesti macet sie,..aku terlambat ini.." Arneta menumpahkan keresahannya dengan berbicara sendiri.
Setelah lima belas menit terperangkap dalam kemacetan akhirnya Arneta menemukan jalan di hadapannya lengang. Arneta segera memacu kecepatan mobilnya tapi masih dalam taraf aman.
Tibalah Arneta di rumah, seperti yang sudah di perkirakan sebelumnya oleh Arneta bahwa dirinya akan terlambat. Benar saja ketika mobil Arneta memasuki halaman rumah Arneta melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir rapi di halaman.
Dengan sedikit tergesa-gesa Arneta turun dari mobil, Arneta mengambil langkah panjang agar segera bisa masuk ke dalam rumah. Tapi belum beberapa langkah jarak Arneta dengan mobilnya Arneta melihat sosok yang sudah beberapa kali bertemu dengannya.
Arneta mengerutkan kening dan alis matanya, menatap sosok tersebut dengan seksama. Meyakinkan bahwa matanya Arneta tidak salah lihat.
Setelah Arneta melangkah mendekati sosok itu Arneta yakin sosok itu itu adalah pria si lebah batu.
Belum sempat Arneta bertanya pada sosok itu, orang itu justru langsung mengeluarkan kata-kata yang tak enak di dengar oleh Arneta.
"Hei wanita jadi-jadian ngapain kamu ada di sini?" ujar Abby. Ya yang di lihat oleh Arneta itu adalah Abby calon suaminya kelak.
Arneta terdiam sesaat setelah Abby lebih dulu menyerangnya dengan kata-kata yang tidak terduga.
"Hei...! kenapa diam? kamu sengaja ya ngikutin aku," ujar Abby lagi, sambil menatap Arneta dengan tatapan sinis.
""Kamu ngapain ada di sini?" tanya Arneta binggung.
"Aku kesini itu buat ketemu sama calon istri ku, kamu naksir aku ya sampai mengikuti ku sampai disini!" ujar Abby penuh percaya diri.
"Ha...ke te mu ca lon is tr!" ubalas Arneta terbata-bata.
"Ya iyah, terus kamu kesini ngapain?" tanya Abby ketus.
__ADS_1
Belum sempat Arneta menjadi pertanyaan Abby, Arneta langsung di panggil oleh ibunya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Neta sayang kamu sudah sampai," sapa ibu Arneta.
"Maaf bu Neta terlambat, tadi pas pulang jalanan macet," ucap jujur Arneta.
Arneta segera melangkah menghampiri ibunya meninggal Abby yang masih berdiri kaku setelah mendengar bahwa wanita aneh nya justru si sapa dan di sambut oleh sang pemilik rumah.
"Nak Abby ayo masuk," panggil bu Nola mengajak Abby ke dalam rumah.
Dengan senyum kikuk Arneta memberikan salam kepada tamu yang sudah duduk manis di ruang tamu.
"Selamat malam om tante. Maaf saya terlambat," kata Arneta.
"Tidak apa-apa," balas bu Maya sambil tersenyum.
"Neta kamu mandi dulu ya, ganti baju," ucap mamanya Arneta. Arneta pun segera pamitan untuk masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan Abby berdiri tegak di depan pintu, Abby shock telah tahu bahwa rumah yang di kunjunginya adalah rumah perempuan yang selalu berdebat dengannya saat bertemu.
Selama menunggu Arneta selesai berganti pakaian, kedua orang tuanya dan orang tua Abby terlibat pembicaraan rencana kedepannya setelah hari ini. Sedangkan Abby enjadi pendengar yang setia.
Arneta keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah berubah lebih segar dan lebih cantik tentunya.
"Neta sini, duduk di samping ayah sama ibu," ajak bu Nola. Dan dengan patuh Arneta duduk di apit oleh kedua orang tuanya.
Setelah semuanya sudah hadir dan duduk manis di ruang tamu pak Jaya, pak Ady segera memperkenalkan Abby putranya yang akan di jodohkan dengan Arneta.
"Bee kenalkan..ini adalah keluarga calon istri mu," ucap pak Ady. Abby hanya mengangguk sopan. Dalam hatinya Abby berdoa semoga bukan perempuan yang ada di depannya yang akan menjadi istrinya kelak.
""Nak Abby kenalkan ini Adalah Arneta putri kami yang akan menjadi calon istri mu," tutur pak Jaya memperkenalkan Arneta.
Mendengarkan ucapan pak Ady dan pak Jaya membuat Arneta dan Abby langsung kaget.
__ADS_1
"Apa...?" ucap Arneta dan Abby secara bersamaan. Mereka berdua tentunya kaget bukan main.
Melihat keterkejutan Abby dan Arneta secara bersamaan membuat bu Maya mencoba menebak-nebak.
"Apa kalian berdua sudah saling kenal?" tanya bu Maya.
"Ngga.... jawab Abby dan Arneta kembali secara bersamaan.
"Aish kenapa mesti malu-malu jika sudah saling kenal, ini justru bagus buat kalian berdua," tutur bu Maya. Dan hal ini kembali membuat Arneta dan Abby semakin terkejut.
Abby dan Arneta hanya bisa diam tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata atau kalimat keberatan apa menolak perjodohan ini. Pasalnya Baik Abby dan Arneta sudah menerima perjodohan ini sebelum mereka berdua di pertemukan.
Melihat Abby dan Arneta hanya diam saja, bu Maya mengambil inisiatif untuk mempercepat proses lamaran tersebut.
"Bee kamu bilang sudah bersedia menerima perjodohan ini benar bukan?" ucap bu Nola sambil menatap putrinya dengan tatapan mengintimidasi. Abby pun hanya bisa menganggukkan kepalanya ke atas ke bawah tanda mengiyakan.
Kini giliran Arneta yang harus menjawab pertanyaan ayahnya.
"Neta apa kamu bersedia menerima perjodohan ini?" ucap pak Jaya dengan sangat hati-hati. Dan Arneta pun hanya menjawab seperti Abby dengan mengatakan kepadanya.
Sebenarnya baik Abby dan Arneta sama-sama menolak perjodohan ini, bagaimana bisa Arneta dan Abby bisa bersatu jika mereka berdua setiap kali bertemu hanya menghadirkan perdebatan. Tapi seberapa besar penolakan Arneta dan Abby nyatanya itu hanya di ungkapkan dalam hati masing-masing.
Setelah mendapatkan jawaban dari Abby dan Arneta bu Maya tanpa berbasa-basi langsung memerintahkan Abby untuk menyematkan cincin pertunangan ke jari Arneta.
"Abby karena kalian berdua sudah setuju, sekarang pasang cincin ini ke jari calon istri mu," perintah bu Maya sambil menyodorkan kotak kecil berwarna merah.
Abby mengambil kotak pemberian mamanya dan mengeluarkan sebuah cincin yan cantik dan langsung menyematkan cincin tersebut ke jari manis Arneta. Begitu juga dengan Arneta. Arneta mengambil cincin dari dalam kota merah dan memasang cincin tersebut di jari Abby , calon suaminya yang tidak pernah di duga sebelumnya.
Setelah Abby dan Arneta selesai menyematkan cincin pertunangan, dengan senyum bahagia bu Maya mengungkapkan rencana pernikahan Abby dan Arneta.
"Baiklah sekarang kita tentukan tanggal pernikahan anak-anak kita, saya usulkan dua minggu lagi dari sekarang," kata bu Maya.
usul itu pun langsung di sambut baik oleh kedua orang tua Arneta. Berbeda dengan Abby dan Arneta, di dalam hati masing-masing terjadi pemberontak yang tidak bisa di ungkapkan cukup di simpan dalam hati.
__ADS_1
Bersambung