CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 104 ME TOO


__ADS_3

Tepat seperti kata dokter waktu itu, jika Abby rutin melakukan terapi dan mengikuti semua petunjuk dari dokter maka Abby bisa berjalan lagi seperti dulu. Abby memang rutin melakukan terapi akan tetapi sejak pertengkaran Arneta dan Abby waktu itu Arneta tidak pernah lagi menemani Abby untuk terapi. Arneta di gantikan oleh Sarfa. Karena alasan inilah Arneta tidak tahu perkembangan kesembuhan kaki Abby.


Pagi ini Arneta sedang duduk di meja makan menikmati sarapan paginya. Arneta tidak menunggu Abby supaya bisa sarapan pagi bersama. Derap kaki kaki terdengar oleh telinga Arneta, Arneta pikir itu adalah langkah Sarfa yang datang. Hingga pemilik langkah kaki itu berdiri tepat di hadapan Arneta.


"Abby....!" ujat Arneta terkejut. Mata Arneta terbuka sempurna melihat pandangan yang ada di hadapannya.


"Iya, ini aku. Sekarang aku sudah sembuh dan sudah bisa berjalan lagi seperti dulu," balas Abby sambil bersikap acuh seolah tak melihat keterkejutan Arneta.


Abby duduk di kursi yang biasa di ditempatinya. Mata Arneta masih terus menatap Abby dengan tatapan tak percaya. Arneta mengabaikan sikap dingin Abby.


"Seperti kesepakatan kita waktu itu, setelah aku bisa berjalan lagi kamu akan menandatangani surat perceraian kita. Kapan kamu akan menyerahkan surat itu pada Sarfa?" ucap Abby tanpa perasaan. Abby benar-benar dingin sedingin kutub Utara.


Arneta tersadar dari lamunannya setelah kata-kata Abby sampai di telinganya.


"Aku akan menyerahkannya sekarang juga," jawab Arneta. Hatinya terasa sakit dan hancur tetapi Arneta tidak ingin mengemis cinta dari laki-laki yang selalu saja menyakiti hatinya.


Setelahnya Arneta bangun dari duduknya, tujuannya adalah kamar. Arneta melangkah dengan cepat Arneta tidak ingin Abby melihat airmatanya yang jatuh. Arneta tidak ingin Abby melihat hatinya yang sedang terluka.


Di dalam kamar Arneta langsung membuka pintu lemari pakaian dan mengambil map yang dulu disimpannya. Arneta tidak ingin menandatangani surat perceraian itu, tapi saat ini tak ada lagi alasan baginya untuk tetap bertahan.


Arneta kembali ke meja makan, Arneta menyerahkan berkas perceraian di hadapan Abby.


"Sudah aku tandatangan. Selama proses sidang perceraian kita tetap akan tinggal satu rumah sampai pengadilan memutuskan," ini adalah keputusan akhir Arneta. Arneta sengaja melakukan ini agar dirinya bisa belajar melepaskan Abby secara perlahan-lahan supaya perpisahan mereka tidak terlalu menyakitkan hatinya.


Abby langsung meraih map berisikan yang disodorkan oleh Arneta. Abby berdiri dari duduknya dan langsung meninggalkan Arneta tanpa sepatah katapun. Arneta terkulai lemas di kursi meja makan. Akhirnya waktu itu datang juga, saat yang tidak di inginkan Arneta.


Abby berangkat ke perusahaan sambil membawa mobil sendiri, Sarfa tidak menjemputnya. Sampai di kantor Abby langsung mencari Sarfa keruangannya. Abby masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Afa, segera urus surat perceraian ku dengan Neta secepatnya!" perintah Abby.


"Yakin?" ucap Sarfa tak percaya. Sarfa terkejut dengan perintah Abby.


"Yakin, sekarang juga kamu segera mendaftar perceraian ku dengan Neta!" Abby mengulangi kata-katanya agar Sarfa percaya.


"Abby, ada apa sebenarnya?" tanya Sarfa.


"Neta masih mencintainya," akuh Abby.


"Bee, kamu itu pintar dalam berbisnis, tetapi kamu buta dalam hal soal persamaan. Neta itu mencintaimu!" balas Sarfa. Sarfa ingin merubah pemikiran Abby.

__ADS_1


"Lakukan saja seperti yang aku perintahkan!" balas Abby.


"Dasar bodoh, kamu benar-benar buta tidak bisa melihat cinta di mata istrimu!" Sarfa memaki Abby.


Abby tak peduli dengan makian Sarfa, selesai menyerahkan berkas perceraian Abby keluar dari ruangan Sarfa.


Sarfa tak ingin melihat kebodohan Abby lebih lama lagi, dengan langkah pasti Sarfa pergi meninggalkan perusahaan langsung menuju kantor urusan agama untuk mengurus surat perceraian Abby dan Arneta.


Dua jam kemudian Sarfa kembali ke kantor sambil membawa jadwal sidang perceraian. Sarfa sangat cepat mengurus semuanya. Sarfa sudah di dampingi oleh pengacara saat datang ke kantor urusan agama. Sarfa langsung menuju ke ruang kerjanya Abby


"Sidang perceraian kamu akan diadakan satu minggu lagi," ucap Sarfa.


"Terimakasih," jawab Abby singkat.


"Dasar bodoh," Sarfa kembali mengumpat.


Arneta pun sudah menerima jadwal sidang perceraian dengan Abby. Meskipun Arneta berusaha tegar akan tetapi hatinya tidak bisa berbohong, terutama matanya. Airmata terjun bebas tanpa bisa dibendung.


Sesuai dengan permintaan Arneta, Abby tetap tinggal satu atap dengan Arneta sampai sidang memutuskan status pernikahan mereka berdua.


Hari terus berlalu tapi waktunya terasa sangat cepat berlalu. Tepat hari ini jadwal perceraian Arneta dan Abby akan digelar. Di ruang tengah Arneta dan Abby sedang duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya hening hanya ada detak jan dinding yang terdengar.


Tiba waktunya Arneta dan Abby akan pergi ke pengadilan. Arneta dan Abby berangkat bersama Dalam perjalanan menuju ke pengadilan di dalam mobil Arneta baik pun Abby sama-sama diam. Mereka berdua sibuk dengan isi pikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba saja pikiran Abby terlintas akan ucapan Sarfa waktu Abby memerintahkan Sarfa mengurus perceraian.


"Dasar bodoh, kamu pintar dalam berbisnis tetapi buta dalam soal persamaan, kamu tidak bisa melihat cinta di mata istrimu," kalimat yang di ucapkan Sarfa terus terngiang-ngiang di telinga Abby dan itu sangat mengganggu.


Abby memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, hatinya tak tenang. Abby memutuskan untuk berfikir sejenak sebelum semuanya terlambat. Arneta menatap Abby setelah mobil yang membawanya berhenti di pinggir jalan.


"Kenapa, ada apa?" tanya Arneta.


"Aku...aaku..."Abby terbata-bata saat ingin menjawab pertanyaan Arneta.


Arneta menundukkan kepalanya setelah Abby membalas tatapannya. Jantung Arneta terasah sedang di paksa bekerja dua kali lipat dari biasanya.


Abby menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya secara perlahan, Abby mencoba menetralkan degup jantung yang sedang berderak tak karuan.


"Aku mencintaimu," ucap Sarfa dengan sangat hati-hati. Arneta hanya diam tidak menjawab ucapan Abby meskipun dirinya mendengar ucapan Abby barusan.

__ADS_1


Abby menunggu jawaban dari Arneta sambil terus menatap Arneta.


"Neta, aku mencintaimu," Abby mengulangi kata-katanya. Arneta membuang pandangannya ke arah luar jendela kaca mobil. Arneta sedang berusaha mencobah mempercayai ucapan Abby barusan. Airmatanya sudah mengalir tanpa Abby melihatnya.


Abby yang menunggu jawaban dari Arneta, tetapi Abby hanya melihat Arneta hanya diam. Karena tidak mendapatkan jawaban Abby yakin bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta Arneta.


Abby menyalakan mesin mobil dengan perasaan yang sangat kalut.


"Me too," kata Arneta dengan suara perau, dua kata ini akhirnya keluar dari mulut Arneta saat Abby hendak menginjak pedal gas mobil. Abby mengangkat kakinya dari pedal gas dan menatap Arneta yang sudah menundukkan kepalanya.


"Neta, aku mencintaimu," Abby mengulangi kata-katanya untuk ketiga kalinya.


"Me too," Arneta juga mengulangi jawabannya.


"Ha... sekali lagi!" pinta Abby, Abby ingin mendengar sekali lagi dua kata yang di ucapkan Arneta.


"Me Too...!" akhirnya Arneta menjawab permintaan Abby sambil berteriak.


"Ah..ae... aku mencintaimu Neta, sungguh," ucap Abby.


"Me too.." Arneta mengulangi lagi ucapnya karena tidak tahu harus menjawab apa.


Abby meraih tubuh Arneta masuk kedalam pelukannya.


"Maafkan aku, aku terlalu bodoh," Abby menyalakan dirinya sendiri. Arneta bukannya menjawab ucapan Abby tapi justru tangisnya yang pecah.


Hu hu hu...


Arneta menangis tersedu-sedu dalam dekapan Abby. Hatinya merasa lega setelah berhasil mengucapkan isi hatinya.


Abby pun meneteskan airmatanya tanpa di sadari nya. Abby semakin mendekap erat tubuh Arneta.


"Maafkan aku, aku tidak ingin berpisah dengan mu. Tolong maafkan kesalahan dan kebodohan ku," ucap Abby. Abby mengecup ujung kepala Arneta.


Arneta menengadahkan kepalanya menatap Abby.


"Aku mencintaimu sejak lama, tapi kamu tidak percaya," ucap Arneta. Matanya masih menitikkan airmata meskipun tak sederas tadi.


"Iya, aku bodoh. Aku minta maaf," jawab Abby.

__ADS_1


Bersambung


maaf telat up.


__ADS_2