
Sementara itu Abby kini sedang di interogasi oleh orang tuanya.
"Abby katakan pada mama sama papa kenapa Arneta bisa tertabrak mobil?" tanya bu Maya. Tubuh Abby langsung menegang mendengar pertanyaan mama.
"Itu, tadi Neta jalan nggak liat kiri dan kanan," kilah Abby. Abby berbohong. Tak mungkin jika Abby mengatakan hal yang membuat Arneta tertabrak. Lebih tepatnya Arneta mencoba bunuh diri karena ucapan Abby.
Bu Maya merasa Abby tak menjawab dengan jujur, bu Maya melihat gesture Abby yang gugup saat menjawab pertanyaannya tadi. Bu Maya akan mencari tau sendiri apa penyebab Arneta tertabrak.
"Bee, jawab dengan jujur. Apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" bu Maya kembali bertanya pada Abby.
"Aku sama Cia sudah putus belum lama ini mah," jawab Abby jujur.
"Jadi benar selama ini kamu masih berhubungan dengan perempuan itu Abby!" ujat bu Maya marah.
"Sudah putus mah, aku sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi," bela Abby.
"Bukan itu yang mama tanya Abby. Kamu menikah dengan Arneta dan kamu pun masih menjalan cinta dengan perempuan itu, benarkan?" ujar bu Maya. Abby tak berani menjawab pertanyaan mamanya, sudah di pastikan bu Maya dan pak Ady sangat marah pada Abby putra satu-satunya.
Abby tak berani menatap kedua orang tuanya, Abby tau sudah berbuat kesalahan yang fatal.
" Abby kamu ya, benar-benar tidak bisa diandalkan. Mama sama papa kecewa sama kamu," ujar bu Maya.
Dokter pun keluar dari dalam ruangan perawatan Arneta.
"Keluarga pasien yang bernama Arneta," dokter itu memanggil orang yang berhubungan dekat dengan Arneta. Abby segera berdiri dan menghampiri dokter. Begitu juga dengan mama papanya Abby. Rika dan Gita ikut mendekati dokter tersebut.
"Saya dok, saya suaminya Arneta," jawab Abby cepat.
"Dengan bapak siapa?" tanya dokter.
"Saya Abby dok," jawab Abby.
"Baiklah pak Abby, kondisi istri anda saat ini sudah stabil dan pendarahannya sudah berhenti," jelas dokter.
"Syukurlah..." kalimat itu terucap secara bersamaan oleh keluarga dan sahabatnya Arneta.
__ADS_1
"Terus dok, apa sudah bisa menjenguknya? tanya Abby tak sabaran.
"Untuk sementara ini pasien hanya bisa di jenguk satu orang saja, tapi jika Bungin menjenguk harap berganti," ujar dokter tersebut.
"Baik dok terimakasih atas bantuannya," ucap Abby.
"Oh ya satu lagi, saya minta menjaga ketenangan pasien saat ada di dalam ruangan pasien. Pasien saat ini butuh istirahat dan ketenangan,'"jelas dokter itu lagi.
"Baik dok...," jawab Abby. Dokter itupun pergi meninggalkan Abby kembali keruang kerjanya.
Semua orang yang berada di situ ingin melihat keadaan Arneta dan ingin masuk kedalam ruang tempat Arneta terbaring.
"Mama duluan masuk Bee," ujar bu Maya, bu Maya bukan meminta tapi langsung memutuskan. Abby hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan mamanya.
Bu Maya masuk kedalam ruang rawat Arneta. Setelah melihat kondisi Arneta yang sedang terbaring di barak tempat tidur pasien hati bu Maya terasa di hantam dengan palu . Bagaimana tidak bu Maya melihat tubuh Arneta kini penuh dengan tempelan alat medis di tubuhnya. Bu Maya meneteskan airmata tak kuat melihat Arneta.
Bu Maya menghampiri Arneta dan menggenggam tangan Arneta dengan sangat hati-hati.
"Neta sayang, kuat ya... bertahanlah nak ada mama disini," ucap bu Maya dengan nada sangat pelan. Setelah itu bu Maya segera keluar dari dalam ruangan tersebut karena tidak tahan melihat Arneta.
"Maaf pak, saat ini pasien akan di pindahkan ke ruang observasi. Mohon tunggu sebentar ya pak," ucap salah satu perawat. Dan Abby pun mengijinkan para perawat itu melakukan tugasnya.
Arneta di dorong pindah ruangan oleh para perawat tersebut. Ruangan Arneta kini ada kaca jendela yang fungsinya siapa saja bisa melihat Arneta dari balik kaca tersebut.
Setelah selesai para perawat itu pun mempersilahkan Abby untuk masuk menemui Arneta.
"Silahkan pak, tapi jangan lama-lama ya pak," salah satu perawat itu mengingatkan Abby.
Abby tak membalas ucapan perawat tersebut dan langsung masuk kedalam ruangan Arneta. Abby langsung bisa melihat Arneta hatinya sakit. Di tubuh Arneta sudah penuh dengan alat-alat kedokteran yang terpasang, kepala Arneta sudah di perban. Jarum infus obat dan jarum infus untuk transfusi darah sudah menancap di lengan kiri dan kanan Arneta.
Abby pelan-pelan mendekati Arneta, Abby tak bisa duduk di dalam ruangan tersebut karena memang tidak di sediakan kursi.
"Sayang, aku minta maaf. Aku sungguh menyesal. Tolong bertahan demi aku," pinta Abby dengan suara lirih. Abby meraih tangan Arneta berniat untuk menggenggam tangan Arneta untuk memberikan kekuatan.
Setelah tangan Abby menggenggam tangan Arneta tiba-tiba tubuh Arneta seperti terkena sengatan listrik yang sangat kuat. Tubuh Arneta tiba-tiba menegang, beberapa detik kemudian tubuh Arneta kejang-kejang.
__ADS_1
"Neta,... Neta kamu kenapa? dokter...!" teriak Abby panik.
Mendengar teriakkan Abby parah perawat dan dua orang dokter pun langsung masuk kedalam ruangan Arneta.
"Maaf pak, silahkan bapak tunggu di luar dulu ya," ucap salah satu perawat meminta Abby agar segera keluar dari dalam ruangan karena dokter akan memeriksa Arneta. Abby kekuar dengan langkah berat.
Rika, Gita dan Robby yang masih menunggu perkembangan Arneta binggung mendengar teriakkan Abby dan beberapa perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan itu. Bu Maya dan pak Ady pun segera berdiri menghadap kaca tempat Arneta terbaring.
Abby pun ikut berdiri di depan kaca tersebut. Dan dari luar mereka semua bisa melihat para dokter yang sedang sibuk memeriksa Arneta.
"Dok, jantung pasien melemah," ucap perawat. Dokter itu pun melihat alat mesin kontrol detak jantung. Dan tiba-tiba mesin itu mengeluarkan bunyi yang tidak di harapkan.
Tiiiiiiinnn...
Detak jantung Arneta berhenti.
"Sus siapkan alat," perintah dokter.
"Sudah dok..."jawab perawat yang sudah menyiapkan alat yang di minta dokter tersebut.
"Hitungan ketiga...,""dokter itu memberikan instruksi.
"Siap...satu...dua...tiga....," dokter itu menghitung. Dan benda medis seperti setrika kecil di tempelkan di tubuh Arneta, Karena benda kecil itu tubuh Arneta terpental ke atas.
Percobaan pertama belum membuahkan hasil. Dokter itupun memberikan instruksi.
"Naikkan....dan hitungan ketiga.," ucap dokter tersebut.
Dan kembali benda kecil itu di tempelkan di tubuh Arneta dan tubuh Arneta kembali terpental keatas.
Dari kaca jendela Abby dan kedua orang tuanya, juga sahabat Arneta bisa melihat bagaimana kondisi Arneta. Mereka semua pun bisa melihat detak jantung Arneta terhenti. Tubuh Abby langsung melorot kebawah. Perasaan bersalah kini sedang menghukumnya. Abby memukul kepalanya sendiri perasaan bersalahnya itu.
"Neta aku mohon bertahan, aku menyesal. Kamu boleh menghukum ku asal kamu tetap hidup," pinta Abby.
Bersambung....
__ADS_1