CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 41 DUDA


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu ini Abby selalu berusaha untuk pulang lebih awal dari kantor alasannya karena ingin makan malam bersama Arneta. Tapi ada satu hal yang mengganggunya, setiap kali Abby pulang Abby menemukan Arneta sedang berada di balkon belakang apartemen.


Abby yang awalnya biasa-biasa saja kini mulai terganggu, karena setiap kali Abby pulang Abby menemukan Arneta sedang berada di balkon. Arneta berada di balkon belakang apartemen tidaklah sendirian saja ada seseorang yang menemaninya mengobrol. Dan Abby tahu siapa orang yang berbicara dengan Arneta. Dia adalah seorang laki-laki mudah yang ketampanannya bisa di bilang di atas rata-rata, dan bukan hanya tampan tetapi juga memiliki kekayaan tak kalah dengan Abby.


Perasaan Abby mulai tak karuan setiap kali melihat Arneta berbicara dengan laki-laki itu meskipun Arneta dan laki-laki itu terhalang oleh tembok tebal. Hati Abby semakin tak karuan pasalnya setiap Abby melihat Arneta berbicara dengan orang itu Arneta bisa tersenyum bahkan Arneta bisa tertawa lepas. Hati Abby merasa panas.


Sebenarnya Abby ingin membatasi Arneta agar jagan terlalu dekat dengan pria itu akan tetapi Abby teringat akan perjanjian yang dibuatnya. Abby tak berdaya. Abby pernah membanting pintu sangat kencang saat menutup pintu kamarnya dengan tujuan agar Arneta berhenti berbicara dengan pria tersebut akan tetapi hasilnya tidak seperti yang Abby inginkan Arneta justru asyik terus berbicara dengan pria tersebut. Abby hanya bisa membatin.


Seperti hari ini Abby kembali pulang lebih awal lagi dengan alasan yang sama agar bisa makan malam di rumah. Dan seperti yang sudah terjadi di hari-hari yang lain Abby kembali menemukan Arneta sedang asyik ngobrol dengan pria tampan tetangganya. Dan Abby menjadi kesal.


"Sial, kenapa aku jadi uring-uringan kaya gini," kata dalam hati.


"Kan yang buat perjanjian itu aku, kenapa sekarang aku yang justru keberatan," lanjut Abby membatin.


Abby sudah tidak tahan lagi melihat keakraban antara Arneta dan tetangganya itu.


"Neta...!" teriak Abby memanggil Arneta dengan teriakan kencang. Arneta terkejut mendengar Abby teriak memanggil dirinya.


"Aku masuk dulu ya," pamit Arneta dengan orang yang sedang ngobrol bersamanya.


Setelah berpamitan Arneta segera masuk menemui Abby yang tadi memanggilnya dengan teriakan.


"Iya ada apa Abby?" tanya Arneta setelah berdiri di hadapan Abby.


"Kamu, ngapain ngobrol dengan pria itu?" tanya Abby dengan nada tak suka.


"Memangnya kenapa, ada masalah?" ucap Arneta balik bertanya kepada Abby bukan memberikan jawaban atas pertanyaan Abby.


Abby terdiam sejenak tidak tahu harus menjawab apa. Tapi Abby menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Arneta.


"Ya karena kamu itu seorang istri," jawab Abby.


"Istri, istrinya siapa?" tanya Arneta.


Kening Abby langsung mengkerut mendengar pertanyaan Arneta.

__ADS_1


"Apa kamu lupa ya kalo kamu sudah menikah, atau sengaja pura-pura lupa?" balas Abby dengan mengajukan pertanyaan.


"Memang siapa suamiku?" Arneta balik bertanya.


"Akulah, memang siapa lagi," jawab Abby cepat.


"Apakah kamu juga pura-pura lupa, kalau pernikahan kita ini hanya di atas kertas," kata Arneta.


Abby kembali berusaha memikirkan jawaban yang tepat atas perkataan Arneta. Abby menarik nafasnya kasar.


"Memang hanya di atas kertas, tapi ingat kamu itu istri aku di hadapan hukum dan agama," ujar Abby sambil menahan emosinya.


"Kamu lupa ya, bukannya kamu sendiri yang buat perjanjian antara kita berdua," ujar Arneta mengingatkan Abby tetang perjanjian yang Abby buat.


Ingin rasa Abby masuk kedalam kamarnya dan mengambil perjanjian itu dan langsung merobek-robek kertas yang bertuliskan perjanjian tersebut. Tapi sekali lagi Abby mencoba untuk mengelak soal perjanjian itu.


"Biar bagaimanapun aku adalah suami mu, dan sebagai seorang istri kamu harus menuruti perkataan suamimu dan mulai hari ini kamu aku larang untuk berbicara dengan pria duda itu!" ujar Abby panjang lebar.


Arneta ingin tertawa melihat sikap Abby, tapi tawa itu hanya disimpan dalam hatinya.


Abby kembali mengumpat dalam hatinya.


"Sial, kenapa dia ingat isi poin pertama?" Abby kesal.


"Mulai sekarang poin pertama itu di hapus," kata Abby, dan Abby tiba-tiba membatalkan perjanjian tersebut.


"Atas dasar apa kamu merubahnya, aku tidak mau," Arneta menolak keinginannya Abby.


"Tidak bisa, pokoknya kamu sudah tidak boleh lagi berbicara dengan pria itu," protes Abby.


Arneta tidak mau menuruti keinginan Abby begitu saja karena selama ini Arneta tidak pernah sekalipun melarang Abby untuk bertemu dengan wanita siapa saja terlebih jika Abby ingin bertemu dengan Gracia kekasihnya.


"Aku tidak mau, selama ini aku tidak pernah melarang mu untuk bertemu dengan siapa pun. Karena itu kamu aku minta untuk tidak melarang ku berbicara ataupun bertemu dengan orang lain," ujar Arneta.


Ingin rasanya Abby mengatakan bahwa hatinya tidak suka jika melihat Arneta dengan orang lain lain apalagi orang itu adalah seorang laki-laki tapi hal itu hanya disimpan dalam hatinya.

__ADS_1


"Coba kamu katakan padaku apa alasannya kamu beta berbicara dengan pria itu?" tanya Abby ingin tahu alasan mengapa Arneta bisa betah dengan tetangga dudanya itu.


"Ya karena mas Heru itu orang asyik diajak ngobrol," jawab jujur Arneta.


Emosi yang tadinya mulai redah kini terpancing kembali.


"Apa, kamu panggil pria itu dengan sebutan apa?" tanya Abby sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Mas Heru," jawab Arneta jujur.


"Kamu panggil pria itu dengan sebutan mas, sedangkan aku jelas suami mu tapi kamu hanya memanggilku dengan hanya menyebut namaku," proses Abby tak terima.


Arneta menjadi binggung dengan ucapan Abby barusan.


"Memangnya kamu mau aku panggil dengan panggilan apa," tanya Arneta.


"Mungkin kamu bisa panggil aku dengan panggilan sayang," jawab Abby mengusulkan.


Hahaha


Arneta akhirnya tertawa. Menurut Arneta apa yang di ucapkan Abby itu sungguh tidak masuk akal.


"Abby -Abby apa kamu lupa kita berdua ini menikah bukan karena cinta jadi tidak mungkin aku memanggil mu dengan sebutan sayang," ujar Arneta, Arneta menolak memanggil Abby dengan kata sayang.


"Jadi kamu lebih suka dekat dengan pria itu, apa kamu tahu bahwa dia adalah seorang duda?" ucap Abby tak terima.


"Aku tahu kok dua itu duda. Dia sendiri yang mengucapkannya," jawab Arneta santai.


Abby semakin kesal karena kata-kata Arneta.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, mulai saat ini kamu sudah harus bisa menjauh dari pria itu," perintah Abby.


"Aku tetap tidak mau, kamu sendiri bertemu dengan kekasih mu aku tidak pernah keberatan apa lagi protes," balas Arneta. Dan Abby pun mati kutu tak bisa lagi membalas perkataan Arneta.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2