CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 44 RENCANA PINDAH


__ADS_3

Hari-hari yang di lalui Abby kini terasa panjang dan lama. Abby benar-benar sudah mulai hilang kesabarannya setiap kali pulang dari kantor Abby selalu mendapati Arneta sedang berbicara dengan Heru. Meskipun terhalang oleh tembok yang tebal tetap saja wajah Arneta selalu terlihat ceria, berbeda saat Arneta berada dekat dengan Abby, wajah Arneta selalu terlihat datar walau terkadang Arneta tersenyum tapi sangat jarang Abby mendapatkan sebuah senyuman manisnya Arneta.


Abby berusaha agar pekerjaannya cepat selesai, Abby ingin lebih cepat lagi berada di apartemen. Hanya ini cara satu-satunya yang di lakukan oleh Abby untuk mencegah Arneta tidak berbicara dengan Heru tetangganya yang gantengnya sebelas dua belas dengan Abby.


Waktu kepindahan kini tersisa dua hari lagi, Abby segera memberi tahukan kepada Arneta agar menyiapkan barang-barang yang akan di bawah ke rumah baru mereka nanti.


"Pindah?" tanya Arneta binggung, Arneta baru tahu jika rumah hadiah pernikahan yang di berikan oleh orang tuanya Abby sudah selesai.


"Iya, dia hari lagi kita pindah dari sini,"ujar Abby, Abby mengabaikan keterkejutan Arneta.


"Tapi kenapa buru-buru? aku masih betah tinggal disini," kata Arneta dengan raut wajah sedih.


"Ita kamu betah tinggal disini karena ada duda itukan?" ujar Abby.


"Kenapa mas Heru jadi di bawa-bawa?" protes Arneta.


"Iya kamu nggak mau pindah dari sini karena takut tidak ketemu lagi laki-laki itukan?" tuduh Abby.


Mendengarkan perkataan Abby yang menuduhnya membuat Arneta kesal.


"Kalo iya memangnya kenapa?" tantang Arneta.


"Kamu tahu kalo aku tidak suka jamu dekat dengan duda itu, tapi kenapa kamu selalu setiap aku pulang kerja kamu selalu ngobrol dengan dia?" ucap Abby.


Arneta tidak ingin kebebasannya di batasi oleh Abby, bukankah Abby sendiri yang membuat perjanjian pernikahan. Arneta kesal dan masih protes akan keputusan Abby yang tiba-tiba.


"Untuk apa kamu urusin urusan pribadi ku, aku mau ketemu dengan siapapun kamu tidak berhak ikut campur," ucap Arneta membalas perkataan Abby.


'Aku ini masih suami mu yang sah Neta," balas Abby mengingat status perkawinan mereka berdua.


"Kamu cuma suami diatas kertas, apakah kamu lupa dengan perjanjian yang kamu buat sendiri?" balas Arneta sengit.


Rasa penyesalan pun tiba di hatinya Abby, jika dirinya bisa memutar kembali waktu ingin rasanya Abby tidak pernah membuat perjanjian bodoh itu yang akhirnya justru menyiksa dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu ingat poin pertama sudah di hapus," ucap Abby.


"Poin pertama tidak pernah dihapus, jelas itu masih ada lembar kertas perjanjian itu," jawab Arneta.


"Aku sudah menghapusnya ," balad Abby.


"Tapi di kertas perjanjian ku masih tertulis dan kamu sudah tanda tangan ," jawab Arneta lagi tak ingin mengalah.


Abby merutuki dirinya sendiri, surat perjanjian yang dibuatnya agar supaya Arneta tidak berharap lebih dari dirinya kini perjanjian itu justru menyiksanya.


"Neta aku minta poin pertama perjanjian itu di batalkan daja ya," pinta Abby, Abby akhirnya luluh.


"Tidak mau, kamu yang buat berarti kamu juga harus mematuhi peraturan tersebut," balas Arneta menolak permintaan Abby.


Abby tak berdaya, wajahnya kini cemberut karena tidak berhasil membujuk Arneta.


"Terserah kamu saja, yang penting dia hari lagi kita harus pindah. Tidak ada penolakan titik," Abby mengalah tetapi juga memberikan ultimatum.


"Iya besok aku mulai siap-siap mengepak barang yang akan dibawa," ucap Arneta dengan pipi mengembung dan bibir sudah maju tiga senti.


Abby merasa senang akhirnya Arneta bersedia untuk pindah, Abby juga merasa gemas melihat wajah Arneta yang sedang kesal. Pipi yang sudah bulat di kembangkan dan bibir yang sudah maju tiga senti pikiran Abby pun langsung teringat akan ikan buntal, hal itu membuat Abby tertawa lepas.


Hahahaha


Tawa Abby.


Arneta yang melihat dan mendengarkan suara tawa Abby semakin kesal. Arneta justru semakin membuat pipinya tambah mengembung. Dan Abby pun kembali tertawa sambil mengeluarkan airmata.


Arneta tidak terima dirinya ditertawakan oleh Abby.


"Kenapa ketawa, memangnya ada yang lucu?" protes Arneta.


"Ada,..." jawab singkat Abby.

__ADS_1


"Apanya yang lucu, memang ada badut disini?" ucap Arneta sambil mencibir.


"Ada kok, itu badutnya," jawab Abby sambil jarinya menujuk kearah Arneta.


Arneta pun semakin kesal dibuat oleh Abby, Arneta kesal karena dirinya dikatai badut oleh Abby.


"Aku bukan badut," protes Arneta tak terima.


"Tapi kamu lucu, apa lagi saat pipi kamu seperti bakpao dan bibir kamu yang sudah maju sama persis seperti ikan buntal," ujar Abby sambil menahan tawanya.


Ingin rasanya Arneta Arneta merauk wajah Abby dan meremasnya sayangnya Arneta tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Hati Arneta hanya bisa membatin.


"Dasar lebah batu, nggak punya hati," kata Arneta dalam hatinya.


"Neta kamu kalau lagi ngambek lucu banget, apa lagi bagi bibir kamu kamu majuin kaya tadi ingin rasanya aku cium" ucap Abby. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa bisa disaring lagi.


Arneta pun langsung melongok menatap Abby, dengan cepat kedua tangannya Arneta langsung menutup rapat-rapat mulutnya takut Abby nekat dan menciumnya sama seperti yang diucapkan oleh Abby.


*Biasa aja kali Neta, aku tidak akan melakukannya tanpa seijin mu tapi dengan catatan kalo aku bisa menahan diriku untuk tidak mencium mu," ucap Abby entang.


Arneta mendengarkan perkataan Abby langsung segera melangkah menjauh dari Abby, Arneta melangkah menuju arah kamarnya berada dengan langkah berderap hingga memberikan bunyi di setiap langkah kakinya. Abby bukannya kesal tapi justru tersenyum geli melihat Arneta yang sedang kesal padanya.


Keesokan harinya Arneta sengaja pulang lebih cepat dari biasanya, Arneta ingin membuatkan kue untuk di bagikan kepada tetangganya sekaligus berpamitan karena dirinya akan pindah ke rumah yang baru.


Sebelum pulang Arneta menyempatkan diri untuk berbelanja keperluan untuk membuat kue di sebuah supermarket. Setelah tiba di apartemen Arneta langsung mengerjakan niatnya tadi untuk membuat kue.


Setelah selesai membuat kue, Arneta membagi kue-kue buatannya menjadi beberapa bagian dan. siap untuk di bagikan, tapi sebelumnya Arneta memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena tidak ingin tetangganya mencium aroma keringat yang keluar dari tubuhnya.


Setelah siap Arneta pun langsung mengantarkan kue buatannya Kepada tetangga-tetangganya sambil berpamitan. Ada yang merasa sedih jika Arneta pindah karena mereka pasti tidak akan bisa lagi mencicipi kue buatan Arneta yang enak-enak.


Sementara Arneta membagikan kue ke tetangganya Abby pulang. Abby masuk langsung mencium aroma wangi kue buatan Arneta. Abby langsung menuju ke dapur untuk mencari Arneta tapi sayangnya Abby kecewa karena tidak ada Arneta disana. Abby melihat kue yang terletak di atas meja dan mencium aroma kue tersebut membuat air liurnya menetes. Abby langsung mengambil kue tersebut dan memakannya. Abby duduk manis di kursi makan sambil menikmati setiap gigitan kue buatan Arneta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2