CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 95 SEMUA SALAH ARNETA


__ADS_3

Setelah tangisnya redah Arneta menatap lembaran surat cerai, matanya terasah sakit dan hatinya pun perih. Arneta tak langsung menandatangani surat cerai tersebut. Arneta tak jadi sarapan pagi perutnya sudah terasa kenyang terlebih dahulu sebelum disisi. Dengan langkah gontai Arneta kembali kedalam kamarnya. Di dalam kamar Arneta kembali menumpahkan airmatanya, Arneta kembali menangis.


Setelah puas menangis Arneta memasukkan map berisikan surat cerai kedalam laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Arneta duduk merenungi kembali apa yang sudah pernah dilaluinya bersama Abby, Arneta merasa bahagia jika bisa menghabiskan waktu bersama Abby. Tapi semua kenangan indah kini akan berubah menjadi kenangan pahit bagi Arneta. Hari ini Arneta memutuskan untuk tidak pergi bekerja Arneta butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


Sudah tiga hari dari kejadian hari itu Abby tak pernah pulang ke rumah, padahal Arneta sudah menunggunya pulang. Arneta menunggu Abby pulang dengan harapan Arneta bisa mengatakan apa yang dirasakannya selama ini terhadap Abby.


Tak ingin menunggu lebih lama lagi Arneta memutuskan untuk menemui Abby di perusahaannya, akan tetapi Arneta tidak juga menemukan Abby disana. Arneta justru mendapatkan informasi jika Abby sedang ada di Bogor untuk menginspeksi proyek yang ada di sana. Arneta pulang dengan perasaan sedikit kecewa.


Arneta pulang ke rumah dengan membawa harapan Abby akan menghubunginya, karena setiap kali Arneta menelpon Abby, Abby tak pernah menjawab panggilan Arneta. Bukan hanya itu pesan yang dikirimkan oleh Arneta pun tak pernah mendapatkan balasan. Abby mengabaikan semua pesan yang di kirim oleh Arneta.


Tiba di rumah Arneta duduk di sofa ruang tamu, Arneta merasa lelah. Selama tiga hari ini Arneta kurang tidur karena memikirkan Abby. Arneta mencobah memejamkan matanya mencoba untuk istirahat Walau hanya sebentar.


Tiba-tiba handphone milik Arneta berbunyi, ada seseorang yang berusaha menghubunginya.


Tuuut


Tuuut


Bunyi suara handphone milik Arneta.


Arneta membuka matanya dan langsung meraih handphone miliknya dari dalam tas. Ada nomor yang tak dikenal menghubungi Arneta. Arneta ragu-ragu menjawab panggilan tersebut.


Arneta membiarkan beberapa saat handphonenya berbunyi.


Di karenakan handphone tersebut terus berdering dengan rasa malas akhirnya Arneta memencet tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo...." sapa Arneta dengan suara lemas.


"Dengan ibu Arneta, istri dari pak Abby!" ucap seseorang dari balik telpon.


"Iya, saya sendiri. Maaf ini dengan siapa?" tanya Arneta. Arneta penasaran siapa yang menghubunginya dan dari mana orang itu tahu jika dirinya adalah istri dari Abby.


"Maaf bu, saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa suami ibu bernama Abby saat ini sedang berada di rumah sakit," jelas orang tersebut dari balik handphone.


Duar


Seperti ada bom baru saja meledak di hati Arneta. Tubuh Arneta langsung menjadi lemas setelah mendengar penuturan orang dari balik telpon.

__ADS_1


"Tapi kenapa suami saya dirawat di rumah sakit?" tanya Arneta cemas.


"Suami ibu mengalami kecelakaan lalulintas," jelas orang tersebut.


Airmata kembali mengalir membasahi pipinya Arneta. Tapi meskipun dalam keadaan sedih Arneta tak ingin terbuai. Dirinya mencobah tegar.


"Di rumah sakit mana suami saya dirawat?" tanya Arneta. Setelah orang itu mengatakan nama rumah sakit Arneta langsung menutup panggil tersebut.


Arneta segera menemui supir rumah dan meminta agar dirinya diantarkan ke rumah sakit yang ada di Bogor. Seisi rumah menjadi panik setelah mendapatkan kabar jika tuan mudanya masuk ke rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tak henti-hentinya Arneta berdoa, meminta kepada Tuhan agar suaminya baik-baik saja. sepanjang perjalanan hati Arneta dilumuti perasaan khawatir. Akhirnya Arneta sampai di rumah sakit, dengan langkah setengah berlari Arneta langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruang mana Abby dirawat.


Arneta langsung melaju dengan langkah cepat menujuh tempat yang di katakan oleh reception tadi. Jantung Arneta bergemuruh seperti ada badai melanda perasaannya. Arneta tiba di ruang UGD. Arneta segera membuka pintu ruang UGD hendak menemui Abby.


Tatapan mata Arneta langsung tertuju pada seorang suster yang sedang mencabut alat medis di tubuh Abby. Seorang dokter menghampiri Arneta.


"Maaf bu, kami sudah berusaha. Tapi ternyata Tuhan berkehendak la...," ucap dokter terputus karena Arneta langsung menabrak tubuh dokter tersebut.


Arneta mencoba untuk tegar, sekuat tenaga Arneta menahan airmatanya agar tidak jatuh. Arneta berdiri di samping tempat tidur Abby, Abby yang sudah tidak memiliki detak jantung.


"Surat perceraian itu belum aku tandatangan, bangun. Jika kamu tidak bangun maka aku akan segera tandatangan surat cerai itu dan memberikannya pada Sarfa supaya kita cepat bercerai," Arneta mengucapkan kalimat panjang itu dengan perasaan hancur. Hatinya seperti di tusuk ribuan duri.


Setelah selesai berbisik Arneta kembali berdiri tegak. Para dokter dan suster hanya memandang Arneta dengan tatapan ibah. Arneta melangkah menuju pintu keluar masih tetap menahan airmatanya supaya tidak jatuh.


Tangan Arneta bergetar memegangi handle pintu.


Tut


Tut


Tut


Sebuah alat medis perekaman detak jantung berbunyi. Alat medis yang masih terpasang di tubuh Abby.


"Dok, pasien kembali!" seru salah satu suster. Dengan sigap para dokter langsung memeriksa kondisi Abby.


Arneta keluar dari dalam ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah begitu saja.

__ADS_1


Di luar ternyata Sarfa sudah menunggu. Sarfa melihat Arneta yang telah menangis langsung beranggapan bahwa sudah terjadi sesuatu pada Abby. Dengan perasaan marah Sarfa langsung menyemprot Arneta dengan kata menyalakan Arneta.


"Ini semua karena kamu..!" ujar Sarfa.


"Kalau kamu tidak meminta cerai dari Abby tidak mungkin Abby kecelakaan. Kamu tahu tidak, sudah tiga hari Abby tidak tidur karena memikirkan kamu. Abby frustasi karena perceraian kalian berdua," sambung Sarfa.


Arneta menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, perasaan bersalah, rasa sedih menumpuk di hatinya. Sarfa semakin menyudutkan Arneta.


"Asal kamu tahu saja, sebrangnya Abby sudah lama mencintaimu tapi apa balasnya kamu justru membuatnya kecewa. Aku tahu Abby pernah berbuat salah padamu tapi apakah kamu tidak melihat jika Abby sudah menyesalinya. Abby juga rela bertemu dengan psikiater untuk konsultasi supaya bisa merubah sikap kasarnya. Abby sudah berkorban banyak untuk kamu Neta."


Kata-kata Sarfa semakin membuat hati Arneta terpuruk, perasaan bersalah semakin menyiksanya. Pipi Arneta sudah basah oleh airmata. Tapi Sarfa sama sekali tidak menghiraukan kondisi Arneta. Sarfa melanjutkan kata-katanya penuh emosi.


"Jika terjadi sesuatu pada Abby, kamulah orang yang paling bersalah disini. Aku tidak akan tinggal diam," kata-kata Sarfa kini mengandung ancaman terhadap Arneta.


"Keluarga pak Abby?" panggil salah satu dokter yang keluar dari dalam ruangan.


Arneta dan Sarfa serentak menghampiri dokter.


"Saya istrinya...,"


"Saya asisten pribadinya," Sarfa dan Arneta berbarengan mengenalkan diri sendiri.


Dokter itu tersenyum kecil mendengar perkataan Sarfa dan Arneta.


"Ibu, suami ibu sudah baik-baik saja, tinggal menunggu perkembangan selanjutnya," ucap dokter. Arneta dan Sarfa langsung menghembus nafas lega secara bersamaan.


"Tapi kenapa tadi saya lihat ada kepanikan di dalam ruangan, dok?" tak tahan akhirnya Sarfa bertanya karena Sarfa tadi sempat semua orang yang ada dalam ruangan Abby sibuk memasang alat medis ke tubuh Abby.


"Jantung pasien sempat berhenti tadi, tapi istri pak Abby membisikkan sesuatu ketelinga pasien, dan karena itu mujisat Tuhan datang. Jantung pasien kembali berdetak," terang dokter. Sarfa pun terkejut mendengar penuturan dokter barusan.


"Bu, saat ini pasien belum bisa di jengguk. Kita lihat kondisinya dulu," terang dokter.


"Baik dok, tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya," pinta Arneta.


Dokter itu pun kembali masuk kedalam ruangan meninggalkan Sarfa dan Arneta di luar ruangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2