
Setelah puas menangis Arneta bangun dari duduknya, kedua kakinya terasa kebas karena kelamaan di tekuk, Mata Arneta sembab karena terlalu lama menangis. Arneta berpindah tempat duduk, Arneta kini duduk di atas tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di kedua tangannya.
Ingin Arneta mengemasi semua barang-barangnya saat ini dam pulang ke rumah orangtuanya, tapi Arneta mengurungkan niatnya karena tidak ingin membuat orang tuanya cemas. Arneta memilih untuk bertahan, Asik toh pernikahannya dengan Abby kini tinggal beberapa bulan lagi. Arneta yakin jika dirinya mampu melewatinya.
Hari sudah malam tapi tak satupun yang turun untuk makan malam, Masakan Arneta yang di buatnya tadi kini sudah dingin tanpa ada yang menyentuh.Bi jum memanasi makan dan siap di tata di atas meja.
Aroma masakan makanan yang di panaskan sampai di penciuman Abby, perut Abby pun langsung berdendang ria . Rasa lapar meminta Abby untuk mengisi perutnya yang keroncong. Dari tadi siang Abby juga belum makan.
Abby turun dari kamarnya yang berada di lantai dua dan langsung menuju ke meja makan. Setibanya di ruang makan bi Jum sudah selesai menata makan di atas meja makan.
"Bi, Neta sudah makan?" tanya Abby.
"Non dari tadi siang belum makan tuan," tutur bi Jum.
"Dari tadi siang, sekarang Neta dimana?" ucap Abby.
"Non di dalam kamar dan tidak keluar dari tadi siang," jelas bi Jum.
Abby menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan-lahan.
"Bi, tolong panggilkan Neta untuk makan," ucap Abby. Bi Jum dengan patuh menuruti perintah tuannya.
Beberapa saat kemudian bi Jum kembali keruang makan dengan wajah sedih.
"Maaf tuan, Non tidak ingin makan katanya," ujar bi Jum menjelaskan.
Du dalam kamar Arneta sedang duduk sambil memandangi laptopnya, Arneta sama sekali tidak merasakan lapar, Rasa lapar Arneta tertutupi oleh kemarahannya ke-empat Abby.
Abby diam setelah mendengarkan penjelasan bi Jum, Abby mulai menyendokan nasi kedalam piringnya. Abby mengambil sup dan menyiramkan diatas nasinya yang masih panas. Abby mencoba menikmati makanannya dan berusaha menyakinkan perasaan bersalahnya.
"Tuan maaf kalau saya lancang," kata bi Jum sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa bi..?" Abby.
"Maaf tuan, tapi tadi Non tidak menampar wanita tadi," ucap bi Jum takut-takut.
__ADS_1
Abby langsung mengikat kepalanya dan menatap bi Jum dengan tatapan menyidik.
"Apa bi, bibi nggak lagi menutupi kesalahan Neta kan?" ujar Abby tak percaya.
"Saya tidak bohong tua, tamu yang tadi justru mencari gara-gara, tadi aku masih sempat liat perempuan itu justru yang mendorong non Neta, dan non Neta tadi hampir jatuh," ungkap bi Jum. Bi Jum mengatakan apa yang dilihatnya tadi siang.
Abby langsung melepaskan sendok dan garpu dari tangganya, selera makan Abby langsung hilang dan mendadak langsung kenyang. Abby percaya dengan apa yang di katakan oleh bi Jum. Bi Jum tidak mungkin berbohong kepadanya Abby sudah mengenal bi Jum dari dirinya remaja. Dan wanita paruh baya ini tidak pernah berbohong.
Rasa bersalah semakin besar terkurung di hatinya Abby, Abby merasa sangat menyesal karena tidak memberikan Arneta kesempatan untuk membela diri tapi Abby justru langsung menamparnya.
Abby berdiri dari duduknya berniat untuk menemui Arneta di kamarnya ingin meminta maaf. Abby tiba di depan pintu kamar Arneta. Dengan perasaan bersalah yang amat besar Abby memberanikan diri mengetuk pintu kamar Arneta.
Tok
Tok
Abby berdiri mematung menatap pintu kamar berharap Arneta akan membukakan pintu.
Satu menit sudah berlalu tapu tak ada tanda-tanda pintu kamar akan terbuka. Abby kembali mengetuk pintu kamar Arneta dan hasilnya tetap sama. Pintu masih tertutup rapat. Abby meraih handel pintu berniat membuka pintu dan masuk kedalam kamar.
Karena tak ada suara dari dalam Abby membuka pintu dan masuk ke dalam dengan langkah kaki sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi. Abby masuk kedalam kamar dan langsung melihat arah tempat tidur, ternyata Arneta sudah tertidur pulas.
Ingin rasanya Abby memeluk tubuh Arneta dan mengucapkan kata maaf, tapi Abby hanya bisa memandangi Arneta dengan perasaan bersalahnya.
"Neta, aku minta maaf," ucap Abby pelan. Abby tidak ingin Arneta terbangun karena suaranya.
"Neta, aku benar-benar minta maaf. Tolong maafin aku," ucap Abby lagi dengan suara sepelan mungkin.
Abby mengambil selimut yang sudah tergeletak di lantai kamar tendangan Arneta. Abby secara perlahan-lahan menutupi tubuh Arneta dengan selimut tebal. Abby memandangi wajah Arneta dari jarak dekat. Ingin Abby mencium bibir Arneta yang berwarna merah jambu.
"Kamu cantik.." ucap Abby dalam hatinya.
Entah perasaan apa yang dirasakan Abby saat ini, semakin Abby memandangi wajah Arneta rasa ingin memeluknya semakin besar. Bukan hanya itu Abby juga merasa nyaman berada dekat dengan Arneta meskipun Arneta sedang tidur pulas.
Tak ingin berlama-lama dekat dengan Arneta Abby segera membetulkan posisi tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan wajah Arneta.
__ADS_1
"Abby, apa-apaan kamu. Sadar woi...," ucap Abby dalam hati. Abby mengusap wajahnya dengan kasar.Sebelum keluar dari dalam kamar Arneta, kembali Abby mengucapkan kata maaf dengan suara pelan.
Abby mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur. Sebelum benar-benar keluar Abby sempat mengucapkan selamat malam untuk Arneta.
Abby kekuar dari kamar Arneta dan langsung masuk kedalam kamarnya. Niat makan malamnya sudah benar-benar hancur di gantikan dengan perasaan bersalah.
Di dalam kamar Abby tak langsung tidur, Abby duduk di balkon kamar dan duduk termenung. Abby memikirkan kembali apa yang sudah dilakukannya kepada Arneta. Abby tidak menyangka jika Gracia bisa berbohong dan memfitnah Arneta.
Abby diam duduk seorang diri menikmati hembusan angin malam yang dingin, sedingin hatinya. Lamunan Abby buyar setelah handphone miliknya berbunyi. Abby mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo Afa..." sapa Abby. Memang Sarfa yang menelpon Abby saat ini.
"Bee, tadi sebelum pulang aku dengar kamu marah-marah. Ada apa?" kata Sarfa ingin tahu.
"Aku sama Neta berantem," akuh Abby jujur.
"Berantem kenapa lagi Bee?" tanya Sarfa.
"Tadi Cia kesini dan Cia memfitnah Neta," terang Abby.
"Fitnah apa maksudnya?" ucap Sarfa semakin penasaran.
"Cis fitnah Neta kalau Neta sudah menamparnya," kara Abby jujur.
"Terus...?" Sarfa semakin penasaran.
"Aku menampar Neta," jujur Abby mengakui kesalahannya.
"Apa, kamu nampar Neta gara-gara Gracia? Abby kamu benar-benar kelewatan.
Abby diam mendengarkan ocehan Sarfa, Abby tidak ingin membelah diri karena dirinya sadar bahwa dirinya bersalah.
"Dimana Neta sekarang?" tanya Sarfa cemas.
"Neta tidur," jawab singkat Abby.
__ADS_1
"Berdoa saja semoga Neta tidak meninggalkan mu," ucap Sarfa kesal. Sarfa langsung menekan tombol merah memutuskan percakapan tersebut setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Abby kembali termenung perasaan bersalah semakin menggunung. Rasa taku kehilangan Arneta pun menyeruak di dalam hatinya.
Bersambung...