
Perdebatan antara Abby dan Arneta tidak berhenti sampai di situ, justru Abby dan Arneta semakin menunjukkan sikap keras kepala mereka berdua.
"Tidak bisakah kamu merubah panggilan mu pada ku dengan sebutan yang lain selain nama ku?" tanya Abby. Abby ingin agar Arneta merubah nama panggilannya.
"Terus aku harus manggil kamu dengan sebutan apa?, jika panggilan itu sayang maaf aku tidak bisa," ujar Arneta.
"Ya terserah kamu, yang penting jangan namaku," balas Abby.
"Kalau begitu aku panggil kamu dengan sebutan seperti dulu saat kita pertama kali bertemu," jawab Arneta. Arneta masih ingat dengan jelas nama sebutan untuk Abby.
Mendengarkan ucapan Arneta Abby langsung mengerutkan keningnya entah jadi berapa lipat. Abby ingat nama sebutan yang di berikan oleh Arneta kepada dirinya.
"Bagaimana kamu setuju?" tanya Arneta.
"Kamu mau panggil aku dengan sebutan itu?" ucap Abby tak percaya.
"Ya dan aku rasa panggilan itu cocok untuk mu," balas Arneta.
"Tidak bisa, aku tidak mau," tolak Abby langsung.
"Manusia lebah batu itu pas untuk mu," jawab Arneta sambil menaikkan kedua alisnya.
Sampai kapan pun Abby tidak akan pernah mau di nama panggilannya di rubah menjadi manusia lebah batu, menurutnya panggilan itu sangat tidak layak untuk dirinya.
"Aku tidak mau... jangan seperti itu memanggil ku," sekali lagi Abby menolak usulan Arneta.
Arneta menarik nafas dalam-dalam sekaligus berpikir kira-kira dirinya harus memanggil Abby dengan sebutan apa.
"Kalau begitu aku panggil kamu dengan sebutan lebah aja," usul Arneta.
"Aku mau kamu panggil aku dengan sebutan sayang, " ujar Abby masih ngotot memaksakannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggil mu dengan sebutan sayang," balas Arneta.
Perdebatan antara Abby dan Arneta masih saja berlangsung tiba-tiba terdengar pintu masuk di ketuk oleh seseorang. Abby dan Arneta terdiam sesaat. Abby dan Arneta mencoba menebak siapa kira-kira yang datang. Dalam pikiran Abby jika yang datang saat ini mungkin saja itu Gracia. Abby langsung cemas.
Berbeda dengan apa yang menjadi tebakan Arneta. Dalam pikiran Arneta, Arneta menebak jika yang barusan mengetuk pintu itu adalah mertuanya. Arneta menjadi was-was.
Pintu kembali di ketuk dari luar oleh seseorang. Abby langsung bergegas menuju pintu ingin membukakan pintu pada tamu yang datang.
Abby membuka pintu tersebut dengan perasaan gelisah, pasalnya baru saja dirinya meminta agar Arneta memanggilnya dengan sebutan sayang tapi di saat yang sama kekasihnya justru datang tanpa memberikan kabar.
Ceklek
__ADS_1
Pintu pun terbuka dari dalam. Abby tertegun setelah melihat siapa orang yang datang bertamu.
"Kamu...," ucap Abby.
"Hai Abby.... lama kita tidak bertemu," ucap orang itu sambil memberikan senyuman.
Hati Abby ingin rasanya mengusir tamu tersebut. Menurut Abby tamu itu datang tidak tepat waktu dan bukan hanya itu saja jujur Abby menjadi tak suka melihat orang yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Apa aku boleh masuk," tanya tamunya.
"Iya, boleh silahkan masuk," jawab Abby.
"Ngapain si duda itu datang kesini?" kata Abby dalam hatinya.
Dengan amat sangat terpaksa Abby mempersilahkan tamu itu masuk. Tamu yang datang adalah tetangga sebelah apartemennya dia adalah Heru pria kaya berstatus duda tanpa anak.
Arneta yang mendengarkan jika yang datang itu adalah teman barunya langsung menghampiri Heru.
"Hai...," sapa Arneta. Jangan ditanya bagaimana reaksi Abby. Pipinya Abby sudah mengembung kiri dan kanan.
"Ini manusia ngapain bertamu kesini, mau nunjukin kalau dirinya ganteng?" ucap Abby dalam hatinya.
"Kalau ganteng aku juga ganteng," kembali Abby berbicara dalam hatinya.
"Duduk dulu mas," ucap Arneta menawarkan.
"Mau minum apa, mau dingin atau panas?" sambung Arneta lagi.
"Nggak usah repot-repot, aku cuma sebentar kok," tolak Heru sopan.
"Jangan gitu masak bertamu cuma sebentar," jawab Arneta.
Dan hati Abby pun semakin terbakar melihat pemandangan di hadapannya. Rapi semua ketidaksukaan Abby di pendam rapat-rapat dalam hatinya. Abby mencoba tersenyum ramah terhadap Heru tapi wajahnya Abby justru terlihat sangat tidak enak di lihat.
Arneta tidak ingin membuat Abby terus memasang wajah cemberut kepada tamunya Arneta mendekati Abby dan meletakkan salah satu tangannya di pinggangnya Abby. Abby yang sedang terbakar hatinya pun langsung luluh saat itu juga.
"Maaf mas Heru kesini apa ada perlu," tanya Arneta.
"Nggak kok , aku kesini cuma mau ngasih ini," kata Heru sambil memberikan satu kantong plastik yang dibawanya.
Arneta memperhatikan sejenak kantong plastik yang di bawah Heru.
"Ini martabak bulan, tadi aku beli dua sengaja satu buat kamu," ujar Heru sambil mengulurkan tangannya yang memegang kantong plastik yang berisikan martabat.
__ADS_1
Arneta langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil plastik tersebut. Arneta sangat antusias dengan pemberian Heru.
"Wah makasih ya, jadi ngerepotin nih," ucap Arneta.
"Nggak ngerepotin, itu juga sebagai balasan terimakasih karena kamu sudah pernah kasih aku bolu yang enak waktu itu," balas Heru jujur.
Dan Abby pun kembali kesal. Dirinya belum pernah sekalipun merasakan bolu buatan Arneta tetap tetangganya sudah. Ada perasaan iri dalam hatinya Abby.
"Kalo begitu aku pamit dulu ya," ucap Heru setelah memberikan martabat tersebut.
"Nggak minum dulu mas?" tawar Arneta.
"Makasih, tapi aku masih ada kerjaan lain waktu aja," tolak Heru sopan. Sebenarnya Heru ingin lebih lama lagi ada di situ tapi kerjaannya masih ada yang menunggunya.
"Adu kapan orang ini pulang," ujar Abby kembali dalam hatinya.
Heru pun segerah berpamitan karena tidak ingin membuang waktu lagi. Pekerjaannya harus di selesaikan saat ini. Arneta pun mengantar Heru keluar sampai di pintu depan.
Setelah Heru kembali ke apartemennya Arneta pun kembali masuk kedalam. Di ruang tamu Arneta dapat melihat wajah kesalnya Abby.
"Kamu kenapa Abby?" tanya Arneta.
"Kapan kamu memberikan duda itu kue bolu?" balas Abby ketus.
"Oh itu, waktu Gracia datang," jawab Arneta jujur
"Kenapa dia bisa menerima kue buatan mu," selidik Abby.
"Waktu itu aku bagikan kue ke ibu-ibu yang nolongin aku waktu Gracia buat ulah di sini," jelas Arneta.
"Waktu itu dia ngeliat aku lagi bagi-bagi kue terus dia minta, ya aku kasih," sambung Arneta lagi.
Abby percaya dengan apa yang barusan yang di ucapkan Arneta tetapi hatinya tetap saja panas. Abby masuk kedalam kamarnya meninggalkan Arneta sendirian.
Di dalam kamar Abby meraih handphone miliknya dan langsung menghubungi sang mama. Setelah panggilannya dijawab oleh mamanya Abby langsung menuntut hadiah pernikahan yang sudah di janjikan oleh orang tuanya.
"Mama kapan rumahnya jadi," ucap Abby tanpa basa-basi.
"Abby kamu kenapa,?" tanya mamanya.
"Rumahnya kapan jadi, Abby mulai nggak nyaman tinggal di apartemen," balas Abby. Tak mungkin Abby mengaku pada mamanya jika dirinya sedang cemburu kepada tetangganya.
Bersambung....
__ADS_1