CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 73 AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Mendengarkan penjelasan dokter barusan tubuh pak Jaya langsung tersadar di sandaran kursi yang didudukinya, sedangkan Abby terdiam tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Tapi masih ada kabar lainnya yang belum di sampaikan oleh dokter, dokter itu memberikan waktu sejenak untuk Abby dan pak Jaya agar bisa menerima kabar yang tadi.


Abby menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya.


"Dok, kapan kira-kira istri saya sadar?" tanya Abby.


"Maaf pak, soal kapan pasien bangun itu jujur sebagai dokter saya tidak bisa mengatakan kapan istri bapak siuman," jawab dokter itu.


"Maksudnya dokter apa?" tanya Abby.


"Kondisi pasien saat ini tidak ada yang tau kapan pasien akan siuman. Maaf pak saya tapi ini kenyataannya," jelas dokter itu.


Abby dan pak Jaya semakin kalut perasaannya. Tubuh Abby dan pak Jaya kini seperti di sambar petir berkali-kali mendengar ucapan dokter tersebut.


"Dok, apa yang bisa kami lakukan supaya istri saya bisa siuman?" ujar Abby.


"Tidak ada yang bisa di lakukan selain berdoa, saya sebagai dokter dan rumah sakit sudah berupaya agar hal ini tidak terjadi tapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter.


"Dok, saya mohon lakukan apapun yang penting istri saya bisa segera siuman, soal biayanya dokter tidak usah takut. Saya sanggup membayarnya berapapun itu," ucap Abby setengah memohon.


"Jika ada yang bisa kami lakukan pasti sudah di kerjakan, tapi maaf pak semua ini di luar dugaan kami,"ucap dokter itu. Sesungguhnya dokter itu merasa kasian melihat Abby dan pak Jaya, dokter itu bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Abby dan pak Jaya.


"Dok, kira-kira kapan putri saya bisa sadar?" pak Jaya memberanikan dirinya untuk bertanya pada dokter.


"Seperti yang saya bilang tadi, hanya Tuhan dan pasien yang tau kapan pasien akan sadar," jelas dokter itu.


"Dok, kira-kira berapa lama istri saya dalam kondisi seperti itu?" tanya Abby.


Dokter tersenyum kecut mendengar pertanyaan Abby.


"Sampai kapan itu kami tidak tau, tapi menurut pengalaman saya pasien bisa cepat siuman bisa juga lama," ucap dokter.


"Berapa lama?" tanya Abby. Perasaan yang di rasakan adalah penasaran sekaligus takut.

__ADS_1


"Paling cepat pernah selama 6 bulan dan yang paling lama itu bisa bertahun-tahun. Saya sebagai dokter tidak bisa menentukan kapan pasien bangun," jelas dokter itu lagi


Abby dan pak Jaya semakin lemas mendengar penjelasan dokter.


Perasaan bersalah semakin menggerogoti perasaan Abby, perasaan pak Jaya saat ini sangat sulit menerima kenyataan bahwa putrinya akan terbaring di ranjang rumah sakit dalam waktu yang tidak bisa di pastikan.


Abby mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kasar, jika diijinkan oleh dokter ingin rasanya Abby berteriak sekeras mungkin saat ini. Dada Abby terasa berat seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa dadanya. Dan pak Jaya akhirnya meneteskan airmatanya.


Setelah selesai mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi Arneta Abby dan pak Jaya kembali keruang Arneta dengan perasaan hancur berantakan. Rasanya kaki pak Jaya tidak mampu menopang tubuhnya, dirinya sempat sempoyongan saat berjalan untuk ada Abby yang langsung menahan tubuh pak Jaya agar tidak terjatuh.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Abby dan pak Jaya, perasaan mereka berdua sulit di jelaskan dengan kata-kata. Pak Jaya dan Abby kembali masuk ke dalam ruangan Arneta dengan wajah penuh kekhawatiran. Dan hal itu bisa terlihat sangat jelas oleh Rika. Saat pak Jaya dan Abby keruang dokter Rika-lah yang menemani Arneta.


Melihat raut wajah Abby dan pak Jaya Rika sudah bisa menebak ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


"Ayah, ada apa?" tanya Rika dengan suara selembut mungkin.


Pak Jaya menatap Rika, airmatanya pun kembali jatuh. Pak Jaya tidak siap menceritakan kondisi Arneta saat ini pada Rika.


Pak Jaya tidak menjawab pertanyaan Rika tapi justru memalingkan matanya kepada Abby. Sorot mata pak Jaya seakan mengatakan jika Abby saja yang menjelaskan tentang Arneta kepada Rika. Abby mengerti apa arti tatapan itu Abby menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Abby, ada apa dengan Neta?" tanya Rika.


"Neta baik-baik saja kan, Neta ngga kenapa-kenapa kan?" lanjut Rika. Rika mengajukan pertanyaan sekaligus banyak membantu Abby pusing.


"Satu-satu nanyanya, jangan langsung di borong semua pertanyaannya saya jadi binggung mau jawab yang mana lebih dulu," ujar Abby. Rika tersenyum mendengar ucapan Abby.


"Ya sudah, sekarang aku tanya lagi. Bagaimana kondisi Arneta saat ini?" Rika mengulangi pertanyaannya.


Abby tertunda hatinya kembali merasakan sakit setelah mendengar pertanyaan Rika.


"Kata dokter Neta sudah tidak apa-apa,"jawab Abby.


"Bohong, .." tuding Rika. Rika tidak percaya dengan ucapan Abby.


"Neta sebenarnya sudah baik-baik saja tapi...." Abby menggantungkan karena.

__ADS_1


"Tapi apa Abby?" sambar Rika.


"Dokter bilang Neta akan seperti ini untuk waktu yang tidak bisa di pastikan kapan Neta sadar," jelas Abby.


"Ha....apa, kamu pasti becanda kan? ayah katakan jika dia bohong," ujar Rika menolak kenyataan.


Pak Jaya terdiam tak bisa mengeluarkan kata-kata yang akan mematahkan perkataan Abby.


"Ayah....," sebut Rika dengan suara lirih. Airmatanya pun kini mengalir tak bisa di bendung lagi. Rika tau jika apa yang di katakan Abby barusan itu adalah benar adanya. Rika memeluk tubuh pria yang usianya hampir sepuh. Ada rasa nyeri yang dirasakan oleh Rika di dadanya.


"Ayah yang kuat ya Yah, kita doakan sama-sama supaya Neta cepat sadar," ucap Rika untuk menghibur pak Jaya.


Tangis- tangisan selesai tapi berbeda dengan apa yang dirasakan oleh masing-masing hati Abby, pak Jaya dan Rika. Pak Jaya sekarang binggung bagaimana dirinya memberikan penjelasan kepada istrinya. Abby pun kurang lebih sama dengan pak Jaya, Abby mencoba mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.


Setelah setengah jam kemudian Rika pamit pulang karena Rika harus kembali ke toko butik. Setelah Rika pergi Abby berpindah posisi duduk di samping tempat tidur Arneta. Abby menggenggam tangan Arneta dan menciumnya.


"Sayang bangun, aku minta maaf," ucap Abby.


"Sayang aku janji kalo kamu bangun aku akan berubah, aku janji sama kamu akan berubah," ucap Abby lagi.


"Neta kamu tau tidak, sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi aku binggung bagaimana mengatakannya padamu," akuh Abby jujur.


Tapi meskipun Abby berhasil mengatakan isi hatinya itu tidak mampu membuat Arneta bangun dari tidurnya. Abby berdiri dari duduknya dan pergi ke salah satu pojok ruangan tersebut. Abby berjongkok di sudut ruangan. Perasaan bersalah kepada Arneta yang begitu besar membuat Abby semakin merasa sakit. Abby memukul kepalanya sendiri sambil mengeluarkan kata-kata yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Dasar laki-laki bodoh, manusia tidak berguna," Abby masih saja terus memukuli kepalanya. Pak Jaya langsung berdiri dan menahan tanggan Abby agar tidak menyiksa dirinya sendiri.


"Kamu pikir jika kamu berbuat seperti ini anak saya akan bangun, sebaiknya kamu jaga. kesehatan kamu agar tetap terus sehat supaya bisa menjaga Neta," pak Jaya menasehati Abby.


Tangis Abby pecah.


"Ayah, hukum aku...aku sudah sangat bersalah," pinta Abby.


"Jika dengan memukulmu dan menghukum mu itu bisa membuat Neta sadar, tanpa kamu minta ayah pasti sudah menghajar mu," ucap pak Jaya. Abby memeluk tubuh ayah mertuanya dengan perasaan bersalah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2