CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 20 MENANTI JAWABAN


__ADS_3

Hari wisudanya Arneta pun sudah berlalu beberapa hari yang lalu, acara wisuda Arneta berjalan sesuai dengan rencana sebelumnya. Pesta kecil-kecilan sebagai ucapan syukur pun berjalan dengan lancar.


Meskipun kakaknya Arneta tidak bisa hadir dalam perayaan kelulusannya akan tetapi kakaknya Arneta memberikan hadiah seperti yang Arneta minta. Yaitu penambah modal untuk usahanya.


Sebenarnya kakaknya Arneta menawarkan sebuah tas cantik yang harganya tidak main-main, tas yang memiliki brand ternama seluruh dunia tapi Arneta menolak Alasannya sayang jika uang sebanyak itu hanya berakhir pada sebuah tas yang pastinya amat sangat jarang di gunakan oleh Arneta.


Hari ini seperti biasanya Arneta batu saja kembali pulang ke rumah setelah seharian berada di toko miliknya, maklum saja kegiatan Arneta saat ini hanya di toko kuliahnya sudah selesai.


Dengan wajah ceria Arneta memasuki halaman rumah, Arneta langsung menyapa kedua orang tuanya yang sedang duduk di teras rumah sambil menikmati teh dan camilan.


"Sore bu yah..." ucap Arneta menyapa kedua orang tuanya.


"Sore sayang.." balas kompak ayah dan ibunya Arneta.


Arneta duduk di samping ibunya sekedar untuk istirahat melepas penat.


"Bagaimana toko mu Neta?" tanya ibu Nola.


""Semuanya baik bu, sekarang malah pelanggan di toko semakin bertambah," kata Arneta dengan bangga.


"Wah selamat ya Neta," ucap pak Jaya untuk anaknya.


"Makasih yah, semuanya usaha Neta bisa berjalan dengan lancar karena doa dari ayah sama ibu," ucap Arneta sambil tersenyum.


"Mandi dulu sayang, nanti ibu buatkan teh ," ucap bu Nola menyuruh Neta untuk segera bersih-bersih maklum saja karena Arneta baru pulang.


"Iya bu, Neta mandi dulu ya. Makasih ya bu buat tehnya," tutur Arneta, setelahnya Arneta segera masuk kedalam rumah dan menujuh ke kamar. Arneta melakukan apa yang di suruh oleh ibunya.


Sementara Arneta mandi ayah dan ibunya terlihat pembicaraan tentang perjodohan Arneta, karena sampai saat ini Arneta belum juga memberikan jawabannya.


"Yah apakah Neta sudah memberikan jawaban atas perjodohannya?" tanya bu Nola.

__ADS_1


"Belum bu, ayah juga cemas menunggu jawaban dari anak kita. Jujur ayah tidak ingin memaksakan Neta, apapun keputusannya ayah akan terima," ucap pak Jaya.


"Ibu juga akan mendukung keputusan Neta, kebahagiaan Neta itu hal yang utama," ucap bu Nola mendukung keputusan suaminya.


"Iya bu,..jika Neta menolak perjodohan ini ayah ikhlas jika ayah di sebuah orang yang tidak tau balas budi," ucap pak Jaya sambil tersenyum, meskipun senyuman itu terlihat sangat di paksakan.


"Ibu hanya bisa berdoa dan berharap apapun keputusannya anak kuta itu adalah jalan yang terbaik ya, yah," tutur bu Nola samvil menggenggam tangan suaminya.


"Kapan kira-kira ayah akan menanyakan hal ini pada Neta?" tanya bu Nola.


"Rencana ayah hari ini, Neta sudah pernah berjanji akan memberikan jawaban setelah dirinya di wisuda. Ayah rasa ini saat yang tepat untuk ayah bertanya kembali," ucap pak Jaya.


"Baiklah,..ibu pamit kebelakang dulu mau buat teh buat Neta," tutur bu Nola, setelahnya bu Nola segera menujuh dapur untuk membuatkan teh manis untuk putrinya.


Arneta selesai mandi dan berganti pakaian. Saat ini Arneta mengunakan baju rumah yang menjadi favoritnya yaitu celana pendek dan kaos oblong berwana kuning. Warna kuning bajunya membuat kulit Arneta semakin terlihat terang. Meskipun tanpa makeup atau riasan di wajahnya Arneta tetap terlihat cantik.


Arneta keluar dari kamarnya dan segera bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang menikmati waktu sore hari dengan duduk santai di teras rumah.


"Yah ibu mana?" tanya Arneta.


"Ibu lagi di dapur lagi buatin teh buat kamu," jawab pak Jaya.


"Oh, kalo gitu Neta mau bantu ibu dulu," ucap Arneta sambil bersiap bangun dari duduknya, tapu sebelum Arneta mengangkat pantatnya ayah Arneta mencegahnya dengan meminta Arneta kembali duduk di sampingnya.


"Sebentar lagi ibu kesini," ucap pak Jaya dan Arneta kembali duduk manis di samping ayahnya.


"Ayah sama ibu tadi pulang sama ibu jam berapa?" tanya Arneta.


""Tadi ayah sama ibu pulang jam empatan," jawab pak Jaya.


Setelah pak Jaya mengucapkan kalimat itu bu Nola pun muncul dari dalam rumah samvil membawa nampan yang berisikan teh untuk Arneta dan tambahan cemilan berupa keripik singkong dalam toples kaca.

__ADS_1


Setelah bu Nola meletakkan nampan bawaannya tadi, bu Nola dan suaminya saling adu pandang, Neta melihat sikap kedua orang tuanya merasa ada yang aneh. Neta lupa akan janjinya kepada ayahnya waktu sebelum dirinya di wisuda.


Baik Neta dan kedua orang tuanya salim diam tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, hal ini membuat Neta merasakan tak nyaman. Neta menebak dalam hatinya bahwa ada sesuatu yang ingin di tanyakan pada dirinya tetapi orang tuanya ragu-ragu.


"Yah bu ada apa, ada yang ingin di tanyakan sama Neta?" ucap Neta.


"Neta.." ucap pak Jaya sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Ayah sama ibu hari ini akan menunggu jawaban mu atas perjodohan yang kemarin kita bicarakan," tutur pak Jaya sambil menatap mata putrinya.


Deg


Jantung Arneta langsung tersentak, Arneta baru ingat akan janjinya dan perjodohannya.


"Neta harus jawab sekarang ya Yah?" tanya Neta sambil menundukkan kepalanya. Arneta sejauh ini belum siap memberikan jawabannya karena Arneta masih menunggu kabar dari Robby.


"Ada apa?" tanya ayahnya Neta.


"Neta boleh minta sedikit waktu lagi?" ucap Neta ragu-ragu.


"Berapa lama waktu yang Neta butuhkan?" tanya bu Nola sambil meraih tangan putrinya seolah-olah ingin memberikan dukungan atas apapun keputusan Arneta.


"Kasih Neta tiga hari lagi, Neta janji setelah ini Neta akan memberikan jawabannya," pinta Arneta kepada orang tuanya. Neta saat ini sudah janjian sama Robby akan bertemu dua hari lagi karena Robby sudah mendapatkan pekerjaan dan Robby saat ini sedang sibuk mengurusi urusan kantor barunya.


"Baik jika itu yang Neta minta, tapi nak kamu harus ingat apapun keputusan yang kamu buat ayah sama ibu pasti akan mendukungnya,' ucap pak Jaya tak ingin membebani putrinya.


Sore itu setelah percakapan antara Arneta dan kedua orangtuanya Arneta mulai merasa gelisah. Entah kenapa Arneta merasa bahwa dirinya akan kehilangan Robby dan hal itu membuatnya merasa sedih.


Bukan hanya merasa bahwa dirinya, Arneta akan kehilangan Robby tapi Arneta bertanya pada dirinya sendiri jika seandainya Arneta menerima perjodohan ini seperti apa kehidupan rumah tangganya kedepannya, apakah akan berjalan baik-baik saja atau justru sebalik perceraian yang akan di alaminya. Apakah laki-laki yang di jodohkan dengan dirinya bisa menerima Arneta atau justru mengganggap bahwa dirinya adalah seorang yang merusak kebahagiaannya.


Entahlah Arneta tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, Arneta kini hanya berusaha menjalani apa yang sudah ditakdirkan untuknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2