CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 92 HARGA DIRI YANG HANCUR


__ADS_3

Gracia telah kehilangan harapannya, pikirnya Gracia bisa memanfaatkan kehamilannya untuk kembali bersama Abby. Tapi semua yang terjadi diluar dugaan dan perhitungan Gracia. Gracia masih berharap jika Abby masih memilih hati untuk dirinya, tapi yang terjadi Gracia tidak mendapatkan kasih justru dari Abby. Gracia mendapatkan hinaan dan kata-kata cacian dari Abby


Arneta menyentuh pundak Abby dengan sangat lembut berharap bisa meredakan amarahnya Abby yang sudah hampir meledak.


"Bee, kasian dia lagi hamil," Arneta mengulangi kata-katanya. Abby menatap Arneta dengan tatapan tak percaya, Arneta yang sudah dimaki oleh Gracia masih memiliki rasa simpati terhadap Gracia.


"Tuhan, ini manusia atau malaikat," ucap Abby dalam hati.


Sikap berbeda justru ditunjukkan oleh Gracia setelah menyaksikan kemesraan Abby dan Arneta, emosi yang terkubur kembali menyeruak.


"Singkirkan tangan mu dari Abby..!" seru Gracia. Gracia cemburu.


"Sebaiknya kamu diam, Arneta menyentuhku karena aku adalah suaminya. Kamu tidak memiliki hak untuk melarang istri ku menyentuh ku!" hardik Abby.


Tak ingin menambah keributan lagi Arneta membisikkan sesuatu pada Abby. Abby mengerutkan keningnya dalam-dalam, Abby seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Arneta.


Dengan berat hati Abby mengeluarkan dompet dari dalam kantong celananya. Abby mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah muda dan melemparkan uang itu ke wajah Gracia.


Bruuur


Lembaran uang kertas berterbangan tepat dihadapan Gracia.


Seandainya saja Gracia tidak membutuhkan uang tersebut sejujurnya Gracia takkan mungkin memungut lembaran uang kertas yang dilempar Abby. Uang-uang itu kini telah berserakan di lantai marmer.


Dengan hati yang sakit dan harga diri yang terluka Gracia membungkukkan tubuhnya dan mulai memungut lembaran uang kertas. Gracia menitikkan air matanya, Hari Gracia kini benar-benar terluka dan terasa sangat sakit.


Setelah selesai memunguti uang tersebut Gracia mengangkat kepalanya dan menatap Abby dengan tatapan terluka.


"Sudah selesai, sekarang kamu keluar dari rumah ku dan ingat jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi, satu lagi jangan pernah kamu datang lagi ke rumah ini," ujar Abby.


"Abby, aku sungguh mencintaimu," ucap Gracia, ini adalah usaha terakhirnya untuk membujuk Abby.


Arneta menggaruk kepalanya melihat Gracia yang masih saja berusaha merayu Abby.


"Beneran nggak punya malu," kata Arneta dalam hatinya. Arneta ingin mengusir Gracia tapi diurungkan niatnya mengingat kondisi Gracia yang sedang hamil. Arneta tak ingin membuat masalah baru, Arneta tidak ingin jika sikap gegabah dirinya dan Abby akhirnya menguntungkan Gracia nantinya.


Abby menatap sinis kepada Gracia, Abby kini menyadari sepenuhnya jika Gracia benar-benar tidak lagi memiliki rasa malu, bahkan Abby beranggapan jika Gracia memiliki kelainan pada otaknya.

__ADS_1


"Harus berapa kali aku mengusir mu dari rumah ku, jangan kamu uji kesabaran ku GRACIA!" ucap Abby setengah berteriak.


"Abb ..." Gracia.


"KELUAAAR.... SATPAM...!" Abby kembali berteriak kencang, Abby memotong kata-kata Gracia sebelum Gracia mengucapkan kalimatnya dengan sempurna.


Satpam rumah langsung masuk kedalam rumah setelah dirinya mendengar panggilan Abby dengan teriakan.


"Ya tuan..." sahut satpam.


"Seret wanita ini keluar dari rumah dan jangan pernah biarkan dia masuk lagi ke rumah ini. Jika sampai perempuan itu masuk kedalam rumah ini aku akan memecat mu saat itu juga tanpa pesangon," ancam Abby kepada satpam rumahnya.


Mendapatkan perintah dan ancaman dari tuanya satpam tersebut langsung menghampiri Gracia dan meraih tangan Gracia.


"Silahkan keluar non," ucap satpam.


"Lepaskan....," bentak Gracia sambil menghempas tangan satpam yang memegang tangannya.


"Silahkan keluar nona...!" sekali lagi satpam meminta agar Gracia segera pergi.


"Berani sekali kamu mengusir ku, memangnya kamu siapa? berani sekali menyentuh tangan ku!" seru Gracia dengan sambal menatap marah kepada satpam.


"Keluar.... cepat pergi dari hadapanku sebelum aku kehabisan kesabaran ku!" ujar Abby.


Abby menghembuskan tangan Gracia secara kasar dan tindakan Abby ini hampir saja membuat tubuh Gracia terhempas ke lantai. Gracia dengan cepat menyeimbangkan dirinya agar tak jatuh, karena jika dirinya jatuh pasti akan ada peristiwa yang akan merugikan Abby nantinya.


Gracia menatap Abby dengan tatapan sendu.


"Abby, maafkan aku, aku mohon," Gracia kembali memohon supaya Abby mau memaafkan dirinya.


"Pelacur dan pengkhiat sepertimu tak pantas mendapatkan kesempatan apa lagi kata maaf," jawab Abby. Kata-kata tajam dan hinaan kembali diucapkan Abby untuk Gracia.


Satpam segera keluar menghampiri Gracia.


"Silahkan nona kekuar dari dari sini," satpam mengusir Gracia.


Tadinya Gracia ingin masih tetap bertahan tetapi setelah melihat Abby yang sedikitpun tidak memiliki rasa simpati terhadap dirinya akhirnya Gracia memutuskan untuk segera pergi dari kediaman orang yang dulu pernah mencintainya.

__ADS_1


Gracia masuk kedalam mobilnya dengan membawa beban yang berat. Bagaimana tidak mulai saat ini Gracia harus memikirkan bagaimana kehidupan Gracia kedepannya. Dia tidak hanya memikirkan tentang dirinya saja akan tetapi Gracia juga memikirkan calon anaknya kedepannya. Seandainya saja saat Gracia mengetahui bahwa laki-laki yang mengatakan bahwa akan selalu bersamanya akan pergi meninggalkan dirinya, sudah pasti Gracia sudah mengugurkan kandungannya.


Tapi keinginan keinginan Gracia sudah terlambat, kandungannya sudah membesar dan sangat tidak mungkin untuk melakukan koret. Gracia pernah menemui salah satu dokter kandungan dengan niat untuk mengugurkan kandungan tapi Gracia justru mendapatkan informasi jika dirinya nekat mengugurkan kandungannya itu akan menyebabkan dirinya harus merelakan rahimnya untuk diangkat. Gracia tidak menginginkan hal itu.


Walau dengan rasa sangat terpaksa Gracia menerima kehamilannya dan tidak pernah lagi berpikir untuk mengugurkan bayi yang ada dalam perutnya.


Setelah Gracia pergi Abby segera menemui Arneta, Abby khawatir jika Arneta akan menjauh dari dirinya karena pengakuan gila Gracia.


"Neta, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Abby khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawab Arneta.


"Aku minta kamu jangan pernah percaya dengan ucapan perempuan itu, sungguh bukan aku pelakunya," ujar Abby dengan mimik serius.


Arneta justru tersenyum melihat Abby yang berusaha meyakinkan dirinya. Padahal tanpa Abby menyakinkan dirinya Arneta percaya sepenuhnya jika anak yang dikandung oleh Gracia bukanlah anaknya Abby. Arneta bisa yakin seperti itu karena Arneta sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Abby mati-matian menolak pengakuan Gracia. Dan bukan hanya itu saja Arneta bisa melihat sikap Gracia saat Abby membantah perkataan Gracia.


Abby melihat Arneta tersenyum membuat hatinya merasa lega, Abby tak perlu lagi mencemaskan masalah yang tadi.


"Neta, kamu lapar nggak?" tanya Abby. Abby melihat arah jam dinding yang terpajang di dinding rumah.


Jam sudah menunjukkan hampir tengah hari itu artinya sudah waktunya untuk makan siang.


Tenaga Abby sedikit terkuras karena habis berdebat dengan Gracia tadi.


"Sedikit..." jawab Arneta.


"Mau makan di luar? Abby bertanya sekaligus menawarkan.


"Bi Jum sudah masak belum, aku tanya dulu yah. Kasian kalo bi Jum sudah masak trus kita makan diluar," ujar Arneta.


Arneta langsung menujuh dapur tempat bi Neta seharusnya berada saat ini.


"Bi, udah selesai masak belum?" tanya Arneta setelah menghapiri bi Jum.


"Belum non, maaf bibi lupa bahan-bahan di dapur sudah habis," jelas bi Jum dengan senyum kakunya.


"Nggak papa bi, aku sama Abby mau makan diluar saja," jelas Arneta.

__ADS_1


Dalam hati bi Jum bersorak gembira karena tuan muda dan nyonya mudahnya mau makan bareng di luar.


Bersambung


__ADS_2