CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 46 MASIH MARAH


__ADS_3

Keesokan harinya pagi-pagi Arneta sudah bangun, Arneta juga sudah siap. Barang-barang yang akan di bawanya sudah masuk semuanya dalam koper. Sebenarnya Arneta tidak terlalu repot untuk pindahan, Arneta hanya perlu memasukkan seluruh pakaiannya dan alat Mak up miliknya yang juga tidak terlalu banyak.


Arneta menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Abby. Meskipun hatinya masih kesal karena tuduhan Abby semalam Arneta tetap membuatkan sarapan pagi untuk Abby.


Pagi ini Arneta hanya membuat sarapan pagi sesuai dengan isi kulkas, di dalam kulkas tersedia roti tawar dan selada dan tuna mayonais yang berbentuk kalengan. Arneta segera mengeluarkan roti, tomat dan daun selada dan meletakkan semua bahan do atas meja.


Arneta mengoleskan mentega di setiap lembar roti tawar dan memanggangnya sebentar. Setelah selesai memanggang roti Arneta mulai menyusun setiap bahan-bahan yang sudah dia keluar dari kulkas tadi.


Mulai dari dau selada, tuna mayonais, tomat. Arneta juga menambahkan irisan telur rebus, setelahnya Arneta memberikan mayonais di atas telur rebus. Sebagai penutup Arneta kembali meletakkan selembar roti di atasnya. Arneta tersenyum puas dengan roti sandwich buatannya.


Arneta juga tidak lupa membuat jus sayur dan buah yang di mix menjadi satu. Arneta Nesia untuk sarapan sebelum Abby datang. Tapi baru saja sandwich buatannya hendak masuk Abby masuk kedalam dapur tanpa menyapa Arneta.


Abby duduk di samping Arneta tanpa berkata sepatah kata pun, Arneta pun ikut mendiamkan Abby. Arneta berpikir bahwa dirinya tidaklah bersalah jadi dirinya tidak perlu untuk meminta maaf dan menyapa Abby lebih dulu.


Abby langsung mengambil satu potong roti tumpuk dan langsung melahapnya dengan nikmat, setelah selesai memakan sandwich buatan Arneta Abby juga langsung meneguk jus sayur buah sampai tak tersisa dalam sekali tegak.


Arneta pun melakukan hal yang sama seperti yang Abby lakukan barusan. Pagi ini sarapan pagi di iringi suasana sepi dan menegangkan. Abby dan Arneta sama-sama tidak saling berbicara sepatah kata pun. Semuanya hening seperti kuburan angker. Jika salah satu antara Abby maupun Arneta salah berkata sudah bisa di pastikan pertengkaran semalam akan berlanjut pagi ini.


Setelah selesai sarapan Abby segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan Arneta tanpa mengucapkan terima kasih untuk sarapan paginya seperti hari-hari sebelumnya. Dan Arneta pun tidak tidak pedulikan hal itu, Arneta segera membersihkan piring dan gelas yang di gunakan tadi. Selain Arneta kembali ke dalam kamar mengecek kembali barang bawaannya untuk memastikan tidak ada yang tertinggi.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamarnya Arneta do ketuk oleh Abby.


"Iya, ada apa?" tanya Arneta tanpa membukakan pintu untuk Abby.


"Ayo, sudah waktunya kita pergi," ujar Abby dengan nada suara datar.

__ADS_1


"Iya, aku sudah siap," jawab Arneta.


Arneta keluar dari kamarnya sambil menyeret koper miliknya.


"Hanya itu barang yang akan bawah?" tanya Abby setelah melihat Arneta hanya mengeluarkan satu koper saja.


"Iya, cuma ini. Nggak ada yang lain," jawab Arneta. Arneta menjawab perkataan Abby sambil membuang arah pandangnya.


Abby pun tak ambil pusing akab sikap Arneta barusan, Abby juga sebenarnya nasih menyimpan marah kepada Arneta. Abby masih menganggap bahwa Arneta memiliki hubungan khusus dengan Heru tetangganya. Tapi sebentar lagi Heru bukan lagi tetangganya, Abby memikirkan hal inipun tersenyum kecil.


"Yes, pengganggu itu sudah tidak ada lagi," ucap Abby dalam hatinya.


Abby mengunci pintu Apartemennya dan langsung melangkah menuju pintu lift tanpa mengajak Arneta. Arneta segera mengekor di belakang Abby. Arneta menyeret koper miliknya agak kesusahan tapi enggan untuk meminta tolong bantuan Abby, Arneta merasa gengsi.


Lift pun tiba di lantai dasar tempat parkir mobil. Abby membuka pintu mobilnya dan meminta Arneta untuk masuk. Tapi ketika Abby membalikkan badannya Abby tidak melihat Arneta ada di belakangnya.


"Kemana perempuan aneh itu?" ucap Abby kesal.


"Neta apa yang kau lakukan?" bentak Abby sambil menutup pintu bagasi mobil dengan kasar.


Arneta terperanjat kaget karena tiba-tiba saja pintu bagasi mobilnya di tutup dengan kasar.


"Apa sie Bee!" protes Arneta tak suka.


"Ikut aku!* perintah Abby sambil meraih tangan Arneta.


Arneta mencoba memberontak tapi apa daya tenaganya tidak sebanding dengan tenaganya Abby, akhirnya Arneta hanya bisa pasrah dirinya di tarik kasar oleh Abby.


Abby membawa Arneta ke mobilnya, Abby membuka pintu mobil dan meminta agar Arneta masuk.


"Masuk.." ujar Abby kembali memerintah.

__ADS_1


"Aku nggak mau, aku mai naik mobil ku sendiri," tolak Arneta sambil berdiri mematung.


Tanpa aba-aba Abby segera mendorong terjadinya Arneta masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobil dengan cara di banting.


Bang...


Pintu mobil pun tertutup rapat.


Arneta duduk sambil meringkuk ketakutan. Arneta tahu amarahnya Abby belumlah redah sejak semalam.


Setelah Abby masuk dalam mobil dan duduk di balik kemudi, Arneta memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Bee barang-barang aku ada di mobil ku," ucap Arneta sambil menundukkan kepalanya.


"Itu biar nanti supir kantor yang akan membawa mobil mu ke rumah baru kita," jawaban Abby, matanya Abby lurus menatap kearah depan.


Mendengarkan perkataan Abby Arneta memilih untuk diam saja, Arneta menjadi lebih takut lagi saat ini setelah melihat raut wajah Abby yang memerah karena menahan amarah. Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan. Sama seperti tadi saat sarapan. Arneta tidak lagi berani bersuara. Fi dalam mobil hanya terdengar bunyi nafas Abby dan Arneta, selesai itu yang terdengar adalah suara mesin mobil yang menyala.


Arneta memilin kedua tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin sakit takutnya, Abby membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dalam hati Arneta hanya bisa berdoa memohon pada Tuhan agar mereka berdua bisa sampai dengan selamat. Jantung Arneta berdebar kencang beberapa kali bahkan Arneta sempat beberapa kali menutup matanya dengan kedua tangannya karena mobil yang di Kendari Abby beberapa kali hampir menabrak mobil yang ada di depannya.


"Tuhan, aku masih ingin hidup," kira-kira seperti inilah doa yang di ucapkan oleh Arneta dalam hatinya.


Akhirnya perjalanan yang menegangkan pun berakhir, mobil yang membawa Arneta dan Abby memasuki sebuah halaman rumah yang sangat mewah dan berukuran besar


Mata Arneta terbelalak melihat bangunan rumah tersebut.


"Bee, apakah kita tidak salah masuk?" tanya Arneta tanpa menoleh ke arah Abby. Abby yang melihat Arneta yang terpelogo ingin tertawa tapi di tahannya, Abby masih marah.


"Turun..!" ucap Abby setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumah baru mereka. Arneta pun turun dari mobil sesuai dengan perintah Abby.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2