
Keesokan harinya Arneta terbangun dari tidurnya karena sinar matahari pagi berhasil menebus tirai jendela kaca kamarnya. Dengan nyawa yang masih melayang dan belum terkumpul semuanya Arneta mencoba membuka kedua matanya yang masih terasa berat untuk di buka.
Arneta bangun tapi masih duduk di atas kasur, Arneta menguap sambil merenggangkan tubuhnya, kesadaran Arneta langsung kembali sepenuhnya. Seketika mata Arneta terbuka lebar dengan mulut yang masih mangap Arneta melihat lemari pakaiannya sudah terbuka lebar dan bukan hanya itu saja, pakaian yang sudah disusun rapi oleh Arneta semalam kini sudah berserak di lantai kamar, koper baju yang tadinya berada di atas lemari kini sudah ikut tergeletak di lantai dengan kondisi terbuka.
Nyawa Arneta langsung terkumpul dan Arneta langsung menjadi panik, Arneta melompat dari atas karus sambil menjerit-jerit ketakutan.
"Gempa ....gempa....!!" teriak Arneta sambil keluar dari dalam kamar. Abby yang baru saja terlelap dari tidurnya pun langsung bangun dari tidurnya karena terkejut karena mendengar suara teriakan Arneta.
Masih dengan mata kantuknya Abby segera menyeret kakinya untuk keluar dari dalam kamar. Abby langsung mencari Arneta berada.Abby terkejut melihat Arneta kini sudah bersembunyi di bawa meja dengan posisi meringkuk.
"Apa yang kau lakukan..!" seru Abby.
"Gempa....ada gempa.." ujar Arneta panik masih bersembunyi di bawa meja.
"Gempa..? mana ada gempa," balas Abby sambil menatap Arneta dengan tatapan binggung.
"Iya ada gempa....," ujar Arneta.
"Tidak ada gempa, keluar dari situ..!" seru Abby lagi mulai jengkel. Abby yang masih mengantuk membuat dirinya mudah terpancing emosi.
Arneta pun segera keluar dari persembunyiannya setelah mendengarkan penuturan Abby.
"Tidak ada gempa? tapi kenapa baju-baju aku yang ada dalam lemari bisa berada di lantai dan bukan hanya itu koperku juga tadinya ada di atas lemari kenapa ada di bawah?" ucap Arneta binggung.
"Apa ada maling yang masuk?" ujar Arneta kembali panik
"Tidak ada gempa dan tidak ada maling yang masuk," jawab Abby kesal. Abby masih sangat mengantuk saat ini, jam tidurnya sangat masih kurang.
"Terus kenapa baju-baju ku berantakan di lantai jika tidak ada maling yang masuk," ujar Arneta penasaran.
Abby yang sudah mulai tidak bisa menahan emosinya pun langsung mengeluarkan kata-kata yang membuat Arneta terkejut.
"Aku yang sudah membuat lemari bajumu berantakan," akuh Abby. Reaksi
"Ha.... apa kamu bilang barusan?" seru Arneta.
Abby yang mendapatkan pertanyaan Arneta pun langsung gelagapan. Abby tidak tahu harus berkata apa.
"Hei..aku tanya sama kamu, apa yang kamu lakukan dengan baju-baju ku?" tanya Arneta matanya langsung menatap ke arah Abby dengan tatapan tajam.
Abby semakin terdiam tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Apa yang kau cari dari barang-barang ku, apa kamu ingin mencuri?" ucap Arneta menuduh Abby.
Abby tak terima dengan apa yang di tuduhkan oleh Arneta pada dirinya, tidak mungkin seorang Abby menjadi pencuri di rumahnya sendiri.
"Aku tidak mencuri dan aku bukan pencuri..." jawab Abby membela diri.
"Kalau bukan pencuri kenapa kamu mengeledah barang-barang ku?" cecar Arneta.
"itu aku cuma mau cari barang ku yang hilang," Kila Abby membela diri.
"Barang mu katamu, tidak mungkin barang mu ada dalam lemari pakaian ku," ujar Arneta tak terima alasan yang di berikan oleh Abby.
"Itu aku cuma cari barang aku..." Abby mengulangi kata-katanya tapi dengan kalimat yang menggantung.
"Apa yang kau cari Abby Jayadi..."ujar Arneta mulai emosi.
Abby yang merasa mulai terpojok oleh ucapan Arneta pun semakin mati kutu tak berkutik.
"Abby....apa yang kamu cari dari barang-barang milikku,? tanya Arneta geram. Arneta tidak suka barang-barang pribadinya di acak-acak oleh Abby tanpa alasan.
Abby pun menjadi panik, rasa kantuk yang dirasakannya pun mendadak hilang.
"Apa lingerie, apa maksudmu?" tanya Arneta semakin binggung.
Dikarenakan sudah kepang tanggung akhirnya Abby mengatakan niatnya semalam.
"Iya aku memang mencari lingerie yang kamu beli waktu itu," jawab Abby jujur. Jangan ditanya bagaimana mana rupa wajah Abby saat ini. Wajah Abby yang putih kini berubah warna seperti kepiting rebus merah padam karena rasa malu.
Hahahaha
Tawa Arneta pun pecah. Arneta sebenarnya ingin marah tapi karena pengakuan Abby barusan membuat dirinya tak jadi marah.
"Kamu mencari lingerie itu untuk apa Abby, apa kamu ingin memakainya?" ujar Arneta dengan nada mengejek.
"Gila...masuk aku memakai pakaian seperti itu.." protes Abby.
"Terus kamu mencari lingerie itu untuk apa?" Arneta kembali mencecar Abby dengan pertanyaan, Arneta ingin tahu kenapa Abby mencari lingerie itu apa alasannya.
"Itu karena kamu tidur tidak menggunakan baju tipis itu," ujar Abby jujur.
Mata Arneta langsung membulat sempurna mendengar ucapan Abby, kedua tangan Arneta langsung menutup dadanya dengan spontan. Arneta menatap Abby dengan sorotan tajam, meskipun demikian ada rasa cemas menghantui dirinya. Arneta langsung memeriksa kondisi tubuhnya.
__ADS_1
Abby yang melihat reaksi Arneta yang menurutnya ada rasa takut yang terpancar dari sinar matanya Arneta.
"Aku tidak melakukan apa pun..!" seru Abby.
"Kamu yakin tidak berbuat mesum padaku?" ujar Arneta.
"Lihat saja dirimu, kamu masih berpakaian lengkap kan?" jawab Abby.
Arneta melihat baju yang di pakainya saat ini. Arneta bisa bernafas lega karena baju yang digunakannya saat ini masih sana dengan baju yang di pakainya semalam. Bukan hanya itu Arneta merasa tubuhnya tidak merasa sesuatu yang aneh itu artinya Abby berkata jujur.
Abby yang masih mendapatkan sorotan tajam dari Arneta merasa tak terima.
"Hei....jika aku ingin melakukan hal yang mesum padamu itu wajar-wajar saja, aku ini sudah menjadi suami mu yang sah," ujar Abby.
"Kamu memang suami ku secara hukum negara ini dan sah dinata agama, tapi ingat ya kita berdua menikah bukan karena saling cinta," balas Arneta.
"Kamu suka atau tidak kira berdua adalah suami istri.." kata Abby mengingatkan Arneta.
Arneta tidak ingin berdebat soal status pernikahan mereka berdua saat ini. Arneta kembali fokus pada permasalahan awal.
"Aku tanya sama kamu Abby, untuk apa kamu mencari lingerie itu?" ujar Arneta sambil memicingkan kedua matanya.
"Ya aku pikir semalam kamu memakainya..," jawab Abby langsung salah tingkah.
Hahahaha...
Kembali tawa Arneta pecah.
"Apa yang kamu pikirkan Abby, kamu pikir aku akan memakai barang itu di malam pengantin kita?" ujar Arneta sambil menahan tawanya.
"Kalo bukan untuk di pakai untuk apa kamu membelinya waktu itu," ujar Abby.
"Lingerie itu bukan untukku tapi untuk sahabat ku yang kemarin menikah," jawab Arneta berkata jujur.
"Jadi itu bukan untuk kamu pakai?" ujar Abby tak percaya.
"Jangan mimpi aku mengunakan baju seperti itu di hadapan mu meskipun kamu itu suamiku," jawab Arneta samvil mencibir.
"Jangan mimpi dan jangan pernah berharap.." sambung Arneta lagi. Setelah mengucapkan kalimat itu Arneta segera melangkah masuk kedalam kamarnya meninggalkan Abby yang masih terdiam.
Bersambung
__ADS_1