CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 98 KURSI RODA


__ADS_3

Arneta memandangi perubahan wajah Abby, Arneta bisa melihat rasa takut dan rasa cemas melanda Abby. Tapi meskipun demikian Arneta belum mengerti kenapa Abby terlihat sangat cemas. Arneta meletakkan piring yang berisi potongan-potongan buah diatas meja kecil di samping tempat tidur Abby.


Arneta menatap Abby dengan perasaan ikut cemas.


"Bee, kamu kenapa?" tanya Arneta.


"Kaki aku, Neta. Kaki aku tidak bisa digerakkan," ucap Abby. Abby mengatakan apa yang dirasakannya.


"Apa, itu tidak mungkin. Coba kamu gerakan lagi," pinta Arneta. Arneta tidak percaya dengan pengakuan Abby barusan.


Abby pun melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Arneta. Abby menarik selimut yang menutupi kedua kakinya. Dan secara perlahan Abby mulai mengerakkan kembali kedua kakinya. Arneta melihat kaki Abby dengan tatapan serius. Arneta terus melihat kaki Abby menunggu dengan perasaan cemas. Abby pun terus berusaha mengerakkan kakinya sekuat tenaga.


Tapi sudah satu menit Arneta memandangi kaki Abby, Arneta tidak melihat kaki Abby bergerak sedikitpun, begitu juga dengan Abby. Sudah sekuat tenaga dan semua kemampuannya di kerahkan tapi hasilnya nihil. Kaki Abby tetap tidak bergerak apa lagi bergeser.


"Aku cacat sekarang," ucap Abby putus asa.


"Nggak, nggak mungkin kamu cacat. Kita panggil dokter dulu," ucap Arneta. Arneta mencobah menenangkan Abby.


Arneta memencet salah satu tombol yang tertempel di dinding. Beberapa saat kemudian seorang suster masuk.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" ucap suster menawarkan dirinya.


"Dokter mana, kaki suamiku tidak bisa di gerakkan," ucap Arneta.


"Panggil dokter sekarang!" ujar Arneta.


Suster itupun segera keluar untuk memanggil dokter. Abby duduk diatas kasur dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. Cemas gelisah dan perasaan takut menjadi satu paket lengkap berkumpul di hati Abby. Abby mengusap wajahnya dengan kasar, Abby mulai frustasi. Sambil menunggu dokter datang Abby kembali mencoba mengerakkan kedua kakinya tapu hasilnya tetap sama.


Arneta mencoba menenangkan Abby meskipun dirinya ikut merasakan kepanikan. Dokter datang selang beberapa menit kemudian. Dokter itu langsung menghampiri Abby, Arneta berpindah tempat supaya dokter tersebut lebih leluasa memeriksa Abby.


Dokter mulai memencet kaki Abby, pertama dengan menggunakan tangan, kemudian dokter mulai menyentuh kaki Abby dengan jari-jarinya. Dokter tersebut menyentuh Saraf kaki Abby. Hal terakhir yang di lakukan oleh dokter adalah mengetuk kaki Abby dengan sebuah alat kecil yang berbentuk seperti martil.

__ADS_1


Sudah dua kali dokter mencobah memancing respon Saraf kaki Abby tapi tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Kaki Abby tetap tidak bergerak sama sekali. Dokter itu menatap Abby dan Arneta bergantian.


"Maaf, sebelum saya memutuskan hasil dari pemeriksaan saya barusan, kami butuh pemeriksaan lebih lanjut lagi," terang dokter itu.


Abby dan Arneta mengerti pasti ada yang salah sudah terjadi pada kedua kaki Abby.


"Dok, apakah saya lumpuh?" tanya Abby langsung to the poin. Abby tak ingin merasakan harapan palsu.


"Maaf pak, saat ini saya belum bisa memastikan. Tapi secepatnya saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan biar lebih jelas lagi," jawab dokter.


"Baik dok, tapi apa bisa pemeriksaan itu dilakukan sekarang?" ujar Arneta. Arneta ingin segera mengetahui kondisi Abby lebih jelas lagi.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter berpamitan.


Dokter itu keluar dari dalam ruangan Abby dan langsung menujuh tempat penyimpanan rekam medis Abby disimpan. Setelah mendapatkan hasil laporan medis Abby, dokter tersebut langsung membaca dan memeriksakan secara detail laporan kondisi Abby.


Dokter pun kembali keruang kerjanya, ingin melihat kembali hasil foto Rontgen Abby yang terakhir. Dokter itu menempelkan hasil rontgen pada sebuah layar kaca dan menyalakan lampu di layar tersebut. Dengan sangat teliti dokter itu memeriksa setiap inci foto rontgen Abby. Hingga pada satu titik dokter itu menemukan ada yang salah pada salah satu bagian tubuh Abby. Dan bagian itu ternyata sudah berubah bukan seperti kondisi normal. Dokter itu sudah menemukan jawaban kenapa kaki pasiennya tidak bisa bergerak.


"Dok ..,"ucap Arneta setelah melihat dokter itu kembali masuk.


"Permisi...," jawab dokter.


Dokter itu berdiri di samping ranjang Abby.


"Maaf, saat ini saya harus menyampaikan berita yang kurang baik untuk pasien," ucap dokter.


Arneta dan Abby langsung mempersiapkan hati dan mental mereka berdua untuk mendengarkan penjelasan dokter. Arneta dan Abby kembali merasakan hal yang sama, sama-sama merasakan ada hal buruk sudah terjadi.


"Katakan dok, ada apa dengan kaki ku ini," ujar Abby penasaran.


"Maaf, hasil dari pemeriksaan saya, kaki pasien tidak bisa di gunakan," dokter itu langsung memberi tahukan kondisi kaki Abby.

__ADS_1


"Apaaaa....?!" Arneta dan Abby mengucapkan satu kata yang sama.


"Nggak mungkin dok," tolok Abby, Abby menolak ucapan dokter.


"Jangan cemas, ini hanya hasil sementara saja, akan ada pemeriksaan lanjutan. Pak Abby jangan putus asa dulu," dokter itu berusaha memberikan harapan pada Abby.


Arneta terdiam mendengar perkataan dokter, Arneta berpikir bagaimana dengan nasib rumah tangganya kedepannya. Saat sebelum kejadian Abby sudah meminta cerai darinya, apalagi sekarang dengan kondisi Abby yang tidak bisa berjalan. Arneta yakin bahwa Abby akan terus memaksanya untuk bercerai. Dan Arneta tidak menginginkan hal itu.


Berbeda dengan pemikiran Abby, ketika Abby melihat Arneta hanya terdiam Abby langsung merasa yakin bahwa Arneta akan semakin tak betah bersama dengan dirinya dengan kondisinya yang lumpuh. Abby kapan berpikir positif.


Dokter itu kembali keruang kerjanya setelah selesai memberikan penjelasan kepada Abby dan Arneta.


Sementara itu orang tua Abby baru saja masuk setelah habis dari luar untuk mengisi perut karena lapar. Orang tua Abby dan Sarfa binggung melihat Abby dalam suasana hati yang kacau begitu juga dengan Arneta. Tak ingin membuang waktu bu Maya langsung mengajukan pertanyaan, sebagai seorang ibu bu Maya bisa merasakan ada yang tidak beres dengan Abby.


"Ada apa...?"


"Neta, ada apa? Apa yang sudah terjadi saat kami keluar tadi?" timpal Sarfa. Pak Ady pun menunggu jawaban atas pertanyaan Sarfa dan istrinya.


Arneta menahan airmatanya agar tidak jatuh, Arneta tidak ingat Abby melihat kesedihannya. Dengan bibir sedikit bergetar Arneta mulai menjelaskan tentang kondisi kaki Abby.


"Saat ini Abby tidak bisa berjalan, kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Dokter sudah memeriksa Abby barusan, dan dokter itu juga bilang akan melakukan pemeriksaan lanjutan tentang kondisi kaki Abby," Arneta menerangkan kondisi Abby panjang lebar, Arneta juga mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh dokter.


Mendapatkan kabar bahwa putra satu-satunya akan duduk di kursi roda membuat tubuh bu Maya terhuyung, bu Maya kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung suaminya bisa menangkap dan menahan tubuh bu Maya, jika tidak bu Maya bisa jatuh ke lantai karena shock.


"Mah, Abby cacat sekarang! Abby akan duduk di kursi roda," keluh Abby dengan suara parau.


"Kamu tidak cacat Abby, kamu dengan kata dokter tunggu pemeriksaan selanjutnya," potong Arneta. Arneta tidak ingin Abby putus asa dengan begitu mudah.


"Jangan memberikan harapan palsu padaku Neta, kamu sudah dengar kata dokter tadi, aku tidak bisa berjalan!" ujar Abby. Hatinya terasa tersayat pisau menerima kondisi kakinya yang tidak bisa bergerak.


"Kamu lupa kata dokter akan ada pemeriksaan lanjutan, kamu jangan putus asa Abby!" seru Arneta. Arneta kembali memberikan harapan buat Abby, Arneta tidak akan menyerah begitu saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2