CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 74 DIA SIAPA


__ADS_3

Ibu dari Arneta setelah tahu keadaan putrinya sempat shock bahkan sempat jatuh sakit, tapi dengan setia pak Jaya menemani istrinya dan memberikan kekuatan pada istrinya agar bisa kuat. Pak Jaya mengingat istrinya jika saat ini putri mereka membutuhkan doa dari orang-orang yang menyayangi Arneta.


Sedangkan orang tuanya Abby setelah mengetahui bagaimana kondisi Arneta juga ikut terpukul perasaannya. Abby habis-habisan kena semprot oleh kedua orang tuanya, terlebih lagi bu Maya. Bu Maya sempat berniat untuk mencoret Abby dari kartu keluarga untung saja niat bu Maya di cegah oleh suaminya. Jika hal itu terjadi entah bagaimana nasibnya Abby saat ini.


Waktu terus berjalan dan tak terasa Arneta sudah berada di rumah sakit selama empat bulan dalam kondisi yang masih sama. Tubuh Arneta yang putih kini semakin putih karena lama tidak terkena sinar matahari.


Kegiatan Abby selama empat bulan terakhir menemani Arneta di rumah sakit. Jika tidak ada pekerjaan yang perlu di tanganinya Abby lebih memilih Sarfa untuk melakukan tugasnya sebagai CEO di perusahaannya.


Sarfa sama sekali tidak keberatan dengan ketambahan tugas dari Abby, Sarfa mengerti bagaimana kondisi dan perasaan sahabatnya ini.


Pagi ini Abby harus datang ke kantor karena ada hal penting yang akan di bahas dalam meeting. Mau tak mau Abby harus datang karena tidak bisa diwakilkan oleh Sarfa. Dengan berat hati Abby meninggikan Arneta yang masih tertidur enak kapan bangunannya.


Meskipun ini bukanlah pertama kali Abby meninggikan Arneta di rumah sakit tetap saja hati Abby merasa berat


Abby berangkat ke kantor setelah memastikan bahwa Arneta tidak sendirian, Abby menunggu ibu mertuanya datang terlebih dahulu. Sebelum berangkat Abby terlebih dahulu meminta kepada ibu mertuanya tidak sungkan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu. Selain itu juga Abby sempat menawarkan dirinya jika ibu mertuanya membutuhkan sesuatu agar memberitahunya.


Setelah Abby pergi bu Nola menarik kursi untuk duduk di samping tempat tidur Arneta. Masih dengan perasaan sedih bu Nola menggenggam tangan Arneta.


"Neta sayang, kapan kamu bangun, ibu kangen sama kamu sayang," ucap bu Nola, Airmata bu Nola kini mengambang di pelupuk matanya.


Dengan sangat lembut bu Nola mencium tangan Arneta, tapa di sadari airmata bu Nola jatuh di punggung tangan Arneta. Bu Nola masih berbicara seolah sedang berbicara dengan Arneta.


"Sayang, Kakak mu juga sangat khawatir dengan kamu, kakak mu minta maaf karena belum bisa menjenguk kamu disini. Kakak mu sedang menemani istrinya.," ujar bu Nola bercerita.


"Tau nggak Neta sayang, kamu sekarang sudah menjadi seorang tante, kamu sudah punya ponakan dari kakak mu," sambung bu Nola.


Sementara itu punggung tangan Arneta yang terkena tetesan airmata bu Nola ternyata mampu membuat Arneta mengerakkan salah satu jarinya. Airmata bu Nola seperti setrum yang menyentuh tubuh Arneta. Bu Nola melihat pergerakan jari tengah Arneta pun terkejut.

__ADS_1


"Sayang Neta, " panggil bu Nola.


Arneta masih belum membuka matanya akan tetapi jari-jari Arneta yang lainnya sudah mulai bergerak.


"Neta, kamu dengar ibu nggak?" tanya bu Nola.


Karena belum ada respon lebih dari Arneta bu Nola langsung memencet salah satu tombol yang berada di atas tempat tidur Arneta. Bu Nola memencet tombol untuk memanggil perawat atau dokter.


Secara bersamaan dokter dan perawat masuk kedalam ruangan Arneta.


"Dok, tadi tangan putri saya bergerak dok," ucap bu Nola. Dokter pun langsung memeriksa Arneta.


Jari-jari Arneta kembali bergerak, tapi kali ini di iringi oleh pergerakan lainnya. Kelopak mata Arneta mulai ikut bergerak seakan-akan ingin terbuka tapi sulit.


"Neta...." panggil dokter.


Secara perlahan tapi pasti Arneta membuka matanya secara perlahan, karena terlalu lama tidak melihat cahaya pandangan matanya menjadi sedikit buram karena silau dari cahaya lampu.


"Neta... kamu dengar saya," panggil dokter itu lagi untuk mengecek apakah Arneta benar sudah sadar sepenuhnya.


Arneta mencoba menyesuaikan pandangan matanya dengan ruangan yang di tempatinya. Arneta melihat bayangan yang sudah di kenalnya sejak kecil.


"Ibu...." panggil Arneta dengan suara yang sangat kecil. Bu Nola pun langsung memeluk tubuh Arneta. Perasaan bu Nola sangat bahagia, akhirnya putrinya sudah sadar.


"Bu, saya coba periksa lagi ya pasiennya," ucap dokter. Bu Nola melepaskan pelukannya dari Arneta.


Sementara dokter memeriksa kembali Arneta, bu Nola segera menghubungi suaminya untuk memberi tahu jika Arneta sudah sadar saat ini, bu Nola juga tidak lupa memberi kabar kepada kedua sahabatnya Arneta, yaitu Rika dan Gita. Orang terakhir yang di beri kabar bu Nola itu adalah Abby, suami dari putranya. Pak Jaya merasa sangat bahagia atas berita yang terimanya dari istrinya, Pak Jaya langsung meminta ijin dari tempatnya bekerja untuk bisa pulang lebih cepat dan langsung menemui Arneta di rumah sakit.

__ADS_1


Kedua sahabatnya Arneta Rika dan Gita pun ikut meras senang karena Arneta sudah bangun dari tidurnya yang sangat panjang.


Sementara itu Abby yang mendapatkan kabar jika Arneta sudah sadar ingin segera menghentikan rapat yang di hadirinya supaya bisa menemui Arneta. Tapi sayangnya Abby harus menunda dulu untuk bertemu dengan Arneta, rapat kali ini tidak bisa lagi di batalkan atau di tunda. Abby dengan terpaksa harus menunggu meeting itu selesai terlebih dahulu.


Sementara itu di rumah sakit pak Jaya sudah datang, Rika dan Gita pun sudah datang. Orang tua Abby pun ikut hadir. Arneta setelah sadar sempat kembali tertidur karena dirinya merasa sangat lelah seperti seseorang yang sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh.


Arneta kembali terbangun dari tidurnya.


"Bu, Neta haus," pinta Arneta masih dengan suara yang pelan. Bu Nola segera memberikan Arneta segelas air putih hangat untuk Arneta. Setelah selesai minum Arneta tersenyum kecil sambil memandangi wajah ibunya.


"Bu, makasih ya," ucap Arneta. Bu Nola tersenyum lembut pada Arneta.


"Neta, kamu mau apa, biar ibu ambilkan," tawar bu Nola. Arneta hanya menggelengkan kepalanya memberi isyarat bahwa dirinya tidak membutuhkan sesuatu.


Pak Jaya, Gita Rika dan kedua mertua menghampiri Arneta dan menyapa Arneta. Tapi saat Arneta melihat wajah bu Maya dan pak Ady raut wajah Arneta berubah. Dahinya mengkerut seakan sedang berpikir siapkah dua orang tua tersebut.


"Halo Neta, bagaimana badannya sudah enakkan?" tanya bu Maya. Arneta pun menatap bu Maya dengan perasaan binggung.


"Maaf, ibu siapa?" tanya Arneta binggung. Bersamaan itu Abby masuk kedalam ruangan Arneta.


Arneta memalingkan kepalanya menatap kearah pintu melihat siapa yang datang. Abby akhirnya bisa datang ke rumah sakit karena meeting selesai dengan cepat.


Arneta menatap Abby seperti orang yang pertama kali di lihatnya.


"Ayah, dia siapa?" tanya Arneta sambil menunjuk Abby dengan salah satu jarinya. Dan semua orang yang ada dalam ruangan itu pun terkejut dengan sikap Arneta yang sama sekali tidak mengenal suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2