CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 77 AKU SUAMIMU


__ADS_3

Sudah dua hari Arneta keluar dari rumah sakit dan sudah dua hari juga Abby dan Arneta tidur di kamar yang terpisah. Abby tak suka akan keadaan ini. Selama dua hari ini Arneta selalu bersikap seperti tak menganggap Abby. Meskipun Arneta duduk satu meja dengan Abby Arneta bersikap sangat dingin.


Baru sua hari Abby sudah mulai tak tahan dengan sikap Arneta yang mengacuhkannya. Pagi ini Arneta dan Abby duduk di meja makan untuk sarapan, Arneta masih bersikap seolah tak melihat kehadiran Abby yang duduk di sampingnya.


"Neta..." panggil Abby. Arneta meskipun mendengar Abby memanggilnya berpura-pura tidak mendengar Abby yang memanggilnya.


"Neta..." sekali lagi Abby menyebutkan nama Arneta. Dan Arneta masih diam seribu bahasa tak menghiraukan panggilan tersebut.


"Neta...!" akhirnya Abby berteriak memanggil Arneta, habis kesabaran Abby.


Arneta hanya mengangkat kepalanya dan menatap Abby dengan tatapan dingin.


"Neta cukup, cukup ya kamu bersikap seperti ini!" ujar Abby dengan menahan emosi agar tidak meledak.


"Maksudnya....?" Arneta bertanya seolah tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Abby.


"Neta, aku ini suamimu, hormati aku selayaknya seorang istri menghormati suaminya," ujar Abby dengan nada mulai meninggi.


Ha...


Arneta tertawa, tapi tawa itu seperti mengejek Abby.


"Kamu memang suamiku secara hukum itu benar, semua orang yang aku kenal pun mengatakan bahwa kamu itu suamiku. Tapi ingat saat ini aku hilang separuh ingatanku," ujar Arneta.


"Kamu memang ilang ingatan, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seperti ini pada ku," jawab Abby mematahkan perkataan Arneta.


Arneta tidak ingin mengalah begitu saja, meskipun dirinya tahu jika Abby adalah suaminya dan kenyataan bahwa Abby adalah suaminya tidak bisa fi patahkan oleh apapun.


"Jadi aku harus bersikap seperti apa sama kamu, menjadi istri yang patuh itu maksudnya kamu?" ucap Arneta.


"Neta, bisa tidak kamu bersikap hormat pada suamimu, jangan bersikap kurang ajar" balas Abby, Abby mengepalkan kedua tangannya di samping pahanya. Abby mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Arneta.


Arneta tidak merasa takut sedikitpun pada Abby, Arneta masih bersikap dingin .


"Haruskah aku menghormati mu?" ujar Arneta sambil tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"NETAAAA....!" akhirnya Abby berteriak sangat kencang menyebut nama istrinya. Arneta bukan panik tapu justru menutup telinganya karena teriakan Abby.


"Aku nggak tuli, jadi jangan berteriak," ucap Arneta.


Dengan nafas yang memburu dan dada yang sudah naik turun menahan amarahnya, Abby meraih tangan Arneta dengan kasar.


"Ikut aku..." ucap Abby bukannya mengajak tapi sudah berubah perintah.


"Lepas,... lepaskan tanganku," ucap Arneta sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Abby.


"Aku tidak akan melepaskan mu, dan mulai hari ini kamu aku kurang di dalam kamar. Kamu bisa keluar dari dalam kamar jika kamu sudah bisa merubah sikapmu pada ku," terang Abby sambil menyeret Arneta.


Arneta tidak ingin di perlukan kasar oleh Abby terus berontak dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Abby.


"Lepas kataku, aku tidak akan pernah menuruti perintah mu Abby," jawab Arneta. Abby masih menarik Arneta menujuh lantai dua menuju kamar yang di maksud.


"Lepas ngga, aku bilang lepas!" ujar Arneta. Arneta tidak memohon untuk di lepaskan tangganya tapi memberikan perintah agar Abby melepaskannya.


"Abby tidak menghiraukan ucapan Arneta, Abby masih terus menarik Arneta menujuh tangga.


"Kamu pikir aku akan menuruti mu, ha! jangan mimpi," ucap Arneta setelah berhasil melepaskan tangannya dari Abby. Abby merasa genggamannya terlepas membalikkan badannya dan langsung menatap wajah Arneta dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Aku suami mu Neta, jadilah istri yang patuh pada suaminya!" ujar Abby.


"Patuh pada suami, atas dasar apa aku harus patuh padamu? kamu memang suamiku tapi bukan berarti kamu bisa mengatur hidup ku," balas Arneta. Arneta pun menatap Abby dengan tatapan tentang.


Abby kembali mencoba menarik Arneta tapi usahanya gagal, dengan gesit Arneta bisa menghindari tangan Abby yang mencoba meraih tangannya.


"Cukup Abby..!" ujar Arneta memperingati Abby. Abby tak menghiraukan ucapan Arneta, Abby masih saja mencobah memegang tangan Arneta dan ingin menarik paksa Arneta.


"ABBBYYYYY.... Cukup!" Arneta sekali lagi berteriak mengingatkan Abby agar berhenti memaksanya. Abby langsung tertegun mendengar teriakkan Arneta.


"Denger ya, aku akan menuruti mu jika kamu memang suami yang pantas untuk ku. Akan tetapi dari apa yang aku liat selama ini kamu bukanlah suami yang baik untuk ku," ucap Arneta.


"Apa masih kurang kebaikan ku, masih kurang sabar ku atas sikap mu selama dua hari ini?" jawab Abby.

__ADS_1


Arneta menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya secara kasar, lebih tepatnya Arneta mendengus kesal.


"Kamu tau, saat pertama aku melihat mu di rumah sakit aku masih biasa saja, tapi setelah mendengar bahwa kamu adalah suamiku aku tak nyaman. Asal kamu tahu saja saat aku tau kamu itu adalah suami ku, aku sangat membencimu," ujar Arneta. Abby berdiri mematung mendengar pengakuan Arneta barusan.


"Ya Tuhan, apakah ini karma atau hukuman untukku?" ucap Abby dalam hatinya.


"Asal kamu tahu ya Abby, jauh di dalam hatiku sangat membencimu lebih dari yang kamu pikirkan," sambung Arneta.


"Tapi Neta..." belum selesai ucapan Abby langsung di potong Arneta.


"Diam...!" bentak Arneta.


"Aku bukan perempuan yang bisa kamu manipulatif, sampai ingatanku kembali jangan pernah bermimpi kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau dari ku," ujar Arneta. Abby tak bisa berkata-kata lagi, baru kali ini Abby melihat sisi lain dari Arneta.


Arneta yang dulu bisa di perlakukan kasar oleh Abby, bahwa Abby bisa bersikap sesuka hati pada Arneta tapi kini semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Abby justru berada di posisi Arneta dulu.


Abby tak ingin memancing lagi kemarahan Arneta mencobah untuk membujuk Arneta dengan berbicara dengan bada selembut mungkin.


"Neta, dengarkan aku dulu ya," ucap Abby.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan mendengarkan perkataan mu," jawab Arneta.


"Tolong jelaskan kenapa kamu bersikap seperti ini sama aku Neta, aku ini suamimu," ucap Abby dengan nada setengah memohon.


"Kamu tau, saat aku melihat kamu berlutut di hadapan ayah ku meminta kesempatan sekali, aku sadar ada yang salah dari pernikahan kita," ucap Arneta berkata jujur. Arneta memang melihat Abby yang berlutut di hadapan ayahnya saat di rumah sakit.


Deg.... jantung Abby terasa di sentil.


Abby kembali terkejut mendengar ucapan Arneta, Abby tak menyangka jika Arneta masih mengingat hal itu.


"Neta, aku minta maaf ya sama kamu. Kita mulai lagi dari awal ya," pinta Abby, Abby kini benar-benar memohon. Menurut Abby apa yang disarankan saat ini itu adalah karma atau hukuman tetap sama rasanya. Sakit.


Abby hanya bisa menyesali perbuatannya dulu terhadap Arneta, Seandainya saja waktu ingin rasanya Abby memutar waktu dan memperbaiki semua kesalahannya kepada Arneta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2