CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 96 DIA BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Arneta kembali pada posisinya semula, Arneta kembali mendaratkan pantatnya di kursi besi panjang tempat para penunggu pasien rumah sakit. Asa kelegaan di dalam hati Arneta mendengar kondisi Abby yang stabil, meskipun belum pulih sepenuhnya.


Sarfa duduk di samping Arneta, Sarfa menundukkan kepalanya. Ada perasaan bersalah karena tadi sudah melontarkan kata-kata yang pasti akan menyakiti hati Arneta.


"Maaf...' ucap Sarfa.


Arneta menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Aku tahu, disini akulah orang yang paling bersalah," ucap Arneta.


"Bukan seperti itu maksud ku," potong Sarfa.


"Yang seharusnya minta maaf itu aku, bukan kamu," balas Arneta.


Perasaan Sarfa langsung tak enak hati. Sebenarnya Sarfa tadi tak bermaksud untuk mengeluarkan kata-kata tajam untuk Arneta, tetapi karena dalam keadaan panik Sarfa mengeluarkan unek-uneknya tanpa berfikir terlebih dahulu.


"Neta, sungguh aku tak bermaksud seperti itu," ujar Sarfa. Arneta hanya membalas ucapan Sarfa dengan sebuah senyuman. Tapi senyum itu adalah senyum kepahitan.


Hari semakin siang jam makan siang pun hampir lewat. Sarfa memberanikan diri untuk mengajak Arneta makan.


"Neta, kamu mau. makan?" tanya Sarfa.


"Tidak, terimakasih," jawab Arneta.


"Tapi ini sudah hampir lewat jam makan siang," Sarfa mencobah menginginkan Arneta.


"Aku tidak lapar. Kalau kamu mau makan silahkan," balas Arneta.


"Atau mau aku belikan sesuatu untuk mengganjal perut!" tawar Sarfa lagi.

__ADS_1


"Aku tidak lapar," sekali lagi Arneta menilai tawaran Sarfa. Sarfa menghembuskan nafasnya secara kasar. Setelahnya Sarfa langsung pergi meninggalkan Arneta seorang diri di kursi tunggu.


Arneta menatap punggung Sarfa yang mulai menjauh dari pandangan matanya. Kegetiran menelusup di hati dan pikiran Arneta. Perasaan bersalah kembali menyentuh relung hati Arneta. Jika seandainya Arneta meminta cerai waktu itu mungkin semua akan baik-baik saja, tetapi otak Arneta tidak berhenti disitu saja. Arneta kembali mengingat saat bersama Abby setelah dirinya meminta cerai, semuanya kembali seperti semula hubungannya dengan Abby kembali membaik bahkan saat ini sebelum kecelakaan menimpa Abby.


Arneta kembali mencoba mengingat apakah dirinya pernah berbuat salah atau menyinggung perasaan Abby, tapi Arneta tidak menemukan satupun dimana dirinya menyakiti hati Abby. Otak Arneta berfikir lebih keras lagi mencari jawaban atas keputusan Abby ingin bercerai dari dirinya, hingga akhirnya Arneta mengingat dimana awal perubahan sikap Abby pada dirinya.


Arneta ingin hari itu dirinya sempat berbicara dengan mantan kekasihnya yaitu Robby. Arneta menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya sedikit melebar.


"Jangan-jangan waktu itu Abby dengar pembicaraan ku dengan Robby. Tapi jika Abby mendengar pembicaraan ju dengan Robby seharusnya Abby sudah tahu kalau aku mencintainya. Tapi kenapa sekarang malah ngotot ingin menceraikan aku ?" Arneta bermonolog sendiri. Arneta sibuk dengan bayangan yang ada di dalam kepalanya.


Arneta sudah menghubungi orang tuanya Abby yaitu mertuanya. Arneta sudah memberikan kabar jika Abby saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Bogor. Dan bisa di pastikan mertuanya saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Seorang dokter kembali keluar dari dalam ruangan Abby.


"Ibu Arneta!" panggil dokter"Saya dok, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Arneta cemas.


"Satu lagi, setelah ini kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh takut jika ada luka dalam dalam tubuh pasien," sambung dokter.


"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya," pinta Arneta. Dokter kembali masuk kedalam ruangan Abby.


Tak berapa lama kemudian satu suster membuka pintu ruangan Abby, Abby yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit di dorong keluar oleh beberapa suster di iringi oleh dokter. Arneta menghampiri Abby yang masih tertidur karena pengaruh obat bius. Ranjang Abby di dorong menuju salah satu ruangan yang akan menjadi tempat Abby menginap selama di rawat.


Arneta mengekor dari belakang mengikuti arah parah suster membawa Abby. Tiba di ruangan yang di tunju Abby kembali di pasangi alat-alat medis sebagai penunjang. Selang oksigen kembali terpasang di hidung Abby. Setelah selesai melaksanakan tugasnya dokter dan suster meninggalkan ruangan tersebut. Hanya ada Arneta yang duduk di samping ranjang Abby.


Sarfa menghubungi Arneta setelah tidak menemukan Arneta di tempat tadi. Sarfa langsung menuju ruangan yang di sebutkan oleh Arneta. Sarfa masuk sambil membawa satu kantong plastik yang berisikan makanan. Sarfa sengaja membawakan makanan untuk Arneta meskipun tadi Arneta menolak.


"Bagaimana kondisi Abby?" tanya Sarfa.


"Kata dokter sekarang tinggal menunggu Abby bangun. Semuanya baik-baik saja," jawab Arneta menerangkan.

__ADS_1


"Syukurlah, sekarang kamu makan dulu, jangan nggak makan takutnya kamu jatuh sakit nanti," bujuk Sarfa sambil menyerahkan satu kantong plastik yang dibawanya.


Arneta menerima kantong plastik pemberian Sarfa tapi Arneta tak langsung makan, kantong plastik itu diletakkan Arneta diatas meja kecil yang ada dalam ruangan tersebut.


"Neta, makan. Nanti kamu sakit," Sarfa kembali mengingatkan Arneta.


"Aku tidak lapar," tolak Arneta. Bagaimana Arneta bisa makan jika dihatinya masih bertumpu perasaan bersalah dan Sarfa tidak mengetahuinya.


Sarfa tidak ingin lagi memaksa Arneta untuk makan, Sarfa berpindah posisi. Sarfa memilih untuk duduk si sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Arneta duduk di samping tempat tidur Abby. Arneta menyenderkan kepalanya di ranjang dengan tubuh dimiringkan. Mata Arneta terus menatap Abby. Arneta pun tertidur. Arneta sungguh sangat lelah saat ini, bukan hanya Abby yang tidak tidur selama tiga hari Arneta juga tidak bisa memejamkan matanya menunggu Abby pulang. Tapi sayangnya Arneta justru harus menemui Abby di rumah sakit.


Sarfa melihat Arneta tidak bergerak selama beberapa saat menjadi khawatir takut Arneta kenapa-kenapa, sudah dari tadi Arneta tidak mengisi perutnya. Sarfa mendekati Arneta perlahan. Sarfa pun langsung melihat mata Arneta yang terpejam. Suhu udara dalam ruangan cukup dingin, agar Arneta tidak kedinginan Sarfa membuka jasnya dan meletakkan jas itu di tubuh Arneta. setelah itu Sarfa kembali duduk di sofa.


Sudah sekitar lima belas menit Sarfa duduk termenung dalam ruangan itu, Sarfa merasa sedikit bosan. Sarfa keluar ingin menghirup udara segar. Tapi si depan pintu Sarfa melihat orang tuanya Abby sudah datang.


"Tante...," sapa Sarfa. Bu Maya dan pak Ady datang dengan wajah cemas.


"Afa, bagaimana kondisi Abby,? tanya bu Maya. Wanita paruh baya ini sudah meneteskan airmata karena cemas.


"Abby saat ini masih belum sadar, tapi kata dokter semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu di khawatirkan," Sarfa menerangkan kondisi Abby.


"Di dalam ada Arneta, tapi saat ini Arneta tertidur. Sepertinya Arneta kelelahan, Arneta juga belum makan apa-apa dari tadi," terang Sarfa.


"Tapi Neta baik-baik saja kan?" tanya bu Maya yang ikut mencemaskan Arneta.


"Arneta baik-baik saja, cuma Arneta belum makan," jawab Sarfa.


Sarfa bu Maya dan pak Ady masuk ke dalam ruangan dengan melangkah pelan tak ingin membangunkan Arneta. Perasaan orang tua Abby cukup merasa tenang setelah tahu kondisi Abby tidak dalam membahayakan. Di dalam ruangan bu Maya dan pak Ady bisa melihat Arneta yang sedang tertidur, senyum kecil mengembang di bibir pak Ady dan bu Maya. Mereka berdua merasa senang melihat Arneta ternyata begitu mencintai Abby.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2