CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 76 ATURAN BARU


__ADS_3

Abby setengah berlari mengejar langkah ayah mertua, Abby ingin memohon agar dirinya di berikan kesempatan sekali lagi.


Masuk kedalam ruangan Arneta wajah pak Jaya terlihat sangat sedih, sedangkan Abby ikut masuk dengan wajah cemas. semua orang yang ada dalam ruangan tersebut pun lang menatap mereka berdua dengan perasaan cemas.


"Yah, ada apa? tanya bu Nola kepada suaminya.


Pak Jaya menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya Secara perlahan.


"Anak kita terkena amnesia," jawab pak Jaya jujur.


Haaa..


Semua orang di dalam ruangan tersebut kompak menyebutkan satu kata yang sama.


Pak Jaya duduk di samping Arneta dan menggenggam tangannya erat.


"Neta, kamu harus sabar ya," pak Jaya memberikan motivasi untuk putrinya.


"Jadi benar yah, laki-laki itu suamiku?" tanya Arneta.


Sebelum pak Jaya menjawab pertanyaan Arneta Abby lebih dulu memotong kata-kata yang belum terucap dari mulut pak Jaya.


"Iya, saya suami mu," Abby mengucapkan kata itu sambil memandangi wajah pak Jaya. Abby masih bisa melihat kemarahan pak Jaya pada dirinya.


Tanpa aba-aba Abby menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai. Abby berlutut di hadapan Arneta dan ayah mertuanya.


"Ayah, aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi," ucap Abby memohon. Kedua orang tuanya Abby menyaksikannya hal itu tapi mereka diam saja, orang tua Abby menyadarkan betul bagaimana sikap Abby selama ini kepada Arneta. Orang tua Abby tak ada niat untuk menolong Abby. Apa pun keputusan yang di ambil oleh keluarga besannya mereka akan menerimanya termasuk perceraian antara Abby dan Arneta.


Pak Jaya terkejut melihat Abby berlutut dihadapannya dan Arneta. Arneta bukannya terkejut tapi justru memandangi Abby dengan tatapan binggung.


"Bangun Abby," ujar pak Jaya.


"Aku tidak akan bangun sebelum ayah memaafkan ku. Ayah, aku janji akan berubah. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi," Abby memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Pak Jaya melihat kesungguhan Abby meminta maaf akhirnya hatinya pun luluh.


Pak Jaya menerima permohonan maaf Abby tapi dengan syarat.

__ADS_1


"Aku memaafkan mu, tapi ingat jika Neta sudah sembuh biar Neta yang akan menentukan dimana Neta akan pulang. Jika kamu menyakiti Neta lagi secara sengaja atau tidak tanpa persetujuan mu ayah akan langsung membawa Neta," ujar pak Jaya. Abby akhirnya bisa bernafas lega.


Dua minggu sudah Arneta sadarkan diri, kini saatnya Arneta si perbolehkan untuk pulang ke rumah.


"Neta, hari ini kamu sudah boleh pulang,"ucap Abby. Arneta tersenyum kecil mendengar ucapan Abby.


Abby segera membereskan barang-barang Arneta yang berada di rumah sakit selama Arneta di rawat. Satu tas berukuran sedang berisi semua barang-barangnya Arneta.


"Neta, barang-barang kamu sudah siap," ucap Abby. Abby mendorong satu kursi roda untuk Arneta pakai menujuh lobby rumah sakit.


"Ayo kita pulang,"ajak Abby. Arneta tidak banyak bicara saat ini. Hatinya masih sangat bimbang dengan pernikahannya.


Semua biaya administrasi sudah dibayarkan oleh kedua orang tua Abby, jadi Abby tak perlu repot-repot lagi mengurusi biayanya rumah sakit Arneta.


Setelah semua siap, Abby mendorong Arneta yang sudah duduk di kursi roda yang disiapkan Abby tadi.


Akhirnya Abby sampai di lobby rumah sakit, di sana supir pribadi Abby sudah menunggu. Abby ingin mengendong Arneta untuk berpindah tempat dari kursi roda ke dalam mobil.


"Abby aku bisa jalan. Aku tidak cacat," ujar Arneta sambil menepis tangan Abby dari tubuhnya. Abby bukannya marah tapi hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Arneta.


Mobil mebil yang dikendarai oleh supir pribadi melaju dengan kecepatan sedang. Suasana dalam mobil sangat hening, yang terdengar hanyalah deru mesin mobil yang sedang berjalan. Hampir satu jam berada di jalan akhirnya mobil tersebut memasuki sebuah halaman rumah yang besar bercat putih. Arneta memandangi rumah tersebut sambil mengerutkan dahinya.


"Ini rumah kita sayang, apa kamu lupa?" balas Abby.


"Oh....


Hanya kata pendek itu yang keluar dari mulut Arneta.


Supir memarkirkan mobil persis di depan pintu masuk rumah. Di ambang pintu bi Jum sudah menunggu kepulangan majikannya. Bi Jum sudah tahu kondisi Arneta yang lupa ingatan karena Abby sudah mengatakan lebih dulu pada bi Jum.


Arneta turun dari mobil setelah Abby membuka pintu mobil untuknya. Arneta memandangi bi Jum sambil tersenyum ramah, meskipun kenyataannya Arneta juga lupa dengan bi Jum.


"Selamat datang Non," sapa bi Jum. Arneta hanya menganggukkan kepalanya membalas sapaan bi Jum. Arneta dan Abby segera masuk kedalam rumah.


"Neta, sebaiknya kamu langsung istirahat dulu di kamar, ingat kata dokter kamu tidak boleh capek,"Abby menasehati Arneta.

__ADS_1


"Dimana kamar ku?" tanya Arneta.


"Di lantai dua, ayo aku antar kamu ke kamar ," tawar Abby. Arneta pun menurut saja dengan ucapan Abby.


Abby mengantarkan Arneta sampai di dalam kamarnya.


"Ayo masuk, ini kamar kita," ucap Abby sambil tersenyum. Arneta pun masuk kedalam kamar. Arneta duduk di tepi ranjang dan matanya langsung mengelilingi ruangan tersebut.


"Apa. benar kamu itu suamiku?" tanya Arneta. Arneta masih belum bisa menerima jika dirinya sudah menikah dengan laki-laki di hadapannya.


Abby terkenal dengan pertanyaan Arneta. Abby berpikir jika Arneta sudah bisa menerima jika dirinya adalah suaminya Arneta, tapi dari sinar mata Arneta Abby bisa melihat keraguan yang di simpan Arneta dalam hatinya.


Abby mengeluarkan buku nikah mere dari dalam lemari, Abby segera memberikan buku itu pada Arneta. Arneta menerima buku itu dan langsung memeriksanya, Akhirnya Arneta bisa percaya jika Abby adalah suaminya.


"Kamu istirahat dulu ya," ucap Abby sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Hei apa yang kamu lakukan Abby?" tanya Arneta.


"Mau istirahat juga Neta," balas Abby santai.


"Keluar...," usir Arneta. Abby terkejut dirinya di usir oleh Arneta.


"Tapi Neta, ini kamarku," protes Abby.


"Oh jadi ini kamar mu, baiklah aku yang akan keluar," balas Arneta sambil bersiap bangun dari duduknya.


"Jangan Neta, kamu disini saja," ucap Abby mencegah agar Arneta tidak keluar dari dalam kamar.


"Jadi, aku yang keluar atau kamu?" ucap Arneta.


"Neta, kita ini suami istri. Mana ada suami istri tidur di kamar yang terpisah," ujar Abby protes.


"Kamu memang suamiku, tapi dari tadi aku datang ke rumah ini, aku tidak melihat foto pernikahan kita," jawab Arneta. Abby pun kembali terkejut, dirinya lupa akan hal itu.


"Ingat ya, selama ingatan ku belum kembali jangan berharap kita berdua akan tidur dalam satu kamar," ujar Arneta. Abby terbengong mendengar ucapan Arneta.

__ADS_1


"Dan bukan hanya itu, kita berdua akan hidup masing-masing, tidak ada yang boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing, Dan satu lagi peraturan ini mulai berlaku hari ini," terang Arneta. Tubuh Abby langsung menjadi lemas mendengar peraturan yang di buat oleh Arneta. Padahal jauh-jauh hari Abby sudah menyusun rencana untuk membuat Arneta tidak pergi darinya. Abby ingin agar Arneta hamil sebelum ingatan Arneta kembali. Tapi itu semua kini hanya tinggal rencana, sebelum Abby melakukan rencananya nyatanya Arneta terlebih dahulu sudah membangun tembok pembatas antara mereka berdua.


Bersambung


__ADS_2