
Abby memanggil kembali Gracia yang hendak keluar dari dalam ruangan tersebut. Abby yabg tadinya bersikap kasar dan terkesan memberi Gracia mendadak berubah. Sementara itu Sarfa semakin geram dengan sikap Abby barusan. Tangan Sarfa sudah mengepal dengan sangat erat, ingin rasanya Sarfa memukul kepala Abby saat ini juga.
Gracia hatinya berbunga-bunga karena Abby menahannya agar tidak pergi.
"Cia...sini duduk disini," panggil Abby sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Gracia langsung menuruti ucapan Abby.
"Cia, kamu sekarang terlihat sangat cantik," puji Abby. Dada Sarfa langsung naik turun menahan emosinya, sedangkan Gracia yang mendapatkan pujian dari Abby semakin berbunga hatinya.
"Cia, baju ini kamu beli dimana?" tanya Abby.
"Em baju ini aku beli di butik A, ingat nggak waktu itu aku minta uang dari kamu untuk beli baju," tutur Gracia.
"Kamu pake baju itu sangat cocok, terus sepatutnya kamu beli dimana?" tanya Abby lagi.
"Ini sepatu juga aku beli waktu aku di Bandung, ingat nggak waktu itu kamu kasih atm, Aku beli sepatu ini," jawab Gracia jujur.
Abby langsung tersenyum mendengar jawaban yang di berikan Gracia.
"Bentar ya, aku mau periksa hapeku dulu," ujar Abby. Abby mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan singkat kepada seseorang. Beberapa detik kemudian handphone miliknya Sarfa berdenting bunyi pesan masuk. Sarfa segera membuka aplikasi pesan pada handphonenya dan memeriksakan isi pesan tersebut. Sarfa terkejut melihat pesan yang masuk itu berasal dari Abby. Dan bukan hanya itu saja yang membuat Sarfa terkejut. Dalam pesan itu tertulis jika Sarfa harus memanggil security untuk keruangannya. Sarfa mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa maksud Abby dalam pesan tersebut. Tapi meskipun Sarfa tidak mengerti dengan tujuan Abby, Saraf menuruti perintah Abby.
"Abby, aku keluar dulu," pamit Sarfa.
"Baiklah, jangan lama-lama," jawab Abby. Sarfa pun segera keluar dan langsung menghubungi pihak keamanan kantor dan meminta agar security untuk segera datang ke ruangannya.
Belum selesai dengan kebingungannya Abby kembali mengirimkan pesan singkat kepada Sarfa. Dalam pesan itu Abby meminta agar Sarfa membawakan sepasang baju OB. Sarfa menatap layar ponselnya dengan perasaan semakin binggung. Sarfa pun kembali menuruti perintah Abby. Sarfa keruang HRD untuk meminta baju OB seperti yang diinginkan oleh Abby.
Setelah perintah Abby sudah dilakukan Sarfa kembali kedalam ruangannya sambil membawa baju OB di tangannya. Didepan pintu dua orang security yang di panggil Sarfa sudah berdiri menunggunya.
"Mari masuk," Sarfa mempersiapkan kedua security itu untuk masuk.
Setelah masuk kedalam ruangan Sarfa memandangi Abby dengan sebuah kode. Abby pun tersenyum puas karena perintahnya tadi di lakukan Saraf tanpa bertanya. Jika Sarfa bertanya Abby binggung bagaimana dirinya memberikan penjelasan sementara Gracia ada di sampingnya.
Abby melihat apa yang di bawah Sarfa.
"Gracia, sekarang kamu buka baju kamu," ujar Abby.
"Apa maksudnya Bee?" Gracia binggung.
__ADS_1
"Ya buka bajunya, Afa mana yang aku minta tadi," ucap Abby. Sarfa pun segera memberikan baju seragam OB yang di bawahnya kepada Abby. Sarfa pun langsung mengerti maksud dan tujuan Abby. Abby ternyata hanya berpura-pura baik Agar Gracia bisa di tindas oleh Abby. Sarfa tersenyum dalam hati.
Gracia berdiri dari duduknya dan marah kepada Abby.
"Bee, ini tidak lucu sama sekali!" ujar Gracia.
"Aku sedang tidak bercanda, baju yang kamu pake itu merupakan dari uangku," jawab Abby.
"Aku tidak mau. Baju ini milik ku," jawab Gracia menolak dengan Abby.
"Mau kamu buka sendiri atau di buka paksa sama security?" ujar Abby.
"Kamu sudah gila ya Bee, ini bukan lelucon yang lucu," jawab Gracia. Gracia menjadi panik karena dirinya di suruh melepaskan baju yang di pakainya.
"Kata siapa ini lelucon, aku sangat serius," jawab Abby dengan suara dingin.
"Bee..!" teriak Gracia sambil menatap Abby dengan wajah penuh harap agar Abby merubah permintaannya.
Abby yang berhati dingin tak peduli dengan tatapan memohon Gracia. Abby justru memberikan baju seragam OB kepada Gracia.
"Buka sekarang, dan karena aku masih punya hati aku berikan kamu seragam OB sebagai gantinya," ucap Abby sambil menyerahkan baju OB kepada Gracia.
"Bee, jangan seperti ini. aku tau aku salah, aku minta maaf," ucap Gracia dengan raut wajah mengiba. Tapi Abby tidak terpengaruh.
"Buka sekarang!" Abby setengah berteriak kepada Gracia, Abby menjadi tidak sabar.
Dengan perasaan terluka Gracia akhirnya mau menuruti perintah Abby.
" Dimana kamar mandiri, biar aku ganti baju disana," ucap Gracia dengan suara lirih. Airmatanya kini sudah membasahi kedua pipinya.
Abby menyuruh security untuk mengantarkan Gracia ke kamar mandi karyawan. Abby juga meminta agar security mengawasi Gracia jangan sampai Gracia lolos dari pandangan kedua security tersebut.
Dengan diantara oleh security Gracia menujuh kamar mandi untuk berganti pakaian. Gracia menangis di dalam kamar mandi.
Tok
Tok
__ADS_1
Pintu kamar mandi si ketuk oleh security.
"Nona mohon cepat pak Abby sudah menunggu nona," ujar salah satu security karena Gracia sudah cukup lama di dalam kamar mandi.
"Iya, sebentar," jawab Gracia.
Tak berapa lama kemudian Gracia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian seragam OB. Gracia sungguh sangat malu saat ini. Jika dia bisa menghilang saat ini sudah pasti Gracia akan menghilang saat ini juga. Gracia keluar dari kamar mandi dengan kepala yang tertunduk. Beberapa pegawai menatap Gracia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Cantik-cantik jadi OB, apa nggak salah," ujar salah satu karyawan setelah melihat penampilan Gracia barusan. Ingin rasanya Gracia merobek mulut karyawan tersebut karena sudah mengatainya sebagai OB. Garcia hanya bisa marah dalam hatinya.
Gracia dengan si kawal para security kembali ke dalamnya ruang kerja Sarfa, tempat Abby menunggu dirinya.
Gracia masuk kedalam ruangan sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu cocok ternyata dengan seragam OB itu," ujar Abby sambil tersenyum sinis.
"Bee, aku minta maaf ya. Tapi aku mohon jangan seperti ini," Gracia kembali memohon belas kasihnya Abby.
"Sekarang kamu lepas sepatunya karena itu juga di beli menggunakan uang ku," Abby kembali meminta Gracia melepaskan sepatunya.
"Bee, kalau sepatu juga di lepas aku pulang bagaimana?" ucap Gracia kini Gracia kembali meneteskan airmatanya.
"Aku tidak peduli, sekarang lepaskan sepatunya," balas Abby.
Gracia pun melepaskan sepatunya, kini kakinya telanjang tanpa alas kaki.
"Sekarang kamu boleh pergi," usir Abby.
Gracia pun langsung membalikkan badannya melangkah pergi. Tapi lagi-lagi Abby memanggilnya.
"Gracia berhenti," panggilan Abby. Langkah kakinya Gracia pun terhenti.
Abby segera menghampirinya Gracia dan memegang tangan Gracia, tanpa di sadari Gracia apa maksud Abby memegang tangannya ternyata Abby melepaskan cincin dari jari Gracia. Abby juga melepaskan kalung yang dikenakan oleh Gracia dengan cara di tarik.
"Ahh... " Gracia meringis karena leher tergores karena kalung di lehernya di tarik paksa oleh Abby.
" Sekarang kamu boleh pergi dari sini," sekali lagi Abby mengusir Gracia. Gracia keluar dari ruangan sambil di kawal oleh security.
__ADS_1
Sarfa sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Abby terhadap Gracia, Sarfa pun tidak menyangka jika Abby bisa bersikap kejam seperti itu terhadap Gracia.
Bersambung