
Di dalam ruangan kerja Abby, Sarfa dan Abby bukan membahas soal pekerjaan atau laporan-laporan kerja tapi justru sedang membahas soal pertengkaran antara Abby dan Arneta.
Sementara Abby dan Sarfa sedang berdebat handphone Abby berdering. Abby langsung mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celana. Abby membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Setelah tahu jika yang menghubunginya adalah bi Jum, Abby langsung menekan tombol hijau menerima panggilan tersebut.
"Bi, bagaimana Neta?" tanya Abby langsung tanpa basa-basi.
"Non Neta sudah bangun," jawab bi Jum.
"Terus, apa Neta ngamuk bi?" tanya Abby cemas.
"Tidak tuan, non Neta lebih tenang. Tadi non Neta juga sudah mau makan meskipun nggak banyak," jelas bi Jum.
Abby menarik nafas lega setelah mendengarkan penjelasan bi Jum.
"Sekarang Neta sedang apa bi?" tanya Abby.
"Non Neta habis sarapan terus minum obat, sekarang sudah tidur lagi," ucap bi Jum.
"Syukurlah, bi tolong jaga Neta dulu ya. masalah kerjanya bi Jum biarkan saja dulu," pinta Abby.
Sejujurnya Abby saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Arneta. Jika bisa memilih saat ini Abby lebih ingin berada di rumah menjaga Arneta.
Saat Arneta tertidur bi Jum merapikan kamar tempat Arneta tidur, yaitu kamar Abby. Sejak kemarin Arneta berada dan kamar tersebut. Bi Jum melihat Arneta sedang tertidur pulas antara cemas dan lega.
Masih di dalam kantor Abby, Sarfa kembali mengingatkan t Abby jika perbuatannya itu sudah sangat keterlaluan.
"Bagaimana kondisi Arneta sekarang?" ucap Sarfa.
"Sudah lebih tenang kata bi Jum," saut Abby.
"'Ingat Bee, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Apa kamu nggak kasihan sama istrimu itu? saya yakin diluar sana pasti banyak laki-laki yang menginginkan Arneta," ucap Sarfa. Abby pun terdiam.
__ADS_1
Abby kembali mengingat siapa saja yang pernah mencoba mendekati Arneta meskipun tahu jika Arneta sudah menikah. Abby teringat akan tetangganya yang ada di apartemen dia adalah Heru. Meskipun statusnya adalah seorang duda akan tetapi Heru tetap terlihat ganteng, Wanita mana yang mau menolaknya. Tanpa di minta pun perempuan-perempuan di luar sana akan menyodorkan dirinya.
Abby juga teringat akan mantan Arneta, yaitu Robby. Robby pun masih berusaha mendekati Arneta meskipun Arneta nyatanya lebih memilih menikah dengan Abby meskipun itu karena terpaksa. Abby pun pusing sendiri dengan pikirannya.
Sarfa melirik jam tangannya, sesuai dengan jadwal jam meeting tinggal beberapa menit lagi akan di mulai.
"Bee, sudah waktunya kita untuk meeting," Sarfa mengingatkan Abby.
Dengan gaya enggan Abby berdiri bersiap keruangan meeting.
"Afa, setelah meeting apa masih ada jadwal meeting yang lain?" ucap Abby lesu. Abby ingin segera pulang ke rumah pikirannya tidak tenang memikirkan Arneta.
"Habis meeting ini kamu pulang aja temani dulu istri mu, masalah kantor biar aku yang pegang," tutur Sarfa Abby pun merasa lega. Tanpa di minta ternyata Sarfa bersedia mengantikan dirinya sementara untuk mengurusi urusan kerjaan.
"Makasih ya Afa, kamu memang tempat terbaik," puji Abby. Sarfa membalas pujian Abby hanya dengan senyuman. Meskipun sebenarnya dalam hatinya Sarfa ingin sekali memberikan satu pukulan kepada Abby.
Abby dan Sarfa memasuki ruangan meeting, Abby segera memeriksa siapa saja yang hadir. Setelah merasa lengkap dan tak ada anggota yang mangkir Abby mulai memimpin rapat tersebut. Sementara meeting pikiran Abby terpecah menjadi dua, antara kerjaan dan Arneta.
Abby melajukan mobilnya dengan setengah mengebut, jarak yang biasanya di tempuh antara kantor dan rumah membutuhkan waktu empat puluh lima menit, kini hanya dengan waktu setengah jam Abby sudah sampai di rumah.
"Bi..." panggil Abby setelah sampai di dalam rumah.
Bi jum mendengarkan suara Abby memanggilnya bi Jum pun keluar dari dalam kamar Abby di lantai dua.
"Tuan saya disini," jawab bi Jum.
Abby mengangkat kepalanya dan melihat bi Jum sedang berada di lantai dua. Abby sedikit merasa lega karena bi Jum melaksanakan apa yang dilakukan perintahnya tadi.
Abby segera ke lantai dua menuju ke kamarnya. Karena pintu tidak di tutup oleh bi Jum Abby lagi dapat melihat Arneta yang sedang tertidur.
"Bi, Neta sudah makan siang?" tanya Abby.
__ADS_1
"Belum tuan, dari tadi Non Neta tidur," jawab bi Jum.
"Ya sudah sekarang bi Jum istirahat dulu biar aku yang jaga istri ku," ucap Abby.
"Tapi tuan, tua baru pulang belum istirahat dari semalam," ucap bi Jum khawatir.
"Aku baik-baik saja bi, nanti aku akan istirahat di samping Neta," ucap Abby yakin.
Setelah mendengarkan ucapan Abby bi Jum turun ke lantai satu dan langsung ke dalam kamarnya. Bi Jum ingin menghubungi nyonya dan mengatakan apa yang sudah terjadi saat ini. Bi Jum mengambil handphone miliknya dari dalam laci meja. Bi Jum mulai mengetik nama nyonya di layar handphone.
Setelah mendapatkan nomor yang ingin di hubungi bi Jum memencet tombol hijau untuk menyambungkan panggilan. Tapi setelah beberapa kali mencoba menghubungi bu Maya nyatanya panggilan tersebut tidak di jawab oleh bu Maya. Kembali seperti semalam hanya ada suara operator yang menjawab panggilan tersebut. Bi Jum pun binggung bagaimana cara menghubungi mamanya Abby..
Di dalam kamar Abby bergerak dengan sangat pelan karena, Abby takut jika Arneta akan terbangun jika mendengarkan suara. Abby langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Abby juga tidak ingin terlalu lama beranda dalam kamar mandi secepat mungkin Abby mandi.
Abby kekuar dari dalam kamar mandi dan menutup pintu sepelan mungkin. Abby berganti pakaian dan setelahnya Abby duduk di samping Arneta. Abby memandangi wajah Arneta dengan tatapan sedih.
"Neta maafin aku," ucap Abby dalam hatinya. Entah sudah berapa banyak kata maaf keluar dari bibir Abby.
Arneta tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter, setelah puas terlelap dalam tidurnya Arneta pun terbangun. Arneta membuka matanya secara perlahan-lahan dan memperhatikan keadaan di sekitar kamar. Setelah matanya terbuka sempurna dan nyawanya menyatu Arneta seolah terkejut mendapati dirinya berada di dalam kamar Abby.
Abby terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Arneta. Arneta memalingkan pandangannya menatap Abby. Rasa ketakutannya terhadap Abby belumlah hilang sepenuhnya.
"Kenapa aku masih disini?" tanya Arneta takut-takut.
"Neta, mulai sekarang kamar kamu disini ya," ucap Abby sambil tersenyum ramah.
"Tapi aku...aku takut jika ada disini," ujar Arneta, Arneta kembali memegang selimutnya dengan sangat erat.
Abby mendekati dirinya merubah posisi duduknya agar lebih dekat lagi dengan Arneta. Abby meraih tubuh Arneta dan memeluknya. Meskipun Arneta masih takut terhadap Abby nyatanya pelukan hangat Abby membuat dirinya merasa nyaman dan aman. Abby mengecup pucuk kepala Arneta dengan sangat lembut.
Bersambung
__ADS_1