
Wajah Abby langsung berubah warna merah seperti kepiting rebus, Abby menyembunyikan wajah malunya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Arneta mengerti bagaimana perasaan Abby saat ini. Arneta langsung melangkah dan mendekati Abby dan berdiri pas di sampingnya Abby.
Arneta meraih tangan Abby dan menggenggamnya erat. Arneta juga sadar jika dirinya juga ikut andil karena tidak memberi tahukan kepada Abby bahwa yang akan bertunangan hari ini adalah kakak kandungnya.
"Bee, kenalkan ini kakak aku, kak ini Abby suami aku," ucap Arneta memperkenalkan kedua orang tersebut.
Dalam hatinya Abby merasa bahagia karena Arneta secara tidak langsung sudah mengakui dirinya sebagai suami Arneta. Abby mengulurkan tangannya untuk berkenalan dan berjabat tangan dengan kakaknya Arneta, yang otomatis menjadi adik iparnya.
"Aku Abby, suaminya Neta, maaf tadi aku tidak tahu," ucap Abby.
Kakaknya Arneta pun menyambut uluran tangan Abby dan bersalaman.
"Gabriel, kakaknya Neta," ucap Gabriel.
Gabriel adalah nama kakak kandung dari Arneta, Gabriel memang beberapa tahun belakangan ini tinggal di Amerika. Kepulangannya di Jakarta selain untuk melamar kekasihnya tapi juga untuk mengurus beberapa kerja yang di tugaskan oleh perusahaan untuk mengurus anak cabang perusahaan yang ada di Indonesia.
Gabriel tersenyum kecil melihat Abby yang sudah salah tingkah.
"Neta, ternyata suami mu ini benar-benar mencintai mu," puji Gabriel. Arneta tersipu malu karena ucapan kakaknya.
"Neta, boleh tinggalkan kami berdua?" ujar Gabriel.
Deg
Jantung Abby langsung merasa ada yang tidak beres.
"Baiklah, tapi aku titip Abby ya, dan jangan macam-macam," ucap Arneta, Arneta mengatakan kalimat itu karena tau sifat kakaknya. Gabriel hanya tersenyum membalas ucapan adiknya.
Arneta pun pergi meninggalkan Abby bersama Gabriel. Setelah melihat Arneta yang sudah menjauh Gabriel maju satu langkah agar biar lebih dekat lagi dengan Abby. Jarak antara Abby dan Gabriel sudah cukup dekat. Kini tak ada lagi wajah ramah dari Gabriel. Ada kilatan kemarahan terpancar dari sinar matanya Gabriel.
Abby sadar jika saat ini dirinya sedang dalam ujian berikutnya. Dengan perasaan was-was Abby mencobah menenangkan hatinya yang mulai tak nyaman. Gabriel memberikan senyum kaku kepada Abby.
__ADS_1
"Aku tinggal di Amerika tapi bukan berarti aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada adik kesayangan ku," ucap Gabriel.
Tubuh Abby langsung menegang, Abby siap jika dirinya harus menerima bogem mentah dari iparnya. Abby tidak akan melawan. Abby diam tak bisa berkata-kata.
"Bersyukur karena Arneta masih memilih untuk tinggal sama kamu lagi dan masih memberikan kamu kesempatan kedua. Jika saja adikku tidak kembali pada mu aku bisa pastikan saat ini mungkin kamu sudah berada di rumah sakit, itu minimal. Jangan pernah kamu sakiti lagi hati adikku, karena aku tidak akan tinggal diam. Siapa pun yang berani menyakiti hati adikku bisa di pastikan dia pasti akan mendapatkan ganjarannya dariku," ujar Gabriel panjang lebar. Gabriel memperingati Abby agar supaya tidak mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya.Di setiap kata-kata yang diucapkan oleh Gabriel penuh dengan nada penekanan. Dan setelah selesai mengatakan kalimat panjang itu Gabriel langsung pergi meninggalkan Abby yang termangu.
Abby tak menyangka jika iparnya itu memiliki nyali yang begitu besar, Abby bisa melihat dan menilai Gabriel bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Dari segi penampilan dan bawaannya yang tenang menurut Abby, Gabriel termasuk laki-laki yang memegang teguh setiap kata-kata yang terucap dari mulutnya.
Namun sebenarnya tanpa di ancam oleh Gabriel pun Abby sudah berjanji pada dirinya akan membahagiakan Arneta kedepannya, Abby tak ingin mengulangi lagi perbuatannya yang menyakiti hati Arneta. Abby mencintai Arneta sepenuh hati.
Acara lamaran pun berlangsung, ternyata orang tuanya Abby juga ikut menghadiri acara pertunangan Gabriel. Bu Maya sangat bahagia melihat Abby dan Arneta sudah akur kembali. Bu Maya melihat beberapa kali Abby menggandeng tangan Arneta dan Arneta tidak pernah menolak.
Hampir empat jam acara berlangsung, Arneta dan Abby berpamitan pulang setelah para tamu undangan sudah pulang terlebih dahulu. Semua orang yang hadir di acara tersebut terlihat sangat bahagia Khusus Gabriel dan kekasihnya.
Arneta dan Abby pulang ke rumah, di dalam perjalanan Abby lebih banyak diam. Abby terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Bee, ada apa?" tanya Arneta.
"Kamu yakin, kakakku tidak mengatakan yang aneh-anehkan sama kamu?" Arneta kembali bertanya karena tak puas dengan jawaban Abby.
"Nggak kok, aku baik-baik saja," jawab Abby sambil memberikan senyum palsu pada Arneta.
Mobil yang di kendarai Abby yang membawa Arneta pun sampai di rumah. Arneta dan Abby masuk kedalam rumah secara beriringan dan Abby menggenggam tangan Arneta. jantung Arneta langsung berdegup kencang seperti habis lari maraton. Jika tadi Arneta membiarkan Abby menggenggam tangannya itu hanya untuk bersandiwara agar tak ada yang curiga dengan rumah tangganya. Terlebih kedua orang tuanya tidak boleh tahu keadaan rumah tangganya dengan Abby masih berjalan seperti saat mereka menikah dulu, tidur di kamar terpisah.
Abby menggandeng tangan Arneta sampai di depan pintu kamar Arneta. Abby ingin mencium pipi Arneta tapi ditahannya takut Arneta akan menghindar.
"Kamu istirahat dulu ya, aku ke kamar aku dulu," ucap Abby.
"Iya, kamu juga istirahat," jawab Arneta. Arneta saat ini sedang gugup tapi tidak terbaca oleh Abby. Arneta masuk kedalam kamarnya dan segera memberi dirinya. Begitu juga dengan Abby.
Jam sudah berlalu pukul tujuh malam, Arneta dan Abby kekuar dari dalam kamar secara bersamaan. Arneta sempat ketiduran tadi mungkin karena terlalu lelah tadi.
__ADS_1
"Neta, makan malam di luar yuk, mau nggak?" ujar Abby . Abby tak berharap jika Arneta menyetujui usulnya.
"Boleh, tapi apa kamu nggak capek?" balas Arneta.
"Nggak capek sama sekali," jawab Abby secepat kilat. Abby takut Arneta berubah pikiran.
"Mau makan dimana?" tanya Abby, Abby belum memikirkan tempat makan.
"Aku mau makan pecel ayam tempat langganan ku, boleh?" ujar Arneta.
"Boleh...," Abby langsung menyetujui usul Arneta. Abby tidak tahu tempat seperti apa pecel ayam tempat Arneta berlangganan.
Hanya menguntungkan baju santai Abby dan Arneta menuju tempat penjualan pecel ayam yang Arneta maksud. Arneta menyebutkan alamat tempat pecel ayam yang dimaksud. Abby langsung tancap gas menuju lokasi pecel ayam. Tiba di lokasi Abby langsung bisa melihat tenda penjual pecel ayam yang berwarna biru.
"Neta, ini tempatnya, kamu nggak salah pilih tempat?" ujar Abby tak yakin dengan lokasi yang di tunjuk Arneta.
Arne
ta tersenyum kecil melihat Abby yang heran dengan lokasi tempat Arneta berlangganan pecel ayam.
"Ayo masuk, aku sudah lapar," ujar Arneta sambil melangkah masuk kedalam tenda biru. Abby mengikut Arneta dengan perasaan tak yakin. Abby belum pernah makan ditempat seperti ini.
Arneta dan Abby langsung duduk di bangku panjang bergabung dengan beberapa orang yang sudah lebih dulu datang. Arneta langsung dua porsi untuk dirinya dan Abby, Arneta memesan pecel ayam kesukaannya. Beberapa saat kemudian pecel ayam pun sudah tersaji di depan mata Arneta dan Abby.
Arneta langsung menyantap pecel ayamnya, Sedangkan Abby ragu-ragu untuk menyentuh makanannya.
Arneta melihat Abby yang hanya diam segera memotek sepenggal ayam miliknya dan memberikan sambel pada ayam goreng langsung menyuapi Abby. Abby terkejut dirinya di suapi Arneta. Dalam hatinya Abby seperti ada kupu-kupu yang berterbangan.
Abby mengunyah ayam yang disuapin Arneta, rasanya yang enak membuat Abby tak ragu-ragu lagi untuk menyantap pecel ayam miliknya. Abby baru pertama kali makan pecel ayam ditempat seperti ini.
Makan malam pertama kali untuk Arneta dan Abby adalah di tenda biru pecel ayam pinggir jalan.Romantis bukan.
__ADS_1
Bersambung