CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 33 MERTUA DATANG


__ADS_3

Seminggu kemudian sejak Arneta mendengar perkataan Abby waktu itu Arneta tidak pernah lagi memasak untuk Abby, Arneta memasak hanya untuk dirinya sendiri. Arneta belajar untuk menjadi cuek tak memperdulikan apa yang di lakukan oleh Abby. Mau lapar atau belum makan Arneta tidak pernah menawarkan masakannya pada Abby lagi.


Arneta dan Abby kini kembali pada kesibukan masing-masing. Abby sibuk dengan urusan perusahaannya dan tentunya sibuk bersama dengan Gracia kekasihnya. Hubungan Abby dan Gracia terus berlanjut tentunya belum di ketahui oleh Arneta, terlebih lagi orang tua dari Abby sendiri.


Sedangkan Arneta kembali mengurusi toko butiknya. Kegiatan Arneta ini sama sekali tidak di ketahui oleh Abby ya karena Abby tidak peduli dan merasa apa pun yang di lakukan oleh Arneta bukanlah urusannya.


Hari mulai menjelang sore Arneta kini bersiap-siap untuk kembali pulang ke apartemen meskipun hal itu membuat Arneta merasa berat hati. Mau tak mau, suka ataupun tidak suka tempat Arneta pulang kini adalah apartemen milik suaminya.


Setelah selesai membereskan beberapa pekerjaan, Arneta menata kembali meja kerjanya agar rapi. Arneta tidak ingin meninggalkan ruang kerjanya dalam keadaan berantakan. Arneta merai tas jinjingnya dan beberapa map yang ingin di bawa pulang. Arneta ingin melanjutkan pekerjaannya di apartemen ingin memeriksa laporan selama satu minggu dirinya tidak masuk kerja karena cuti.


Setelah berpamitan pada karyawannya dan meninggalkan beberapa pesan Arneta keluar dari ruko hendak menuju tempat mobilnya terparkir. Sebelum Arneta sampai di mobil miliknya telpon genggamnya berbunyi. Arneta segera meraih benda pipi tersebut dari dalam tas, Arneta membaca sebuah nama yang tertulis mama Maya. Itu artinya ibu mertua yang menghubungi Arneta.


Arneta segera menekan tombol warna hijau yang tertera di layar handphonenya untuk menjawab panggilan tersebut.


"Halo ma...." sapa Arneta.


"Halo Neta, apakah kamu sedang sibuk?" tanya bu Maya.


"Ngga juga ma, sekarang Neta Uda mau balik ke apartemen," jawab Arneta.


"Oh baguslah, sekarang mama sama papa akan datang ke sana sekalian mau makan malam bareng," jelas bu Maya.


Arneta yang mendengar perkataan mama mertuanya langsung kalang kabut, Arneta takut jika mama sama papa mertuanya akan tahu kondisi pernikahannya dengan Abby.


"Oh iya mama, Arneta tunggu ya," jawab Arneta sungkan. Setelah memberikan jawaban sambungan telepon pun terputus.


Arneta kini menekan tombol yang ada di layar handphone miliknya mencoba mencari nama Abby suaminya, Arneta ingin memberi tahukan pada Abby jika kedua orang tuanya akan datang mengunjungi mereka. Tapi setelah Arneta berkali-kali mengetik nama Abby di layar handphonenya nama Abby tidak di temukan. Arneta lupa meskipun dirinya sudah menikah dengan Abby sudah hampir satu bulan nyatanya Arneta sama sekali tidak pernah menyimpan nomor suaminya. Jangankan menyimpan menanyakan nomor handphone milik Abby pun Arneta tidak pernah bertanya. Arneta akhirnya tidak bisa menghubungi Abby.


Arneta segera bergegas pulang ke apartemen tapi sebelumnya Arneta menyempatkan diri untuk mampir berbelanja di supermarket market untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan di masak olehnya.


Selesai berbelanja Arneta buru-buru pulang, Arneta ingin segera sampai di apartemen agar bisa menyiapkan menu makan malam untuk mertuanya. Arneta ingin orang tua Abby melihat bahwa dirinya bisa melayani Abby dengan baik. Meskipun itu nyatanya hanyalah kamuflase semata.


Tiba di Apartemen waktu untuk makan malam semakin mepet, Arneta dengan tergesa-gesa menuju lift yang akan membawa dirinya ke tempat unit apartemen yang ditinggalinya. Arneta tidak pernah ingin mengakui bahwa apartemen itu adalah miliknya karena itu adalah miliknya Abby. Arneta sadar bahwa dirinya hanyalah istri di atas kertas tidak lebih dari itu.


Ting

__ADS_1


Bunyi pintu lift terbuka.


Arneta sudah di lantai tempat unit apartemen yang menjadi tempatnya untuk pulang.


Arneta melangkahkan kakinya secepat mungkin, Tiba di depan pintu Arneta langsung meraih kunci pintu dalam tasnya dengan sedikit merepotkan karena barang belanjaannya berada dalam pelukannya.


Tanpa membersihkan diri Arneta langsung sibuk mengolah bahan makanan yang baru saja dibelinya, Dikarenakan waktu yang semakin mepet Arneta memilih membuat makanan yang mudah di buat. Saat ini Arneta memasak sayur asam, ayam goreng tak lupa juga sambel sebagai pelengkap.


Setelah selesai memasak Arneta segera menyusun rapi makan yang sudah di masaknya. Setelah itu Arneta segera masuk ke kamar untuk mandi. Bersiap untuk menyambut kedatangan mertuanya.


Selesai berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya bel pintu pun berbunyi. Arneta mencoba menebak siapa yang datang lebih dulu apa mertuanya atau Abby yang pulang. Arneta berpikir jika Abby yang pulang Abby tidak pernah membunyikan bel. Kini Arneta yakin jika yang datang oleh mertuanya.


Arneta segera bergegas untuk membukakan pintu. Benar saja dugaan Arneta yang datang adalah mertuanya.


"Malam mah, pah silahkan masuk," ajak Arneta.


"Makasih sayang..." ucap bu Maya sambil melangkah masuk bersama suaminya.


""Abby mana, apa sudah pulang?" tanya bu Maya sebelum duduk di sofa ruang tamu.


"Pah hubungi Abby suruh segera pulang," ujar bu Maya pada suaminya. Dan pak Ady pun segera menghubungi Abby sesuai permintaan istrinya.


"Mah pah mau minum apa biar Neta buatkan t," tawar Arneta.


"Makasih sayang, tidak usah biar sekalian makan saja," balas bu Maya.


"Ayo duduk disini," ujar bu Maya mengajak Arneta untuk duduk di sampingnya.


Sambil menunggu Abby pulang Arneta dan mertua asyik mengobrol sampai akhirnya pertanyaan ibu mertuanya membuat Arneta tidak bisa memberikan jawabannya karena binggung harus menjawab apa. Tapi untunglah di tengah kebingungannya Abby tiba-tiba masuk menyelamatkan Arneta dari pertanyaan yang bum ada jawabannya.


Abby masuk dengan wajah penuh senyuman tapi berbeda dengan tatapan matanya terhadap Arneta, tatapan mata itu mengartikan sebuah ancaman yang tersembunyi. Arneta yang sadar akan arti tatapan mata Abby hanya bisa tersenyum kecut. Tanpa di minta Abby pun Arneta tahu harus bagaimana bersikap agar orang tua Abby tidak khawatir, yaitu bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja.


Tanpa menunggu Abby membersihkan diri bu Maya langsung mengajak mereka semua untuk makan karena bu Maya sudah penasaran dengan masakan menantunya.


"Ayo kita makan, mama sudah lapar," ujar bu Maya. Dan mereka semua pun langsung menyetujui usul bu Maya.

__ADS_1


Di ruang makan di atas meja sudah tertata rapi masakan Arneta.


"Maaf mah Neta cuma bisa masak ini, tadi takut nggak keburu kalo masak yang lainnya," jelas Arneta.


"Tidak apa-apa, ini juga makanan kesukaan mama," balas bu Maya dengan mengembangkan senyum di wajahnya.


Mereka semua pun segera menyantap menu masakan Arneta, mama mertua memuji masakan Arneta karena menurutnya masakan Arneta sangatlah enak. Mama mertua tidak menyangka jika Arneta pandai memasak. Berbeda dengan Abby, Abby yang selama ini menolak tawaran Arneta untuk makan bersama akhirnya dengan terpaksa Abby ikut merasakan masakan istrinya, meskipun dirinya tidak secara langsung memuji masakan Arneta tapi di dalam hatinya mengakui masakan istrinya.


Setelah selesai menikmati makan malam dua pasang suami istri itu pun duduk di ruang tamu untuk melanjutkan obrolan mereka.


"Abby mama ingin tahu berapa besar jatah istri mu perbulannya?" ucap bu Maya. Pertanyaan itu membuat Arneta dan Abby terkejut. Apa lagi Abby karena selama ini Abby belum pernah memberikan uang bulanan untuk Arneta.


"Abby...." panggil bu Maya.


"Eh...itu..ehh...." Abby binggung harus menjawab apa.


"Itu artinya kamu belum pernah ngasih uang sepeser pun pada istri mu," tebak bu Maya setelah melihat sikap abby.


"Sekarang mana dompet mu,". ujar bu Maya sambil menyodorkan tangannya.


"Buat apa mah?" tanya Abby.


"Sekarang kasih atm mu sama Neta," perintah bu Maya.


"Tapi mah...," sanggah Abby keberatan.


"Abby, sekarang..!" ujar bu Maya menoleh, penolakan Abby.


Dengan hati berat Abby mengeluarkan atm miliknya dari dalam dompet.


"Bukan yang itu...," protes bu Maya. Abby kini kembali mengambil salah satu atm berwarna gold untuk di serahkan pada Arneta.Arneta tidak berani menolak pemberian Abby karena itu akan menimbulkan kecurigaan pada mertuanya.


Setelah memberikan atm berwarna gold hati Abby meringis sedih, berbeda dengan bu Maya dan pak Ady, orang tuanya Abby tersenyum bahagia.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih sudah setia menunggu up novel ini.๐Ÿ™ makasih juga untuk like dan comen juga๐ŸŒนโค๏ธ๐Ÿ™.


__ADS_2