
Sudah lewat dari tiga hati semenjak kejadian itu, Arneta mulai terbiasa tidur di kamar Abby. Tapi meskipun Arneta dan Abby tidur sekamar mereka berdua tidak melakukan hubungan suami-istri. Abby benar-benar menjaga Arneta dengan sangat baik. Abby tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Abby takut.
Kesehatan Arneta semakin membaik meskipun belum pulih dengan sepenuh. Arneta juga masuk kerja karena kondisinya yang belum memungkinkan dan lagi pula Abby tidak mengijinkan Arneta bekerja saat ini.
Abby kini mulai membiasakan dirinya jika hendak berangkat kerja lebih dulu untuk berpamitan dengan Arneta. Arneta juga mengantarkan Abby sampai terasa rumah, Arneta akan masuk kedalam rumah setelah mobil Abby sudah keluar dari gerbang rumah.
Abby tiba di kantor dan segera memulai aktivitas rutin yang biasa di lakukannya. Fokus Abby sedang berada di layar laptop. Dengan sangat teliti Abby mulai memeriksa hasil kerja karyawannya.
Hari semakin siang biasanya Sarfa sudah lebih dulu menghampiri Abby untuk mengingatkan untuk makan siang. Abby melirik jam tangannya sudah pukul dua belas Sarfa belum juga keruangannya. Abby berinisiatif untuk menghampiri Sarfa terlebih dahulu. Abby berpikir jika saat ini Sarfa mungkin sedang sibuk.
Abby keluar dari ruangannya dan mencari Sarfa do dalam ruangan kerjanya. Abby tiba di pintu ruangan tempat Sarfa bekerja. Sebelum masuk Abby mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi sudah beberapa kali Abby mengetuk nyatanya aku ada sahutan dati dalam.
Abby membuka pintu dan segera masuk kedalam ruang kerjanya Sarfa. Abby mencari Sarfa dalam ruangan tersebut namun Abby tidak menemukan Sarfa di sana.
Abby duduk di kursi tempat Sarfa duduk ketika sedang bekerja. Abby berniat untuk menunggu Sarfa di dalam ruangannya.
Abby duduk sambil memperhatikan ruang kerja Sarfa.
"Lumayan rapi...," puji Abby setelah melihat kerapian yang ada dalam ruangan tersebut. Abby mengetukkan jarinya di atas meja. Mata Abby melihat sebuah amplop coklat berukuran sedang tergeletak di atas meja. Abby mencoba mengabaikan amplop tersebut. Tapi semakin Abby abaikan rasanya amplop itu memanggil Abby untuk membukanya.
Rasa penasaran Abby pun muncul, Abby berpikir positif bahwa amplop itu berikan laporan hasil kerja karyawan kantor. Abby membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Mata Abby langsung terbelalak setelah melihat lembaran foto yang jatuh dari amplop itu.
Dengan perasaan bergemuruh emosi Abby terpancing. Amarah yang sempat reda beberapa hari belakangan kini meluap. Abby mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya lebih dekat lagi. Mata Abby yang masih sehat dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang ada dalam foto tersebut.
Abby kembali mengeluarkan selembar kertas yang bertuliskan laporan. Abby membacanya kata demi kata.
Sarfa kembali kedalam ruangannya setelah mengurus beberapa hal. Karena Sarfa berpikir ini adalah ruangnya Sarfa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek
Sarfa membalikkan badannya untuk menutupi kembali pintu tersebut.
"Huaa....!" teriak Sarfa karena melihat Abby yang sudah berada di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Ampun Bee, kamu itu ngagetin aja," ucap Sarfa Sambil mendekati meja kerjanya.
Abby tidak mengangkat kepalanya untuk melihat Sarfa, seolah tidak terganggu dengan teriakan Sarfa barusan. Mata Abby masih terus memandangi lembaran foto yang jumlahnya lumayan banyak.
Setelah mendekat Sarfa kembali dikejutkan oleh Abby yang sedang memandangi foto-foto tersebut. Sarfa menarik nafas dalam-dalam, ada perasaan bersalah dan takut menghantuinya. Sarfa menelan ludah dengan susah paya di tenggorokannya seperti ada batu yang mengganjal.
Sarfa menarik kursi yang ada di sebrang meja dan duduk langsung berhadapan dengan Abby.
"Bee, aku minta maaf," ujar Sarfa.
"Maaf, maaf untuk apa," jawab Abby dingin. Kepalanya terangkat dan menatap Sarfa seperti sedang menahan marah. Sarfa merinding melihat Abby yang menatapnya.
"Itu...em..aku...," hanya kata-kata yang tak berarti yang keluar dari mulut Sarfa.
"Sejak kapan...?" tanya Abby dingin.
"Maaf Bee, aku tidak bermaksud," ujar Sarfa ragu-ragu.
"Aku menyelidiki Gracia sudah hampir satu bulan lebih," akuh Sarfa jujur.
"Sudah satu bulan lebih dan kamu tidak pernah mengatakan ini pada ku?" ucap Abby marah.
Yang di lihat Abby barusan adalah hasil laporan yang di berikan oleh Tommy, orang yang di tugaskan oleh Sarfa untuk menyelidiki Gracia setelah Sarfa melihat Gracia di sebuah restoran sedang bermanja-manja ria dengan asistennya. Meskipun Sarfa sudah bisa menebak hubungan dengan antara Gracia dengan asistennya tapi Sarfa tidak ingin gegabah dan asal menuduh. Sarfa mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu baru akan menyampaikan apa yang dirinya tau tentang perselingkuhan Gracia.
Sarfa tidak ingin disalahkan karena dirinya tidak memberitahukan Abby tetang Gracia yang berselingkuh.
"Jangan salahkan aku Bee, kamu sadar nggak setiap kali aku membicarakan Gracia kamu selalu marah dan tidak suka mendengarkan jika aku mengatakan keburukan Gracia," bela Sarfa.
Abby bisa mengerti jika memang itu alasannya Sarfa tidak mengatakan apa-apa.
"Sudah berapa lama?" tanya Abby.
"Ha... maksudnya? tadi kan aku sudah kasih tahu sudah satu bulan lebih," ucap Sarfa binggung.
__ADS_1
"Maksud ku sudah berapa lama Gracia menjalin hubungan dengan asistennya" jelas Abby.
"Soal itu kurang tau, yang pasti Gracia sudah lama memperkerjakan asistennya," jawab Sarfa.
Abby tersenyum kecut ada rasa pahit di hatinya. Abby tidak menyangka jika Gracia mampu menduakan cintanya.
"Blokir atm yang aku berikan padanya sekarang juga," perintah Abby.
"Hanya itu Bee?" ujar Sarfa. Sarfa sekali lagi terkejut karena Abby.
"Hanya itu?"Abby mengulangi kata-kata Sarfa.
"Kamu pikir aku akan diam saja setelah di tipu mentah-mentah oleh perempuan itu, lihat saja apa yang akan ku lakukan pada perempuan sialan itu," tutur Abby penuh penekanan.
Sarfa merasa lega karena tahu Abby tidak akan melepaskan Gracia begitu saja. Sarfa segera menghubungi pihak bank dan meminta agar kartu atm Abby dengan no seri sekian agar segera di blokir sesuai dengan perintah Abby.
"Bee, maaf ya. Aku lakukan ini semua karena tidak ingin Gracia terus memanfaatkan kamu," jelas Sarfa.
"Maaf, maaf untuk apa? seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu sudah membuka mata hatiku. kalau nggak ada kamu perempuan itu pasti akan terus membohongiku,dan uangku akan di kuras terus-terusan sama perempuan itu," balas Abby panjang lebar.
Sarfa pun tersenyum senang karena Abby ternyata tidak marah padanya.
"Afa tau ngga Neta aku suruh habiskan uang dua puluh juta dalam sebulan tapi dianya malah binggung dan menolak," ucap Abby.
"Ha, masa...kan cuma dua puluh juta. apa masih kurang?" tanya Sarfa sambil mengerutkan dahinya.
"Bukan kurang, tapi kamu tahu nggak apa jawabannya, bagaimana aku menghabiskan uang dua puluh juta dalam sebulan," Abby mengulangi kata-kata Arneta.
"Bee, seharusnya kamu bersyukur punya istri seperti itu, kalau bisa pertahankan," ujar Sarfa memberikan saran.
Abby tersenyum kecut mendengar perkataan Sarfa.
"Seandainya saja perjanjian bodoh itu tidak pernah aku buat, mungkin aku akan menjadi laki-laki yang beruntung karena menikah dengan Arneta," kata Abby dalam hatinya.
__ADS_1