CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 15 MENANGIS DALAM DIAM


__ADS_3

Arneta mengambil posisi duduk di balik pintu memasang kupingnya menempel rapat di balik pintu siapa mendengarkan kelanjutan pembicaraan kedua orang tuanya.


"Ya jika seandainya Nita menolak perjodohan ini apa yang akan kita lakukan dan apa yang akan kita katakan kepada Jaya dan Maya?" tanya Bu Nola pada suaminya dengan perasaan cemas.


"Ayah juga tidak tahu apa yang akan ayah lakukan dan apa yang akan ayah katakan kepada Jaya dan Nola nantinya jika benar-benar Neta menolak perjodohan ini Bu," Jawab pak Ady dengan nada tak kala cemas.


"Ayah sudah berhutang banyak pada Jaya, kan kamu tahu sendiri Bu kuliah ayah sebagian besar dibiayai oleh keluarganya  Jaya, ayah sangat berhutang budi pada mereka, jika Neta benar-benar menolak perjodohan ini ayah benar-benar merasa malu kepada Jaya. Ayah takut mereka akan berpikir bahwa ayah tidak tahu berbalas budi," sambung Pak Ady dengan kalimat panjang. Ada gelisah yang menyeruak di hati pak Ady.


"Ibu mengerti dengan perasaan ayah saat ini, tapi biar bagaimanapun ayah akan mendukung keputusan anak kita kebahagiaan Neta yang terpenting," ucap Bu Nola.


"Iya itu juga ayah pikirkan, jika Neta menolak perjodohan ini ayah bisa mengerti dan bisa menerima semuanya ke depannya kita lihat apa yang akan terjadi ayah ikhlas jika ayah dicap sebagai orang tidak tahu berbalas budi oleh Jaya," ucap pak Adi dengan nada pasrah.


      Di balik pintu Pak Adi dan Bu Nola istrinya tidak tahu jika percakapan mereka ini telah didengar seluruhnya oleh Neta.


Arneta duduk meringkuk memeluk kedua lututnya air matanya mengalir dengan deras, Arneta berusaha menahan suara tangisnya tidak sampai terdengar oleh kedua orang tuanya.


      Perasaan Arneta kini bercampur aduk, sedih jelas tergambar dari raut wajahnya. Kecewa jelas, Arneta kecewa kepada Robby karena sudah berkali-kali menolak ajakan Arneta supaya Robby bertemu dengan kedua orang tuanya. Marah, Arneta tidak tahu harus marah kepada siapa harus melepaskan amarahnya, apakah kepada orang tuanya atau kepada dirinya bahkan kepada Robby. Saat ini Arneta hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

__ADS_1


     Entah berapa lama Arneta duduk di balik pintu itu yang Arneta rasakan saat ini kakinya terasa kebas mati rasa karena terlalu lama duduk di lantai dengan posisi kaki tertekuk. 


     Arneta berusaha bangun dari duduknya, meskipun kakinya kini mati rasa tapi Arneta berusaha berjalan meskipun langkah kakinya tertatih. Cukup sudah Arneta mendengar percakapan kedua orang tuanya, Arneta tidak ingin mendengarkan percakapan selanjutnya kedua orang tuanya karena itu akan semakin membuat hati Arneta semakin sakit dan sedih.


       Setelah mencapai tempat tidur meskipun harus bersusah paya Arneta merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasurnya yang empuk.Arneta mencoba tak merasakan kebas di kakinya matanya kini tertuju pada bingkai foto yang terpajang di salah satu dinding kamarnya, ada rasa perih terasa di hati Arneta. Sebuah gambar foto yang di sana tergambar jelas bahwa Arneta memiliki keluarga yang bahagia, foto itu di ambil sehari sebelum keberangkatan kakaknya Arneta bekerja di luar negeri.


Arneta kembali bangkit dari tidurnya, Arneta meraih foto keluarganya dan mendekapnya dengan erat. Ada rasa rindu kini menyapa hati Arneta, rindu akan sosok kakak laki-laki satu-satunya.


Arneta kembali duduk di atas kasur masih mendekap foto tersebut.


"Kakak jika kamu ada di sini kamu pasti akan membantu Neta mencari jalan keluarnya," lirih Arneta lagi.


Setelah puas memeluk foto keluarganya Arneta memposisikan badan berputar sebelah kiri, tangannya mencoba membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur milik Arneta.


Setelah berhasil membuka laci tersebut tangan Arneta mencoba meraih suatu benda yang dirinya simpan dalam laci tersebut.benda yang di maksud dan di cari oleh Arneta itu adalah sebuah foto dirinya bersama dengan Robby. Setelah mendapatkan apa yang di carinya Arneta memandangi foto tersebut dan langsung memeluk foto tersebut dengan erat, ada rasa aneh yang tiba-tiba menusuk hati Arneta, entah rasa apa itu Arneta tidak mengerti. Perasaan ini baru pertama kali di rasakan oleh Arneta.


  Mata Arneta kini bukan hanya sembab biasa lebih terlihat bengkak, begitu juga dengan hidung, hidung Arneta menjadi merah. Tapi meskipun maka Arneta telah membengkak air matanya masih saja terus mengalir seperti anak sungai yang terus mengalirkan air.

__ADS_1


     Arneta memandangi foto dirinya dengan Robby, di foto itu terlihat mereka sedang mereka berdua sedang tersenyum bahagia.


"Robby apa yang harus aku lakukan sekarang bagaimana caranya aku mempertahankan cinta kita?" Lirik Arneta dalam hatinya.


"Robby, kenapa cerita cinta kita harus seperti ini aku selalu mencintaimu aku berat untuk melepaskan mu tapi aku juga bingung saat ini aku tidak mungkin mengecewakan orang tuaku. Jika waktu dapat aku putar kembali aku memperbaiki keputusanku yang merahasiakan hubunganku denganmu. Jika aku tahu akhirnya aku akan dijodohkan aku juga tidak mungkin membuka hatiku untukmu," Arneta berbicara pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat pelan takut terdengar oleh kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang tengah.


Arneta memeluk kembali foto dirinya dengan Robi dengan sangat erat sholat takut kehilangan. Jam sudah menunjuk pukul da belas malam lewat lima belas menit tapi mata Arneta masih saja terus terbuka seolah enggan untuk merapat. Arneta  tahu jika  orang tuanya sudah kembali ke dalam kamar milik mereka, itu karena Arneta dapat melihat dari ventilasi di atas pintu kamarnya sudah tidak ada lagi cahaya lampu yang menyala.


      Arneta sudah berkali-kali merubah posisinya agar tubuhnya bisa merasa nyaman supaya bisa tertidur, nyatanya usahanya sia-sia. Mata Arneta tetap terbuka lebar memandangi langit-langit kamarnya pikirannya pun melayang-layang entah ke mana dengan hati yang gundah. Arneta terus memikirkan cara agar dirinya bisa menolak perjodohan ini, tapi semakin di pikirkan Arneta semakin tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Hal ini justru membuat kepala Arneta terasa sakit dan pusing.


Meskipun demikian Arneta masih tetap belum bisa memejamkan matanya solah rasa kantuk itu engan menyapa mata Arneta.Saking sulitnya Arneta untuk memejamkan matanya Arneta mengambil posisi duduk di atas kasurnya yang empuk, matanya memandangi sekeliling kamar untuk mencari sesuatu yang dapat  dilakukannya saat ini. Mata Arneta tertuju pada laptop yang terletak di meja riasnya.


  Arneta segera bangkit daru duduknya dan mengambil laptop tersebut. Arneta membuka sebuah aplikasi novel online. Arneta mencari judul-judul cerita yang di pikirnya menarik untuk di baca. Entah berapa lama Arneta berselancar di dunia maya hingga rasa kantuk itu datang menyapanya.


Bersambung


       

__ADS_1


__ADS_2