CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 14 JODOH UNTUK ARNETA


__ADS_3

"Ayah, tadi kata ayah ingin mengatakan sesuatu pada Neta Apa itu?" tanya Nita meskipun hatinya dilanda kegundahan yang amat sangat Neta memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya.


"Nanti aja setelah selesai makan malam baru ayah sama ibu akan bicara sama Neta," jawab ayah Arneta.


"Kenapa nggak sekarang ya? Neta jadi penasaran," tutur Arneta.


"Nanti aja ya saya sudah makan malam," sekali lagi ayah Arneta menegaskan ucapannya tadi.


Ibu Nola yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara suami dan anaknya membuatnya hatinya sedikit cemas, ibu Nola merasa khawatir jika apa yang akan dibicarakannya nanti akan membuat hati anaknya bersedih dan satu lagi ibu Nola khawatir jika rencana perjodohan antara putrinya dan putra sahabatnya akan ditolak oleh Arneta.


Sambil menunggu jam makan malam baik Arneta ayahnya dan ibu Nola menikmati waktu sebentar mereka dengan berbagi cerita sambil bercanda, tak Ada beban sedikitpun yang tergambar dari wajah Pak Adi dan Bu Nola hanya Neta saja yang merasakan kegelisahan, tapi rasa gelisahnya itu bisa ditutup rapat oleh Arneta.


Tibalah waktunya untuk makan malam, jam sudah sudah menunjukkan pukul 18.30. ibu Nola dan arnita segera menuju ke ruang tengah tepatnya ruang makan untuk menata meja makan dengan meletakkan makanan yang tadi sudah disiapkan oleh ibunya ke dalam mangkok dan piring kecil untuk meletakkan lauk pauknya.


"Yah ayo makan,"ajak Arneta.


"Oke ayah juga sudah lapar nih," Pak Ady.


Pak Adi dan Anita segera melangkah kembali ke ruang ruang makan. Tadi duduk di samping istrinya.


"Ayo kita makan," kata bu Nola.


"Wah menu hari ini semuanya masak-masakan kesukaan ayah, terima kasih ya bu sudah masakin ayah," ucapan pak Ady sebagai rasa terima kasihnya kepada istrinya.


Malam ini Pak Adi menikmati makan malamnya dengan sangat lahap berbeda dengan Neta, Arneta hanya mengambil makanan setengah dari porsi biasanya yang dia makan. Semua gerak-gerik Arneta diperhatikan oleh Bu Nola, Bu Nola merasa ada yang mengganggu pikiran anak gadisnya ini. Bu Nola ingin tahu apa yang sudah mengganggu Arneta.


"Wanita sayang kamu kenapa? Apa kamu sedang tidak enak badan atau ada yang mengganggu pikiranmu nak?" Tanya bunuhlah setelah tak tahan melihat gerak-gerik Neta dan tidak seperti biasanya.


"Ah... Hanya kata itu yang keluar dari perut aneta. Wanita terkejut mendengar pertanyaan dari ibunya barusan.


"Data baik-baik saja Bu," ucap aneta sedikit ragu-ragu.


"Kamu yakin ya beneran kamu tidak apa-apa?" Sekali lagi Bu Nola bertanya pada Arneta.


"Iya Bu Nita baik-baik saja mungkin perutnya aja yang sedang tidak enak Bu," jawab Anita dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Ya sudah nanti habis makan perutnya digosok minyak angin ya nak," ucapan ulang mengingatkan Arneta.


Tiga puluh menit sudah berlalu dan acara makan malam bersama keluarga pak Ady pun selesai.


Pak Adi setelah membantu istrinya membereskan piring bekas mereka makan segera kembali duduk di ruang tengah. Pak Adi sengaja duduk di ruang tengah menunggu Arneta keluar dari kamarnya.


Areta setelah selesai mengoleskan minyak angin kabarnya sesuai yang disarankan oleh ibunya, Arneta keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya di ruang tengah.


Arneta mengambil posisi duduk tak jauh dari ayahnya sedangkan Bu Nola duduk di tengah-tengah antara suaminya dan anaknya.


Kini tiba saatnya Pak Adi mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada putrinya, Arneta.


"Neta sayang ayah ingin menyampaikan sesuatu kepadamu tapi sebelumnya ayah ingin bertanya sesuatu kepadamu dan ayah harap Neta bisa menjawabnya dengan jujur," ucapan Adi sambil memandang wajah Arneta.


"Iya ayah katakan saja apa yang ingin ayah tanyakan sama Neta," balasan Arneta.


"Ayah ingin bertanya padamu nak, sebenarnya ada hubungan apa kamu sama nak Robby?" Ucap pak Ady.


Arneta tertegun mendengar pertanyaan ayahnya, meskipun pertanyaan ini sudah dipertanyakan berkali-kali oleh ayahnya tetap saja membuat Arneta tidak siap menjawab atas pertanyaan ayahnya ini.


"Apa benar itu Neta bahwa kamu sama Robby hanya berteman baik?" Sekali lagi pak Ady menegaskan pertanyaannya.


"Benar Yah Neta sama Robby hanya berteman," sekali lagi Arneta berbohong pada ayahnya, jauh di dalam hatinya Arneta mengucapkan kata maaf karena sudah berkali-kali berbohong kepada ayahnya tentang hubungannya dengan Robby.


"Apakah Nita sudah punya pacar?" Tanya pak Ady penuh sidik.


"Nita tidak punya pacar Yah," jawaban Arneta.


"Baiklah kalau kamu memang belum punya pacar sesungguhnya ayah sama ibu ingin menjodohkan kamu dengan seseorang," ucapan sambil menatap lekat ke arah putrinya.


Byurrr...


Tubuh Arneta langsung terasa dingin seketika, seperti di guyur air es, meskipun dirinya tahu bahwa dirinya akan dijodohkan akan tetapi Arneta tidak pernah siap akan hal ini. Arneta terpaku diam sesaat, membisu mencoba kembali mencerah kata-kata ayahnya barusan.


"Neta.. panggil ibu Nola menyadarkan aneta dari kebisuannya.

__ADS_1


"Ya bu..."jawaban Neta dengan raut wajahnya yang sulit diartikan.


"Apakah kamu bersedia menerima perjodohan ini?" tanya Bu Nola.


"Maaf ya maaf Bu apa boleh minta tahu apa alasannya dijodohkan?" tanya Arneta dengan suara bergetar.


"Sebenarnya perjodohan ini sudah dibicarakan saat waktu kamu masih kecil nak," jawab pak Ady memberikan penjelasan atas pertanyaan Putrinya.


"Tapi kenapa, haruskah Neta dijodohkan?" ucapan Arneta dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Maafkan kami nak tapi perjodohanmu sudah dibicarakan jauh-jauh hari bahkan saat kamu masih kecil," balas pak Ady dengan perasaan bersalah.


Bu Nola meraih tangan Arneta berusaha menenangkan putrinya dengan membelai lembut tangan putrinya.


"Yah apakah Neta mengenal orangnya?" tanya Arneta, dirinya pun ingin tahu siapa kira-kira pria yang sudah dijodohkan dengannya.


"Dulu waktu kalian masih kecil kalian berdua pernah bertemu tapi mungkin kamu sudah lupa dengannya," cerita pak Ady.


"Dia adalah anak dari sahabat ayah," sambung pak Ady lagi.


"Maaf ya, jika seandainya Neta menolak perjodohan ini bagaimana?" tanya Arneta ragu-ragu.


"Keputusannya berada di tanganmu nak jika kau benar kamu tidak bisa menerima perjodohan ini ayah bisa mengerti," jawab pak Ady dengan wajah sendu. Dan perubahan raut wajah Pak Adi dilihat dengan jelas oleh Arneta.


"Ayah ibu berikan Arneta waktu untuk berpikir apakah menerima perjodohan ini atau tidak," jawaban Arneta.


"Baiklah nak apapun keputusanmu ayah sama ibu akan menghargai dan menghormati apapun keputusanmu," balas pak Ady.


"Kalau begitu Neta pamit ke kamar dulu ya, Neta ingin istirahat," ucap Arneta.


"Ya udah kamu istirahat dulu biar besok badanmu lebih enakan lagi," ucapan Bu Nola. Arneta pun langsung berdiri melangkah menuju ke kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu.


Sesampainya di kamar Arneta mengunci rapat pintunya tapi wanita tidak langsung menuju ke kasurnya yang empuk melainkan tetap berdiri di balik pintu mencoba mendengar kelanjutan percakapan antara ayah dan ibunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2