
Hubungan antara Arneta dan Abby semakin membaik, Abby selalu menyempurnakan dirinya untuk antara jemput Arneta di toko butiknya. Dari sikap Abby yang selalu menomorsatukan Arneta membuka Arneta perlahan-lahan mulai membuka hatinya untuk Abby. Abby dan Arneta sering kali menghabiskan waktu berdua jika sedang libur.
Sementara itu saat ini Garcia sedang mengalami masa-masa krisis, keuangan menurun drastis, hampir semua uang Gracia di kuras habis oleh asistennya yang merupakan kekasihnya juga. Kondisi Gracia kini sedang berbadan dua, tapi sayangnya kekasihnya justru meninggalkan Gracia dengan membawa uang tabungan Gracia.
Gracia saat ini benar-benar memperhatikan, tak ada lagi job pemotretan ataupun iklan yang menggunakan jasanya sebagai seorang model. Di tengah keterpurukannya Gracia mencoba mencari cara agar kehidupannya kembali normal seperti dulu lagi. Entah datang dari mana tiba-tiba Gracia teringat akan seseorang yang dulu pernah mencintainya.
"Sebaiknya aku datang menemuinya," ucap Gracia dalam hatinya.
Setelah mendapatkan ide itu Gracia langsung bersiap-siap untuk menemui orang tersebut. Gracia memilih baju yang menurutnya cocok untuk dikenakan saat dirinya datang menemui orang tersebut.
Di tempat yang berbeda Arneta sedang berada dalam kamarnya, Arneta ingin membenahi isi lemari pakaiannya. Dan Abby sedang berada di bawah di ruang tengah. Abby sedang memeriksa beberapa laporan yang masuk ke dalam email nya.
Arneta membuka pintu lemari pakaian dan tiba-tiba kepala Arneta di penuhi oleh potongan-potongan gambar, Arneta seolah-olah bisa melihat isi kepalanya. Kepada Arneta menjadi sakit. Arneta bisa melihat kembali bagian masalalunya bersama Abby. Semua peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya kini muncul di kepalanya Arneta.
Hal terakhir yang fi lihat Arneta adalah ketika saat Arneta sedang berbicara dengan Abby sebelum dirinya nekat mencobanya untuk bunuh diri. Arneta seolah-olah kembali pada kejadian waktu itu. Arneta masih bisa mendengar ucapan Abby yang mengatakan bahwa Abby sangat membencinya dan bukan hanya itu, Arneta juga bisa mendengarkan ucapan Abby meminta Arneta untuk menghilang dari kehidupannya.
Karena potongan-potongan gambar itu terus berputar di kepala Arneta yang menyebabkan kepala Arneta menjadi semakin sakit dan rasa sakit itu tak bisa lagi di tahan oleh Arneta, akhirnya jatuh pingsan. Arneta tak sadarkan diri.
Beruntung Abby kelantai atas hendak ke kamarnya, Abby mendengar seperti ada benda keras yang jatuh di kamar Arneta. Karena perasaan cemas takut terjadi sesuatu pada Arneta, Abby mencoba memanggil Arneta. Abby sudah beberapa kali memanggil Arneta dari luar pintu tapi tak ada jawaban dari Arneta.
Abby memberanikan diri untuk masuk kedalam kamarnya Arneta, Abby masuk sambil memanggil Arneta.
"Neta....!" Abby terkejut melihat Arneta sudah berada dilantai dengan kondisi tak bergerak. Abby langsung menjadi panik.
"Neta... Neta....!" panggil Abby sambiloto menepuk-nepuk pipinya Arneta. Sudah Beberapa kali Abby memanggil Arneta tapi tak ada respon sedikitpun. Abby langsung mengangkat tubuh Arneta dalam menggendongnya.
"Bi....!" teriak Abby memanggil bi Jum.
"Bi....!" sekali lagi Abby berteriak memanggil wanita paruh baya itu.
Bi Jum datang tergopoh-gopoh menghampiri Abby, bi Jum terkejut melihat Arneta dalam gendongan Abby.
__ADS_1
"Tuan, non Neta kenapa?" tanya bi Jum merasa khawatir.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Abby.
""cepat suruh supir siapkan mobil," sekali lagi Abby memberikan perintah pada bi Jum.
Bi Jum langsung melaksanakan perintah yang diberikan oleh Abby. Bi Jum langsung menemui supir di yang sedang berada di pos satpam yang berbeda pas di depan rumah.
Setelah mendapatkan informasi dari bi Jum supir itupun langsung menuju garasi mobil untuk mengeluarkan mobil bersiap mengatakan majikannya ke rumah sakit. Abby segera memasukkan tubuh Arneta kedalam mobil.
"Cepat ke rumah sakit sekarang!" Abby memberikan perintah kepada supirnya. Dan tanpa di perintah untuk kedua kalinya supir pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Arneta masih belum sadarkan diri. Arneta di bawah keruang UGD rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan dokter.
Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Arneta, dokter itu menemui Abby yang menunggu du depan ruang UGD.
"Keluar pasien ibu Arneta!" panggil dokter. Dengan cepat Abby langsung mengacungkan tangan keatas dan menghapiri dokter tersebut.
"Apakah istri bapak punya penyakit yang berhubungan dengan kepala?" tanya dokter.
"Istri saya mengalami amnesia dok," jawab Abby.
"Sebenarnya istri bapak baik-baik saja, cuma mungkin istrinya mungkin mencoba mengingat masa lalu jadi itu penyebabnya istrinya pingsan," jelas dokter.
Deg
Abby langsung berfirasat tak enak setelah mendengarkan penjelasan dokter barusan. Jika Abby boleh meminta, Abby ingin agar ingatan Arneta tidak pernah kembali. Kedepannya egois memang tapi Abby memiliki alasan tersendiri. Abby takut jika ingatan Arneta kembali, maka Arneta mungkin akan meninggalkannya.
Abby hanya tersenyum kecil dengan ekspresi wajah cemas.
"Sekarang bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Abby.
__ADS_1
"Istri bapak baik-baik saja, tapi untuk memastikan kondisi istri bapak, istrinya harus mengingat di rumah sakit dulu untuk pemeriksaan berikutnya," jawab dokter.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Abby.
Sementara menunggu Arneta di pindahkan ke ruang perawatan, pikiran Abby terpecah, rasa khawatir dan rasa takut bersarang di hati dan pikiran Abby. Meski begitu Abby sedikit merasa lega karena ternyata Arneta hanya pingsan bukan seperti yang di khawatirkan Abby.
Sementara Abby berada di rumah sakit Gracia sudah berada di halaman rumah Abby. Gracia datang kerumahnya Abby dengan maksud dan niat tertentu. Gracia turun dari dalam mobil, belum juga kakinya menyentuh lantai satpam sudah menghampirinya terlebih dahulu. Berhubung satpam tidak mengenal Gracia karena dirinya belum lama ini bekerja di rumah Abby.
"Maaf bu, mau ketemu dengan siapa?" ujar satpam dengan sopan.
"Aku mau bertemu dengan Abby, ada?" jawab Gracia jujur.
"Itu kebetulan tuan Abby sedang tidak ada di rumah," jelas satpam.
"Aku akan menunggu Abby di dalam rumah saja," ucap Gracia sambil melangkah meninggalkan satpam rumah.
Satpam tersebut membiarkan Gracia masuk kamar dipikirnya Gracia mungkin salah satu kerabatnya Abby atau teman Abby.
Gracia masuk ke dalam rumah dengan dagu diangkat tinggi-tinggi menunjukkan sikap sombongnya. Gracia penuh percaya diri bisa meminta pertanggungjawaban Abby atas kehamilannya.
Tanpa di persilahkan duduk terlebih dahulu Gracia langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Gracia menunggu beberapa saat ada yang datang menemuinya tapi tak satu orang pun yang menemui Gracia di ruangan tamu. Gracia bangkit berdiri berniat mencari penghuni rumah tersebut.
Kepala Gracia memutar ke kiri dan kanan mencari siapa saja yang bisa ditemuinya. Bi Jum tiba-tiba muncul di hadapan Gracia.
"Hei babu... buatkan aku minum dingin. Aku haus,"Gracia tanpa sungkan langsung memerintah bi Jum sesuka hati.
Bi Jum mengerutkan keningnya melihat Gracia yang sedang mengandung.
"Sebentar saya buatkan," jawab bi Jum.
"Jangan pake lama, nanti kamu saya pecat," Gracia dengan percaya diri mengucapkan perintah seolah dirinya adalah penguasa rumah tersebut.
__ADS_1
Bersambung