
Setelah Acara resepsi itu selesai Abby membawa Arneta ke apartemen miliknya, bukan karena panitia pernikahannya tidak menyediakan kamar khusus di hotel untuk pengantin baru, tapi Abby memilih untuk menolak layanan tersebut tentunya dengan alasan yang dibuat-buat. Abby beralasan tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat malam pertamanya dengan Arneta.Itu hanyalah sebuah alasan.
Setibanya di apartemen Abby segera menunjukkan sikap aslinya. Dengan nada suara merendahkan Abby mengingatkan Arneta.
"Hei kamu..," ucap Abby sambil menunjuk wajah Arneta.
"Ingat ya pernikahan kita itu hanyalah di atas kertas, jadi jangan berharap lebih dariku," ujar Abby.
"Aku tahu, tidak perlu kamu ingatkan," jawab Arneta cuek. Tapi berbeda dengan isi hatinya Arneta neraca sangat sedih bagaimana pun dirinya kini sudah berstatus sebagai istri dari Abby.
"Kita akan tidur terpisah, kamu di kamar yang di sebelah sana dan aku di sebelah sini," jelas Abby sambil menujuk arah kamar pada Arneta.
Arneta tersenyum kecut mendengar ucapan Abby, tepi disisi lain Arneta merasa senang setidaknya dirinya tidak perlu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Jujur saja Arneta tidak siap.
Arneta menggeret koper miliknya memasuki kamar yang di tunjuk Abby tadi. Begitu juga dengan Abby segera masuk ke dalam kamar miliknya.
Setelah dalam kamar Arneta memperhatikan isi dari kamar tersebut. Cat diding berwarna krem tak ada hiasan yang terpajang di dinding, isi kamar tersebut hanya ada tempat tidur king size lemari baju yang tidak terlalu besar dan meja rias yang sangat minimalis. Untuk kamar mandinya Arneta tidak perlu keluar dari kamar jika ingin mandi atau ritual lainnya yang berhubungan dengan kamar mandi, karena dalam kamar tersebut sudah tersedia kamar mandi sendiri.
Setelah selesai membereskan diri Arneta mulai terasa lapar karena selama pesta berlangsung Arneta hanya mengisi perutnya dengan beberapa cemilan dan buah.
Arneta keluar dari kamar dan langsung mencari letak dapur sendiri karena tidak mungkin Arneta bertanya pada Abby yang masih berada dalam kamarnya.
Setelah menemukan posisi dapur berada Arneta membuka kulkas ingin melihat stok bahan makanan yang tersedia tapi Arneta hanya mendapati isi kulkas hanya ada telur dan minuman kaleng selebihnya tidak ada lagi. Arneta mencoba membuka kitchen set berharap bisa menemukan bahan makanan yang bisa diolahnya menjadi makanan. Dalam kitchen set Arneta hanya menemukan mie instan dua biji.
Arneta berinisiatif untuk membuatkan makanan untuk Abby meskipun itu hanya terbuat dari mie instan. Arneta segera memasak n
__ADS_1
mie tersebut tak lupa membuatkan telur sebagai pelengkap mie.
Setelah selesai memasak mie Arneta memberanikan diri untuk memanggil Abby agar segera makan. Arneta juga tahu Abby juga tidak makan dengan benar selama acara berlangsung tadi.
Dengan langkah berat Arneta menghampiri kamera Abby ragu-ragu mengetuk pintu kamar. Karena sudah terlanjur membuatkan makanan untuk Abby meskipun itu cuma mie instan akhirnya Arneta memberanikan diri mengetuk pintu kamar Abby.
Tok
Tok
Pintu di ketuk oleh Arneta. Tak ada suara sahutan dari dalam kamar, Arneta mencoba mengetuk pintu sekali lagi sambil menyebut nama suaminya.
"Abby...." panggil Arneta.
Tak ada sahutan dari dalam kamar tiba-tiba pintu langsung terbuka. Abby langsung berdiri tepat di hadapan Arneta. Arneta menjadi gugup dan salah tingkah.
"Hei....ada apa kamu mencari ku," ujar Abby dengan wajah datar.
"Itu...aku barusan buat mie kamu mau ngga?" tawar Arneta ragu-ragu.
"Aku tidak lapar makan saja sendiri masakan mu tidak usah peduli dengan ku," balas Abby jutek.
Mendengarkan ucapan Abby Arneta segera membalikkan badannya melangkah pergi meninggalkan Abby tanpa sepatah kata pun. Hari ini sudah dua kali Abby bersikap kasar padanya menurut Arneta tapi Arneta bisa menerima perlakuan Abby barusan.
Arneta mengerti posisi Abby dan dirinya saat ini, terpaksa bersama karena perjodohan. Arneta tidak tahu jika Abby juga sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih.
__ADS_1
Arneta kembali ke dapur dan duduk di meja makan, dimana mie buatannya tadi sudah tersaji di atas meja. Arneta menikmati mie buatannya dalam kesunyian. Baru kali ini Arneta makan sendirian, jika rumah ada ayah dan ibu yang biasa menemani. Sedangkan du luar rumah ada dua sahabatnya yang menemani. Jika tidak ada dua sahabatnya Arneta bisa makan bersama dengan dua pegawai tokonya.
Setelah selesai makan Arneta membersihkan peralatan dapur dan mangkuk yang di gunakan Arneta tadi. Setelah selesai memberikan dapur Arneta berniat untuk masuk kembali ke dalam kamar miliknya, tapi baru saja Arneta riba di ruang tamu Arneta menemukan Abby sudah berpakaian rapi dan hendak pergi.
Arneta yang belum paham benar tempat unit apartemen milik Abby ingin bertanya pada Abby bagaimana menulis alamat apartemen tersebut.
"Abby... panggil Arneta.
"Jangan halangi aku jika aku ingin pergi," ucap Abby sebelum Arneta menyelesaikan perkataannya.
"Aku tida akan menghalangi kamu pergi, aku cuma mau nanya jika ingin memesan makanan online aku harus nulis alamat apartemen ini seperti apa," ujar Arneta. Adab Abby pun tertegun setelah mendengar jawaban Arneta.
"Oh...aku kira...," ucap Abby. Tapi belum selesai Abby berbicara Arneta segera memotong perkataan Abby.
"Aku cukup tahu diri seperti apa posisi ku saat ini, jadi aku tidak akan menghalangi mu," kata Arneta samvil tersenyum.
Jujur saja Abby tak suka dengan sikap Arneta tapu Abby mentolerirnya. Abby juga sadar jika dirinya pun melakukan hal sama terhadap Arneta.
"Tulis saja alamatnya seperti ini ..." ujar Abby sambil menyebutkan alamat lengkap apartemennya sekalian nomor unit apartemen yang di tempatnya.
Setelah menyebutkan alamat lengkap apartemennya Abby segera memakai sepatu dan meraih kunci mobil miliknya yang terletak di atas meja kecil di samping pintu keluar.
Abby meninggikan Arneta sendirian tanpa mengucapkan kata pamit. Arneta pun tidak perduli akan hal itu. Setelah Abby pergi Arneta kembali masuk kedalam kamarnya, Arneta mengambil handphone miliknya ingin memeriksa apakah ada pesan yang masuk atau panggilan yang tak terjawab, tapi setelah menghidupkan handphone miliknya Arneta tidak menemukan panggilan atau pesan yang masuk hati Arneta sedikit kecewa. Meskipun demikian Arneta berpikir positif mungkin orang tuanya dan dua sahabatnya tidak ingin menggangu Arneta saat ini, memungkin mereka berfikir saat ini Arneta sedang tidak ingin di ganggu karena sedang berduaan dengan suaminya tebak Arneta.
Arneta mencoba mencari kesibukan dalam kamar dengan membuka sosial media miliknya tapi tak ada yang menarik akhirnya Arneta membuka laptop miliknya mengecek kembali laporan mingguan toko miliknya.
__ADS_1
Setelah selesai memeriksa hasil laporan Arneta menutup laptopnya dan kini Arneta tahu harus berbuat apa saat ini. Dirinya hanya seorang diri tinggal dalam apartemen. Arneta keluar dari kamarnya dan menujuh ruang tengah di situ ada sebuah tv yang sudah terpasang pada posisinya. Arneta mencari remote control untuk menghidupkan tv tersebut, Arneta berniat untuk menonton acara televisi sambil menunggu Abby pulang.
Bersambung...